Monday, 20 July 2015

Masuk Sekolah Lagi!!!


Libur pun kini telah usai, hari esok kembali terbentang di depan mata, harapan kembali tergambar, dan cita-cita pun laksana tak lepas dari ingatan. Setelah dua pekan dihinggapi rasa bosan akan libur sekolah tanpa tahu harus apa yang diisi saat liburan. Dan sungguh merindukan sekolah tercinta dengan ragam aktivitas sahabat serta staff pengajar tercinta membuncah menjadi saat-saat yang ingin disegerakan. Liburan pekan pertama diisi dengan hari-hari penuh kebosanan, bosan akan apa yang harus dilakukan, sedangkan liburan pekan kedua berisi waktu yang cepat, mengapa liburan cepat akan berakhir disaat sedang asyik menikmatinya.

Mungkin banyak pelajaran dari liburan yang bisa kamu petik akan hikmah dan manfaatnya. Sebab orang yang bijak dan cerdas adalah mereka yang dapat mengisi waktu-waktunya dengan penuh manfaat dan tidak menunggu waktu-waktu dengan penuh kesia-siaan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Umar dan diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari “Jika berada di waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika berada di pagi hari janganlah menunggu datangnya sore hari...” ucapan yang dikatakan oleh Abdullah bin Umar dalam menambahkan redaksi hadist “Hiduplah di dunia bagaikan seorang asing atau orang yang sedang diperjalanan”
Banyak diantara teman-teman kamu mungkin saat liburan kemarin mengisi dengan perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan penuh dengan kemaksiatan. Hura-hura kesana- kemari tanpa kenal henti yang jelas dalam Islam mereka telah menduduki posisi  orang-orang yang merugi.

Selamat Datang Anak Baru!
Yaps, tiap kali pergantian semester dari genap ke ganjil pasti merupakan moment-moment yang tidak bisa dilupa begitu saja. Di saat pergantian semester ini dalam jenjang tingkatan sekolah di Bumi Pertiwi tercinta ini pasti akan didapati si junior menjadi senior dan si senior berubah status kembali menjadi junior.
Saat-saat orientasi tentunya akan membuat perasaan senior bahagia bukan kepalang, sebab statusnya selain berubah, mereka juga memiliki orientasi lain selain datangnya anak baru dan selain orientasi para junior atas sekolahnya yang diberikan oleh para guru. Si kakak kelas bisa jadi caper (cari perhatian) dan tentunya TePe (tebar pesona) kepada setiap anak baru. Maka tak jarang lho, kakak kelas ngegebet (menyukai dan berkeinginan memacarinya) adik kelasnya dan begitupun sebaliknya. Bahkan parahnya lagi sebagian besar sekolah yang memiliki gang (baca, geng) sekolah melakukan atraksi bullying (kekerasan) pada tiap anak baru, baik untuk direkrut maupun untuk menekan anak baru tersebut agar gak belagu!
Sudah lazim kita kenal bahwa budaya senioritas menunjukkan superioritas di Indonesia ini. Fakta-fakta cukup jelas akan perbuatan tersebut di berbagai media yang di blow up terus menerus untuk menunjukkan pentingnya kewaspadaan diri atas gaya sekolah anak muda jaman sekarang. Tindak kekerasan berujung kematian pun tak jarang kita temukan, atau bahkan kamu pernah melihat sendiri perbuatan kekerasan kakak kelasmu atas temanmu di depan matamu persis. Penganiayaan yang dilakukan oleh para pengecut tersebut pada hakikatnya melindungi diri dengan gaya banci berembel-embel kelompok. Mereka adalah para pelajar yang tidak memiliki orientasi kehidupan dan jati diri, lingkungan telah menelan mereka kepada lubang kegelapan, faktor keluarga yang tidak harmonis dan jauh dari nilai-nilai agama juga telah menjadikan mereka seperti itu. Mereka yang tidak punya potensi apapun akan senantiasa bergabung dengan orang yang tidak memiliki talenta hatta kecerdasan. Sehingga untuk menunjukkan eksistensi keberadaannya harus ditunjukkan sisi lain sekalipun nantinya akan mencoreng nama mereka. Itulah bullying, suatu tindakan pengecut berkedok keberanian semu. Padahal pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang meminta diperhatikan oleh lingkungannya dan berharap tak dilecehkan karena kekurangan diri. Namun cara tersebut salah, salah karena stigma diri yang terlanjur negatif telah terlanjur lekat sehingga kepercayaan diri akan hilang bila tak bersama kelompok, dan ciut nyali jika sedang sendiri. Maklumlah sebab mereka akan berafiliasi sesuai dengan tingkat kegemarannya dan kesamaannya, sebagaimana sebuah hadits berkata “Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh- ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi " (HR. Muslim)

Orientasikan (lagi) !!
Yuk bareng-bareng kita rumusin lagi sebenernya sekolah ini untuk apa, mumpung jadi anak baru dan yakinlah segala kemungkinan masih terjadi. Seorang anak baru memiliki posisi nyaman untuk memperbaiki diri dan mencari talenta lain yang punya kebaikan beda lho. Jika awalnya di jenjang sekolah sebelumnya kamu berada pada kehidupan yang itu-itu aja, mari yuk sekarang kamu rumuskan lagi tujuan hidupmu.
Pertama, tanamkan dalam diri bahwa sekolah ini merupakan amanah terbesar yang dibebankan oleh ortu ke kamu. Sehingga dengan demikian segala gerak-gerik yang kamu lakukan teringat akan tetesan keringat ortu saat bersusah payah menguras tenaga dan pikiran dalam membiayai pendidikan yang kamu jalani ini. Sehingga dengan demikian Insya Allah kamu akan susah buat main-main dalam belajar serta sekolah.Intinya jangan kecewakan ortu kamu. Jika sebelumnya pernah mengecewakan mereka, nah sekaranglah saatnya berubah! Berubah menuju ke arah kebaikan dan pembuktian bahwa kamu bisa! Yakinlah tiap ortu pati bakal bahagia jika anaknya punya prestasi tersendiri dihadapan mereka terlebih lagi bila disekolah potensi dirinya melejit bak panah yang terlepas dari busurnya menuju sasaran.  Ingat lho ada sebuah hadits “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanat, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janji yang disepakatinya.” (HR. Ahmad). Sekolah itu merupakan janji juga lho, dengan adanya kesepakatan disekolahkannya kita oleh ortu dan ortu siap membiayai, maka diantara keduanya terdapat sebuah janji. So, Yuk! Kita benahi lagi sisi ini.
Kedua, bangun kepercayaan diri. Pada hakikatnya seseorang itu tidak ada yang bodoh, namun masalahnya adalah apakah ia malas atau tidak dan mau atau tidak mau. Terkadang kepercayaan diri itu merupakan ladang emas sebuah potensi demi mencapai eksistensi. Namun kita lebih banyak nggak tahunya dan nggak peduli dalam melihat hal tersebut, sehingga yang terjadi hilanglah potensi diri tersebut. Bangun kepercayaan diri dan lagi-lagi orientasikan karena Allah serta karena ortu kamu yang sudah bersusah payah. Yakinlah jika hal tersebut diniatkan karena kedua aspek diatas niscaya apapun yang terjadi, kamu senantiasa akan berada pada posisi sederhana dan gak somse (sombong sekali). Sebab kepercayaan diri telah melebur dalam diri semata-mata atas izin Allah juga iya khan? Jadi setelah kepercayaan diri diraih dan potensi melejit, jangan pernah melupakan Allah. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS. At Taubah:67 saat Allah menjelaskan tentang orang-orang yang munafik “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.”. maka bersyukurlah atas nikmat yang telah Allah berikan ke kamu di tiap kejadian. Jadilah pribadi rendah hati sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam “Sesungguhnya Allah memberi wahyu kepadaku: “Bersikaplah rendah hati semua,” Sehingga seseorang tidak merasa bangga atas orang lain dan seseorang tidak melakukan penganiayaan atas orang lain.” (HR. Muslim)
Ketiga, cari teman-teman yang oke. Teman juga sangat menentukan lho dalam mencapai orientasi kehidupan kita selanjutnya. Eiiitttsss jangan salah jika ada hadist yang mengatakan seseorang dilihat dari dengan siapa berteman, “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang diantara kalian melihat teman bergaulnya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad). Bukan berarti juga dalam bergaul kita harus menempatkan diri pada posisi yang selevel dengan kita, sehingga terkadang meremehkan mereka-mereka yang padahal membutuhkan ilmu yang kamu miliki dan berharap kamu memberikan manfaat kepada mereka. Sebab adakalanya seseorang menggunakan kelebihannya untuk semena-mena dan sewenang-wenang (itulah alasan salah satunya mengapa korupsi masih saja merojolele). Sebagian diantara mereka hanya mau bergaul dengan kalangannya. Ia melihat dirinya kaya maka ia gunakan kekayaan itu untuk bergaul dengan mereka yang selevel dan menekan orang dibawah mereka padahal asal tahu aja yaa, kekayaan yang dimiliki adalah kekayaan ortunya bukan punya dia..diihhh ogah tralala..........so mulai sekarang mumpung jadi anak baru, yuk cari temen baru yang bisa saling mengingatkan dalam kebenaran, kebaikan, dan tentunya ketakwaan. Sebagaimana ayat Al Qur’an yang sudah pasti hafal dan waktu SD sering dipakai sebelum pulang sekolah. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3)
Keempat, berbagi manfaat yang dimiliki. Nah hal ini penting lho sebab Allah berfirman “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash :77). Bayangkan Allah menyuruh kita untuk berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik bagi kita, dan jangan salah juga perbuatan baik nan penuh manfaat itu ternyata bisa juga lho untuk bekal akhirat kita sebagai bentuk manifestasi hidup di dunia yang fana. Jangan pernah sekali-kali berfikir terlalu jauh tentang apa manfaat yang diberikan orang lain kepada kita, namun berfikirlah sebaliknya yakni apa manfaat yang bisa saya berikan sehingga nantinya dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi aku. Dengan demikian gerakan perbuatan kita yang berisi momentum akan terlaksana tanpa pamrih, dan lagi-lagi hanya mengharapkan balasan dari Allah semata.

Udahan Dech..
Mungkin masih banyak poin-poin yang dapat saling melengkapi dari tulisan ini, setidaknya poin diatas bila dilaksanakan secara tepat dan cermat, Insya Allah punya daya ledak dahsyat. Bukan hanya sekedar kecerdasan dan prestasi yang bisa kita dapat, tapi niscaya ridho Allah pun datang dengan sendirinya. Buatlah perencanaan dalam tiap-tiap harinya jika kamu termasuk salah satu orang yang seringkali lalai. Dan buat daftar ceklis atas perencanaan yang kamu buat usai terlaksana. Jangan lupa lho untuk senantiasa bersyukur terhadap nikmat Allah dan bersabar atas setiap ujian nantinya. Selamat merubah dan membuat hidupmu jadi bermakna. Jangan minder hai kamu para pelajar idaman banyak orang!!

Oleh Rizky Aji sobatmuda.com

Sunday, 19 July 2015

Cinta Dunia Merupakan Dosa Besar

Bismillah Assalamu Alaikum



Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"Tidaklah aku merasa heran terhadap sesuatu seperti keherananku atas orang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai bagian dari dosa besar.
Demi Allah! Sungguh, mencintainya benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya?
[Mawa'izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 138]
___ ___ ___ ___ ___ ___ ___
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
"Telah sampai kepadaku bahwasanya akan datang satu masa kepada umat manusia dimana pada masa itu hati-hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia, sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki rasa takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dan itu dapat engkau ketahui apabila engkau memenuhi sebuah kantong kulit dengan sesuatu hingga penuh, kemudian engkau bermaksud memasukkan barang lain ke dalamnya namun engkau tidak mendapati tempat untuknya."
Beliau rahimahullahu berkata pula:
"Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari (cara) penghormatannya kepada ahli dunia."
[Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 120]
___ ___ ___ ___ ___ ___ ___
Kejelekan-kejelekan Harta
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
'Isa bin Maryam 'alaihissalam bersabda: "Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada harta terdapat penyakit yang sangat banyak."
Beliau ditanya: "Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?"
Beliau menjawab: "Tidak ditunaikan haknya."
Mereka menukas: "Jika haknya sudah ditunaikan?"
Beliau menjawab: "Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya."
Mereka menimpali: "Jika selamat dari bangga dan sombong?"
Beliau menjawab: "Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala)."
[Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81]
Beliau rahimahullahu berkata:
"Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat."
Beliau ditanya: "Apa yang dimaksud dengan kelebihan dunia?"
Beliau menjawab: "Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang; dan engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki."
[Mawa'izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 76]
___ ___ ___ ___ ___ ___ ___
Berkata Ibn Mas'ud radhiyallahu'anhu:
"Tiadalah seseorang di dunia melainkan sebagai tamu dan hartanya adalah titipan. Tamu pasti pergi dan titipan harus dikembalikan." [Al-Fawa'id]
___ ___ ___ ___ ___ ___ ___
“Wahai manusia, engkau membutuhkan bagian dunia, tetapi terhadap akhirat engkau lebih membutuhkannya. Jika engkau memulainya dengan dunia, maka engkau telah mengabaikan akhirat, sedangkan duniamu ada dalam titik bahaya. Dan jika engkau memulainya dengan akhirat, maka engkau memperoleh duniamu, karena itu lakukanlah dengan baik.”
[Fadhaa-iludz Dzikr, hal. 19, karya Ibnul Jauzi]
___ ___ ___ ___ ___ ___ ___
"Dunia adalah fatamorgana yang terus memanjang dan merupakan malam yang gelap…
Pencari dunia bagaikan orang yang meminum air lautan, semakin banyak dia meminumnya, maka akan semakin haus."
[As-Siyar (V/263)]
__________________

Wednesday, 15 July 2015

Shalat ‘Ied di Sekolah


Pertanyaan
Apakah disyari’atkan melakukan shalat ‘Ied di sebuah sekolah yang bersebelahan dengan masjid yang digunakan untuk shalat oleh para pria. Para wanita shalat di sekolah itu dan dipisahkan sebuah jalan umum sementara masjid tadi masih lapang. Hal ini dilakukan karena meyakini keutamaan mengerjakan shalat ‘Ied di mushalla sebagaimana yang dilakukan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah shalat yang dilakukan sah padahal antara kedua tempat tersebut dipisahkan oleh sebuah jalan umum?

Jawaban
الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف خلق الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان، أمّا بعد
Hukum asal dalam permasalahan ini adalah makmum diperbolehkan mengikuti imam meski diantara keduanya terdapat penghalang jika makmum tahu gerak perpindahan imam, baik dia melihat atau mendengarnya.
Hukum asal ini diperkuat oleh perbuatan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang melaksanakan shalat di belakang masjid sembari mengikuti shalatnya imam. Begitupula hal ini didukung dengan tindakan Anas bin Malik radliallahu ‘anhu yang melaksanakan shalat jamak dan mengikuti shalatnya imam di rumah Nafi’ yang terletak di samping kanan masjid. Beliau tetap mengikuti shalat imam dan sahabat yang lain tidak mempermasalahkan hal tersebut[1].
Hukum asal di atas berlaku jika terdapat hajat atau udzur karena menggabungkan dalil-dalil di atas dan berbagai dalil yang memerintahkan untuk menyambung shaf dan menutup celah yang terdapat di antara shaf. Diantara udzur yang mewajibkan hal tersebut adalah penuhnya masjid dan berdesak-desaknya jama’ah shalat. Dengan demikian, tidak diperbolehkan membuat shaf baru yang terpisah dan shalat di shaf tersebut sementara masjid masih lowong.
Oleh karena itu, Hisyam dan ayahnya, Urwah melaksanakan shalat dengan mengikuti shalatnya imam di sebuah rumah yang terletak di samping masjid dan dipisahkan oleh sebuah jalan[2].
Semakna dengan hal ini adalah perkataan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah yang mengatakan,
فإن امتلأ المسجد بالصفوف صفوا خارج المسجد فإن اتصلت الصفوف حينئذ في الطرقات والأسواق صحت صلاتهم، أما إذا صفوا بينهم وبين الصف الآخر طريق يمشي الناس فيه لم تصح صلاتهم في أظهر قولي العلماء، وكذلك إذا كان بينهم وبين الصفوف حائط بحيث لا يرون الصفوف، ولكن يسمعون التكبير من غير حاجة، فإنه لا تصح صلاتهم في الأظهر، وكذلك من صلّى في حانوته والطريق خال لم تصح صلاته وليس له أن يقعد في الحانوت وينتظر اتصال الصفوف به، بل عليه أن يذهب إلى المسجد، فيسد الأول فالأول
“Apabila masjid penuh dengan shaf para jama’ah, maka hendaklah membuat shaf di luar masjid. Jika shaf tersebut masih bersambung dengan shaf sebelumnya, maka shalat mereka sah meski shaf tersebut berada di jalan-jalan maupun di pasar. Adapun jika mereka membuat shaf yang terpisah oleh jalan yang menjadi tempat lalu-lalang manusia, maka shalat mereka tidak sah menurut pendapat yang lebih kuat diantara dua pendapat ulama. Demikian pula, tanpa adanya hajat, jika diantara shaf tersebut terdapat penghalang sehingga mereka tidak mampu melihat shaf yang ada dimasjid, maka menurut pendapat yang kuat shalat mereka tidaklah sah meskipun mereka mendengar takbir.
Demikian juga, setiap orang yang shalat di tokonya meski jalanan kosong, tidak dilalui manusia, shalatnya tetaplah tidak sah. Dia tidak boleh duduk di tokonya dan menunggu hingga shaf tersambung. Akan tetapi, dia wajib pergi menuju ke masjid dan menyambung shaf yang ada[3].
Komentar saya : jikasaja menyambung shaf dan menutup celah yang ada bukanlah suatu kewajiban kecuali karena adanya udzur, maka tentulah hukum shalat dengan berpedoman pada radio dan televisi adalah sah. Namun, hal ini menyelisihi fatwa syar’i.
Terkait shalat ‘Ied yang dilakukan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau melaksanakannya di mushalla[4], yaitu di padang pasir atau di sebuah tempat luas yang terletak di luar kampung, namun jaraknya tidak jauh menurut ‘urf setempat.
Tidak terdapat riwayat yang shahih dari beliau yang menyatakan bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Ied di masjid. Berdasarkan hal ini, maka menurut jumhur tempat pelaksanaan shalat ‘Ied yang sesuai tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah di mushalla bukan di masjid, kecuali terdapat kondisi darurat atau udzur. Kota Mekkah terkecualikan dari hal tersebut, karena yang afdlal adalah melaksanakan shalat ’Ied di Masjid al-Haram kota Mekkah dikarenakan kemuliaan tempat tersebut. Hal ini berbeda dengan pendapat ulama madzhab Syafi’iyah yang berpendapat bahwa jika masjid tersebut sempit, maka dianjurkan untuk shalat di mushalla. Namun, jika masjid itu luas, maka yang afdlal melaksanakan shalat ‘Ied di masjid.
Dengan demikian, anda mengetahui bahwa para ulama berselisih pendapat tentang keutamaan kedua tempat ini daripada selainnya. Adapun melaksanakan shalat ‘Ied di dalam sekolah, maka tidak tercakup ke dalam dua tempat di atas (masjid maupun mushalla), karena –sepengetahuan saya- istilah mushalla dengan menggunakan makna ‘urfi, tidak tepat digunakan untuk selasar maupun halaman masjid.
Berdasarkan hal itu, pelaksanaan shalat di tempat tersebut dimakruhkan karena tidak memenuhi criteria yang diinginkan oleh syari’at. Bahkan, bisa jadi tidak sah dikarenakan termasuk tindakan berpaling dari masjid dan mengosongkannya dari para jama’ah shalat serta memindahkan mereka ke sekolah yang bersebelahan dengan masjid, apalagi keduanya dipisahkan oleh jalan umum.
Oleh karena itu, sepatutnya shalat ‘Ied dilaksanakan di mushalla berdasarkan perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, maka boleh dilaksanakan di masjid. Apabila masjid telah sempit dan shaf para jama’ah tumpah ruah keluar masjid, maka hendaknya shaf-shaf tersebut tetap bersambung meski shaf-shaf tersebut sampai ke sekolah atau melewatinya. Shalat dengan kondisi seperti ini hukumnya sah.
والله أعلم وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه والتابعين وسلم تسليما.
sumber : www.ferkous.com

[1] Lihat Nail al-Authar karya asy-Syaukani 4/104.
[2] Mushannaf Abd ar-Razzaq 3/82.
[3] Majmu’ al-Fatawa 23/410
[4] Syaikh al-Albani memiliki risalah yang menerangkan sunnahnya pelaksanaan shalat ‘Ied di mushalla. Silahkan merujuk ke risalah tersebut.

Thursday, 9 July 2015

Fikih Ringkas I’tikaf (4)


Pembatal I’tikaf
a. Jima’
Allah ta’ala berfirman,
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (Al Baqarah: 187).

Al Qurthubi rahimahullah mengatakan,

بين جل تعالى أن الجماع يفسد الاعتكاف واجمع أهل العلم على أن من جامع امرأته وهو معتكف عامدا لذلك في فرجها أنه مفسد لاعتكافه
“Allah ta’ala menjelaskan bahwa berjima’ membatalkan i’tikaf dan para ulama telah bersepakat ahwa seorang yang berjima’ dengan istrinya secara sengaja sementara dia sedang beri’tikaf, maka dia telah membatalkan i’tikafnya.”[1]

Ibnu Hazm mengatakan, “Mereka (para ulama) sepakat jima’ membatalkan i’tikaf.”[2]

b. Bercumbu
Bercumbu dengan pasangan yang disertai syahwat diharamkan bagi mu’takif berdasarkan kesepakatan ulama.[3] Namun, para ulama berselisih apakah hal itu membatalkan i’tikafnya.

Pendapat yang kuat dalam permasalahan ini adalah pendapat Jumhur yang menyatakan bercumbu tidaklah membatalkan i’tikafnya kecuali bercumbu tersebut menyebabkan dirinya orgasme (maaf: mengeluarkan mani).

Ath Thabari rahimahullah ketika mengomentari firman Allah ta’ala ” وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ “, mengatakan,

وأولى القولين عندي بالصواب قول من قال : معنى ذلك : الجماع أو ما قام الجماع مما أوجب غسلا إيجابه وذلك أنه لا قول في ذلك إلا أحد قولين : إما جعل حكم الاية عاما أو جعل حكمها في خاص من معاني المباشرة وقد تظاهرت الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : أن نساءه كن يرجلنه وهو معتكف فلما صح ذلك عنه علم أن الذي عنى به من معاني المباشرة البعض دون الجميع

“Pendapat yang paling benar menurutku adalah pendapat yang menyatakan bahwa maknanya adalah jima’ dan segala hal yang serupa dengan itu yang mengharuskan pelakunya mandi. Kemungkinan yang ada hanya dua, yaitu memberlakukan ayat tersebut secara umum atau mengkhususkan ayat tersebut untuk sebagian makna dari mubasyarah. Banyak hadits dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara jelas menginformasikan bahwa istri-istri beliau menyisir rambut beliau ketika sedang beri’tikaf, maka dapat diketahui bahwa makna mubasyarah dalam ayat ini hanya mencakup sebagian maknanya, bukan seluruhnya.”[4]

c. Keluar dari Masjid
Mu’takif diperkenankan keluar dari masjid jika terdapat udzur syar’i atau hendak menunaikan suatu kebutuhan yang mendesak. Contoh akan hal ini, mu’takif diperbolehkan keluar dari masjid untuk makan dan minum, jika tidak ada orang yang membawakan makanan dan minuman baginya ke masjid. Demikian pula, dia diperbolehkan keluar masjid untuk mandi janabah atau berwudhu, jika tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepala beliau ke dalam kamarku, sementara beliau berada di dalam masjid, dan saya pun menyisirnya. Beliau tidak akan masuk ke dalam rumah ketika sedang beri’tikaf, kecuali ada kebutuhan mendesak.”[5]

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa mu’takif yang keluar dari tempat i’tikafnya di dalam masjid tanpa ada kebutuhan yang mendesak, tidak pula karena darurat, atau melakukan suatu perkara kebaikan yang diperintahkan atau dianjurkan, maka i’tikaf yang dilakukannya telah batal.”[6]

d. Memutus Niat untuk Beri’tikaf
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa niat untuk beri’tikaf termasuk syarat i’tikaf. Dengan demikian, mu’takif yang tidak lagi berniat untuk beri’tikaf, maka batallah i’tikafnya. Hal ini berdasarkan keumuman sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ
“Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya “[7]

Berbagai Perkara yang Dianjurkan ketika Beri’tikaf
a. Memperbanyak ibadah mahdhah
Mu’takif (orang yang beri’tikaf) disyari’atkan memperbanyak ibadah mahdhah (ritual) seperti shalat, membaca Al-Quran, dzikir, dan ibadah yang semisal. Berbagai ibadah ini dapat membantu seorang untuk merealisasikan tujuan dan hikmah I’tikaf, yaitu memfokuskan hati dalam beribadah kepada-Nya dan memutus kesibukan dengan makhluk.

Demikian pula, yang termasuk dianjurkan adalah berpuasa ketika beri’tikaf di luar bulan Ramadhan menurut kalangan yang berpendapat bahwa puasa tidak termasuk sebagai syarat i’tikaf.

b. Melakukan ibadah muta’addiyah
Melakukan ibadah muta’addiyah (ibadah yang berdampak sosial) disyari’atkan bagi mu’takif apabila hukum ibadah mua’adiyah tersebut wajib dan tidak memakan waktu yang lama seperti mengeluarkan zakat, amar ma’ruf nahi mungkar, membalas salam, memberi fatwa, dan yang semisal.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum ibadah muta’addiyah ketika beri’tikaf apabila tidak wajib dan memakan waktu yang lama, seperti melaksanakan kajian atau berdiskusi dengan seorang ‘alim, dan yang semisal. Sebagian ulama berpendapat hal tersebut disyari’atkan, sebagian yang lain berpendapat sebaliknya.

Ibnu Rusyd mengatakan, “Akar perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini adalah dikarenakan hal tersebut tidak disebutkan hukumnya. Maka, ulama yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri di masjid dengan melakukan aktivitas yang khusus, maka mereka berpendapat seorang mutakif hanya boleh melakukan ibadah shalat dan membaca Al-Quran. Sedangkan yang berpandangan bahwa yang dimaksud i’tikaf adalah mengekang diri dengan melakukan seluruh kegiatan ukhrawi, maka mereka membolehkan hal tersebut.”[8]

Pendapat yang kuat adalah hal tersebut disyari’atkan dan hal ini merupakan pendapat madzhab Hanafi[9] dan Syafi’i[10]. Pendapat ini berlandaskan pada beberapa dalil berikut:

Pertama, hadits Shafiyah radhiallahu ‘anha[11], di dalamnya disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan para istri beliau.

Kedua, hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu[12], di dalamnya disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dan memberi pengarahan kepada para sahabatnya.
Hukum yang terkandung dalam kedua hadits ini juga dapat diterapkan pada aktivitas kajian ketika beri’tikaf.
Ketiga, hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha[13] yang menyisirkan rambut nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau tengah beri’tikaf. Segi pendalilan dari hadits ini, jika menyisirkan rambut yang hukumnya mubah diperbolehkan tentulah melakukan ibadah selain shalat dan tilawah Al Quran lebih diperbolehkan.

c. Membuat Sekat atau Tenda di dalam Masjid
Disunnahkan bagi mu’takif, baik pria maupun wanita, membuat sekat atau tenda yang bisa dipergunakan untuk mengisolir diri dari para mu’takif lainnya. Hal ini berdasarkan perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[14] dan para istri beliau[15].

Hal ini lebih ditekankan bagi wanita yang beri’tikaf di masjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah agar dirinya tidak terlihat oleh para pria sehingga tidak menimbulkan fitnah.[16]

d. Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat
Mu’takif hendaknya meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.[17] Hal ini berdasarkan dalil berikut:
- Hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu yang telah lalu disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sebuah tenda kecil yang berpintukan lembaran tikar.[18]

- Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan bahwa apabila rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin beri’tikaf, beliau melaksanakan shalat Subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya).[19]

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa seorang mu’takif hendaknya menyendiri agar bisa fokus beribadah dan hal itu baru dapat tercapai jika dia meninggalkan berbagai perkara yang tidak bermanfaat.

- Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Merupakan tanda baiknya keislaman seorang adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat baginya.”[20]

e. Bergegas Menunaikan Shalat Jum’at
Mu’takif yang tidak beri’tkaf di masjid Jami’ dianjurkan untuk bergegas menunaikan shalat Jum’at berdasarkan keumuman hadits yang menganjurkan seorang untuk bersegera pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.[21]

f. Tetap Berdiam di Masjid ketika Malam ‘Ied
Sebagian ulama menganjurkan agar mu’takif tetap berdiam di masjid pada malam ‘Ied dan baru keluar ketika hendak menunaikan shalat ‘Ied.[22]

Berbagai Perkara yang Diperbolehkan ketika Beri’tikaf

a. Minum, Makan, dan Tidur
Ulama sepakat bahwa mu’takif diperbolehkan makan, minum, dan tidur di dalam masjid.[23] Dalil akan hal ini adalah sebagai berikut:
- Firman Allah ta’ala,
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (Al Baqarah: 187).

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mu’takif haruslah berada di dalam masjid, dengan demikian hal tersebut berkonsekuensi dirinya makan, minum, dan tidur di dalam masjid.

- Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beri’tikaf tidak masuk ke dalam rumah kecuali terdapat kebutuhan yang mendesak.[24] Sehingga
dapat dipahami bahwa beliau makan, minum, dan tidur di dalam masjid.
b. Dikunjungi Keluarga
Mu’takif boleh menerima kunjungan keluarganya berdasarkan Hadits Shafiyah radhiallahu ‘anha yang datang menjenguk beliau ketika beri’tikaf. [25]

Namun, kunjungan tersebut hendaklah tidak terlalu lama dan tidak sering dilakukan sehingga tidak mengurangi nilai dan tujuan beri’tikaf.

c. Menikah dan Menikahkan
Mu’takif juga diperbolehkan untuk menikah, menikahkan, menjadi saksi dalam pernikahan yang dilangsungkan di dalam masjid tempat dirinya beri’tikaf.

Dalil bagi hal ini adalah dalil-dalil yang membolehkan seorang mu’takif menjenguk orang sakit dan menyalati jenazah di dalam masjid. Selain itu, semua hal tersebut merupakan ketaatan dan pada umumnya tidak banyak menyita waktu, sehingga tidak menafikan tujuan beri’tikaf.
An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Seorang mu’takif diperbolehkan menikah dan menikahkan. Hal ini telah ditegaskan oleh Asy Syafi’i dalam Al Muktashar dan para rekan (beliau) sepakat akan hal ini serta saya tidak tahu ada khilaf akan hal ini.”[26]
Waffaqaniyallahu wa iyyakum.
Buaran Indah, Tangerang.
Maraji’ :
Al Ijma’ karya Imam Ibnul Mundzir; Asy Syamilah.
Al Inshaf fi Ahkamil I’tikaf karya Syaikh ‘Ali Hasan al Halabi.
Al Jami’ li Ahkam Al Quran karya Imam Al Qurthubi; Asy Syamilah.
Al Majmu’ karya Imam An Nawawi; Asy Syamilah.
Al Qur-an dan Terjemahannya
Fiqhul I’tikaf karya Syaikh Dr. Khalid bin ‘Ali Al Musyaiqih.
Majmu’ Fatawa wa Rasaa-il Ibn ‘Utsaimin karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin; Asy Syamilah.
Shahih Fiqhis Sunnah jilid 2 karya Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim
Syarh Al Arba’in an Nawawi karya Syaikh Shalih alusy Syaikh.
Tafsir Quran al-’Azhim 2/308 karya Imam Ibnu Katsir; Asy Syamilah.
Tafsir Surat Al Baqarah 2/358 karya Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin.
Taisir Karim ar Rahman karya Syaikh Abdurrahman As Sa’di.
‘Umdah al-Qari karya Imam Al ‘Aini; Asy Syamilah.
‘Uudu ila Khairil ‘Ibad karya Syaikh Dr. Muhammad bin Isma’il Al Muqaddam.
Zaadul Ma’ad karya Imam Ibnul Qayyim.
Dll.
[1] Al Jami’ li Ahkamil Quran 2/324.

[2] Maratibul Ijma’ hlm. 41.
[3] Al Jami’ li Ahkamil Quran 2/332; Tafsir Ibnu Katsir 1/298; Asy Syamilah.
[4] Jami’ul Bayan 2/181.
[5] HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.
[6] Maratibul Ijma’ hlm. 48.

[7] HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.
[8] Bidayatul Mujtahid 1/312.
[9] Fathul Qadir 2/396.
[10] Al Umm 2/105; Al Majmu’ 6/528.
[11] HR. Bukhari: 1933.
[12] HR. Muslim: 1167.
[13] HR. Bukhari: 1925; HR. Muslim: 297.
[14] HR. Muslim: 1167.
[15] HR. Bukhari: 1929.
[16] Asy Syarhul Kabir ma’al Inshaf 7/582.
[17] Badai’ush Shana’i 2/117; Al Majmu’ 6/533.
[18] HR. Muslim: 1167.
[19] HR. Muslim: 1172.
[20] HR. Tirmidzi: 2318.
[21] HR. Bukhari: 841; Muslim: 850.
[22] Al Muwaththa:1/315; Al Majmu 6/475; Asy Syamilah.
[23] Badai’ush Shana’i 2/117; Al Mudawwanah 1/206; Raudhatut Thalibin 2/393; Al Mughni 4/383.
[24] HR. Bukhari: 1925; Muslim: 297.
[25] HR. Bukhari: 1933.
[26] Al Majmu’ 6/559.

Tuesday, 7 July 2015

Keutamaan Pahala I'tikaf


Pertanyaan
Apakah pahala i’tikaf?

Jawaban
Pertama
Iitikaf disyari’atkan dan merupakan ibadah kepada Allah ta’ala. Lihat kembali pertanyaan 48999. Terdapat banyak hadits yang memotivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan melakukan berbagai ibadah nawafil. Keumuman berbagai hadits ini mencakup seluruh ibadah, termasuk diantaranya i’tikaf.
Di antara hadits-hadits tersebut adalah firman-Nya dalam sebuah hadits Qudsi,
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ
Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya pasti akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya pasti akan Kulindungi. [HR. Bukhari: 6502].

Kedua
Terdapat beberapa hadits yang memaparkan keutamaan i’tikaf dan menjelaskan pahalanya. Namun, seluruh hadits tersebut lemah dan bahkan palsu.
Abu Dawud mengatakan,
قلت لأحمد (يعني الإمام أحمد بن حنبل) : تعرف في فضل الاعتكاف شيئا ؟ قال : لا ، إلا شيئا ضعيفا
Saya bertanya kepada Ahmad bin Hambal, “Apakah anda mengetahui riwayat tentang keutamaan i’tikaf?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali riwayat yang lemah.” Masaail Abi Dawud hlm. 96.
Diantara hadits-hadits yang lemah tersebut adalah:
Pertama, hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah (1781) dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata mengenai perihal seorang mu’takif,
هُوَ يَعْكِفُ الذُّنُوبَ ، وَيُجْرَى لَهُ مِنْ الْحَسَنَاتِ كَعَامِلِ الْحَسَنَاتِ كُلِّهَا
I’tikaf itu menghalangi dosa dan memperoleh pahala sebanyak pahala yang diperoleh seluruh pelaku kebaikan. Dilemahkan oleh al-Albani dalam Dla’if Ibn Majah.

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, al-Hakim, dan al-Baihaqi (beliau melemahkan hadits ini) dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من اعتكف يوما ابتغاء وجه الله جعل الله بينه وبين النار ثلاث خنادق أبعد مما بين الخافقين
Barangsiapa yang beri’tikaf selama sehari dengan mengharap Wajah Allah ta’ala, niscaya Allah akan membuatkan tiga parit yang memisahkan dirinya dengan neraka dan berjarak lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat. Dilemahkan oleh al-Albani dalam as- Silsilah adl-Dla’ifah [5345].

Ketiga, hadits yang diriwayatkan oleh ad-Dailami dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من اعتكف إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang beri’tikaf dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, nisycaya dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dilemahkan oleh al-Albani dalam Dla’if al-Jami’ [5442].

Keempat, hadits yang diriwayatkan dan dilemahkan oleh al-Baihaqi dari al-Husain bin ‘Ali radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من اعتكف عشرا في رمضان كان كحجتين وعمرتين
Barangsiapa yang beri’tikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadlan maka pahala yang diperolehnya layaknya pahala mengerjakan haji dan ‘umarah sebanyak dua kali. Disebutkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah adl-Dla’ifah [518] dan beliau mengatakan, “Hadits ini palsu.”
http://islamqa.com/ar/ref/49003

Sunday, 5 July 2015

Fikih Ringkas I’tikaf (3)


Syarat I’tikaf
Syarat-syarat i’tikaf adalah sebagai berikut:
1. Islam
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلا يَأْتُونَ الصَّلاةَ إِلا وَهُمْ كُسَالَى وَلا يُنْفِقُونَ إِلا
وَهُمْ كَارِهُونَ (٥٤

“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterimanya nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan sembahyang melainkan dengan malas, dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At Taubah: 54).
Al ‘Allamah Abdurrahman as Sa’di rahimahullah mengatakan,

والأعمال كلها شرط قبولها الإيمان، فهؤلاء لا إيمان لهم
“Persyaratan agar seluruh amal ibadah diterima adalah iman, sedangkan mereka yang tersebut dalam ayat ini tidak memiliki keimanan.”[1]
2. Niat, Berakal, dan Tamyiz
I’tikaf seorang yang gila, mabuk, dan pingsan tidaklah sah karena mereka tidak mampu berniat, tidak pula berakal. Padahal rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ
“Sesungguhnya seluruh amalan itu bergantung pada niatnya “[2]

Maksud dari hadits tersebut adalah keabsahan dan diterimanya suatu amalan adalah karena niat yang melandasinya, sehingga sabda beliau ini berkaitan dengan keabsahan suatu amalan.[3]

Seorang yang masuk ke dalam masjid memiliki beraneka ragam tujuan, diantara mereka ada yang hendak shalat, mendengarkan ta’lim, beri’tikaf, dan sebagainya. Dengan demikian, seorang yang hendak beri’tikaf membutuhkan niat untuk membedakan tujuan dari ibadah selainnya yang juga turut dikerjakan di masjid seperti shalat. Dan niat tersebut hanya mampu dilakukan oleh seorang yang berakal. Wallahu a’lam.

3. Suci dari Haidh dan Nifas
Para ulama mengemukakan bahwa dalil yang menyatakan bahwa suci dari haidh, nifas, dan junub merupakan syarat i’tikaf adalah dalil-dalil yang menyatakan terlarangnya orang yang haidh, nifas, dan junub untuk berdiam di masjid. Berikut beberapa diantaranya,
Pertama, firman Allah ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (٤٣)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (An Nisa: 43).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

ينهى تبارك وتعالى عباده المؤمنين عن فعل الصلاة في حال السكر الذي لا يدري معه المصلي ما يقول وعن قربان محالها التي هي المساجد للجنب إلا أن يكون مجتازا من باب إلى باب من غير مكث

“Allah tabaraka wa ta’ala melarang para hamba-Nya yang beriman mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk sehingga dia tidak mengetahui makna surat yang dibacanya. Demikian pula Dia melarang mereka yang junub mendekati tempat shalat, yaitu masjid kecuali hanya sekedar lewat dari satu pintu ke pintu yang lain tanpa berdiam di dalamnya.”[4]

Sisi pendalilan dari ayat ini adalah ketika Allah ta’ala melarang seorang yang junub mendekati masjid, maka hukum ini juga berlaku pada wanita yang sedang mengalami haidh, karena haidh yang dialaminya merupakan hadats yang jauh lebih berat daripada sekedar junub. Oleh karena itu, seorang yang haidh dilarang bercampur dengan suami, berpuasa, dan kewajiban shalat digugurkan darinya.[5]

Kedua, sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang tengah melaksanakan ihram kemudian tertimpa haidh,
افْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى
“Kerjakanlah apa yang dikerjakan seorang yang berhaji, namun janganlah engkau berthawaf di Bait al-Haram hingga kamu suci.”[6]
Ketiga, perkataan ‘Aisyah radhiallahu ‘anh,

كُنَّ الْمُعْتَكِفَاتُ إذَا حِضْنَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِخْرَاجِهِنَّ عَنْ الْمَسْجِدِ
“Kami wanita yang beri’tikaf, apabila mengalami haidh, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan untuk mengeluarkannya dari masjid.”[7]

Pertanyaan: Bagaimanakah hukum seorang wanita yang mengalami istihadhah, bolehkah dia beri’tikaf?
Jawab:
Seorang wanita yang mengalami isthadhah diperbolehkan beri’tikaf berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

اعْتَكَفَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – امْرَأَةٌ مِنْ أَزْوَاجِهِ ، فَكَانَتْ تَرَى الدَّمَ وَالصُّفْرَةَ ، وَالطَّسْتُ تَحْتَهَا وَهْىَ تُصَلِّى
“Salah seorang istri nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf bersama beliau dalam keadaan beristihadhah. Istri beliau tersebut mengeluarkan darah dan lendir berwarna kuning, dia mengerjakan shalat dan di bawah tubuhnya terdapat bejana (untuk menampung darah tersebut).”[8]

Al ‘Aini rahimahullah mengatakan,
“Diantara kesimpulan hukum yang dapat dipetik adalah wanita yang mengalami istihadhah boleh beri’tikaf dan shalat, karena kondisinya adalah kondisi suci. Wanita tersebut meletakkan bejana (di bawahnya) agar darah tersebut tidak mengenai baju atau masjid. Selain itu, darah istihadhah juga encer, tidak seperti darah haidh. Hukum bolehnya I’tikaf bagi wanita yang mengalami istihadhah ini juga diberlakukan bagi kondisi yang semisal seperti seorang yang sering mengeluarkan urin (beser), madzi, wadi, dan mengalami luka yang senantiasa mengalirkan darah.”[9]

4. Bagi wanita, memperoleh Izin dari suami dan aman dari fitnah
‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Dia mengatakan,
قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ أَنْ تَعْتَكِفَ فَأَذِنَ لَهَا فَضَرَبَتْ فِيهِ قُبَّةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beri’tikaf di bulan Ramadhan. Apabila beliau selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau masuk ke dalam tempat I’tikaf. (Salah seorang perawi hadits ini mengatakan), “Maka ‘Aisyah pun meminta izin kepada nabi untuk beri’tikaf. Beliau pun mengizinkannya dan ‘Aisyah pun membuat kemah di dalam masjid.”[10]
Hadits ini juga menjadi dasar bahwa seorang wanita harus terlebih dahulu meminta izin kepada suami jika hendak beri’tikaf.
Dalam riwayat yang lain tercantum lafadz

وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا
“Hafshah meminta bantuan ‘Aisyah agar memintakan izin baginya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk beri’tikaf).”[11]

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,
وليس للزوجة أن تعتكف إلا بإذن زوجها ولا للمملوك أن يعتكف إلا بإذن سيده لأن منافعها مملوكة لغيرهما والاعتكاف يفوتها ويمنع استيفاءها وليس بواجب عليهما بالشرع فكان لها المنع منه
“Istri tidak boleh beri’tikaf kecuali diizinkan oleh suami. Begitupula dengan budak, dia tidak boleh beri’tikaf kecuali diizinkan oleh majikannya. Hal ini dikarenakan manfaat yang ada pada diri mereka juga dimiliki oleh selain mereka (yaitu suami dan majikan). I’tikaf akan menghilangkan dan menghambat manfaat tersebut. Selain itu, I’tikaf tidaklah wajib bagi mereka. Dengan demikian, I’tikaf menjadi terlarang bagi mereka (kecuali setelah diizinkan).”[12]

5. Dilaksanakan di Masjid
Dalil akan hal tersebut adalah sebagai berikut:
a. Firman Allah ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (١٨٧)
“Dan janganlah kalian mencampuri mereka (para wanita), sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al Baqarah: 187).
Ayat ini menyatakan bahwa i’tikaf disyari’atkan di masjid.[13]
Ibnu Hajr Al Asqalani rahimahullah mengatakan,

وَوَجَدَ الدَّلَالَة مِنْ الْآيَة أَنَّهُ لَوْ صَحَّ فِي غَيْر الْمَسْجِد لَمْ يَخْتَصَّ تَحْرِيم الْمُبَاشَرَةِ بِهِ ، لِأَنَّ الْجِمَاع مُنَافٍ لِلِاعْتِكَافِ بِالْإِجْمَاعِ ، فَعُلِمَ مِنْ ذِكْرِ الْمَسَاجِدِ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ الِاعْتِكَافَ لَا يَكُون إِلَّا فِيهَا
“Indikasi hukum yang terdapat pada ayat ini adalah jika i’tikaf sah dilakukan di selain masjid, maka tentulah pengharaman mubasyarah (jima’) tidak dikhususkan di dalam masjid. Hal ini dikarenakan jima’ membatalkan i’tikaf secara ijma’. Dengan demikian, dapat diketahui maksud penyebutan masjid di dalam ayat tersebut adalah i’tikaf tidaklah sah kecuali dikerjakan di dalam masjid.”[14]

b. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menyatakan bahwa ketika nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf, beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid agar dapat disisir oleh ‘Aisyah dan beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.[15]

c. Ijma’ yang diklaim oleh sejumlah ulama. Al Qurthubi rahimahullah mengatakan,

أجمع العلماء على أن الاعتكاف لا يكون في إلا في المسجد
“Ulama bersepakat bahwa I’tikaf hanya boleh dikerjakan di dalam masjid.”[16]

Pertanyaan: Bagaimana kriteria masjid yang dapat dipakai untuk beri’tikaf?
Jawab:
Kriteria masjid yang dipakai oleh pria untuk beri’tikaf adalah masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat berjama’ah, mengingat pria diwajibkan untuk menunaikan shalat wajib secara berjama’ah di masjid.[17]

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan,
لا اعتكاف إلا في مسجد تجمع فيه الصلوات
“Tidak ada I’tikaf melainkan di masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat berjama’ah.”[18]

Lebih disukai jika hal itu dilaksanakan di masjid Jami’ (masjid yang juga digunakan untuk shalat Jum’at).[19]

Jika seorang diperkenankan untuk beri’tikaf di masjid yang di dalamnya tidak ditegakkan shalat wajib secara berjama’ah, maka hal ini akan menimbulkan dua dampak negatif bagi seorang, yaitu,

- Meninggalkan shalat wajib secara berjama’ah yang diwajibkan kepada setiap pria.
- Atau menggiring seorang untuk keluar dari masjid yang digunakannya beri’tikaf untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat wajib secara berjama’ah. Tindakan itu akan senantiasa terulang, padahal sangat memungkinkan dia tidak melakukannya, yaitu dengan memilih masjid yang ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya. Tindakannya tersebut justru akan menafikan tujuan i’tikaf, karena esensi I’tikaf adalah berdiam diri dan menegakkan ketaatan di dalam masjid.[20]

Pertanyaan: “Terdapat hadits Hudzaifah ibn al-Yaman radhiallahu ‘anhu yang menyatakan “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.” Sebagian ulama berdalil dengan hadits ini dan menyatakan bahwa I’tikaf hanya sah dilakukan di ketiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabawi, dan masjid al-Aqsha?”
Jawab:
Teks lengkap hadits Hudzaifah tersebut adalah sebagai berikut, Ath Thahawi rahimahullah berkata Muhammad bin Sinan Asy Syairazi[21] memberitakan kepada kami, Hisyam bin ‘Ammar[22] memberitakan kepada kami, Sufyan ibn ‘Uyainah memberitakan kepada kami, riwayat dari Jami’ bin Abi Rasyid dari Abu Wail, dia mengatakan, Hudzaifah berkata kepada Abdullah,

الناس عكوف بين دارك ودار أبي موسى لا تغير؟! ، وقد علمت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة : المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم ومسجد بيت المقدس » قال : عبد الله لعلك نسيت وحفظوا ، وأخطأت وأصابوا
“Terdapat sekelompok orang yang beri’tikaf di antara rumahmu dan rumah Abu Musa, dan anda tidak menegurnya, padahal anda tahu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak ada I’tikad kecuali di tiga masjid, yaitu masjid al-Haram, masjid Nabi, dan masjid Bait al-Maqdis? Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Mungkin anda yang lupa dan mereka yang mengingatnya, dan mungkin anda yang keliru dan merekalah yang benar.”[23]

Jawaban akan hal tersebut adalah sebagai berikut:[24]
Pertama, hadits tersebut masih diperselisihkan apakah berstatus marfu’ (bersambung kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau mauquf (hanya sampai kepada Hudzaifah radhiallahu ‘anhu saja), yang tepat hadits tersebut berstatus mauquf.[25]

Kedua, dalam riwayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu tidak menerima riwayat Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Hal ini tidak mungkin terjadi seandainya Ibnu Mas’ud mengetahui bahwa hadits tersebut memang sanadnya bersambung sampai kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini menunjukkan bahwa hal tersebut berasal dari ijtihad Hudzaifah radhiallahu ‘anhu semata.[26]

Ketiga, jika memang benar riwayat Hudzaifah tersebut shahih dan marfu’, maka hadits tersebut menjelaskan keutamaan yang lebih jika I’tikaf dilakukan di ketiga masjid tersebut. Al Kasani rahimahullah[27] mengatakan, “I’tikaf yang paling utama dikerjakan di masjid al-Haram, kemudian di masjid Madinah, masjid al-Aqsha, dan masjid besar yang banyak jama’ahnya.”
Keempat, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,

“I’tikaf di selain masjid yang tiga, yaitu masjid al-Haram, masjid an-Nabawi, dan masjid al-Aqsha, disyari’atkan pada waktunya dan tidak hanya khusus di tiga masjid tersebut. Bahkan, I’tikaf itu dapat dilakukan di masjid selain ketiga masjid tersebut.

Inilah pendapat para imam kaum muslimin, para imam madzhab yang diikuti oleh kaum muslimin, yaitu imam Ahmad, Malik, Asy Syafi’i, Abu Hanifah, dan selain mereka rahimahumullah berdasarkan firman Allah ta’ala,

” وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ  اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “
Kata “المساجد” dalam ayat tersebut umum dan mencakup seluruh masjid di penjuru bumi. Redaksi ayat ini berada dalam urutan akhir dari rentetan ayat-ayat puasa yang hukumnya mencakup seluruh umat Islam di penjuru bumi.

Dengan demikian, redaksi ayat ini, -yang menyebutkan perihal i’tikaf-, (juga) merupakan seruan kepada setiap orang yang diseru untuk menunaikan puasa. Oleh karena itu, berbagai hukum yang saling terkait ini ditutup dalam redaksi dan seruan yang berbunyi, 

” تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذالِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ “.
Sangat mustahil, Allah memerintahkan umat ini dengan sebuah seruan yang hanya mencakup sebagian kecil dari umat ini (padahal di awal rentetan ayat, Allah menyeru semua umat ini).

Adapun hadits Hudzaifah ibn al-Yaman radhiallahu ‘anhu dengan redaksi “لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة”, jika memang selamat dari berbagai cacat, maksudnya adalah menafikan kesempurnaan (i’tikaf yang dilaksanakan di selain ketiga masjid tersebut). Dengan demikian, maknanya adalah I’tikaf yang paling sempurna adalah yang dilakukan di tiga masjid tersebut, dikarenakan kemuliaan dan keutamaan ketiga masjid tersebut daripada masjid-masjid yang lain.
Redaksi seperti ini banyak contohnya dalam hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksud saya bahwa penafian (yang terdapat dalam redaksi sebuah hadits) terkadang maksudnya penafian kesempurnaan, bukan (semata-mata) penafian hakikat (eksistensi) dan keabsahan sesuatu.

Hal ini seperti sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “لا صلاة بحضرة طعام” (Tidak sempurna shalat seorang ketika makanan telah dihidangkan baginya) dan hadits yang lain. Tidak diragukan lagi bahwa hukum asal penafian yang terdapat dalam suatu nash adalah penafian keabsahan dan eksistensi sesuatu. Akan tetapi, apabila terdapat dalil yang tidak mendukung hal tersebut, maka wajib berpegang dengannya. Hal ini sebagaimana hadits Hudzaifah, jika memang hadits tersebut selamat dari berbagai cacat. Wallahu a’alam.[28]
Pertanyaan: Bagaimana dengan puasa, bukankah puasa termasuk syarat i’tikaf berdasarkan perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa mengerjakan I’tikaf dengan berpuasa?
Jawab:
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Namun, pendapat yang terkuat adalah puasa bukanlah syarat untuk mengerjakan I’tikaf. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil berikut:[29]
Pertama, firman Allah ta’ala,
وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ (١٨٧)
“Sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (Al Baqarah: 187).
Ayat ini menunjukkan pensyari’atan puasa tanpa dibarengi puasa karena tercantum secara mutlak tanpa ada pembatasan.
Kedua, firman Allah ta’ala,
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (١٣٨)
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang bertapa (beri’tikaf) menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk Kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (Al A’raaf: 138).
Pada ayat ini Allah menyebut tindakan kaum musyrikin yang berdiam di samping berhala mereka dengan sebutan i’tikaf, meskipun mereka tidak berpuasa. Maka seorang yang mengekang diri untuk Allah di rumah-Nya (yakni masjid), bisa juga disebut seorang yang beri’tikaf, meskipun dia tidak berpuasa.
Ketiga, hadits Ibnu ‘Umar yang menceritakan bahwa ‘Umar radhiallahu ‘anhushallallahu ‘alaihi wa sallam, bertanya kepada nabi
كُنْتُ نَذَرْتُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ قَالَ « فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ »
“Pada masa jahiliyah, saya pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjid al-Haram.” Maka nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkannya untuk menunaikan nadzar tersebut.[30]

Hadits di atas menunjukkan bahwa I’tikaf dapat dilakukan tanpa dibarengi dengan puasa, karena malam bukanlah waktu untuk berpuasa. Jika puasa merupakan syarat I’tikaf, tentulah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengijinkan ‘Umar radhiallahu ‘anh untuk beri’tikaf.

Keempat, pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha disebutkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan I’tikaf di bulan Ramadhan dan baru melaksanakannya pada sepuluh hari pertama di bulan Syawwal.[31]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah syarat I’tikaf, karena nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Syawwal dan hari ‘Ied termasuk di dalam rentang waktu tersebut. Telah dimaklumi bersama bahwa berpuasa ketika hari ‘Ied tidak diperbolehkan, karena nabi melarang hal tersebut.[32]
Kelima, Thawus rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anh dengan sanad yang shahih, bahwa beliau berpendapat bahwa seorang yang beri’tikaf tidak wajib berpuasa kecuali dia mewajibkan puasa atas dirinya.[33]
Keenam, seorang yang beri’tikaf lebih dari sehari, maka tentu dia akan beri’tikaf di siang dan malam hari. Konsekuensi pendapat yang menyatakan puasa merupakan syarat I’tikaf adalah status I’tikaf yang dilakukan orang tersebut pada malam hari tidaklah sah.
Adapun tindakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa berpuasa ketika beri’tikaf, maka bisa kita menjawabnya bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentulah lebih memilih kondisi yang paling afdhal dalam I’tikaf yang dilakukannya. Oleh karena itu, beliau beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, padahal beri’tikaf di selain waktu tersebut diperbolehkan. Demikian pula, beliau beri’tikaf selama sepuluh hari, padahal beri’tikaf dalam rentang waktu yang lebih pendek dari itu juga diperbolehkan.
-bersambung insya Allah-
[1] Taisir Karim ar Rahman hlm. 340.

[2] HR. Bukhari: 1, Muslim: 1907.
[3] Syarh Al Arba’in an Nawawi karya Syaikh Shalih alu Asy Syaikh.
[4] Tafsir Quran al-’Azhim 2/308; Asy Syamilah.
[5] Al Hawi 1/384. Dikutip dari Fiqh Al I’tikaf hlm. 73.
[6] HR. Bukhari: , Muslim:  .
[7] Ibnu Jarir dalam Al Mughni 5/174 menisbatkan riwayat ini pada Abu Hafsh al ‘Akbari dan dia berkata, “sanad riwayat ini jayyid.”
[8] HR. Bukhari: 304.
[9] ‘Umdah al-Qari 3/280; Asy Syamilah.
[10] HR. Bukhari: 1936.
[11] HR. Bukhari: 1940.
[12] Al Mughni 3/151.
[13] Tafsir Surat Al Baqarah 2/358.
[14] Fath al Baari 4/345.
[15] HR. Bukhari: 1925, Muslim: 297.
[16] Al Jami’ li Ahkam Al Quran 2/324; Asy Syamilah.
[17] Salah satu dalil akan hal ini adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى مَنَازِلِ قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ
“Saya sangat berkeinginan memerintahkan agar shalat ditegakkan, kemudian saya bertolak ke rumah para pria yang tidak menghadiri shalat berjama’ah, lalu saya bakar mereka.” (HR. Bukhari: 2288).
[18] HR. Abdullah ibn Ahmad dalam Masailnya 2/673 dari ayah beliau (imam Ahmad).
[19] Al Majmu’ 6/480; Asy Syamilah.
Catatan: Seorang yang tidak beri’tikaf di masjid Jami’, maka wajib keluar untuk shalat Jum’at. Keluarnya tersebut terhitung sebagai udzur syar’i sehingga tidak membatalkan i’tikafnya, lagipula hal itu hanya dilakukan sekali dalam seminggu, tidak berulangkali. Al Kasani rahimahullah mengatakan, “Demikian pula keluar untuk menunaikan shalat Jum’at termasuk darurat, karena hukum menunaikan shalat Jum’at adalah faradhiallahu ‘anhuu ‘ain dan tidak mungkin dilaksanakan di setiap masjid. Sehingga, seorang harus keluar (ke masjid Jami’) untuk menunaikannya seperti (seorang yang keluar dari masjid tempatnya beri’tikaf) untuk menunaikan hajat. Keluarnya tersebut tidaklah membatalkan i’tikafnya.” (Badai’ Ash-Shanai’ 2/114).
[20] Al Mughni 3/187. Dikutip dari ‘Uudu ilaa Khair al-Hadyi hlm. 64.
[21] Adz Dzahabi rahimahullah dalam al Mizan 3/575 menyifati beliau dengan “صاحب مناكر”, perawi yang sering membawakan riwayat mungkar.
[22] Memiliki kelemahan dalam hafalan dan tatkala memasuki usia senja hafalan beliau mulai berubah. Lihat at-Tahdzib 11/51-54.
[23] HR. Ath Thahawi dalam Musykil al-Atsar 6/265; Asy Syamilah.
[24] Bagi para pembaca yang ingin memperluas pembahasan hal ini, dapat melihat Fiqh al-I’tikaf hlm. 120-123, ‘Uudu ilaa Khair al-Hadyi hlm. 66-69, al-Inshaf fi Ahkam al-I’tikaf hlm. 26-41.
[25] HR. Abdurrazzaq dalam Mushannafnya 4/348.
[26] Asy Syaukani rahimahullah ketika mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang mengingkari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu, berkata,
“Perkataan beliau (Ibnu Mas’ud) ini menunjukkan bahwa dalam permasalahan ini, Hudzaifah tidak berdalil dengan satu hadits pun yang berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hal itu diperkuat karena) Abdullah (Ibnu Mas’ud) menyelisihinya dan (malah) membolehkan I’tikaf dilakukan di setiap masjid. Jika terdapat hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang menerangkan hal itu) tentulah Abdullah bin Mas’ud tidak menyelisihinya.” (Nailul Authar 4/360).
[27] Badai’ ash Shanai’ 2/113.
[28] Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin 20/112; Asy Syamilah.
[29] Diadaptasi dari Fiqh Al I’tikaf hlm. 98-106.
[30] HR. Bukhari: 1927.
[31] HR. Muslim: 1172.
[32] HR. Muslim: 1140.
[33] HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubra:  8370.