Sunday, 31 December 2017



Bismillah Assalamu Alaikum

DARI ABU HURAIRAH RADLIALLAHU QOLA Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiam antara takbir dan bacaan Al Qur’an.” -Abu Zur’ah berkata,” Aku mengira Abu Hurairah berkata, “DIam sebentar,”- lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku! Anda berdiam antara takbir dan bacaan. Apa yang anda baca di antaranya?” Beliau bersabda, “Aku membaca:

ALLAHUMMA BAA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAHUMMA NAQQINII MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAHUMMAGHSIL KHATHAAYAAYA BILMAA’I WATSTSALJI WAL BARAD

(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air yang dingin).” (HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598)

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ قَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak memulai shalat, maka beliau mengucapkan: “

SUBHANAKA ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA WA TABARAKAS-MUKA WA TA’ALA JADDUKA WA LA ILAHA GHAIRAKA”

(Maha suci Engkau, ya Allah, aku sucikan nema-Mu dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha luhur keluhuran-Mu, dan tidak ilah yang hak selain Engkau).” (HR. Abu Daud no. 776, At-Tirmizi no. 243, Ibnu Majah no. 896, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shifatush Shalah hal. 93)

Dari Anas -radhiallahu anhu- dia berkata:

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ فَدَخَلَ الصَّفَّ وَقَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ أَيُّكُمْ الْمُتَكَلِّمُ بِالْكَلِمَاتِ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ فَقَالَ أَيُّكُمْ الْمُتَكَلِّمُ بِهَا فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا فَقَالَ رَجُلٌ جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا فَقَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

“Bahwa seorang laki-laki datang dan masuk shaff (barisan) sementara nafasnya masih terengah-engah, lalu mengucapkan:

ALHAMDU LILLAHI HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI

(segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, lagi berberkah).” Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah diantara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaannya; “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi, karena hal itu tidak masalah baginya.” Lantas seorang sahabat berujar; “Aku tadi dating, sementara napasku masih ternegah-engah, maka kuucapkan kalimat itu (maksudnya pendek dan ringkas).” Beliau bersabda: “Tadi aku melihat dua belas malaikat berebut mengangkat ucapan itu.” (HR. Muslim no. 600)

Penjelasan ringkas:
Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca al-fatihah, orang yang shalat disunnahkan untuk memuji Allah Ta’ala dengan membaca salah satu dari doa-doa istiftah yang tersebut dalam ketiga hadits di atas dan hadits-hadits lainnya.

Berikut beberapa faidah yang kami ringkaskan dari risalah ‘Thuruq Al-Falah fii Bayan Ahkam Du’a Al-Istiftah’ oleh Abdullah bin Hamd Al-Manshur:
1. Ada beberapa lafazh istiftah yang warid dari Nabi -alaihishshalatu wassalam-, yaitu:
a. Ketiga lafazh dalam hadits di atas.
b. Dari Ali bin Abu Thalib dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;

أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do’a iftitah) sebagai berikut:

“WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDLA HANIIFAN WAMAA ANAA MINAL MUSYRIKIIN, INNA SHALAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN LAA SYARIIKA LAHU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA MINAL MUSLIMIIN ALLAHUMMA ANTAL MALIKU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ANTA RABBII WA ANAA ‘ABDUKA ZHALAMTU NAFSII WA’TARAFTU BI DZANBII FAGHFIL LII DZUNUUBII JAMII’AN INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUB ILLAA ANTA WAH DINII LIAHSANAIL AKHLAAQ LAA YAHDII LIAHSANIHAA ILLAA ANTA WASHRIF ‘ANNII SAYYI`AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI`AHAA ILLAA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIK WASY SYARRU LAISA ILAIKA ANAA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

(Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu).” (HR. Muslim no. 1290)

c. Dari Ibnu Umar dia berkata;

بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ

“Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seseorang mengucapkan

ALLAHU AKBAR KABIRAW WAL HAMDU LILLAHI KATSIIRAW WASUBHAANALLAAHI BUKRATAN WA ASHIILAN

(Maha Besar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang).” Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?” Seorang sahabat menjawab; “Saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu.” Kata Ibnu Umar; “Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hal itu.” (HR. Muslim no. 943)

Di Kota NAbi PErgantian Tahun MAsehi


Madinah.....
Seperti tahun-tahun yang lalu....
Malammu tak berubah.....
Tak ada bunyi petasan...
Tak ada tiupan terompet,
Dan tak ada nyala kembang api....
Engkau memilih diam disaat gegap gempita memenuhi semesta...
Semua tampak biasa dalam damai...
Hanya kidung adzan subuh yang berani memecah kesunyian malammu...
Aku dan mereka bahkan lupa tanggal berapa Desember saat ini..?
Ah..., andai ada yang bisa melukiskan sajak-sajak damai malammu itu untukku..
Agar ku kabarkan pada mereka..
Bahwa damaimu berkat aqidah yang terhujam dalam hati pendudukmu....
Dalam mazhab sunyi, engkau ajarkan kami izzah...
Bahwa kita bukan ummat pengekor...
Madinahku... semoga damaimu abadi...
------------------------
Madinah 28-02-1435 H
31 Desember 2013
Repost hari ini: 08-03-1436 H
31 Desember 2014 M
Aan Chandra Thalib, Mahasiswa Fakultas Syariah Semester 8 Universitas Islam Madinah
Ilustrasi: Salah Satu sudut kampus Universitas Islam Madinah di malam hari, foto diambil dari Akun Afza Fajri Khatami Fakultas Syariah Semester 6

Friday, 22 December 2017

Kajian Ilmiyah Sirah Nabawiyah Bersama Ustadz Budi Harianto, Lc



Bismillah Assalamu Alaikum



Hadirilah..
Kajian Ilmiyah bersama
Fadhilatul Ustadz
🎙 Budi Harianto, Lchafidzhahullah
Di Kabupaten Pinrang Sul Sel
Insya Allah 🗓 AHAD 24 DESEMBER 2017
Di Masjid 🕌
Al Istiqomah Manggabarani jl. Poros Rappang amassangeng sebelum penggilingan daging.

1⃣ Ba'da Ashar - selesai👇
Tema : LANJUTAN SHIRO NABAWIYAH

2⃣ Ba'da Maghrib - Isya👇
Tema : Kitabut Tauhid

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
🔰Rek Donasi :
Kegiatan dan pengembangan DAKWAH
Nomor: 7770551115 ( MANDIRI SYARIAH )
NAMA: SYAHRUL RAMADHAN RASYID

CP 085342078876 ( WARDANG)

Thursday, 21 December 2017

3 Ujian yang Sering Terlupakan

Bismillah Assalamu Alaikum

*_3 Ujian yang Sering Terlupakan.._*
🍃 *Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
*_“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”_*
(QS.Al-Mulk:2)
*Kehidupan manusia sepenuhnya adalah cobaan.*
*Begitupula dunia jika kita lihat dari sisi manapun tetaplah ujian.*
*- Kaya adalah ujian.*
*- Miskin juga ujian.*
*- Kesembuhan juga ujian.*
*- Sakit pun ujian.*
*Segala kondisi yang kita jalani dan segala sesuatu yang kita miliki adalah UJIAN.*
*Ada tiga ujian yang setiap hari kita lewati namun tanpa sadar kita melaluinya begitu saja.* *Kita jarang sekali memikirkan tiga ujian yang pasti menimpa manusia ini.*
*_1. Umur yang berkurang setiap hari._*
*Setiap hari umur kita berkurang sementara kitaTIDAK PERNAH RESAH dan memikirkan hal itu.*
*Namun ketika harta yang hilang atau berkurang, kita merasa sangat sedih dan tak henti mengganggu pikiran kita.*
*Padahal harta masih bisa dicari dan ditambah. Sementara umur terus berkurang tanpa bisa diganti.*
*Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam pernah berwasiat kepada Abu Dzar..*
*_“Wahai Abu Dzar, jadilah engkau lebih kikir terhadap umurmu daripada terhadap (harta) dirham dan dinarmu.”_*
*_2. Nikmat yang dinikmati setiap hari._*
*Setiap hari manusia MENIKMATI FASILITAS yang diberikan oleh Allah.*
*Setiap hari pula ia MEMAKAN REJEKI yang diberikan oleh-Nya. Sementara ia tidak memikirkan segala nikmat yang ia dapatkan setiap harinya.*
*Padahal bila ia memperoleh rezeki dengan cara yang halal, ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah, untuk apa rezeki dan fasilitas kenikmatam itu digunakan.*
*Dan bila ia mendapat kan rezeki dengan cara yang haram, maka ia akan mendapatkan sanksi dari-Nya.*
*Manusia tak pernah memikirkannya. Ia tidak pernah berpikir, tidak peduli dengan apa akibat dari sesuatu yang ia makan. Apakah nikmat itu akan lolos saat dimintai pertanggung jawaban atau akan mendapatkan sanksi.*
*_3. Lebih dekat kepada ajal setiap hari._*
*Semakin bertambah hari, manusia semakin dekat dengan ajalnya. Ia semakin dekat dengan alam kubur dan alam pertanggung jawaban. Dan ia pun semakin menjauh dari kehidupan dunianya.*
*_“Setiap nafas anak Adam akan mendekatkan nya menuju kepada ajalnya.”_*
*Setiap hari langkah kita semakin mendekatkan pada alam akhirat, sementara kita tidak pernah memikirkannya.* *Waktu kita habis untuk memikirkan dunia yang fana.*
*Yang pada akhirnya semua akan habis dan sirna.*
🍃 *Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
*_“Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.”_*
(QS.Al-Qiyamah:20)
*Sementara disaat manusia dibagi menjadi dua kelompok, kita pun tak pernah tau, apakah kita termasuk golongan ahli surga ataupun ahli neraka.*
*Tiga hal ini adalah ujian yang kita hadapi setiap hari namun sungguh kita SERING LALAI bahkan LUPA untuk memikirkan nya.*
*Semuanya berjalan begitu saja seperti tak terjadi apa².*
*Padahal SETIAP NAFAS kita adalah ujian yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya...*
*Semoga kita selalu dalam petunjuk, taufik dan hidayah-Nya, ingat akan 3 ujian-Nya.. Dan dengan pertolongan-Nya, kita dapat menerima dengan ikhlas, menjalani dengan baik dan benar, selamat dunia akhirat...*
*Aamiin ya rabbal'alamiin.*
*_Assalammualaykum..Selamat pagi..._* 💐
*_Salam sehat dan penuh berkah.._*
🌾 📝 Putri Novia Andam Sari

JANGAN PERNA MENILAI SESEORANG DENGAN MELIHAT MASA LALUNYA

Bismillah Assalamu Alaikum


Di tulis oleh: Ustad Dr. Firanda Adriani MA.
.
Betapa banyak di antara kita yg memiliki masa lalu yg kelam....
.
Jauh dari Sunnah.....
.
Jauh dari Hidayah.....
.
Tenggelam dalam Dunia yg menipu....
.
Terombang ambing dalam Kemaksiatan yg nista.
.
Bukankah banyak sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yg dahulunya pelaku Kemaksiatan....
.
Peminum Khamar...
.
Bahkan pelaku Kesyirikan...??
.
Akan tetapi takkala Cahaya Hidayah menyapa Hati mereka, jadilah mereka generasi terbaik yg pernah ada di muka bumi ini.
.
Bisah jadi anda salah satu dari mereka para Ikhwan / Akhwat yg memiliki masa lalu yg kelam.
.
Yg mungkin kebanyakan orang tidak mengetahuinya masa lalu kelam anda.
.
Sebagaimana anda tidak ingin orang lain menilai anda dengan melihat masa lalu anda.
.
Maka jangan anda menilai orang lain dengan melihat masa lalunya yg buruk....
.
Yg menjadi patokan adalah kesudahan seseorang....
.
Kondisi takkala ia akan meninggal...
.
Bukan masa lalunya....
.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Amalan- amalan itu tergantung Akhirnya".
.

Semoga Bermanfaat.

Sunday, 10 December 2017

Sarjana Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga???*

Bismillah Assalamu Alaikum



Ukhti,jika ada yang bilang kepada mu,apa nggak sayang ya kuliyah tinggi2 tapi hanya jad ibu rumah tangga.Apa nggak mau kerja???

📣©Jika ada yang berkata seperti itu,maka seorang muslimah sejati tak akan enggan untuk mengatakan : *"Aku adalah madrasah pertama bagi buah hatiku,islam menempatkan seorang perempuan dirumah.Aku bahagia dirumah karena dengannya aku bisa mengurus anak,suami dan pekerjaan rumahku*

💚Ukhti,jadikan pendidikan tinggi mu untuk selalu taat kepada Allah dan kepada suami setelah kau menikah,dan dengan pendidikan dan ilmu mu maka jadikan sarana untuk mendidik sibuah hati nan lucu untuk mengetahui agama Allah yang haq ini.Dimana nanti nya dia akan mengenal Allah dan ciptaan nya dan beribadah hanya kepada Allah yang esa.

🌿Ukhti,dengan pendidikan dan ilmu yang kau punya,tentunya nanti membuat kau lebih patuh kepada suamimu. *Maka contoh lah ilmu padi yang semakin berisi dia akan semakin merunduk.*
🆔🌴Tatkala suamimu pulang maka tebarkan kan senyum dan tampil lah secantik mungkin untuk menyenangkan hatinya.Karna salah satu tanda sebaik baik istri adalah yang paling menyenangkan jika dipandang.

👤Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu 'Anhu, dia berkata :
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
🖍📒Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : "Siapakah wanita yang paling baik? Rasulullah Menjawab : "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.(HR.An-Nasa'i, Hadist No.3231 dan Ahmad,Hadist No. 2 : 251).

🎓🏘 Maka dari itu setinggi apapun pendidikan mu dan sebanyak apapun ilmu mu duhai wanita,maka tetap yang paling utama bagimu adalah dirumah mendidik sikecil sampai mengetahui agama Allah yang haq dan mengurus suami dan pekerjaan rumah.

*Yuk,sebarkan sahabat...!!!* 📱📲
👤Dari Uqbah bin 'Amr bin Tsa'labah Rodhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda :
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
🛐 Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.(HR.Muslim,Hadist No.1893).
🌐 Penulis : Al-Faqir Ila Maghfiroti Robbi (Fastabikul Randa Ar-Riyawi) Mahasiswa Syari'ah/Ahwalus Syakhsiyyah.
📱📚Grup WA Kumpulan Hadist Hadist Shahih dan Grup WA Mutiara Ilmu & Hadist

TATA CARA MAKMUM MENGIKUTI IMAM

Bismillah Assalamu Alaikum




TATA CARA MAKMUM MENGIKUTI IMAM
Oleh
Ustadz Musyaffa
Shalat berjamaah merupakan syiar Islam yang sangat agung, dan diwajibkan secara khusus bagi laki-laki Muslim yang terkena kewajiban melaksanakan shalat.
Dengan adanya kewajiban shalat berjamaah ini, ajaran Islam terlihat lebih hidup dan eksis, kerukunan umat Islam lebih mudah tercipta dan tampak indah, bisa saling ta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan. Sehingga tepatlah, jika syariat memberikan banyak pahala bagi mereka yang menghidupkan syiar ini, di samping memberikan ancaman berat bagi yang meninggalkannya.
Karena pentingnya syiar ini, menjadi penting pula mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengannya. Dan dalam tulisan ringan ini, penulis akan sedikit membahas tentang mengikuti imam dalam shalat berjamaah dan beberapa masalah yang berhubungan dengannya.

Banyaknya fenomena yang bermunculan dengan semarak dan pesatnya perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk sehingga terkadang masjid-masjid tidak dapat menampung jamaah yang shalat. Lalu muncullah pemikiran untuk menggunakan teknologi tersebut untuk memudahkan orang shalat berjamaah, sehingga tidak harus berdiri di belakang imam untuk bisa mengikuti shalat berjamaah. Hal ini akan tampak jelas pada keadaan masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah, baik dalam shalat wajib ataupun sunnah.

Di bulan Ramadhan, akan tampak sekali banyaknya jamaah yang shalat di hotel yang berdampingan dengan masjid dengan melihat layar televisi yang menyiarkan langsung gerakan imam dan suaranya terdengar jelas.

Dengan teknologi yang ada, seseorang dapat melihat semua gerakan imam dan dapat menirunya. Fenomena mengikuti ini berkembang dan perlu diberikan ketentuan dan hukum, agar kaum Muslimin dapat melaksanakan shalat berjamaah dengan mudah dan sah.

Mengikuti imam (mutaba’ah imam) dalam shalat berjamaah adalah salah satu kewajiban yang perlu sekali dijelaskan dan ditekankan, seiring dengan jauhnya kaum Muslimin di zaman ini dari pelita sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
A. MAKSUD DAN HUKUM MENGIKUTI IMAM
Yang dimaksud dengan “mengikuti imam” atau mutâba’atul imâm dalam pembahasan ini adalah mengikuti gerakan-gerakan imam shalat, dengan tanpa mendahuluinya, atau membarenginya, atau telat dalam mengikutinya.
Dari definisi ini kita bisa membagi makmum dalam mutâba’tul imam menjadi empat keadaan yaitu:
(1) mengikuti gerakan imam dengan segera,
(2) mendahului gerakan imam,
(3) membarengi gerakannya, dan
(4) terlalu terlambat dalam mengikuti gerakan imam.
Mutâba’tul imam secara umum hukumnya wajib, sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟُﻌِﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﻴُﺆْﺗَﻢَّ ﺑِﻪِ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺒَّﺮَ ﻓَﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ
"Sesungguhnya imam dijadikan agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya! Apabila ia sudah bertakbir, maka bertakbirlah kalian…”[1].
Dalam hadits ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk mengikuti atau mengiringi gerakan imam, dan perintah dalam nash syariat pada asalnya menunjukkan arti wajib. Dengan ini, diketahui bahwa mengikuti gerakan imam itu hukumnya wajib.
Wajibnya mengikuti imam juga ditunjukkan oleh adanya larangan dan ancaman bagi mereka yang mendahului gerakan imam, sebagaimana telah disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ، ﺇِﻧِّﻲ ﺇِﻣَﺎﻣُﻜُﻢْ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺴْﺒِﻘُﻮﻧِﻲ ﺑِﺎﻟﺮُّﻛُﻮﻉِ ﻭَﻟَﺎ ﺑِﺎﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ، ﻭَﻟَﺎ ﺑِﺎﻟْﻘِﻴَﺎﻡِ، ﻭَﻟَﺎ ﺑِﺎﻟِﺎﻧْﺼِﺮَﺍﻑِ !
“Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah kalian mendahuluiku dengan rukuk, sujud, berdiri, dan salam!”.[2]
Syaikh Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bahkan seandainya ada yang mengatakan bahwa perbuatan ‘mendahului imam’ itu termasuk dosa besar, maka pendapat itu tidak jauh (dari kebenaran), karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﺃَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻭْ ﻟَﺎ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﺭَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡِ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺃْﺳَﻪُ ﺭَﺃْﺱَ ﺣِﻤَﺎﺭٍ ﺃَﻭْ ﻳَﺠْﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺻُﻮﺭَﺗَﻪُ ﺻُﻮﺭَﺓَ ﺣِﻤَﺎﺭٍ
"Tidak takutkah orang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allâh ubah kepalanya menjadi kepala keledai ?! atau Allâh ubah bentuknya menjadi bentuk keledai?"[3]
Ini merupakan ancaman, dan ancaman termasuk tanda-tanda dosa besar”.[4]
Disampaing akibat buruk di atas, mendahului imam juga dapat membatalkan shalat makmum bila disengaja, karena adanya larangan dalam hal ini. Dan pada asalnya, suatu larangan dalam nash syariat menunjukkan rusaknya sesuatu yang terlarang tersebut. Adapun bila tidak disengaja, maka shalatnya tetap sah, namun ia harus kembali ke posisi sebelumnya untuk mengikuti imamnya.
Mutaba’atul imam yang sempurna adalah dengan mengikuti atau mengiringi gerakan imam, segera setelah imam selesai melakukan gerakannya. Misalnya ketika kita akan ruku’, maka hendaknya kita menunggu hingga imam sudah dalam keadaan ruku’ dengan sempurna, setelah itu makmum bersegera melakukan ruku’. Begitu pula gerakan-gerakan shalat lainnya, seperti sujud, duduk diantara dua sujud, bangkit dari duduk dan lain sebagainya. Hal ini telah ditegaskan dalam banyak hadits, diantaranya:
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺒَّﺮَ ﻓَﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻜَﺒِّﺮَ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﻓَﺎﺭْﻛَﻌُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺮْﻛَﻌُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﻛَﻊَ … ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺠَﺪَ ﻓَﺎﺳْﺠُﺪُﻭﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺴْﺠُﺪُﻭﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﺠُﺪَ .
Jika imam telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian, dan janganlah kalian bertakbir hingga ia bertakbir ! Jika imam telah ruku’, maka ruku’lah kalian, dan janganlah kalian ruku’ sehingga imam melakukan ruku’ ! … Dan jika ia telah sujud maka sujudlah kalian, dan janganlah kalian sujud sehingga ia bersujud !” [5]

Barâ’ bin ‘Âzib mengatakan, “Jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘sami’allâhu liman hamidah’, kami masih tetap berdiri hingga kami melihat beliau benar-benar telah meletakkan wajahnya di tanah, baru kemudian kami mengikutinya.”[6]

Dalam redaksi lain dikatakan, “Sungguh dahulu mereka (para sahabat) shalat di belakang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengangkat kepalanya dari rukuk, aku tidak melihat seorangpun membungkukkan dadanya, sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dahinya ke tanah, kemudian barulah orang-orang yang di belakang beliau bersujud.”[7]

Adapun membarengi imam, maka mayoritas Ulama memakruhkannya, kecuali dalam takbîratul ihrâm, maka itu dapat membatalkan shalat makmum, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah, “Jika seorang makmum melakukan takbîratul ihrâm sebelum imamnya atau bersamaan dengan imam, maka shalatnya tidak sah, karena si makmum menggantungkan atau mengikatkan shalatnya dengan shalat imam sebelum shalat imam tersebut dimulai, sehingga shalatnya makmum menjadi tidak sah”.[8]
Sedangkan telat dalam mengikuti imam, maka hukumnya berbeda sesuai dengan keadaan orang makmum :
1. Pertama, bila makmum mempunyai udzur, seperti usianya lanjut, atau sakit, atau udzur lainnya, maka shalatnya tetap sah, tetapi ia harus melakukan semua rukun shalat tersebut, walaupun terlambat sampai dua rukun atau lebih. Namun bila terlambatnya sampai satu rakaat penuh, maka ia harus mengikuti imamnya pada rakaat berikutnya dan harus menambah satu rakaat setelah imamnya salam; yaitu untuk mengganti rakaat yang tertinggal karena udzur tersebut.
Kedua, bila si makmum tidak memiliki udzur dan disengaja, sedangkan terlambatnya tidak sampai satu rukun, maka hukumnya makruh. Tetapi, bila terlambatnya sampai satu rukun atau lebih, maka shalatnya batal, sebagaimana bila ia mendahului imam dengan sengaja. Wallâhu a’lam.[9]
Selanjutnya, apakah perintah mengikuti imam itu juga mencakup semua tindakan dan bacaan hingga sifat-sifat detailnya ? Misalnya:

(1). Saat berdiri, ketika imam meletakkan tangan di bawah pusar, bukan di atas dada, apakah makmum juga diperintahkan untuk melakukan hal yang sama ?

(2). Saat i’tidâl, ketika imam menyedekapkan tangannya, apakah bagi makmum yang -misalnya- berpendapat lebih afdhal menjulurkan tangannya, dianjurkan untuk mengikuti imam dalam bersedekap ?

(3). Saat duduk tasyahud awal, ketika imam duduk dengan cara tawarruk, bukan dengan iftirasy, apakah makmum juga diperintahkan untuk duduk dengan cara yang sama, dan seterusnya…?
Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, maka perlu merujuk kembali kepada hadits yang berkaitan dengan perintah mengikuti imam.
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟُﻌِﻞَ ﺍﻟْﺈِﻣَﺎﻡُ ﻟِﻴُﺆْﺗَﻢَّ ﺑِﻪِ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺒَّﺮَ ﻓَﻜَﺒِّﺮُﻭﺍ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﻓَﺎﺭْﻛَﻌُﻮﺍ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ : ﺳَﻤِﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟِﻤَﻦْ ﺣَﻤِﺪَﻩُ، ﻓَﻘُﻮﻟُﻮﺍ : ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ، ﻭَﺇِﺫَﺍﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺎﺋِﻤًﺎ، ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﻗِﻴَﺎﻣًﺎ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺎﻋِﺪًﺍ، ﻓَﺼَﻠُّﻮﺍ ﻗُﻌُﻮﺩًﺍ ﺃَﺟْﻤَﻌُﻮﻥَ
Sesungguhnya imam dijadikan agar diikuti, maka jika ia sudah bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Jika ia sudah rukuk, maka rukuklah kalian. Jika ia sudah mengucapkan “sami’allâhu liman hamidah”, maka ucapkanlah “Rabbana lakal hamdu”. Jika ia shalat dengan berdiri, maka shalatlah kalian dengan berdiri. Dan jika ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya.[10]

Dengan memperhatikan hadits ini, menunjukkan bahwasanya perintah mengikuti imam hanya pada hal-hal yang global saja, seperti takbîr, rukû’, berdiri dan duduk. Adapun sifat detail dari setiap gerakan dan ucapan imam, maka tidak disinggung dalam hadits tersebut, sehingga hal ini mengandung isyarat bahwa kita tidak diperintahkan mengikuti setiap detail gerakan dan ucapan imam. Bila hal itu diperintahkan, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyinggungnya dalam hadits ini, karena tidak bolehnya menunda penjelasan suatu hukum saat hokum tersebut dibutuhkan.
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun makna sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya imam dijadikan agar diikuti,’ menurut Imam Syâfi’i rahimahullah dan sekelompok Ulama, ialah dalam perbuatan-perbuatan yang jelas terlihat.”[11]

Dan lagi, memasukkan sifat detail setiap gerakan dan ucapan dalam perintah mengikuti imam akan sangat memberatkan makmum. Tentunya syari’at tidak menginginkan hal itu, wallâhu a’lam.[12]

B. BEBERAPA MASALAH KONTEMPORER DALAM MUTABA’ATUL IMAM.
Seiring berkembangnya teknologi, bermunculan pula masalah-masalah fikih baru yang berhubungan dengannya. Tidak terkecuali dalam masalah mutaba’atul imam, ada beberapa kasus baru yang muncul karena adanya perkembangan teknologi tersebut, diantaranya:
1. Bermakmum dengan perantara layar untuk melihat gerakan imam.
2. Bermakmum dengan perantara radio.
3. Bermakmum di rumah samping masjid dengan perantara speaker luar masjid.
4. Kaum wanita yang ikut berjama’ah atau menjadi makmum dengan menggunakan pembatas penuh.
5. Bermakmum di lantai yang berbeda dengan lantai imam, dan masalah-masalah lain yang serupa.
Untuk mengetahui hukum dari masalah-masalah di atas, kita perlu mengetahui syarat sahnya bermakmum. Memang terdapat banyak pendapat dalam masalah ini, namun pendapat Ulama yang kuat -menurut penulis- dalam masalah ini yaitu pendapat yang mengatakan :
Jika seorang makmum berada di satu masjid dengan imam, maka selama dimungkinkan untuk mengikuti imamnya -dengan cara apapun- maka itu sudah cukup, dan ia boleh bermakmum dengan imamnya … Adapun jika seorang makmum berada di luar masjid, maka ada satu syarat tambahan, yaitu shafnya harus bersambung dan tidak terputus.[13]
Berdasarkan pendapat ini, kita mencoba menjawab masalah-masalah di atas :
1. Pertama. Hukum bermakmum dengan perantara layar.
Apabila si makmum berada di satu masjid dengan imam, maka shalatnya sah, selama ia bisa mengikuti gerakan imam melalui layar tersebut, meskipun shafnya tidak bersambung, walaupun ia tidak dapat mendengar suara imam.
Adapun bila si makmum berada di luar masjid, maka shalatnya tidak dinyatakan sah, kecuali bila shafnya bersambung, meskipun ia bisa melihat gerakan imam dan dapat mendengar suara imam melalui layar tersebut.
2. Kedua. Hukum bermakmum dengan perantara radio.
Apabila si makmum berada di satu masjid dengan imamnya, selama ia bisa mengikuti gerakan imam dengan perantara radio tersebut, maka shalatnya sah, meski shafnya terputus, ataupun ia tidak dapat melihat imamnya atau para makmum yang ada di belakang imamnya.
Sedangkan jika makmum tersebut berada di luar masjid, maka shalatnya tidak akan sah, kecuali jika shafnya tidak terputus, meskipun ia bisa mengikuti gerakan imam dengan perantara radio tersebut.
3. Ketiga. Hukum bermakmum di rumah samping masjid dengan perantara speaker masjid.
Bila shaf makmum bersambung dan tidak terputus hingga ke rumah tersebut, dan si makmum bisa mengikuti gerakan imam dengan suara yang keluar dari speaker tersebut, maka shalat jama’ahnya sah.
4. Keempat. Hukum jama’ah perempuan yang bermakmum di balik pembatas yang penuh.
Selama mereka (jama’ah perempuan) bisa mengikuti gerakan imam, baik melalui suara atau layar, maka shalat berjama’ahnya sah, meski shafnya terputus dan ia tidak dapat melihat imam atau jama’ah yang ada di belakang imam.
5. Kelima. Hukum bermakmum di lantai yang berbeda dengan lantai imam.
Apabila dimungkinkan untuk mengikuti imam di lantai tersebut, maka hukum lantai tersebut sama dengan hukum lantai imamnya. Karena dalam bermakmum tidak ada syarat harus melihat imam atau makmum yang ada di belakangnya. Yang disyaratkan hanyalah dimungkinkannya bagi si makmum mengikuti imam, baik melalui suara maupun melalui layar, wallâhu a’lam.
Dari beberapa contoh kasus di atas dan jawabannya, tentu akan bisa terjawab juga kasus-kasus lain yang serupa. Dan pada akhir tulisan ini, penulis sebutkan perkataan sebagian ulama yang dapat lebih menjelaskan permasalahan tersebut.
Syaikh Utsaimin rahimahullah menyatakan:
Yang benar dalam masalah ini, bahwasanya bersambungnya shaf diharuskan bagi orang yang bermakmum di luar masjid. Apabila shafnya tidak bersambung, maka shalatnya tidak sah… Dengan keterangan ini, terjawablah fatwa sebagian orang pada zaman ini yang membolehkan mengikuti imam di belakang radio…
Pendapat ini memiliki konsekuensi, bolehnya kita tidak shalat Jum’at di masjid-masjid jami’, karena kita bisa bermakmum dengan imam Masjidil-Haram, karena jumlah jama’ahnya lebih besar, sehingga itu lebih afdhal… Lalu jika ada televisi yang dapat menampilkan shalat secara langsung, tentunya lebih afdhal lagi…
Namun pendapat ini tidak diragukan lagi kebatilannya, karena itu akan menghilangkan (syariat) shalat jamaah ataupun shalat Jum’at, tidak ada lagi shaf yang bersambung; dan (pendapat ini) jauh (dan tidak selaras) dengan tujuan disayariatkannya shalat Jumat dan shalat jama’ah.
Orang yang shalat di belakang radio, (berarti) ia shalat di belakang imam yang tidak di depannya, bahkan keduanya dipisahkan jarak yang jauh. Ini membuka pintu keburukan, karena orang yang meremehkan shalat Jumat akan berkata “selagi shalat (jama’ah) di belakang radio dan TV sah, maka saya ingin shalat di rumahku, bersama anakku, atau saudaraku, atau orang lain …”.[14]
Al-Lajnah ad-Da’imah juga menfatwakan:
(Seseorang yang berjama’ah di rumah mengikuti speaker dari masjid, padahal antara imam dan makmum tersebut tidak bersambung sama sekali), maka shalatnya tidak sah.
Demikian ini pendapat ulama madzhab Syafi’i, dan ini juga pendapat Imam Ahmad; kecuali bila shaf-shafnya bersambung hingga ke rumahnya, dan dimungkinkan untuk mengikuti imam dengan melihat dan mendengarkan suaranya, maka shalatnya sah, sebagaimana dihukumi sah shalat bagi orang-orang yang berada di shaf-shaf yang bersambung hingga rumahnya. Adapun tanpa syarat tersebut, maka shalatnya tidak sah, karena wajib bagi seorang muslim untuk shalat berjamaah di rumah-rumah Allah Azza wa Jalla bersama saudara-saudaranya seiman.[15]
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat bagi diri penulis, pembaca, dan kaum muslimin.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XVII/1435H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote:
[1]. HR. al-Bukhâri, hadits no: 722, dan Muslim, hadits no: 414.
[2]. HR. Muslim, hadits no: 426
[3]. HR. al-Bukhâri, hadits no: 691, dan Muslim, hadits no: 427.
[4]. Lihat Asy-Syarhul Mumti’ 4/181
[5]. HR. Abu Dawud, hadits no: 603, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah
[6]. HR. Muslim, hadits no: 474.
[7]. HR. Muslim, hadits no: 474.
[8]. Lihat al-Majmû’ (4/234)
[9]. Lihat asy-Syarhul-Mumti’, 4/180-190.
[10]. HR Muslim, hadits no. 417.
[11]. Lihat Syarah Muslim, karya Imam Nawawi, 4/134.
[12]. Lihat penjelasan Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam masalah ini dalam kitab asy-Syarhul-Mumti’, 2/318-320.
[13]. Tentang syarat bermakmum ini, syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa pendapat yang râjih adalah harus memenuhi dua syarat : mendengar takbir dan bersambung shaf (barisan)nya. (Syarhu al-Mumti’ 4/423).
[14]. Asy-Syarhul-Mumti’, 4/299-300.
[15]. Fatawa Lajnah Da’imah, 8/32.

Friday, 8 December 2017

Respon Kepada Trump , Syam adalah Milik PAlestina

Bismillah Assalamu Alaikum



Kita tau bahwa tanah syam adalah milik Palestina.
Keputusan Trump mengakui bahwa jerussalem adalah ibukota Israel adalah hal yg kita sebagai kaum muslimin tidak mungkin bisa menerima . Karena kita meyakini jerusalem adalah milik kaum Muslimin. Tanah yang penuh keberkahan yang sampai kapanpun harus kita perjuangkan untuk tetap menjadi milik kaum muslimin.

Dengan menyatakan Jerusalem adalah ibukota Israel , Amerika seolah meremehkan kekuatan kaum muslimin. Maka mungkin momen ini bisa membuat umat islam seluruh dunia bersatu dengan memperjuangkan Al Aqsa .

Tidak lama setelah Trump menyatakan sikapnya thdp jerussalem, saya mendegar kabar terjadi kebakaran hebat di California, seolah Allah langsung memberikan peringatan n menegur Trump lewat kebakaran besar di California, Amerika . Tentara Allah lewat api seakan memberi sinyal kemarahannya terhadap sikap Trump. 



Jika Presiden Turki , Erdogan sudah mengawalinya dengan pidatonya yg menggetarkan hati kaum muslimin, dan Salah satu masjid di Gaza sudah mengumumkan Panggilan Jihad , maka mari kita persiapkan diri , mulai dari sekarang terus lontarkan doa yg menggetarkan Pintu-pintu langit memohon pertolongan Allah, saatnya sudah semakin dekat, kisah kejadian2 akhir zaman yg semakin tampak di depan mata, mari kita berdoa ini semoga ini adalah momen persatuan dunia.
yakinlah Allah akan memenangkan kita jika kita bersatu n mampu menegakan Islam dengan berpegang teguh kepada kebenaran bersama-sama .

Tuesday, 5 December 2017

DI MASA KETERASINGAN ISLAM

Bismillah Assalamu Alaikum



Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فتوبى للغرباء.
📚 رواه مسلم رقم ١٤٥

"Islam datang dalam keadaan asing dan  akan kembali asing sebagaimana ia datang (pertama kali), maka beruntunglah orang-orang yang asing".

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah :

‏«ينبغي لأهل الحق عند غربة الإسلام أن يزدادوا نشاطا في بيان أحكام الإسلام، والدعوة إليه، ونشر الفضائل ومحاربة الرذائل، وأن يستقيموا في أنفسهم على ذلك حتى يكونوا من الصالحين عند فساد الناس، ومن المصلحين لما أفسد الناس، والله الموفق سبحانه»
‏📚 [مجموع فتاوى(١٥٨/٣)]

"Para pengusung kebenaran di masa-masa keterasingan Islam seharusnya bertambah semangatnya dalam menjelaskan hukum-hukum Islam, mendakwahkannya, menyebarkan keutamaan-keutamaan dan memerangi hal-hal yang rendah. Dan hendaknya mereka istiqomah pada diri-diri mereka di atas hal itu hingga mereka menjadi orang-orang yang tetap shalih (lurus) pada saat manusia telah rusak, dan menjadi orang-orang yang melakukan perbaikan terhadap apa yang telah di rusak manusia. Dan Allah Yang Maha Suci yang memberikan taufiq".

Abu Sufyan Al Makassary..✍

RENUNGAN UNTUK PARA PEWARIS NABI

Bismillah Assalamu Alaikum


‏قال ورقة بن نوفل للنَّبي ﷺ : لم يأتِ رجل قطُّ بمثل ما جئت به إلَّا عُودي.

Berkata Waraqah bin Naufal kepada Nabi shollallahu'alaihi wa sallam : "Tidaklah seseorang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali ia akan di musuhi".

Berkata Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :

وهذا مستمر في ورثته كما كان في مورِّثهم ﷺ .
📚 مدارج السالكين ٣٢٣ / ٢

"Dan hal inipun akan terus di alami oleh para pewarisnya sebagaimana hal itu di alami oleh yang mewarisi yaitu Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam".

Abu Sufyan Al Makassary..✍

Merasa Diri Paling LEbih (ujub) Sebab MAsuk NEraka

Bismillah Assalamu Alaikum




Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَظْهَرُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ ، يَقُولُونَ : مَنْ أَقْرَأُ مِنَّا ؟ مَنْ أَفْقَهُ مِنَّا ؟ " ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " وَهَلْ فِي أُولَئِكَ مِنْ خَيْرٍ ؟ " قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : " أُولَئِكَ وَقُودُ النَّارِ أُولَئِكَ مِنْكُمْ ، مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ " .
Akan muncul suatu kaum yang membaca alquran, mereka berkata: adakah orangvyang lebih qori dari kami? Adakah orang yang lebih faqih dari kami?!
Rasulullah bersabda: "Apakah mereka ada kebaikannya?"
Para shahabat berkata, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui."
Nabi bersabda, "Mereka itu bahan bakar api Neraka dan mereka itu dari umat ini."
(HR Al Bazzar)

Friday, 1 December 2017

MEMBELA KEHORMATAN SEORANG MUSLIM

Bismillah Assalamu Alaikum



Rasulullah ﷺ :-

(( من نصر أخاه بظهرِ الغَيبِ ، نصره اللهُ في الدنيا و الآخرةِ ))
👈🏽 حسنه الألباني في
📚 صحيح الجامع - رقم: (6574)

Artinya : "Barang siapa yang menolong saudaranya ketika saudaranya itu tidak ada, maka Allah akan menolongnya di dunia dan akhirat".

Rasulullah ﷺ :-

(( مَن رَدَّ عِن عِرضِ أخِيهِ ، رَدَّ اللهُ عَن وجْهِهِ النارَ يومَ القِيامةِ ))
👈🏽 صححه الألباني في
📚 صحيح الجامع - رقم: (6262)

Artinya : "Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka pada hari qiyamat".

Rasulullah ﷺ :-

(( مَن ذَبَّ عَن عِرْضِ أخِيهِ بِالغِيبةِ ، كان حقًّا على اللهِ أنْ يُعْتِقَه من النارِ ))
👈🏽 صححه الألباني في
📚 صحيح الجامع - رقم: (6240)

Artinya : "Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya ketika di ghibah, maka hak atas Allah untuk membebaskannya dari neraka".

Di terjemahkan oleh
Abu Sufyan Al Makassary..✍
•┈┈•┈┈•⊰•❁✦✿✦❁•⊱•┈┈•┈┈•

Untukmu yang sering memfitnah Syaikh ALbani

Bismillah Assalamu Alaikum

Syaikh al-Albani adalah seorang ulama yang produktif. Banyak karya ia lahirkan dalam rangka berkhidmat memperjuangkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Karya-karya itum masih bisa kita nikmati hingga hari ini. Lebih dari 100 karya ilmiah ia hasilkan. Ada yang murni tulisannya, ada yang merupakan tahqiq (penelitian ilmiah secara seksama tentang status suatu hadits: shahih, hasan, dhaif, atau maudhu), ta’liq (komentar), dan takhrij (menisbatkan hadits pada sumbernya).


Di antara karya-karyanya adalah:
1.Adabu az-Zifaf fi Sunnati al-Muthahharah.
2.Ahadits al-Isra wa al-Mi’raj.
3.Ahkam al-Jana-iz.
4.Irwa-u al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as-Sabil.
5.Al-As-ilatu wa al-Ajwibah.
6.Shifatu Shalat an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbir ila at-Taslim Ka-annaka Taraha.
7.Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu.
8.Shahih as-Sirah an-Nabawiyah.
9.Shahih wa Dha’if at-Targhib wa at-Tarhib.
10.Jilbab al-Mar-ah al-Muslimah.Silsilatu al-Ahadits ash-Shahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawa-iduha.
11.Silsilatu al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah wa 12.Atsaruha as-Sayyi’ fi al-Ummah.
13.Manzilatu as-Sunnah fi al-Islam
Apakah Syaikh Al Albani Melemahkan Sebagian Hadits Sahihain ?
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Al Albani melemahkan sebagian hadits Sahihain, untuk menjelaskan bahwa beliau tidak paham kaidah ilmu hadits, membuat kaidah-kaidah baru, tidak hormat pada ulama salaf, dan sebagainya. Secara umum mereka mendasarkan tuduhan tersebut pada beberapa hal, yaitu:
Pertama, dalam mentakhrij hadits yang diriwayatkan salah satu Syaikhain atau keduanya, kadang beliau mengatakan “Sahih” atau “Sahih diriwayatkan Muslim” atau “Sahih Muttafaq ‘Alaih” dan kadang cukup mengatakan, “diriwayatkan Bukhari” atau “diriwayatkan Muslim” atau “Muttafaq ‘Alaih” tanpa mengatakan “sahih”. Menurut mereka, itu berarti bahwa jika tidak mengatakan “sahih”, seolah-olah Al Albani meragukan kesahihan hadits tersebut, dan ini tidak pernah dilakukan ulama hadits sebelumnya.
Kedua, bahwa Al Albani memang terus terang menghukumi dha’if beberapa hadits Sahihain, diantaranya:
Hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ مَيْمُونَةَ وَهُوَ مُحْرِمٌ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah ketika beliau dalam keadaan ihram.”
Al Albani mengatakan “Sungguh pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah ketika beliau tidak dalam keadaan ihram” Kemudian beliau menukil perkataan Ibnu ‘Abdil Hadi, “Dan ini terhitung di antara kesalahan-kesalahan yang ada di Sahih (Bukhari).” (Muqaddimah Syarah Ath-Thahawiyyah: 23).
Hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
“Barang siapa memusuhi seorang waliku, sungguh Aku telah mengumumkan perang baginya.”
Al Albani mengatakan, “Riwayat al-Bukhari, dan dalam sanadnya ada kelemahan, tetapi ia punya beberapa jalan sanad yang barangkali menguatkannya. Dan saya belum diberi kemudahan untuk mempelajari dan meneliti masalah ini.” (Lihat Muqaddimah Syarah ath-Thahawiyyah: 24).
Jawabannya: Adapun sebab pertama, kita katakan bahwa setiap orang paham sedikit saja tentang ilmu hadits tentu paham bahwa jika dikatakan, “diriwayatkan Bukhari”, atau “diriwayatkan Muslim”, atau “Muttafaq ‘Alaih”, itu berarti bahwa haditsnya sahih. Adapun jika dikatakan: “sahih”, atau “sahih diriwayatkan Muslim”, atau “sahih Muttafaq ‘alaih”, itu adalah penjelasan dan penegasan kesahihan hadits. Sama sekali tidak berarti bahwa jika kata “sahih” dihilangkan berarti tidak sahih. Yang terjadi hanyalah perbedaan ungkapan untuk makna yang sama. Metode ini juga bukan metode baru made in Al Albani, tapi sudah ada ulama sebelum beliau yang melakukannya, antara lain Al Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah, di mana beliau kadang mengatakan: “sahih”, “sahih diriwayatkan Muhammad (Bukhari)”, “sahih diriwayatkan Muslim”, atau “sahih Muttafaq ‘ala Shihhatih”, dan semisalnya. (Lihat Muqaddimah Syarah ath-Thahawiyyah: 25-26).
Adapun sebab yang kedua, secara umum bisa kita jawab dengan keterangan dalam pasal A bahwa sebagian kecil hadits Sahihain diperselisihkan kesahihannya, termasuk oleh sebagian ulama hadits pada masa Bukhari dan Muslim. Mengkritik sebagian hadits ini atau menghukuminya dengan dha’if bukanlah perkara baru yang dibawa Syaikh Al Albani, dan sah-sah saja dilakukan oleh ahli hadits, selama didasarkan pada aturan-aturan dalam disiplin ilmu hadits, bukan dengan hawa nafsu.
Mengenai hadits Ibnu ‘Abbas, hadits ini sangat kuat isnadnya. Oleh karena itu Syaikhain sepakat meriwayatkannya. Tapi matannya menyelisihi matan hadits sahih lain; yaitu hadits Maimunah yang diriwayatkan Muslim:
عَنْ مَيْمُونَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَهَا وَهُوَ حَلَالٌ
“Dari Maimunah binti Harits, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya ketika beliau dalam keadaan halal (tidak ihram).”
Karena maknanya bertentangan dan sama-sama sahih, diperlukan penguat di luar kedua hadits ini. Para ulama lebih mengunggulkan hadits Maimunah karena beberapa hal:
Pertama, hadits Maimunah diriwayatkan dengan jalan sanad lebih banyak. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Riwayat-riwayat dalam hukum ini berbeda-beda. Tapi riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya dalam keadaan halal datang dari jalan sanad yang banyak. Hadits Ibnu ‘Abbas sahih sanadnya, tapi kesalahan dari satu orang lebih mungkin dari kesalahan banyak orang.”
Kedua, hadits Maimunah diriwayatkan oleh shahibul qishah (pelaku kejadian), yaitu Maimunah sendiri dan Abu Rafi’ yang merupakan perantara pernikahan ini, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan at-Tirmidzi. Sa’id bin Musayyib mengatakan: “Ibnu ‘Abbas telah salah, lha wong Maimunah sendiri mengatakan: ‘Beliau menikahiku ketika dalam keadaan halal (tidak ihram).'”
Ketiga, hadits Ibnu ‘Abbas menyelisihi kaidah umum dalam hukum pernikahan, yaitu hadits Usman riwayat Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ
“Orang yang ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan tidak boleh melamar.”
Dengan demikian, meskipun hadits Ibnu ‘Abbas sahih sanadnya, kita perhatikan dari zhahir perkataan beberapa ulama di atas bahwa mereka menilainya syadz (menyelisihi yang lebih kuat). Sebagian ulama lagi berusaha memadukan makna dua hadits sahih yang tampak bertentangan ini. (Lihat Fathul Bari 9/207-208).
Adapun hadits Abu Hurairah, banyak ulama besar sebelum Al Albani yang menghukumi dha’if sanadnya, antara lain Adz Dzahabi, Ibnu Rajab dan Ibnu Hajar. Bahkan Adz Dzahabi mengatakan: “Hadits ini aneh sekali. Kalau bukan karena wibawa Sahih (Bukhari), tentu orang akan menganggapnya termasuk munkaratnya Khalid bin Mikhlad, karena matan ini tidak diriwayatkan kecuali dengan sanad ini, dan tidak diriwayatkan oleh selain Bukhari.” Tapi yang benar, hadits ini memliliki jalan sanad yang lain, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar. (Lihat Muqaddimah Syarah ath-Thahawiyyah: 37-38).
Kemudian saksikanlah tawadhu’ dan objektivitas Imam Al Albani, di mana beliau mengatakan: “Karena itu saya sempat tidak bisa menghukumi sahih hadits ini dengan tegas, sampai saya dimudahkan untuk meneliti jalan sanadnya. Kemudian Allah memudahkannya untuk saya sejak beberapa tahun, maka jelaslah bagi saya bahwa hadits ini sahih dengan kumpulan jalan sanadnya.” (Lihat Muqaddimah Syarah ath-Thahawiyyah: 37-38).
Ironisnya, ternyata orang-orang yang membesar-besarkan masalah ini; yaitu bahwa Al Albani melemahkan hadits-hadits Sahihain dan membuat kaidah-kaidah baru, seperti Hasan As Saqqaf (Assegaf), Abdullah Al Ghumari, Abdul Fattah Abu Ghuddah, dan di Indonesia Ali Mustofa Yakub, ternyata melakukan hal yang sama, yang karena sebabnya, dengan zhalim mereka mencela Imam al-Albani. Hanya sayangnya mereka tidak melakukannya dengan ilmiah. Wallahul Musta’an. (Lihat Syaikh al-Albani Dihujat: 72-75, 158)
Di dalam Vedio UAS mengatakan Syaikh Al-Albani keluar dari jumhur Ulama..
Maka kami akan tulis beberapa Ulama yg memuji Syaikh Al-Albani.
Pujian Ulama Terhadapnya
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Al-Albani adalah seorang reformis abad ini dalam ilmu hadits.”
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin memujinya dengan mengatakan, “Sesungguhnya al-Albani memiliki ilmu yang luas dalam bidang hadits, dirayat danriwayat-nya. Dialah pakar hadits abad ini.”
Al-Muhaqqiq Muhibuddin al-Khatib mengatakan, “Sesungguhnya al-Albani adalah orang yang menyeru kepada sunnah. Ia mendermakan hidupnya untuk beramal dan menghidupkan sunnah (hadits Nabi ﷺ).
Syaikh Ali ath-Thanthawi mengatakan, “Syaikh Nashiruddin al-Albani lebih berilmu dariku dalam permasalahan hadits. Aku menaruh hormat padanya karena kesungguhannya, semangatnya, dan banyaknya karya tulisnya yang dicetak oleh saudaraku sekaligus orang tuaku (ucapan penghormatan) Zuhair asy-Syawisy. Aku merujuk pada Syaikh Nashir dalam permasalahan hadits dan aku tidak mempertanyakannya karena mengetahui keutamaannya (dalam permasalahan hadits) (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1068). JadiUlamaYang manakah dimaksud oleh Uas INI