Tuesday, 31 October 2017

Penjarakan Lisanmu

Bismillah Assalamu Alaikum



Tidak ada perkataan . .
- yang pergi tanpa manfaat
Di hari kiamat . .
ada yang membawa pahala sebesar gunung
namun lisannya . .
- menghancurkan seluruh amalnya
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan :
“ Ketahuilah , patut bagi setiap orang tuk menjaga lisannya dari setiap perkataan , kecuali perkataan yang dia yakin perkataan itu mempunyai kebaikan , dan jika perkataan tersebut tidak ada kebaikannya , maka hendaknya ia tahan lisannya.
Karena perkataan yang mubah pun dapat terseret menjadi :
- perkataan yang haram atau makruh
Bahkan ini sering terjadi . .
dan sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat
Dan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya ”
( Al-Adzkar , halaman 284 )
Sering kali kita ketahui di masyarakat . . apabila kita mendengar sedang mengobrol kepada temannya tentang seseorang . .
mungkin obrolan tersebut . .
- diawali oleh sesuatu yang dibolehkan
Tapi . .
- hawa nafsu dirinya
dapat menyeret perkataan tersebut menjadi perkataan yang haram
semisal :
- ghibah
atau
- namimah
Atau jika kita temui penjual yg menawarkan barangnya . .
mungkin diawali dengan perkataan yang :
- mubah
namun . .
- hawa nafsu dirinya
menyeret perkataan tersebut menjadi perkataan yang haram
semisal :
- sumpah palsu
- dusta
- An-Najsy
dan yang lain
Mungkin kita temui . .
seseorang sedang membicarakan tentang politik . .
Kita temua mereka membicarakan hal yang mubah . .
namun bisa jadi . .
- hawa nafsu mereka
menyeret perkataan tersebut menjadi debat yang tercela
Bahkan perkataan haram tersebut . .
- bisa menjadi hal yang lebih banyak keharamannya dari pada yang mubah
Allahul musta’an . .
Maka ketahuilah . .
selamat dari itu semua . .
- selamat dari lisan yang kotor . .
- selamat dari penyimpangan . .
- dosa dan kejelekkan
itu tidak ternilai harganya
Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam
bersabda :
“ Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat ”
( HR . At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
Siapa yang tidak menyibukkan diri dengan hal bermanfaat . .
maka dia akan tersibukkan denga hal yg berbahaya . .
Jatuhnya seseorang karena lisan
____
Selayaknya seorang yg ingin memiliki keislaman yang baik . .
ia meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaat baginya . .
" Mulutmu adalah harimaumu '’
Betapa banyak orang yang terjatuh disebabkan . .
- lisannya
Seseorang jatuh bisa disebabkan . .
- kakinya
namun . .
- luka di kaki tidak membutuhkan waktu yg lama untuk sembuh . .
namun . .
- seseorang bisa kehilangan kepalanya karena lisannya . .
Banyak orang yang dihukum . .
bahkan dengan hukuman mati . .
disebabkan karena :
- lisannya
Bisa karena lisannya yang :
- jorok
- fitnah
- dusta
dan yang lainnya hingga karena lisannya hilanglah kepalanya
Sepatutnya seorang muslim tidaklah mengeluarkan kata-kata yg tidak jelas . .
Wajib baginya menjaga kata-kata . .
dengan tidak berbicara . .
kecuali :
- dengan perkara yang menguntungkan dan menambah iman dan takwanya
Jika ingin berkata . .
- hendaklah menimbang ada faidah atau tidak . .
Jika tidak . .
- hendaklah tahan lidahnya
Jika iya . .
- maka timbanglah yang kedua
Janganlah dia buang sesuatu . .
- yang lebih menguntungkan
dibanding yang kurang menguntungkan . .
Lalai dalam menjaga lisan
_____
Satu hal yang mengherankan . .
mudah bagi banyak orang jaga diri dari :
- makan yang haram
- uang yang haram
yang katanya enak sekali pun
Bisa menjaga diri dari :
- kedhaliman
- zina
- mencuri
- minum khamr
- memandang yang haram
Namun sulit baginya mengontrol lisan
Jika masyarakat ditanya siapa yang bagus agamanya adalah :
- dia
namun ternyata . .
- jika dia berbicara dengan perkataan yang dibenci Allah tanpa kontrol
Seorang bisa turun karena satu ucapan . .
dan dia bisa jatuh ke neraka dengan jarak yang sangat jauh . .
Penyakit lisan juga merupakan penyakitnya orang-orang shalih
____
Banyak orang yg jaga diri dari perbuatan keji.
Namun . .
- lidahnya terjulur membahas kehormatan orang yang hidup atau mati tanpa peduli
Penyakit lisan adalah :
- penyakitnya orang-orang shalih
Jika Anda ingin mengetahuinya . .
maka lihatlah pada hadits dari Jundab radhiallahu ‘anhu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
“ Ada seseorang berkata :
" Demi Allah , Allah tidak akan mengampuni si Fulan "
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
'‘ Siapakah yang telah bersumpah mendahului-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan ?
Sungguh , Aku telah mengampuni si Fulan dan menghapuskan amal kebajikanmu ”
( HR . Muslim )
Hadits ini bercerita tentang . .
- orang Bani Israil
- ahli ibadah
dan
- ahli maksiat . .
Ahli ibadah sering memberi nasihat . .
Suatu ketika si ahli maksiat berkata :
“ Jangan campuri urusannya ”
Maka ahli ibadah jengkel , dan mengatakan :
“ Demi Allah , Allah tidak akan mengampuni si fulan ”
Dan Nabi ceritakan tentang kisah ini ... Seorang ahli ibadah yang dia menjadi seorang alim dan mengumpulkan amal ibadahnya dalam waktu yang sangat lama . . maka dihapuslah gara-gara satu baris kalimat yang dia katakan . .
Dan menjadi sebab . .
- amalan yg puluhan tahun dihapus semata-mata karena satu kalimat
Kerusakan lisan adalah kerusakan yang paling besar
____
Ibnu Masud bersumpah :
“ Demi Allah tidak ada sesuatu di bumi ini yang membutuhan penjara dalam waktu yang lama, selain lidahku ”
( Jaami’ Ulumu wal Hikaam , halaman 241 )
Dan sadarilah . .
anggota badan yang paling mudah bergerak adalah :
- lisan
Dan lisan pulalah yang kerusakannya paling besar . .
Tidak ada perkataan yang pergi tanpa manfaat . .
Di hari kiamat . .
ada yang membawa pahala sebesar gunung
namun . .
- lisannya menghancurkan seluruh amalnya Ada juga orang yang mempunyai segunung kesalahan , dan dia berdzikir
maka terhapuslah segunung kesalahannya.
__ Ustadz Aris Munandar lc __

KEDUDUKAN SHALAT DALAM ISLAM

Bismillah Assalamu Alaikum



Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi 🔹 Shalat wajib ada lima: Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya', dan Shubuh. 🔹 Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Pada malam Isra' (ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dinaikkan ke langit) diwajibkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat lima puluh waktu. Lalu dikurangi hingga menjadi lima waktu. Kemudian beliau diseru, 'Hai Muhammad, sesungguhnya keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah. Dan sesungguhnya bagimu (pahala) lima ini seperti (pahala) lima puluh'.”[1]
🔹 Dari Thalhah bin 'Ubaidillah Radhiyallahu anhu, ia menceritakan bahwa pernah seorang Arab Badui berambut acak-acakan mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku shalat apa yang diwajibkan Allah atasku." Beliau menjawab:
اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا.
"Shalat lima waktu, kecuali jika engkau ingin menambah sesuatu (dari shalat sunnah)." [2]
📂 Kedudukan Shalat Dalam Islam
🔹 Dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْـلاَمُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ.
"Islam dibangun atas lima (perkara): kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan." [3]
📌A. Hukum Orang Yang Meninggalkan Shalat
🔹 Seluruh ummat Islam sepakat bahwa orang yang mengingkari wajibnya shalat, maka dia kafir dan keluar dari Islam. Tetapi mereka berselisih tentang orang yang meninggalkan shalat dengan tetap meyakini kewajiban hukumnya. Sebab perselisihan mereka adalah adanya sejumlah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menamakan orang yang meninggalkan shalat sebagai orang kafir, tanpa membedakan antara orang yang mengingkari dan yang bermalas-malasan mengerjakannya.
🔹 Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ.
“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [4]
🔹 Dari Buraidah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَتُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.
‘Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.’” [5]
🔹 Namun yang rajih dari pendapat-pendapat para ulama', bahwa yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kufur kecil yang tidak mengeluarkan dari agama. Ini adalah hasil kompromi antara hadits-hadits tersebut dengan beberapa hadits lain, di antaranya:
Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَـادِ، مَنْ أَتَى بِهِنَّ لَمْ يُضِيْعَ مِنْهُنَّ شَيْئًا اِسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَـانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.
‘Lima shalat diwajibkan Allah atas para hamba. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka dia memiliki perjanjian de-ngan Allah untuk memasukkannya ke Surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Jika Dia berkehendak, maka Dia mengadzabnya. Atau jika Dia berkehendak, maka Dia mengampuninya.’”[6]
🔹 Kita menyimpulkan bahwa hukum meninggalkan shalat masih di bawah derajat kekufuran dan kesyirikan. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyerahkan perkara orang yang tidak mengerjakannya kepada kehendak Allah.
Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa’: 48]
🔹 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari seorang hamba yang muslim pada hari Kiamat adalah shalat wajib. Jika dia mengerjakannya dengan sempurna (maka ia selamat). Jika tidak, maka dikatakan: Lihatlah, apakah dia memiliki shalat sunnah? Jika dia memiliki shalat sunnah maka shalat wajibnya disempurnakan oleh shalat sunnah tadi. Kemudian seluruh amalan wajibnya dihisab seperti halnya shalat tadi.’” [7]
🔹 Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam akan lenyap sebagaimana lenyapnya warna pada baju yang luntur. Hingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, qurban, dan shadaqah. Kitabullah akan diangkat dalam satu malam, hingga tidak tersisalah satu ayat pun di bumi. Tinggallah segolongan manusia yang terdiri dari orang tua dan renta. Mereka berkata, 'Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallaah dan kami pun mengucapkannya.’” Shilah berkata kepadanya, “Bukankah kalimat laa ilaaha illallaah tidak bermanfaat untuk mereka, jika mereka tidak tahu apa itu shalat, puasa, qurban, dan shadaqah?”
🔹 Lalu Hudzaifah berpaling darinya. Shilah mengulangi pertanyaannya tiga kali. Setiap kali itu pula Hudzaifah berpaling darinya. Pada kali yang ketiga, Hudzaifah menoleh dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itulah yang akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Dia mengulanginya tiga kali.” [8]
📌B. Kepada Siapa Diwajibkan?
🔹 Shalat itu diwajibkan kepada setiap muslim yang telah baligh dan berakal
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ.
“Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga orang: dari orang yang tidur hingga terbangun, dari anak-anak hingga baligh, dan dari orang gila hingga kembali sadar.” [9]
🔹 Wajib atas orang tua untuk menyuruh anaknya mengerjakan shalat meskipun shalat tadi belum diwajibkan atasnya, agar ia terbiasa untuk mengerjakan shalat.
🔹 Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَـاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرَ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun. Serta pisahkanlah ranjang mereka.” [10]
📚[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Sunan at-Tirmidzi (I/137 no. 213)], secara ringkas. Dan diriwayatkan secara panjang dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VII/201 no. 3887), Shahiih Muslim (I/145 no. 259), serta Sunan an-Nasa-i (I/217).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/106 no. 46)], Shahiih Muslim (I/40 no. 11), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/53 no. 387), dan Sunan an-Nasa-i (IV/121).
[3]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/45 no. 16 (20))], ini adalah lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/49 no. 8), Sunan at-Tirmidzi (IV/119 no. 2736), Sunan an-Nasa-i (VIII/107).
[4]. Shahiih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 2848)], Shahiih Muslim (I/88 no. 82), ini adalah lafazhnya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XII/436 no. 4653), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/125 no. 2751), dan Sunan Ibni Majah (I/342 no. 1078).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 884)], Sunan Ibni Majah (I/342 no. 1079), Sunan an-Nasa-i (I/231), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/125 no. 2756).
[6]. Shahiih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1150)], Muwaththa’ al-Imam Malik (hal. 90 no. 266), Ahmad (II/234 no. 82), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/ 93 no. 421), Sunan Ibni Majah (I/449 no. 1401), dan Sunan an-Nasa-i (I/230).
[7]. Shahiih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1172)], Sunan Ibni Majah (I/458 no. 1425), ini adalah lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (I/258 no. 411), dan Sunan an-Nasa-i (I/232).
[8]. Shahiih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 3273)], dan Sunan Ibni Majah (II/1344 no. 4049).
[9]. Shahiih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3513), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XII/78 no. 4380).
[10]. Hasan: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 5868)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/162 no. 491), ini adalah lafazhnya, Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (II/237 no. 84), dan Mustadrak al-Hakim (I/197).

BUAH MANIS KEIKHLASAN

Bismillah Assalamu Alaikum


Ikhlas merupakan hal penting yang harus ada pada amalan seorang muslim. Tanpa adanya keikhlasan amal ibadah seorang muslim tidak akan diterima oleh Allah ta'ala.
Ikhlas dalam melaksanakan ketaatan artinya meninggalkan riya’.
Maksudnya, dalam beribadah kepada Allah seseorang memurnikan niatnya hanya ditujukan kepada Allah semata, lillahi ta'ala.
BUAH KEIKHLASAN :
Mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.
Sebab teragung diterimanya amal ibadah seseorang oleh Allah (selain mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam).
Membuahkan cinta Allah ta’ala kepada hamba-Nya dan cinta para malaikat.
Merupakan pondasi penting sebuah amalan.
Membuahkan pahala melimpah dengan amalan ringan.
Dengan ikhlas, perbuatan yang hukumnya mubah akan dibalas dengan pahala di sisi-Nya.
Orang yang ikhlas akan dituliskan baginya apa yang dia niatkan meski ia tidak jadi mengerjakannya.
Apabila ia tertidur atau lupa dari mengamalkan sesuatu yang sudah menjadi rutinitas maka akan tetap dituliskan pahala baginya.
Apabila ia sakit atau bepergian maka akan tetap dituliskan pahala sebagaimana ia sehat dan mukim.
Allah menolong umat ini karena keikhlasannya.
Membuahkan keselamatan dari siksa akhirat.
Disingkapkannya kesulitan di dunia dan akhirat.
Orang yang ikhlas akan diangkat derajatnya di akhirat.
Dapat menyelamatkan dirinya dari kesesatan -dengan izin Allah-.
Merupakan sebab bertambahnya petunjuk.
Namanya akan baik di tengah manusia.
Ketentraman hati dan perasaan bahagia.
Hatinya akan terhiasi dengan keimanan.
Taufik dari Allah.
Husnul khatimah (kesudahan yang baik).
Dikabulkannya doa oleh Allah.
Kenikmatan di alam kubur dan kabar gembira dengan kebahagiaan di akhirat.
Masuk surga dan dijauhkan dari neraka.
[Nur al-Ikhlas, Sa'id al-Qahthani]
Semoga Allah memberikan keikhlasan kepada kita dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Aamiin...
Oleh : Ustadz Muhammad Sulhan, Lc, MHI hafizhahullah

Monday, 30 October 2017

Cerita inspiratif – 4 lilin

Bismillah Assalamu Alaikum


.
Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.
.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
.
Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
.
Tanpa terduga…
.
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
.
Lalu ia menangis tersedu-sedu.
.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
.
Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
.
“Akulah HARAPAN.”
.
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

[source : LIFEBLOGID]

6 Hal Penting tentang Hamil di Luar nikah

Bismillah Assalamu Alaikum

Diluar pembahasan dosa zina, ada beberapa hal perlu diperhatikan terkait hamil di luar nikah: .


. 🚫Pertama, Janin Hasil Zina Tidak Boleh Digugurkan
Bagaimanapun proses janin ini muncul, dia sama sekali tidak menanggung dosa orang tuanya. Baik dari hasil zina maupun pemerkosaan. Krn itu, mengganggu janin ini, apalagi menggugurkannya adalah sebuah kezaliman dan kejahatan. Allah berfirman, “Dan apabila anak-anak yg dibunuh itu ditanya, dengan sebab dosa apakah dia dibunuh?” (QS. At-Takwir: 8 – 9) .
.
. 🚫Kedua, Anak Hasil Zina di-nasab-kan kepada Ibunya & Tidak Boleh Kepada Bapaknya
Karena sesungguhnya bapak biologis bukanlah bapaknya secara syariat. Sehingga anak ini terlahir tanpa bapak. Dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yg tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth). Para ulama menyimpulkan bahwa anak hasil zina SAMA SEKALI bukan anak bapaknya. Karena itu, tidak boleh di-bin-kan ke bapaknya .
.
. 🚫Ketiga, Wali Nikah
Jika anak yg terlahir dari zina perempuan, maka anak ini tidak punya wali dari pihak keluarganya. Karena dia tidak memiliki bapak, sehingga tidak ada jalur keluarga dari pihak bapak. Sementara wali nikah hanya ada dari pihak keluarga bapak. Karena itu, wali nikah pindah ke hakim (KUA) .
.
. 🚫Keempat, Laki-Laki yang Menzinai Wanita Hingga Hamil, Tidak Boleh Menikahi Wanita Tersebut Sampai Melahirkan .
.
. 🚫Kelima, Pernikahan Tidaklah Menghilangkan Dosa Zina
Dosa zina tidak bisa hilang hanya dengan menikah. Jangan sampai Anda punya anggapan bahwa dgn menikah berarti pelaku zina telah mendapatkan ampunan. Dosa zina bisa hilang dengan taubat yang sungguh-sungguh. Seseorang akan tetap dianggap sebagai PEZINA selama dia belum bertaubat dari dosa zina .
.
. 🚫Keenam, Laki-Laki dan Wanita yg Berzina Tidak Boleh Menikah Sampai Bertaubat
Allah mengharamkan laki-laki yg baik untuk menikah dgn wanita pezina & sebaliknya.