Thursday, 30 November 2017

Siapakah Pencetus Perayaan Maulid Nabi?

Bismillah Assalamu Alaikum



Siapakah Pencetus Perayaan Maulid Nabi?
Para Ulama dan ahli sejarah berkata, “Bahwa perayaan maulid Nabi pertama kali diadakan oleh daulah Syiah Fathimiyyah di Mesir pada abad ke 4 hijriyah. Tidak hanya membikin perayaan maulid Nabi, mereka juga mengadakan maulid ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, Al-Husain serta maulid raja yang berkuasa saat itu." ("Al-Ibda’ Fi Mudhoril Ibtida'" hal. 251 - Syaikh 'Ali Mahfudzh dan "Ahsanul Kalam Fima Yata'allaq Bissunnah wal Bid'ah Minal Ahkam" hal. 44 - Syaikh Muhammad Al-Muthi'i)
Jadi perayaan maulid yang sudah membudaya di masyarakat sesungguhnya tidak pernah dikenal oleh Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, tidak dikenal oleh para Shohabat beliau utamanya di zaman Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, tidak pula dikenal oleh para Tabi'in, Tabi'it tabi’in, termasuk para imam madzhab yang empat yakni Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Hanbali. Maka perayaan maulid bukan sunnah (ajaran) Nabi shollallahu 'alaihi wasallam yang patut diteladani, akan tetapi tradisi orang-orang Syiah yang terkenal mengultuskan 'Ali dan keturunannya.

Bukankah perayaan maulid itu baik?
Ada dua syarat yang wajib dipenuhi ketika hendak beramal sholih, pertama niat yang ikhlas karena Allah, kedua mengikuti tuntunan Nabi shollallahu 'alaihi wasallam. Maka niat yang baik saja belum cukup bila caranya tidak mengikuti aturan beliau. Karena Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
"Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak bersumber dari ajaran kami maka tertolak." (HR. Muslim)
Andaikata suatu amalan itu baik, tentu para Shohabat Nabi telah mendahului kita dalam mengamalkannya. Karena para Shohabat adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang paling meneladani beliau dalam berislam. Nyatanya mereka tidak pernah merayakan maulid Nabi sepeninggal beliau. Lantas apakah kecintaan kita lebih besar dan lebih murni ketimbang kecintaan para Shohabat sehingga lancang mengada-ada perayaan yang tidak ada landasannya?
Terlebih lagi perayaan ini jelas-jelas meniru perbuatan orang-orang Nashroni yang mengadakan perayaan maulid 'Isa 'alaihissalam dengan istilah natalan. Sedang Nabi shollallahu 'alaihi wasallam telah menegaskan, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum itu."
Lalu bagaimana cara membuktikan kecintaan kita kepada Nabi shollallahu 'alaihi wasallam?
Bukti cinta kepada Allah ta'ala dan Rosul-Nya shollallahu 'alaihi wasallam hanyalah dengan mengikuti ajaran-ajaran beliau, mendahulukan hukum beliau, tidak menyelisihinya dan mendakwahkannya kepada manusia. Dalilnya firman Allah ta'ala:
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم
"Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (Al-'Imron: 31)
Syaikh Al-'Allamah Sulaiman bin Abdillah Alu Syaikh berkata:
"Dan mayoritas orang mengaku cinta kepada Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam lebih dari siapapun. Tentu pengakuan itu haruslah dibuktikan dengan "tashdiq" (pembenaran) dengan amalan dan peneladanan, sebab jika tidak, maka itu hanyalah pengakuan dusta. Karena Al-Qur'an menegaskan bahwa kecintaan dalam hati mengonsekuensikan amalan lahir. Sebagaimana firman Allah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." (Taisirul 'Azizil Hamid hal. 832)
Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang ikut perayaan maulid?

Sikap kita menasehati mereka dengan cara yang baik, menyampaikan ilmu kepada mereka, membuka pikiran mereka sesuai dengan tingkat pemahaman mereka sehingga mereka mengerti. Karena agama ini adalah nasehat, nasehat untuk Allah (ikhlas), untuk Rosul-Nya (tashdiq), untuk para pemimpin, dan saudara-saudara kita kaum Muslimin secara umum sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Wa billahit tawfiq.
_____
Fikri Abul Hasan

Dikucilkansetelah Hijrah Bersabarlah

Bismillah Assalamu Alaikum



Merasa Dikucilkan ??
Banyak dari kita yang mulai mengerti tentang agama, banyak dari kita yang mulai membaca buku-buku religi, banyak pula diantara kita yang mulai hadir di kajian-kajian ilmiyah, sehingga nampaklah perubahan perubahan pada dirinya. Mulai dari akhlaq, penampilan, teman dekat, lingkungan, pergaulan dan lain sebagainya.
Tak bisa dipungkiri bahwa dengan perubahan tersebut kita dihadapkan dengan reaksi yang berbeda-beda dari kebanyakan orang...
Dikucilkan...
Dicemooh...
Jadi bahan bercanda dan berbagai macam gangguan lainnya.
Lalu apa yang harus kita lakukan ? Tetap bertahan atau menyudahi proses ???
.
.Jawabannya ada pada ayat berikut ini: .
.
{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (٩٧) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ (٩٨) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (٩٩) } [الحجر :97 - 99] .
.
" Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan (97) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat) (98) dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) (99)." [Al Hijr : 97-99]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di berkata : " Ayat ini menunjukkan bahwa tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), dan memperbanyak dzikir kepada Allah, kemudian menyibukkan diri dengan beribadah kepadaNya dengan mengharapkan kebaikan2 serta pahala yang disiapkan oleh Allah, itu semua bisa melapangkan dada anda, serta bisa memudahkan kesulitan kesulitan yang ada, juga bisa menghapus kesulitan kesulitan yang diderita ." Perbanyaklah tasbih, tahmid, tahlil, dan berbagai macam dzikir laiinya agar kemudahan yang dijanjikan oleh Allah bisa kita rasakan .
.
.
Wallahu a'lam
Abu Zubair Bamajbur ------------------------

Monday, 27 November 2017

Nikmat yang kadang lupa di syukuri

Bismillah Assalamu Alaikum


Berkata Shalih Ad Dimasyqy rahimahullah :

يا بني، إذا مرَّ بك يوم وليلة قد سلم فيهما دينك، وجسمك، ومالك، وعيالك فأكثِر الشكر للَّه تعالى، فكم من مسلوب دينه، ومنزوع مُلكه، ومهتوك ستره، ومقصوم ظهره في ذلك اليوم، وأنت في عافية.

📒الذهبي في سير أعلام النبلاء (٣/٢٢٢) .


"Wahai anakku, apabila lewat padamu satu hari dan satu malam yang selamat di dalamnya agamamu, jasadmu, hartamu dan keluargamu, maka perbanyaklah syukur kepada Allah. Karena berapa banyak orang yang terampas agamanya, tercabut kekuasaannya, terkoyak tabir aibnya dan rapuh (terpecah) punggungnya pada hari itu, sementara kamu dalam keadaan 'afiat (selamat).

Di terjemahkan oleh
Abu Sufyan Al Makassary..✍

Wednesday, 22 November 2017

ADA YANG SALAH...People Zaman Now

Bismillah Assalamu Alaikum


.
Oleh Ust. Ahmad Zainuddin - حفظه الله -
.
Doeloe... orang tua kita berangkat bekerja setelah matahari terbit dan sudah kembali ke rumah sebelum matahari terbenam.
Walaupun memiliki anak yang banyak.....rumah dan halaman pun tetap luas, bahkan tidak sedikit ada yang memiliki kebun...dan semua anak-anaknya bersekolah.... Sekarang....banyak yang berangkat kerja subuh dan sampai rumah setelah isya, tapi rumah dan tanah yang dimiliki tidak seluas rumah orang tua kita, dan bahkan banyak yang takut memiliki anak banyak karena takut kekurangan....
.
"Dan sungguh akan Allah berikan cobaan kepada manusia dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta...."
(Al Baqoroh (2) AYAT 155)
Ada yang salah dengan cara hidup orang modern.... Orangtua kita hidup tanpa banyak alat bantu....tapi tenang menjalani hidupnya...
Sementara kita yang dilengkapi dengan pampers, mesin cuci, kompor gas, HP, kendaraan, TV, email, FB, Twitter, , ipad, ruangan ber AC dll..
.
Harusnya mempermudah hidup ini....tapi ternyata tidak, sampai2 tidak sempat kita menikmati hidup karena semuanya dilakukan terburu-buru...
.
...berangkat kerja, TERBURU-BURU...
...pulang kerja, juga TERBURU-BURU...
...makan siang, TERBURU-BURU...
...dilampu merah, TERBURU-BURU...
...berdo'a pun, TERBURU-BURU...
...bahkan sholatpun, TERBURU-BURU...
.
Sifat diatas bukti dari Al-Qur'an surat Al Isra' (17) ayat 11
" Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa"
Hanya mati........yang tidak seorangpun mau TERBURU-BURU.... Saking takutnya akan kurangnya harta untuk keluarga sampai-sampai kita HITUNGAN dalam BERSEDEKAH, sementara Allah tidak pernah hitungan dalam memberi rizki kepada kita
.
"Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh berbuat kikir...."
(Al Baqoroh (2) AYAT 268)
Bahkan saking lebih takutnya kita kehilangan pekerjaan hingga berani melewatkan sholat subuh, sholat maghrib dsb.. Sampai dimanakah hidup kita pada hari ini.....??? --- semoga bermanfa'at
.
┈┈»̶·̵̭̌✽ ✽·̵̭̌«̶┈

Monday, 20 November 2017

Mulutmu, Surgamu Atau Nerakamu

Bismillah Assalamu Alaikum


Jagalah LISAN Anda, syukurilah nikmat itu untuk menghibur dan membahagiakan orang lain…
Jangan malah menjadikannya sebagai pemuas hawa nafsu Anda untuk menyakiti dan menusuk hati orang lain… karena lisanmu itu; surgamu atau nerakamu... Simaklah hadits berikut ini :
Sahabat Abu Hurairah radhiyallhu 'anhu mengatakan :

Ada seorang lelaki mengatakan: "Ya Rasulullah, sungguh si fulanah itu dikenal dengan banyaknya amalan sholatnya, puasanya, dan sedekahnya, hanya saja dia biasa menyakiti tetangganya dengan lisannya".
Beliau menjawab: "Dia di NERAKA".

Orang itu mengatakan lagi: "Ya Rasulullah, sungguh si fulanah (yang lain), dia dikenal dengan sedikitnya amalan puasanya, sedekahnya, dan sholatnya… namun dia TIDAK menyakiti tetangganya dengan lisannya".
Beliau menjawab: "Dia di SURGA".
[HR. Ahmad: 9675, sanadnya hasan, Al-Musnad 15/421]
(Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny Lc., MA)

Wednesday, 15 November 2017

TIDAKKAH KAU CEMBURU PADA MEREKA...?

Bismillah Assalamu Alaikum



TIDAKKAH KAU CEMBURU PADA MEREKA...?
Bismillaah...
Tidakkah kau cemburu pada mereka, yang berani memilih berubah walau perih dan tidak mudah...?
Tidakkah kau cemburu pada mereka, yang tetap istiqomah walau sangat susah dan payah...?
Tidakkah kau cemburu pada mereka, yang tetap memiliki cinta-Nya walau tersiksa, teraniaya...?
Tidakkah kau cemburu pada mereka, yang senantiasa berjuang walau tak selalu berujung senang...?
Tidakkah kau cemburu terhadap mereka, yang terus dan terus bergerak sampai jantung tak berdetak...?
Tidakkah kau cemburu pada mereka, apapun yang mereka kerjakan selalu bernilai Akhirat...?
Sahabat...
Sesungguhnya, tidak berlalu masa bagi kehidupan seorang mukmin, melainkan sarat dengan episode-episode ujian keimanan.
Dunia ini adalah medan ujian, pusat perjuangan.
Allah berfirman : "Maha suci Allah yang di Tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (📑QS Al-Mulk : 1-2)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : "Sesungguhnya jika Allah Subhanahu wa ta'ala menyukai suatu kaum maka dia akan mengujinya. Barangsiapa yang ridha dengan ujian itu maka dia akan dapat ridha Rabb-nya, dan barangsiapa yang benci maka dia akan mendapatkan kebencian Rabb-nya." (📓HR. Tirmidzi)
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang di cintai Allah...
Jangan berputus asa saat menjalani ujian dan jangan pula takabur (lupa diri) ketika mendapat kenikmatan...
#Muhasabah

HIDAYAH ADALAH ANUGERAH TERBESAR

Bismillah Assalamu Alaikum


.
Saudaraku, bersyukurlah kepada Allah ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan hidayah dari-Nya.
.
Sebanyak tujuh belas kali dalam sehari, di setiap raka’at shalat kita, kita memohon petunjukNya.
.
“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)
.
Berbahagialah kawan dengan hidayah yang Allah berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang buruk yang membuatmu kembali ke masa lalu, mengganggu keistiqomahanmu di atas agama serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama.
.
Sadarilah kawan bahwa hidayah adalah anugerah Allah yang teragung dan terindah. Bila kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka nikmat hidayah adalah yang paling harus kita syukuri. Syukur dengan ucapan, perbuatan dan pengakuan bahwa nikmat itu datang dari Allah.
.
Adapun seorang yang semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.
.
Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….
.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Monday, 13 November 2017

HUKUM MEMBACA RAMALAN ZODIAK atau SHIO

Bismillah Assalamu Alaikum

Orang yang membaca ramalan bintang/zodiak atau Shio baik itu di majalah, koran, website, melihat di TV ataupun mendengarnya di radio memiliki rincian hukum seperti hukum orang yang mendatangi dukun, yaitu sebagai berikut:
.
Jika ia membaca zodiak atau shio,
meskipun ia tidak membenarkan ramalan tersebut.
maka hukumnya adalah haram,
sholatnya tidak diterima selama 40 hari. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam yang artinya,
.
“Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)
.
Jika ia membaca zodiak atau shio
kemudian membenarkan ramalan tersebut, maka ia telah kufur terhadap ajaran Muhammad Shallahu alaihi wasallam. Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda.
.
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallahu alaihi wasallam.” (Hadits sahih Riwayat Imam Ahmad dan Hakim).
.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
.
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).
.
Al Qurtubi mengatakan, ”Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.” (Al Jami’ Liahkamil Qur’an, 18: 161).
Jika Allah jadi satu-satunya sandaran, maka rizki, jodoh, dan segala urusan akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala.
.
إِنْ أُرِ‌يدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّـهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
.
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)
.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Saturday, 11 November 2017

Raih Bekal Untuk PErjalanan PAnjang

Bismillah Assalamu Alaikum



Kita hidup di dunia, tidak lama.. Rosululloh, shollallohu alaihu wasallam, telah bersabda:
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut“. [HR. Ibnu Majah: 4236, Syeikh Albani mengatakan: hasan shohih].
Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak untuk mengarunginya.. BAHKAN kadang kita harusBANTING TULANG demi mencari bekal untuk kehidupan ini.
Jika untuk waktu +-70 tahun saja kita harusBANTING TULANG untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita banting tulang untuk kehidupan alam barzakh yang mungkin bisa sampai RIBUAN TAHUN ?!
Setelah alam barzakh juga kita harus dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, SATU HARINYA = 50 RIBU TAHUN…
Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita..
Tak ada pakaian, tak ada sandal, matahari hanya berjarak 1 mil dan tak ada naungan kecuali naunganNya.
Sungguh, kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama, dan jauh lebih berat… tentu itu memerlukan usaha mengumpulkan BEKAL yang jauh lebih banyak dan jauh lebih intens.
Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah dia mempersiapkannya…?!
Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan LIHATLAH DIRI MASING-MASING apakah yang sudah ia PERSIAPKAN untuk KEHIDUPAN ESOKNYA”. [Al-Hasyr:18]
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Darini MA. حفظه الله تعالى

Bila Rasulullah MAsih Apakah kau akan menjadi Penolong atau Musuhnya

Bismillah Assalamu Alaikum

Mereka membenci bahkan cenderung menghina ajaran Nabi shallallahu ‘alaih wasallam dan melecehkan seorang yang berpegang teguh dengan ajaran dan sunnahnya .


.
termasuk di dalamnya meremehkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dibacakan kepadanya .
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول: « فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى ».
.
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.”
.
Siapa yang membenci ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, perlu dipertanyakan pembelaanya .
.
Siapa yang membenci tauhid, sunnah, jilbab wanita muslimah yang sesuai syariat, memanjangkan jenggot, mengangkat celana di atas dua mata kaki, makan dan minum dengan tangan kanan, siapa yang membenci semua ini, perlu dipertanyakan, “apakah ia sedang menghina Rasulullah atau menghinanya shallallahu ‘alaihi wasallam?”
.
Menolak hadits-hadits shahih .
.
عَنْ أَبِى رَافِعٍ وَغَيْرُهُ رَفَعَهُ قَالَ « لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ أَمْرٌ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِى مَا وَجَدْنَا فِى كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ ».
.
Artinya: “Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tidak mendapati salah seorang dari kalian bersandar di atas kasur mewahnya, datang kepadanya sebuah perintah, yang aku perintahkan atau aku telah melarangnya, ia berkata: “Aku tidak tahu, apa yang kami dapatkan di dalam Al Quran (itu) yang kami ikuti.” (HR. Tirmidzi)
.
Siapa yang menolak hadits yang shahih, baik yang masuk dalam logikanya atau tidak, maka jangan mengaku-ngaku dia membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
.
Siapa yang menolak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih karena lebih mendahulukan hawa nafsunya, adatnya, madzhabnya, maka bisa dipastikan ia tidak membela beliau .

Monday, 6 November 2017

Selepas MEninggal Apa uang terjadi dengan sosMEd Anda

Bismillah Assalamu Alaikum



Suatu PERINGATAN sebenarnya bagi kita semua.
Mari kita RENUNGKAN bersama PIKIRKAN bersama,
Jika suatu hari nanti kita MATI, AKUN Sosial Media hanya kita yang tau passwordnya dan hanya kita yang BISA membukanya.
🍁
Dan,
SELEPAS kita meninggal Apa yang terjadi pada akun AKUN Sosial Media kita?
🍁
Mungkin ada yang selalu menjenguk sosmed kita sebagai PELIPUR LARA.
🍁
TETAPI..
SADARKAH kita?
GAMBAR DAN VIDEO diri kita.
Akan terus membuat kita di Alam kubur TERSIKSA.
Gambar dan video yang TIDAK ditutupi auratnya.
Atau bahkan yang TELAH tertutup auratnya.
Yang dapat membangkitkan SYAHWAT lawan jenis kita.
Yang dapat menjadi FITNAH dunia.
Yang menyebabkan beberapa orang HASAD, DENGKI, dan IRI.
Bagaimana NANTI?
Orang orang terus menerus MELIHATNYA.
Dan kadang ada gambar yang di tag dari teman-teman kita.
Walaupun SUDAH bertahun-tahun kita WAFAT,
Gambar itu terus ada SAHAM DOSA TERUS MENINGKAT.
🍁
BAGAIMANA?
PERNAHKAH ada dipikiran kita?
Legging dan jeans ketat, BISAKAH menyelamatkan kita?
Baju yang TIDAK membalut aurat, BISAKAH menyelamatkan kita?
RAMBUT yang terjurai, BISAKAH menyelamatkan kita?
Tak terkecuali gambar yang TELAH tertutup auratnya, BISAKAH menyelamatkan kita?
Kecantikan serta ketampanan yang kita banggakan, BISAKAH menyelamatkan kita?
Saat kita meninggal gambar diri kita masih bisa dinikmati banyak orang dan menjadi ladang dosa jariyah.
Naudzubillah.
Di akhirat nanti,
Semua itu tidak akan membawa ARTI.
Di alam KUBUR, semua itu TIDAK sedikitpun dapat menyelamatkan diri.
🍁
Mari kita bersama-sama RENUNGKAN.
SAHAM DOSA yang terus MENINGKAT walau setelah kita DIWAFATKAN.
🍁
Tutupilah auratmu SEBELUM auratmu ditutupkan.
Peliharalah dirimu SEBELUM dirimu di kafankan.
Hapuslah foto-fotomu SEBELUM foto itu membahayakan.
Jagalah HARGA DIRI sebagai seorang muslim muslimah SEJATI.
Mati itu PASTI.
Persiapkan DIRI untuk mati.
Karena kapan ia tiba tidak ada yang mengerti.
🍁
Semoga Allaah Subhanahu wa Ta’ala ridha dengan renungan ini.
Dan semoga kita selalu diberi hidayah serta istiqamah dari-Nya.
Aamiin yaa Rabbal'alamin.
Wallaahu waliyutaufiq.

🌼SEMUA NIKMAT AKAN KITA PERTANGGUNG-JAWABKAN…

Bismillah Assalamu Alaikum


Allah ta’ala berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيم
“Kemudian kalian benar-benar akan ditanya tentang semua nikmat (yang diberikan)” [At-Takatsur: 8]
Syeikh Sholeh Assindi -hafizhohulloh- mengatakan:
“Dan nikmat apakah yang lebih agung dari TAUHID?!
Maka barangsiapa ingin menjadi orang yang mensyukuri nikmat ini, maka hendaklah dia memberikan waktu dan usaha utamanya untuk BERDAKWAH (mengajak umat) kepadanya.
Hendaklah dia semangat dalam memberikan hidayah kepada seluruh makhluk.
Dan Hendaknya dia menganggap MURAH dzatnya demi (memuliakan) Dzat Allah“.
[Addakwah ilat Tauhid, 42-43].
———-
Mari dakwahkan TAUHID dan SUNNAH kepada orang di sekitar kita… sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing… dan dengan cara yang paling baik dan paling mudah diterima oleh mereka.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,

Sunday, 5 November 2017

Bolehkah Saya menjadi sahabatmu

Bismillah Assalamu Alaikum



Nerakamu memang bukan urusanku dan surga belum tentu jadi miliku. Tapi mengajakmu dalam kebaikan adalah kewajibanku
Banyak orang yang mudah menerima kebenaran ketika kebenaran itu tidak mengusik urusan pribadinya. Namun tidak sedikit pula orang yang menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu telah mengusik urusan pribadinya
Umar Bin Khattab Radhiyallahu'anhu berkata: Tidak ada kebaikan bagi orang yang enggan memberi nasehat dan tidak pula ada kebaikan bagi orang yang enggan menerima nasehat
Termasuk lemahnya hati, ditandai dengan senangnya saat dipuji dan merasa kesal saat dinasehati
Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda dalam hadis riwayat muslim
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
Agama itu nasihat
Nasihat untuk semua tentunya. Baik penguasa, pengusaha, aparat negara hingga rakyat jelata. Karena sifat manusia pada asalnya makhluk yang lemah tak luput dari berbuat salah khilaf mudah lupa perlu untuk terus disegar segarkan ingatannya
Hasan Al Bashri berkata
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة
Perbanyaklah berteman dengan orang orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman dekat kalian”. (HR. Abu Daud)
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
Jika engkau memiliki teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah. Maka peganglah erat erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangatlah mudah
Diantara tanda sahabat terbaik adalah:
1⃣ Seseorang yang dengan melihatnya, Mengingatkan kita kepada Allah عزوجل
2⃣ Seseorang yang dengan Perkataannya, Bertambah Amal Kebaikan kita
3⃣ Seseorang yang dengan Amal amalnya, Mengingatkan kita kepada Akhirat

SIKAP SUAMI YANG BAIK

Bismillah Assalamu Alaikum



Asy Syeikh Al Utsaimin rohimahullah:
(والذي ينبغي أن يكون الرجل رجلاً بمعنى الكلمة، من الذي ينسى الحسنات إذا حصلت عليه سيئة واحدة؟ المرأة، أتريد أن تنزل بنفسك حتى تكون بمنزلة المرأة إذا رأيت منها سيئةً واحدة، قلت: ما رأيت خيراً قط)

Yang selayaknya seorang laki laki harus menjadi laki laki yang sebenarnya.
Siapakah yang suka melupakan kebaikan kebaikan ketika ada satu kesalahan? Wanita.
Apakah engkau mau untuk turun derajatmu sehingga dirimu seperti wanita yang apabila melihat satu kesalahan, kemudian engkau langsung mengatakan: Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun.

Saturday, 4 November 2017

GADIS SALAFIYAH MENANTI PRIA SALAFI* *PERTANYAAN* .

Bismillah Assalamu Alaikum



Maaf sebelumnya Ustadz, saya gadis bercadar dan jarang keluar rumah, umur saya 28 th, mohon saran Ustadz, saya mau menikah, sudah beberapa kali ta’aruf tapi gagal, semuanya menyatakan ingin menikahi saya tapi saya tolak karena saya mengkawatirkan dien saya. Apa yang harus saya lakukan sekarang?
Akhwat, Kalbar (08525201xxxx) .
. *JAWABAN* .
.
Pertama: Kami ikut bersyukur kepada Alloh, karena ukhti walaupun belum menikah, tetapi sudah menerima nikmat yang cukup besar, dapat menerima ajaran as-salaf ash-sholih, bercadar, memelihara diri tidak sering keluar; itulah sifat wanita muslimah yang terpuji.
.
. *maka wanita yang sholih, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka)….* (QS. an-Nisa’ [4]: 34) .
.
.
Kedua: Jangan terburu-buru menerima pasangan hidup, karena berkeluarga bukan hanya satu hari atau dua hari. Apalagi seorang wanita jika terjadi perpecahan di dalam rumah tangga lebih parah daripada laki-laki. Karena itu, Rosululloh menganjurkan kita memilih pasangan hidup yang kuat agamanya dan kuat aqidahnya. 📖 Abu Huroiroh berkata: Rosululloh Shallallahu alaihi wasallam bersabda (artinya): .
. *“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya (dienul Islam) maka pilihlah wanita yang memiliki dien yang kuat, kamu akan bahagia.”* (HR. Bukhori: 4700) .
.
Mafhum mukholafahnya, wanita pun demikian, dia punya hak untuk menentukan pilihannya dengan mengutamakan yang baik aqidahnya.

Ketiga: Ukhti hendaknya beriman dengan taqdir, di samping harus berusaha, hendaknya bersabar menanti kekasih yang siap mendampingi yang diridhoi oleh Alloh.
*Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Alloh adalah benar….* (QS. Ghofir [40]: 77)

Dan di antara upaya yang hendaknya ukhti kerjakan, mohonlah kepada Alloh agar diberi jodoh yang beriman, beraqidah yang benar, dan bermanhaj salaf; terutama pada malam hari dengan menjalankan sholat tahajjud dan ibadah lainnya. .
.
*Dan mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.* (QS. al-Baqoroh [2]: 45)
Dijawab oleh Ustadz Aunur Rafieq Ghufron (Pengasuh Pesantren Al-Furqan Gresik di majalah Al-Mawaddah
🌐 Group BIS & BMS - Dakwah Untuk Umat

syirik adalah kedzaliman terbesar

Bismillah Assalamu Alaikum


Kita tahu bagaimana pendakwah kebenaran akan selalu mendapat cobaan. Keadaan yang berbeda, pendakwah kesesatan yang dibela. Saat ini, syirik dan bid’ahlah yang dibela mati-matian. Padahal kedua dosa ini telah melanggar prinsip dua kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh kaum muslimin.

Lihatlah di tengah-tengah kita, ada suatu program yang sudah mau mengajarkan pada umat akidah yang benar dan sunnah yang shahihah, namun dituduh sebagai pendukung ajaran sesat sehingga program ini harus ditutup. Memang betul dikatakan oleh para ulama, pelaku syirik saat ini lebih parah dari masa silam. Dahulu orang-orang musyrik tahu bahwa mereka berseberangan dengan dakwah Rasul. Namun saat ini, mereka mengklaim bahwa merekalah ahlu tauhid dan merekalah yang sejalan dengan ajaran Rasul. Sungguh parah!

*Syirik itu Kesesatan yang Paling Besar*
Syirik artinya menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah, atau bisa katakan pula syirik adalah menduakan Allah dalam ibadah. Semacam menjadikan do’a, sembelihan dan tumbal pada selain Allah.
Orang yang berbuat syirik dikatakan dalam ayat sebagai orang yang telah jauh tersesat karena ia telah menginjak hak-hak Allah. Di antara hak Allah adalah menjadikan ibadah hanya pada Allah saja, bukan pada makhluk seperti malaikat, nabi, orang sholih atau pada pohon dan batu. Jika seorang muslim menjadikan wali yang telah mati sebagai perantara dalam do’a, lalu ia sampaikan do’a pada wali supaya hajatnya disampaikan pada Allah, ini namanya meminta do’a pada wali. Setiap yang meminta pada selain Allah, itu syirik walau yang diminta bukanlah berhala, batu atau pohon. Contoh tadi itulah bentuk kesyirikan yang terjadi di masa silam di kalangan orang-orang musyrik. Bukti bahwa perbuatan meminta semacam itu termasuk syirik dibuktikan dalam ayat berikut,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar: 3). Bagaimana perbuatan tadi tidak disebut syirik sedangkan di akhir ayat disebut bahwa mereka termasuk dusta lagi ingkar. Namun inilah perbuatan syirik yang dibela oleh para pengagung kubur, wali dan sunan. Wallahul musta’an.
Pelaku syirik itulah yang telah sesat sejauh-jauhnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (QS. An Nisa’: 116).
Dalam ayat lain dalam nasehat Lukman pada anaknya disebutkan,
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya syirik adalah benar-benar kezholiman yang besar.” (QS. Lukman: 13).
Coba renungkan ayat berikut pula,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88). Kenapa syirik itu dibela padahal syirik bisa menghapus amalan? Juga disebutkan dalam ayat lain,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65).
Lantas kenapa sampai ajaran syirik dibela dan terus dilestarikan? Dan biasanya pelaku syirik pun sudah tidak punya argumen lagi ketika syirik mereka dikritik. Mereka hanya bisa beralasan bahwa ajaran tersebut sudah menjadi tradisi turun temurun di tanah air. Hal ini pas seperti alasan orang-orang musyrik di masa silam. Tak jauh beda. Lihatlah ayat,
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka“.” (QS. Az Zukhruf: 23). Mereka tidak punya dalil untuk mendukung kesyirikan mereka. Yang ada cuma dalil yang tidak tegas atau dalil yang tidak shahih. Dan ujung-ujungnya, alasan mereka adalah warisan tradisi. Sama halnya ternyata dengan orang musyrik di masa silam.
Demikianlah sebagian orang menganggap bahwa tindakan mesum masih lebih parah daripada tindakan menyekutukan Penciptanya dalam ibadah. Padahal dosa mesum masih berada di bawah kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48). Apa mereka lebih senang masyarakat rusak dengan syirik dibanding dengan mesum? Padahal dosa mesum masih di bawah kesyirikan. Sedangkan dosa syirik tidak diampuni jika dibawa mati.
Jika dakwah anti syirik dikatakan sesat, maka seharusnya dakwah para Nabi pun dikatakan demikian. Karena setiap Rasul telah mengajarkan pada umatnya untuk menjauhi syirik dan mentauhidkan Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu (segala sesuatu yang disembah selain Allah)” (QS. An Nahl: 36). Apa mereka mau menyesatkan para Nabi sebagai pendakwah anti syirik?
*Bid’ah itu Sesat, Tidak Ada yang Hasanah*
Yang dibela kedua adalah berbagai ritual bid’ah, yaitu amalan yang dibuat-buat dalam hal agama yang tiada tuntunan karena tidak ada dalil pendukung. Perbuatan bid’ah inilah yang menyelisihi syahadat (pengingkaran) bahwa Nabi kita adalah hamba dan utusan Allah. Kalau dikatakan demikian, maka setiap akidah, amalan dan ibadah mesti mengikuti tuntunan nabi, bukan seenaknya membuat ibadah-ibadah baru sendiri.
Ketika ada yang mengkritik ritual maulid Nabi, yasinan, tahlilan, serta ritual bid’ah lainnya, maka alasan pro-bid’ah tadi di antaranya ajaran ini semua baik (hasanah), kenapa dilarang?
Padahal Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri yang mengatakan setiap bid’ah itu sesat.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Kata Al Hafizh Abu Thohir, sanad hadits ini shahih. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih). Kalau Rasul katakan setiap amalan yang tiada tuntunan itu sesat, lantas mengapa masih dikatakan ada bid’ah hasanah. Apakah kita mau pertentangkan sabda Rasul dan perkataan manusia lainnya? Lihatlah kata Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah itu sesat, walaupun manusia menganggapnya baik (hasanah).” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1: 219, Asy Syamilah)
Seorang ulama besar dalam madzhab Syafi’i berkata mengenai maksud bid’ah itu sesat,
والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام
“Yang dimaksud setiap bid’ah itu sesat adalah setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum” (Fathul Bari, 13: 254).
Ibnu Rajab dari madzhab Hambali juga mengatakan,
فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .
“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128).
Dan kami pun tidak asal menuduh sesatnya bid’ah kecuali jika memenuhi tiga syarat,
1- Amalan tersebut baru, diada-adakan atau dibuat-buat.
2- Amalan tersebut disandarkan sebagai bagian dari ajaran agama.
3- Amalan tersebut tidak memiliki landasan dalil baik dari dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)
Sehingga keliru jika ada yang menganggap bahwa naik pesawat, pakai laptop, pakai HP itu bid’ah dengan alasan di masa Nabi tidak ada komunikasi semacam itu dan kendaraannya hanya unta. Karena sekali lagi sebagaimana syarat yang disebutkan di atas, bid’ah itu dalam urusan agama, bukan urusan dunia.
Jika Nabi sendiri yang katakan setiap bid’ah itu sesat (tidak ada yang hasanah), lalu bila ada yang mengingkari bid’ah, apa pantas disebut sesat?
*Memang Kita Mesti Bersabar!*
Setiap yang mendakwahkan kebenaran, memang akan senantiasa menghadapi cobaan, baik berupa celaan, sindiran, pemboikotan bahkan juga disakiti fisiknya. Sebagaimana para nabi pun mendapatkan cobaan dan itu sesuai kualitas imannya.
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Celaan dan caci maki dari orang yang tidak suka dengan dakwah anti syirik dan anti bid’ah adalah cobaan dan itu diberikan sesuai dengan tingkatan iman seorang muslim,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya balasan terbesar adalah dari ujian terberat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka, maka baginya murka Allah.” (HR. Tirmidzi no. 2396, beliau katakana hadits ini hasan ghorib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Sehingga tugas kita mesti bersabar. Kesabaran ini akan berbuah manis seperti dalam pepatah Arab,
Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya
Namun akhirnya lebih manis daripada madu
Kesabaran itu bisa diraih dengan pertolongan Allah,
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan dari Allah.” (QS. An Nahl : 127)
Dan pasti dakwah tauhid akan meraih kejayaan. Kebatilanlah yang akan sirna,
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al Isra’: 81).
Moga Allah menangkan dakwah tauhid dan sunnah serta menghancurkan kesyirikan.

Friday, 3 November 2017

Wasiat - wasiat Generasi Salaf

Bismillah Assalamu Alaikum



Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari
GENERASI SALAF SEBAGAI GENERASI PILIHAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:
ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻘُﻮﻥَ ﺍْﻷَﻭَّﻟُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ ﻭَﺍْﻷَﻧﺼَﺎﺭِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﻫُﻢ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺃَﻋَﺪَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﺗَﺤْﺘَﻬَﺎ ﺍْﻷَﻧْﻬَﺎﺭُ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺂ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." [At-Taubah : 100]
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam mengemban risalah ilahi.
Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik”. Sungguh sebuah ucapan yang pantas di tulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.
Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.
SALAF DAN TAZKIYATUN NUFUS
Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu.
Allah berfirman:
ﻛَﻤَﺂﺃَﺭْﺳَﻠْﻨَﺎ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻻً ﻣِّﻨﻜُﻢْ ﻳَﺘْﻠُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺀَﺍﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَﻳُﺰَﻛِّﻴﻜُﻢْ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻜُﻢُ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَﻳُﻌَﻠِّﻤُﻜُﻢ ﻣَّﺎﻟَﻢْ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." [Al-Baqarah : 151]
Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu’an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah.
Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: “Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita?” beliau menjawab: “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!”.
SALAF DAN KEGIGIHAN DALAM MENUNTUT ILMU
Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ya’qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: “Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: “Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits!” Beliau berkata: “Bacalah!”
“Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku!” jawabku.
“Bacalah!” kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia berkata: “Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali!” Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: “Saya telah mencambuknya!” Maka aku berkata kepada beliau: “Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan!”
“Apa tebusannya?” tanya beliau.
“Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!” jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: “Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku!” Imam Malik hanya tertawa dan berkata: “Pergilah!”.
SALAF DAN KEIKHLASAN
Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!”
Ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”
Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka.
Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya.”
Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”
Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!”
Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.
Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas.”
Yahya bin Muadz berkata: “Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”
Abu Utsman Sa’id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.”
Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi’ bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!”
SALAF DAN TAUBAT
Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!
‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”
Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”
TANGIS GENERASI SALAF
Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Ketika membaca firman Allah:
ﻭَﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu”. [Al-Ahzab : 33]
‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.
Demikian pula Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, ketika membaca ayat.
ﺃَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻥِ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻥ ﺗَﺨْﺸَﻊَ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻟِﺬِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” [Al-Hadid : 16]
Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.
Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat
ﻟِﻴَﻮْﻡٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ ﻳَﻮْﻡَ ﻳَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻟِﺮَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ
“Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” [Al-Muthaffifiin : 5-6]
Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.
SALAF DAN TAWADHU’
Pernah disebut-sebut tentang tawadhu’ di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu’!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu’ wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”
Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.”
Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: “Apa itu tawadhu’?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”
Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”
SALAF DAN SIFAT SANTUN
Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak” Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.”
Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”
SALAF DAN SIFAT ZUHUD
Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.”
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.”
Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Thursday, 2 November 2017

KENCING BISA MENYEBABKAN SIKSA

Bismillah Assalamu Alaikum

. Banyak di antara kaum muslimin yang mengabaikan perilaku ini, yakni enggan beristinja’ (cebok) setelah buang air kecil, buang air kecil sambil berdiri dan membiarkan air kencingnya itu memerciki celana dan bajunya lalu ia tidak mencuci atau membilasnya, tidak mencuci kaki atau tangan dengan air ketika terkena air kencing dan lain sebagainya. Padahal umumnya atau kebanyakan adzab kubur itu disebabkan lantaran air kencing, sebagaimana di dalam dalil-dalil berikut ini,

. عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِصلى الله عليه و سلم: عَامَّةُ عَذَابِ اْلقَبْرِ فىِ اْلبَوْلِ فَاسْتَنْزِهُوْا مِنَ الْبَوْلِ
.
Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Umumnya (kebanyakan) adzab kubur adalah lantaran air kencing, maka sebab itu bersihkanlah dari air kencing”. [HR al-Bazzar dan ath-Thabraniy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].
.
عن أنس رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صلى الله عليه و سلم: تَنَزَّهُوْا مِنَ اْلبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنَ اْلبَوْلِ
.
Dari Anas radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Bersihkanlah diri kalian dari air kencing karena kebanyakan adzab kubur itu dari sebab air kencing”. [HR ad-Daruquthniy: 453. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: hasan].
.
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: أَكْثَرُ عَذَابِ اْلقَبْرِ مِنَ اْلبَوْلِ
.
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Kebanyakan adzab kubur itu disebabkan dari air kencing”. [HR Ahmad: II/ 327, 388, 389, Ibnu Majah: 348, ad-Daruquthniy: 459 dan al-Hakim. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].
— bersama Uwais Al Qorni.

Cara Memakai Sandal Sesuai Sunnah

Bismillah Assalamu Alaikum



SANDAL
Alas kaki adalah suatu benda yang sudah umum dan menjadi kebutuhan untuk sekarang ini. Ada yang namanya sandal, sepatu, sepatu sandal, yang jelas semuanya adalah Alas kaki.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana adab kita dalam menggunakan alas kaki.
Hadits dari 'Ali radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu,
َوَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ
Beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, 'Jika salah seorang dari kalian menggunakan sandal maka dia mulailah dengan menggunakan sandal bagian kanan, jika dia melepaskan sandalnya maka hendaknya dia mulai dengan melepaskan sandal yang kiri. Maka jadikanlah yang kanan yang pertama kali dipakai dan jadikanlah yang kanan pula yang terakhir dilepas' (Muttafaqun Alaihi). Hadits ini adalah hadits yang shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya, diriwayatkan juga oleh Imam Malik dan Abu Daud.
Nah Ikhwah Fillah, untuk memakai sandal atau alas kaki rata" kita sudah mengamalkan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Akan tetapi pada saat melepas terkadang kita, Afwan Ana maksudnya masih asal tidak memperhatikan kiri atau kanan.
INGAT :
PAKAI = KANAN
LEPAS = KIRI

Pahami, Amalkan dan Sebarkan,
Insyaallah akan menjadi ladang pahala buat kita.
Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“HR Ibnu Majah (no. 209)
Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam dan di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
#pecinta sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Akibat Menyelisihi SUNNAH

Bismillah Assalamu Alaikum



رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي في وقت النهي ركعات كثيرة فنهاه.
Sa'id bin al-Musayyib melihat seseorang mengerjakan shalat pada waktu terlarang dengan sejumlah raka'at yang banyak. Beliau pun lantas melarangnya.
Maka orang itu menjawab menimpali:
يا أبا محمد يعذبني الله على الصلاة ؟!!
Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengadzabku karena aku mengerjakan shalat?!!.
Beliau menjawab:
لا ، ولكن يعذبك على خلاف السنة
Tidak, akan tetapi Allah akan mengadzabmu karena engkau menyelisihi as-Sunnah."
.
Al-Imam Al-Albani rahimahullah mengatakan:
.
وهذا من بدائع أجوبة سعيد بن المسيب ، وهو سلاح قوي على المبتدعة الذين يستحسنون كثيرا من البدع ويتهمون أهل السنة بأنهم ينكرون الذكر والصلاة ، وهم إنما ينكرون عليهم مخالفتهم للسنة
.
Ini diantara jawaban mengagumkan dari Sa'id bin al-Musayib. Dan itu merupakan senjata yang kuat dalam membantah ahli bid'ah yang selalu saja menganggap baik banyak dari perkara kebid'ahan dan menuduh ahlus sunnah bahwa mereka mengingkari dzikir dan shalat.
.
Padahal mereka (ahlus sunnah) hanyalah mengingkari penyelisihannya terhadap sunnah.
.
[Irwaul Ghalil: 2/236]