Wednesday, 21 February 2018

Dalil lebih diutamakan dari Fatwa ulama

Bismillah Assalamu Alaikum

๐Ÿ“ ‌Berkata Syaikh Shalih Fauzan _hafidzhahullah_  :


ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ูˆุง ุนู„ู…ุงุก ุฃูˆ ุนุจุงุฏุงً ู…ู† ุฃุฒู‡ุฏ ุงู„ู†ุงุณ ู…ุง ุฏุงู…ูˆุง ู„ูŠุณูˆุง ุนู„ู‰ ุญู‚ ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ู†ุง ุงุชุจุงุนู‡ู…، ูˆู…ู† ุงุชุจุนู‡ู… ูˆู‡ูˆ ูŠุนู„ู… ุฃู†ู‡ู… ูŠุญู„ูˆู† ู…ุง ุญุฑู… ุงู„ู„ู‡، ูˆูŠุญุฑู…ูˆู† ู…ุง ุฃุญู„ ุงู„ู„ู‡، ูู‚ุฏ ุงุชุฎุฐู‡ู… ุฃุฑุจุงุจุงً، ูŠุนู†ูŠ: ุฃุดุฑูƒู‡ู… ู…ุน ุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰؛ ู„ุฃู† ุงู„ุชุญู„ูŠู„ ูˆุงู„ุชุญุฑูŠู… ุญู‚ ู„ู„ู‡ ุฌู„ ูˆุนู„ุง، ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ู„ุฃุญุฏ ุฃู† ูŠุญู„ู„ ูˆูŠุญุฑู… ูˆูŠุดุฑุน ุฅู„ุง ุจุฏู„ูŠู„ ู…ู† ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู†ุฉ ุฑุณูˆู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، 

Artinya : "Sekalipun mereka para ulama atau ahli ibadah yang termasuk orang yang paling zuhud,  selama mereka tidak berada di atas kebenaran maka tidak boleh bagi kita untuk mengikutinya.  Barang siapa yang mengikutinya padahal ia tahu bahwa mereka menghalalkan yang Allah haramkan dan mengharamkan yang Allah haramkan,  maka sungguh ia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan. Yaitu bahwa ia telah menjadikan mereka sekutu bersama Allah subhanahu wa ta'ala.  Karena menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Jalla wa 'Ala tidak boleh bagi seseorang menghalalkan,  mengharamkan dan mensyari'atkan kecuali dengan dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam.
๐Ÿ“š *Syarh Masailil Jahiliyah hal 141-142*.
Abu Sufyan Al Atsary... ๐Ÿ–‹

BOLEHKAH HAFALAN AL-QUR'AN DIJADIKAN MAHAR?

Bismillah Assalamu Alaikum

Tanya

Assalamualaikuum 
Saya mau bertanya Ustadz ...apa faedahnya seorang perempuan meminta mahar surat Ar-Rahman kpda calon suaminya ?
Mohon pnjelasannys
Terimakasih 
Wassalamualaikum ...






Jawab

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡
Sebenarnya yang pertama perlu dijelaskan adalah hukum mahar berupa hafalan al-Qur'an. Bagaimana sih hukumnya?
1⃣ Mahar itu adalah hak wanita (isteri), yg disepakati para ulama haruslah berupa material (barang) ataupun jasa. 
2⃣ Jasa contohnya seperti membangunkan rumah, mengajarkan al-Qur'an, atau semisalnya, maka ini diperbolehkan dijadikan mahar. 
3⃣ Menyetor hafalan al-Qur'an sebagai mahar, diperselisihkan ulama. Mayoritas ulama melarangnya kecuali Syafi'iyah, yg berpendapat boleh hukumnya. 
4⃣ Pendapat yang paling kuat adalah makruh (dibenci) menjadikan hafalan al-Qur'an sebagai mahar. Lebih utama adalah menjadikan pengajaran al-Qur'an sebagai mahar. 
Misal, mengajarkan isteri al-Qur'an dan menghafalnya sebagai mahar, maka ini boleh. 
5⃣ Riwayat hadits Sahl bin Sa'ad yang menikahi wanita dg hafalan al-Qur'an, maka ini lantaran Sahl tdk memiliki apapun sebagai mahar. 
Karena itu jika ada pria yg tdk memiliki apapun dan menjadikan hafalan al-Qur'an sebagai mahar, maka ini diperbolehkan karena memang kondisinya demikian. 
Adapun seorang pria yang mampu memberikan harta sbg mahar, maka lebih utama baginya menjadikan harta tsb sebagai mahar nya.
Wallahu a'lam

Tuesday, 20 February 2018

BERDUSTA UNTUK MEMBUAT ORANG TERTAWA (BAGI semua saudaraku di STAND UP COMEDY) INI HUKUMNYA

Bismillah Assalamu Alaikum

Rasulullah  ๏ทบ bersabda :

(( ูˆَูŠْู„ٌ ู„ِู„َّุฐِูŠ ูŠُุญَุฏِّุซُ ูَูŠَูƒْุฐِุจُ ู„ِูŠُุถْุญِูƒَ ุจِู‡ِ ุงู„ْู‚َูˆْู…َ، ูˆَูŠْู„ٌ ู„َู‡ُ، ูˆَูŠْู„ٌ ู„َู‡ُ ))
๐Ÿ“š ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ - ุฑู‚ู… : (ูคูฉูฉู ) ูˆุญุณู†ู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ ููŠ ุตุญูŠุญ ุงู„ุฌุงู…ุน ุฑู‚ู… ูงูกูฃูฆ.

"Celakalah seseorang yang bercerita lalu ia berdusta untuk membuat suatu kaum tertawa, celakalah ia celakalah ia".

▪ Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah :

ูˆู‡ุฐุง ูŠูุนู„ู‡ ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ูŠุณู…ูˆู†ู‡ุง ุงู„ู†ูƒุช ،
ูŠุชูƒู„ู… ุจูƒู„ุงู… ูƒุฐุจ ูˆู„ูƒู† ู…ู† ุฃุฌู„ ุฃู† ูŠุถุญูƒ ุงู„ู†ุงุณ، ู‡ุฐุง ุบู„ุท، ุชูƒู„ู… ุจูƒู„ุงู… ู…ุจุงุญ ู…ู† ุฃุฌู„ ุฃู† ุชุฏุฎู„ ุงู„ุณุฑูˆุฑ ุนู„ู‰ ู‚ู„ูˆุจู‡ู…، ูˆุฃู…ุง ุงู„ูƒู„ุงู… ุงู„ูƒุฐุจ ูู‡ูˆ ุญุฑุงู… .
๐Ÿ“š ุดุฑุญ ุฑูŠุงุถ ุงู„ุตุงู„ุญูŠู† : (ูฆ/ ูกูกูง)

Dan hal ini di lakukan oleh sebagian manusia yang mereka menamakannya dengan lawakan, ia berbicara dengan perkataan yang dusta tapi dengan tujuan untuk membuat manusia tertawa, hal ini ada sebuah kesalahan.
Berbicaralah dengan perkataan yang mubah, dengan tujuan untuk memasukkan kebahagiaan ke dalam hati-hati mereka, adapun dengan perkataan yang dusta maka hal itu di haramkan".

Di terjemahkan oleh
Abu Sufyan Al Makassary..✍

Sunday, 7 January 2018

Penyesalan ahli dosa kelak di hadapan Allah Taala

Bismillah Assalamu Alaikum

"Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin" (QS. As-Sajdah :12)
.
"Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami" (QS. Maryam/19:38)
.
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam" [Qรขf/50:22]
.
"Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala" [al-Mulk/67:10]
.
"Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat adzab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali ke dunia?” [asy-Syรปrรข/42:44]
.
"Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) adzab datang kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zhalim, “Ya Rabb kami, kembalikanlah kami meskipun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan mengikuti rasul-rasul”. [Ibrรขhรฎm/14:44]
.
"Dan mereka berteriak didalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan melakukan amal saleh berbeda dengan yang telah kami kerjakan” [Fรขthir/35:37]
.
"Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan apakah tidak datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang yang zhalim seorang penolong" [Fรขthir/35:37]
-
๐Ÿ‘ค Penceramah : Syeikh Manshur Al Salimi

*RINGKASAN KAJIAN SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILY*

Bismillah Assalamu Alaikum



*RINGKASAN KAJIAN SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILY*
Istiqlal, 7 Januari 2018
1⃣ *Tauhid merupakan kunci kebahagiaan dan kejayaan. Tauhid merupakan tema yang sangat agung* . Tauhid menurut bahasa berarti menjadikan sesuatu itu satu. Tauhid itu menjadikan Alloh azza wa jalla satu dalam zat-Nya, dalam beribadah kepada-Nya.
2⃣ *Tauhid ada tiga*
*_a. Tauhid Rububiyah_*
Mengesakan perbuatan-perbuatan hanya untuk Alloh yaitu menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, mengatur alam semesta.
*_b. Tauhid asma wa sifat_*
Mengesakan Alloh dalam nama dan sifat-sifat-Nya
Meyakini bahwa Alloh tidak ada sekutu dalam nama dan sifat-sifat-Nya, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Pengampun dan seterusnya.
Wajib bagi muslim untuk mengimani-Nya. Tidak ada yang sama dengan Alloh Subhanahu wa ta'ala.
Mengesakan Alloh Subhanahu wa ta'ala dalam sifat-sifat-Nya. Meyakini Alloh dalam sifat-sifat-Nya seperti hikmah Alloh, Keagungan Alloh, Kaki Alloh, dua tangan Alloh, Istiwa' Alloh, turun-Nya Alloh dan seterusnya.
*_c. Tauhid Uluhiyah_*
Mengesakan Alloh sebagai Illah dalam bentuk ibadah, rasa takut, harap hanya kepada Alloh.
Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya. Wajib bagi kita beribadah kepada Alloh.
3⃣ Kebahagiaan menurut bahasa adalah ketenangan jiwa dan hati. Kebahagiaan terbesar seorang hamba adalah ketika dimasukkan ke dalam surga selamanya.
4⃣ Malaikat Jibril disebut Alloh sebagai ruh, karena menurunkan wahyu bagi manusia sehingga hati menjadi hidup.
5⃣ Kebahagiaan hati seorang hamba adalah dengan beribadah kepada Alloh. Dengan beribadah, hati menjadi tenang. Tenangnya hati karena berzikir kepada Alloh.
6⃣ Dengan tauhid seorang hamba menjadi bahagia. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan di akhirat yang diberikan kepada orang yang bertakwa.
7⃣ Kebahagiaan seorang hamba di akhirat adalah ketika dimasukkan ke dalam surga. Tidak ada lagi rasa takut dan sedih. Sebesar-besarnya nikmat penghuni surga adalah melihat wajah Alloh. Manusia hendaknya berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
8⃣ Kejayaan bagi ahli tauhid adalah sesuatu yang nyata. Kejayaan dibagi dua yaitu kejayaan di dunia dan di akhirat. Kejayaan yang diberikan Alloh contohnya yang diberikan kepada Nabi Musa dan pengikutnya dan kekalahan bagi Firaun dan pengikutnya. Contoh lain adalah kejayaan yang diberikan kepada Nabi Muhammad sholallohu alaihi wa salam untuk mengalahkan orang Yahudi dan Quraisy. Alloh akan selalu memberi kemenangan bagi orang yang bertauhid.
9⃣ Kejayaan yang diberikan Alloh di akhirat lebih agung dari pada kejayaan yang diberikan Alloh di dunia. Alloh memmasukkan para ahli tauhid, para wali Alloh ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.
๐Ÿ”Ÿ Orang yang bertauhid dengan sebenar-benarnya akan diberikan oleh Alloh kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan di akhirat.
1⃣1⃣ Cara mewujudkan tauhid dalam diri kita adalah dengan mewujudkan dua dasar penting :
๐Ÿ“Œ Beribadah kepada Alloh dengan hati, hanya takut, berharap, tawakal dan bernazar kepada Alloh. Tidak boleh beribadah kepada malaikat, Nabi, para wali, dan orang sholeh.
๐Ÿ“Œ Berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan. Dulu kaum Quraiy beribadah kepada Alloh tapi mereka tidak berlepas diri dari kesyirikan. Maka selain beribadah kepada Alloh, wajib bagi diri kita berlepas diri dari kesyirikan.
1⃣2⃣ Kebutuhan anak-anak akan tauhid jauh lebih besar dari pada kebutuhan akan makan, minum dan pakaian.
Perhatian orang tua terkait tauhid juga hendaknya lebih besar dari pada perhatian terhadap makan, minum dan pakaian anak mereka.
Ajarilah anak untuk beribadah, meminta, memohon pertolongan hanya kepada Alloh.
Jagalah Alloh niscaya Alloh akan menjagamu.
*Sesi tanya jawab :*
Bagaimana cara menanamkan tauhid dalam keluarga dan tips menciptakan keluarga yang sesuai dengan sunnah?
Keluarga yang baik diawali dengan memilih pasangan yang baik agamanya. Suami wajib mendidik istrinya di atas agama yang benar. Perlu kerjasama yang baik antara suami dan istri.
Bagaimana cara tawasul yang benar?
Tawasul secara bahasa adalah mendekatkan diri. Secara syariat adalah mendekatkan diri kepada Alloh dengan cara yang disyariatkan oleh Alloh.
Tawasul terbagi menjadi :
※ Tawasul dengan menyebut nama Alloh
※ Tawasul dengan amalan ibadah kepada Alloh
※ Tawasul dengan doa orang sholeh yang masih hidup
※ Tawasul dengan minta langsung kepada Alloh
*_Tidak termasuk tawasul adalah meminta kepada orang yang sudah mati_*.
Bagaimana cara memahami bersemayamnya Alloh di atas arsy?
Seorang muslim wajib meyakini istiwa'nya Alloh. Istiwa' telah diketahui maknanya, tapi tidak diketahui tata cara dan wujudnya dan bertanya tentang tata cara dan wujudnya adalah bid'ah. Istiwa'nya Alloh berbeda dengan istiwa'nya mahluk. Kita tidak boleh mentakwil makna istiwa'
Bagaimana kiat agar istiqomah bertauhid sampai akhir hayat?
Sebab agar bisa istiqomah sampai akhir hayat :
※ Tawakal dan berserah diri kepada Alloh, berdoa agar ditetapkan hati hanya kepada Alloh
※ Berdoa di setiap waktu kepada Alloh agar selalu diberi ketetapan iman dan islam kita.
※ Istiqomah dan senantiasa beribadah kepada Alloh
※ Menuntut ilmu agar dijaga dari syubhat dan kerancuan
※ Menahan pandangan dari segala sesuatu yang diharamkan
Bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak yang masih kecil?
Ajarkan untuk selalu memuji Alloh, mencintai Alloh, melebihi cinta kepada siapapun.
Kita harus menjadi teladan bagi mereka. Ajarkan matan-matan ringkas kepada mereka, sehingga bisa menangkis syubhat-syubhat terkait tauhid.
*Nasihat penutup*
Pentingnya perhatian kepada tauhid dan sunnah karena banyaknya mereka jatuh kepada kesyirikan karena kebodohan mereka.
Ajarkanlah tauhid dan sunnah bagaimana beribadah yang baik dan benar.
*Selesai Diringkas oleh Abu Abdul Hafiizh pukul 11:40 WIB*
www.adis.web.id
Dishare dr wag Mahad Tahfidz Al Qudwah,

Sunday, 31 December 2017



Bismillah Assalamu Alaikum

DARI ABU HURAIRAH RADLIALLAHU QOLA Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiam antara takbir dan bacaan Al Qur’an.” -Abu Zur’ah berkata,” Aku mengira Abu Hurairah berkata, “DIam sebentar,”- lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku! Anda berdiam antara takbir dan bacaan. Apa yang anda baca di antaranya?” Beliau bersabda, “Aku membaca:

ALLAHUMMA BAA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAHUMMA NAQQINII MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAHUMMAGHSIL KHATHAAYAAYA BILMAA’I WATSTSALJI WAL BARAD

(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air yang dingin).” (HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 598)

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐَุง ุงุณْุชَูْุชَุญَ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ู‚َุงู„َ ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِูƒَ ูˆَุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงุณْู…ُูƒَ ูˆَุชَุนَุงู„َู‰ ุฌَุฏُّูƒَ ูˆَู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุบَูŠْุฑَูƒَ

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak memulai shalat, maka beliau mengucapkan: “

SUBHANAKA ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA WA TABARAKAS-MUKA WA TA’ALA JADDUKA WA LA ILAHA GHAIRAKA”

(Maha suci Engkau, ya Allah, aku sucikan nema-Mu dengan memuji-Mu, Maha berkah nama-Mu, Maha luhur keluhuran-Mu, dan tidak ilah yang hak selain Engkau).” (HR. Abu Daud no. 776, At-Tirmizi no. 243, Ibnu Majah no. 896, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shifatush Shalah hal. 93)

Dari Anas -radhiallahu anhu- dia berkata:

ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ًุง ุฌَุงุกَ ูَุฏَุฎَู„َ ุงู„ุตَّูَّ ูˆَู‚َุฏْ ุญَูَุฒَู‡ُ ุงู„ู†َّูَุณُ ูَู‚َุงู„َ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุญَู…ْุฏًุง ูƒَุซِูŠุฑًุง ุทَูŠِّุจًุง ู…ُุจَุงุฑَูƒًุง ูِูŠู‡ِ ูَู„َู…َّุง ู‚َุถَู‰ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุตَู„َุงุชَู‡ُ ู‚َุงู„َ ุฃَูŠُّูƒُู…ْ ุงู„ْู…ُุชَูƒَู„ِّู…ُ ุจِุงู„ْูƒَู„ِู…َุงุชِ ูَุฃَุฑَู…َّ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ูَู‚َุงู„َ ุฃَูŠُّูƒُู…ْ ุงู„ْู…ُุชَูƒَู„ِّู…ُ ุจِู‡َุง ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَู‚ُู„ْ ุจَุฃْุณًุง ูَู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ุฌِุฆْุชُ ูˆَู‚َุฏْ ุญَูَุฒَู†ِูŠ ุงู„ู†َّูَุณُ ูَู‚ُู„ْุชُู‡َุง ูَู‚َุงู„َ ู„َู‚َุฏْ ุฑَุฃَูŠْุชُ ุงุซْู†َูŠْ ุนَุดَุฑَ ู…َู„َูƒًุง ูŠَุจْุชَุฏِุฑُูˆู†َู‡َุง ุฃَูŠُّู‡ُู…ْ ูŠَุฑْูَุนُู‡َุง

“Bahwa seorang laki-laki datang dan masuk shaff (barisan) sementara nafasnya masih terengah-engah, lalu mengucapkan:

ALHAMDU LILLAHI HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI

(segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, lagi berberkah).” Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah diantara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?” Para sahabat terdiam. Beliau mengulangi pertanyaannya; “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi, karena hal itu tidak masalah baginya.” Lantas seorang sahabat berujar; “Aku tadi dating, sementara napasku masih ternegah-engah, maka kuucapkan kalimat itu (maksudnya pendek dan ringkas).” Beliau bersabda: “Tadi aku melihat dua belas malaikat berebut mengangkat ucapan itu.” (HR. Muslim no. 600)

Penjelasan ringkas:
Setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca al-fatihah, orang yang shalat disunnahkan untuk memuji Allah Ta’ala dengan membaca salah satu dari doa-doa istiftah yang tersebut dalam ketiga hadits di atas dan hadits-hadits lainnya.

Berikut beberapa faidah yang kami ringkaskan dari risalah ‘Thuruq Al-Falah fii Bayan Ahkam Du’a Al-Istiftah’ oleh Abdullah bin Hamd Al-Manshur:
1. Ada beberapa lafazh istiftah yang warid dari Nabi -alaihishshalatu wassalam-, yaitu:
a. Ketiga lafazh dalam hadits di atas.
b. Dari Ali bin Abu Thalib dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;

ุฃَู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุฅِุฐَุง ู‚َุงู…َ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ู‚َุงู„َ ูˆَุฌَّู‡ْุชُ ูˆَุฌْู‡ِูŠَ ู„ِู„َّุฐِูŠ ูَุทَุฑَ ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถَ ุญَู†ِูŠูًุง ูˆَู…َุง ุฃَู†َุง ู…ِู†ْ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠู†َ ุฅِู†َّ ุตَู„َุงุชِูŠ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠ ู„ِู„َّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَุจِุฐَู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ ูˆَุฃَู†َุง ู…ِู†ْ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَู†ْุชَ ุงู„ْู…َู„ِูƒُ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ุฃَู†ْุชَ ุฑَุจِّูŠ ูˆَุฃَู†َุง ุนَุจْุฏُูƒَ ุธَู„َู…ْุชُ ู†َูْุณِูŠ ูˆَุงุนْุชَุฑَูْุชُ ุจِุฐَู†ْุจِูŠ ูَุงุบْูِุฑْ ู„ِูŠ ุฐُู†ُูˆุจِูŠ ุฌَู…ِูŠุนًุง ุฅِู†َّู‡ُ ู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆุจَ ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ูˆَุงู‡ْุฏِู†ِูŠ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِ ุงู„ْุฃَุฎْู„َุงู‚ِ ู„َุง ูŠَู‡ْุฏِูŠ ู„ِุฃَุญْุณَู†ِู‡َุง ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ูˆَุงุตْุฑِูْ ุนَู†ِّูŠ ุณَูŠِّุฆَู‡َุง ู„َุง ูŠَุตْุฑِูُ ุนَู†ِّูŠ ุณَูŠِّุฆَู‡َุง ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْุชَ ู„َุจَّูŠْูƒَ ูˆَุณَุนْุฏَูŠْูƒَ ูˆَุงู„ْุฎَูŠْุฑُ ูƒُู„ُّู‡ُ ูِูŠ ูŠَุฏَูŠْูƒَ ูˆَุงู„ุดَّุฑُّ ู„َูŠْุณَ ุฅِู„َูŠْูƒَ ุฃَู†َุง ุจِูƒَ ูˆَุฅِู„َูŠْูƒَ ุชَุจَุงุฑَูƒْุชَ ูˆَุชَุนَุงู„َูŠْุชَ ุฃَุณْุชَุบْูِุฑُูƒَ ูˆَุฃَุชُูˆุจُ ุฅِู„َูŠْูƒَ

“Biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do’a iftitah) sebagai berikut:

“WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDLA HANIIFAN WAMAA ANAA MINAL MUSYRIKIIN, INNA SHALAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN LAA SYARIIKA LAHU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA MINAL MUSLIMIIN ALLAHUMMA ANTAL MALIKU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ANTA RABBII WA ANAA ‘ABDUKA ZHALAMTU NAFSII WA’TARAFTU BI DZANBII FAGHFIL LII DZUNUUBII JAMII’AN INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUB ILLAA ANTA WAH DINII LIAHSANAIL AKHLAAQ LAA YAHDII LIAHSANIHAA ILLAA ANTA WASHRIF ‘ANNII SAYYI`AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI`AHAA ILLAA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIK WASY SYARRU LAISA ILAIKA ANAA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA

(Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu).” (HR. Muslim no. 1290)

c. Dari Ibnu Umar dia berkata;

ุจَูŠْู†َู…َุง ู†َุญْู†ُ ู†ُุตَู„ِّูŠ ู…َุนَ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐْ ู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ู…ِู†ْ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ูƒَุจِูŠุฑًุง ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจُูƒْุฑَุฉً ูˆَุฃَุตِูŠู„ًุง ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู…َู†ْ ุงู„ْู‚َุงุฆِู„ُ ูƒَู„ِู…َุฉَ ูƒَุฐَุง ูˆَูƒَุฐَุง ู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ู…ِู†ْ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ุฃَู†َุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู‚َุงู„َ ุนَุฌِุจْุชُ ู„َู‡َุง ูُุชِุญَุชْ ู„َู‡َุง ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ
ู‚َุงู„َ ุงุจْู†ُ ุนُู…َุฑَ ูَู…َุง ุชَุฑَูƒْุชُู‡ُู†َّ ู…ُู†ْุฐُ ุณَู…ِุนْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฐَู„ِูƒَ

“Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seseorang mengucapkan

ALLAHU AKBAR KABIRAW WAL HAMDU LILLAHI KATSIIRAW WASUBHAANALLAAHI BUKRATAN WA ASHIILAN

(Maha Besar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang).” Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?” Seorang sahabat menjawab; “Saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu.” Kata Ibnu Umar; “Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hal itu.” (HR. Muslim no. 943)