Sunday, 24 May 2015

Nilai Eksistensi Sebuah Do'a

Bismillah Assalamu Alaikum


Negeri Arab khususnya dan dunia pada umumnya sebelum diutusnya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dipenuhi dengan kesesatan, penyimpangan, dan kebodohan, terlihat dari semaraknya penyembah batu-batuan dan pohon-pohon, pengingkaran terhadap hari kebangkitan, mempercayai perdukunan, tukang sihir, dan paranormal hingga penyimpangan yang sifatnya kemanusiaan, sosial, dan politik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki rahmat atas hamba-hambaNya, menolongnya dari kesesatan menuju hidayah, maka Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka dari kalangannya sendiri yang mereka telah mengenal akhlaqnya, kejujurannya, serta amanahnya. Allah berfirman, "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS Al Jum'ah: 2).

Awal mula yang diserukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seperti halnya Rasul-Rasul lainnya, menyeru untuk memurnikan ibadah kepada Allah AWJ dan meninggalkan peribadahan selainNya. Allah berfirman, "Dan Kami tidak mengurus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS Al Anbiyaa: 25).

"Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut." (QS An Nahl: 36).
Inilah pembuka dakwah para Rasul, karenanya ia adalah pondasi yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan lain, jika pondasinya rusak maka tak ada guna cabang-cabang lainnya, tidak ada manfaatnya sholat, puasa, haji, dan shodaqoh, serta seluruh ibadah-ibadah lainnya. Apabila pondasi telah cacat dan tauhid sudah berantakan tidak ada faidahnya amalan-amalan lainnya.

Allah berfirman, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS Al Kahfi: 110). Allah juga berfirman, "Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS Al An'am: 88). "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan Tuhan niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS Az Zumar: 65).

Sungguh seluruh penduduk bumi amat sangat membutuhkan akan risalah yang dibawa olehnya Shalallahu ‘alaihi wassalam daripada kebutuhan mereka terhadap air hujan, sinar matahari, serta seabreg kebutuhan-kebutuhan lainnya, karena tidak ada kehidupan hati, kenikmatannya, kelezatannya, dan kebahagiaannya bahkan tak ada ketenangan hati dan tuma'ninahnya kecuali dengan mengenal Rabbnya, yang diibadahinya, dan Penciptanya dengan nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, sehingga menjadikanNya lebih dicintai daripada selainNya, menjadikan segala usaha-usahanya dalam hal-hal yang akan mendekatkan diri padaNya dan keridloanNya.

Para pembaca semoga dirohmati Allah, doa adalah salah satu dari bentuk ibadah di samping ibadah badaniyah - seperti sholat, maaliyah - seperti zakat, atau ibadah maaliyah badaniyah - seperti haji, sebab ibadah adalah satu kata yang memiliki cakupan luas setiap apa yang dicintai dan diridlai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan lahir maupun batin. Sepele memang nampaknya masalah doa ini, tetapi ironisnya banyak di antara kaum muslimin - kalau tidak keseluruhannya - berbeda-beda dalam hal menyikapinya, mengaplikasikannya, dan tata cara pelaksanaannya, wallahul musta'an.

Tidak dipungkiri kalau di sana masih banyak yang menganggap bahwa doa itu bukan termasuk ibadah, dengan kenyataan tak sedikit yang memohon di hadapan kuburan orang yang dianggap sholih, memohon di hadapan batu besar yang dikira memiliki keanehan, manggut-manggut di hadapan pohon besar yang tak dapat melihat dan mendengar. Tidak mustahil kalau di sana masih ada yang merasa tidak butuh kepada doa karena kesombongannya dan tak ada keimanannya. Satu perkara yang tidak dapat dipungkiri pula bahwa sebagian kaum bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam hal doa dan cara berdoa. Wa ilallahil musytaka.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, ketahuilah bahwa mayoritas orang-orang yang terjerumus ke dalam kemusyrikan, pangkal kesyirikannya ialah berdoa kepada selain Allah. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, "Doa itu adalah ibadah." (HR Ahmad 4/267, Tirmidzi 5/426, Al Hakim dalam Mustadrak 1/491 dan menshohihkannya, dan disepakati oleh Al Imam Adz Dzahabi, dari sahabat Nu'man bin Basyir RA). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mati sedang ia berdoa kepada tandingan-tandingan selain Allah, maka akan masuk neraka." (HR Al Bukhori no 4497 dari sahabat Abdullah ibnu Mas'ud). Hadits ini menerangkan bahwa doa adalah bagian dari ibadah-ibadah yang paling agung, termasuk ke dalam hak-hak Allah yang paling mulia, dimana jika seorang hamba memalingkannya kepada selain Allah dengan demikian ia berarti telah musyrik, telah menjadikan bagi Allah tandingan-tandinganNya dalam hal uluhiyahNya.

Namun apabila seseorang meminta doa kepada orang lain yang sholih, kemudian masih hidup, dan dalam perkara-perkara yang dimampuinya, maka tidaklah termasuk kemusyrikan, hal ini dibagi menjadi beberapa bagian di antaranya:
Pertama: meminta doa kepada seorang yang sholih untuk kemaslahatan umum kaum muslimin, seperti ini dibolehkan, dengan dalil hadits Anas tentang seorang laki-laki yang meminta doa dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam agar diturunkan hujan.
Kedua: meminta doa kepada orang lain untuk kemaslahatan dirinya, sebagian ulama membolehkan hal ini dan yang lainnya menyatakan tidak semestinya, karena dikhawatirkan termasuk dalam bab meminta-minta kepada orang lain dan dikhawatirkan pula yang meminta doa akan bersandar kepada doa orang lain sedang dia lupa mendoakan dirinya sendiri. (Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Majmu'ul Fatawa jilid ke-1).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas menyatakan bahwa doa itu adalah ibadah. Allah berfirman, "Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al Mu'min: 60). Adapun sisi pendalilah dari ayat ini yang menunjukkan bahwa doa itu adalah ibadah sebagai berikut:
Pertama: dalam ayat ini Allah telah memerintah dengan firmanNya, "Berdoalah kepadaKu." Sedangkan Allah tidak akan memerintah kecuali yang wajib atau mustahab.
Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutnya sebagai ibadah, dengan firmanNya, "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu."
Ketiga: Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas hamba-hambaNya yang berdoa dengan pengkabulan atas doa-doanya, dengan firmanNya, "Berdoalah kepadaKu niscaya akan Kuperkenankan bagimu."
Berkata Ibnul Araby Al Maliki rohimahullah, "Segi penamaan doa dengan ibadah sangatlah jelas, karena terkandung di dalamnya pengakuan dari seorang hamba akan ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya, sedangkan segala kekuasaan dan kekuatan hanyalah milik Allah, yang demikian itulah ketundukan dan kepatuhan yang sempurna."
Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, di dalam banyak ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala mencegah dari berdoa kepada selainNya. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zholim." (QS Yunus: 106). Dan Allah berfirman, "Maka janganlah kamu menyeru tuhan yang lain di samping Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diadzab." (QS Asy Syu'araa: 213). Pada ayat lain Allah menjelekkan perbuatan orang-orang musyrikin berdoa kepada selain Allah.

Allah berfirman, "Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan sekarang ini adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaanNya dan menurunkan untukmu rizki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya." (QS Al Mu'min: 12-14).

Memurnikan ibadah kepadaNya adalah memurnikan doa kepadaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi dengan kesesatan dan kerugian atas orang-orang yang berdoa kepada selainNya. Allah berfirman, "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari kiamat niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS Al Ahqaaf: 5-6).

Dan Allah berfirman, "... yang berbuat demikian itulah Allah Tuhanmu kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (QS Faathir: 13-14).

Seluruh nash-nash ini dan yang semisalnya di dalam Al Quranul Karim maupun sunnah yang suci sebagai penjelasan bagi orang-orang yang Allah bukakan penglihatannya dan terangkan hatinya serta lapangkan dadanya tentang betapa pentingnya doa dan begitu tinggi kedudukannya dalam aqidah al Islamiyah.
Dengan tingginya kedudukan doa dalam aqidah al Islamiyah, maka Allah mengancam orang-orang yang tidak tunduk padaNya dengan doa.

Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al Mu'min: 60). Jadi sikap sombong dari berdoa kepada Allah dan menyelewengkan doa kepada selain Allah adalah bentuk kemaksiatan yang besar terhadapNya dan sebagai bentuk pembangkangan serta pendustaan terhadap nabi-nabiNya dan Rasul-RasulNya dimana telah sepakat risalah dan dakwah mereka menyeru kepada wajibnya mengesakan Allah dalam hal ibadah dan yang paling besarnya di antara ibadah itu adalah doa.

Sebagaimana halnya ibadah-ibadah lain memiliki cara dan etika, maka berdoapun demikian tak lepas dari itu, sebab kita mesti pahami bahwa agama itu adalah kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah disyariatkan olehNya dan oleh RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam, sebagai contoh misalnya suatu ketika Rasulullah berwudlu, kemudian setelah selesai darinya beliau mengatakan, "Ini adalah wudluku dan wudlu para nabi sebelumku, barangsiapa menambahi atau bahkan mengurangi maka ia telah berbuat jahat dan zholim."

Contoh lainnya saat Rasulullah mengatakan, "Sholatlah kalian seperti kalian telah melihat aku sholat." Demikian pula dengan pernyataan beliau, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka akan tertolak." Dan begitu banyak contoh-contoh lainnya dalam hal ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan etika berdoa itu dalam firmanNya, "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al A'raaf: 55).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah-, betapa besar karunia dan kasih sayang Allah kepada makhlukNya, menjaga, memelihara, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, sungguh benar apa yang dikatakan dalam sebuah syair:
Allah akan marah jika engkau tinggalkan meminta padaNya
Sedang Bani Adam jika dipinta akan marah.
Sudah semestinya memang kita selaku hambaNya yang fakir untuk meminta kepada Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah, segala urusan hanyalah milik Allah dan akan dikembalikan kepadaNya. Allah berfirman, "KepunyaanNyalah kerajaan langit-langit dan bumi. Dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." (QS Al Hadid: 5).
Wallahu a'lam bishshowab wal ilmu indallah.

(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, dari Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-13 Tahun ke-1 / 14 Maret 2003 M / 11 Muharrom 1424 H. Url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/13.htm)

Friday, 8 May 2015

Urgensi Mempelajari Bahasa Arab

Bismillah Assalamu Alaikum



Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’anul Karim, bahasa Kitabullah. Allah SWT berfirman :
"وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ"
 “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Q.S. Al-Qamar/54 : 17, 22, 32, 40).

Allah SWT telah memudahkan Al-Qur’an untuk dibaca, dipelajari, dihafal, diajarkan, dipahami, dan diamalkan. Dia telah memudahkan semua sarana dan jalan untuk mempelajari Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an itu berbahasa Arab. Dengan demikian, mempelajari bahasa Arab bukanlah sesuatu hal sulit seperti anggapan banyak orang.
Mungkin, banyak orang enggan belajar bahasa termulia ini dan berusaha membela dirinya dengan 1001 alasan. Mari jauhi ucapan yang sering terdengar di telinga kita: “Sesungguhnya bahasa Arab itu susah”.
Kita, umat Islam, hidup pada era globalisasi dan era Al-Ghazwil Fikri wa Al-Ghazwits Tsaqafi (perang pemikiran dan kebudayaan). Musuh kita adalah musuh agama, musuh Islam, musuh bahasa Arab. Mereka tidak akan berhasil memerangi kita dengan kekuatan militer. Namun, mereka ingin menjauhkan kita umat Islam dari bahasa Arab, bahasa Al-Qur’anul Karim.
Jika seorang Muslim meninggalkan bahasa Arab, maka ia tidak dapat memahami Al-Qur’an dengan benar. Jika seorang Muslim menjauhi bahasa Arab, maka misi musuh-musuh Islam telah berhasil.
Sekali lagi, jangan pernah mendengarkan ucapan orang-orang yang dengki dengan kemajuan Islam yang begitu pesat, bahwa bahasa Arab itu “susah, ketinggalan zaman, bahasa orang padang pasir, dan sebagainya”, juga bahwa  kaidah Nahwu dan Sharaf sangat susah dipelajari, baca tulisan Arab aja susah, apalagi menulis, dan mengucapkannya”.

Orang Arab Belajar Sama Non-Arab
Mari kita ingat-ingat kembali, siapakah ulama paling terkenal dalam Ilmu Nahwu dan Sharaf? Jawabnya: Sibawaeh. Nama ini sangat akrab di kalangan santri di pesantren-pesantren dan mahasiswa di kampus-kampus Islam khususnya di Timur tengah.
Siapakah Sibawaeh? Dari mana asalnya? Apakah ia orang Arab?
Sibawaeh bukan orang Arab, melainkan orang Persia asli, non-Arab. Lidah dan dialek bahasa orang Persia tidak akrab dengan bahasa Arab dan sangat jauh dari sentuhan bahasa Al-Qur’an. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang begitu akrab dengan nuasa kearaban. Bahkan, banyak kata atau istilah bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab yang sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sibawaeh telah meletakkan kaidah-kaidah Ilmu Nahwu, banyak mengajar para ulama dan orang Arab.
Siapa di antara kita yang tidak pernah mendengar nama Imam Bukhari? Ia telah menyusun kitab hadits paling shahih. Apakah dia orang Arab? Bukan. Bukhari orang Bukhara, Samarkand, Asia Tengah.
Imam Tirmidzi, ahli hadits penyusun kitab Sunan Tirmidzi, juga bukan orang Arab. Namun banyak orang Arab belajar kepadanya.
Mari kita ingat kembali, siapakah ulama asal Banten Jawa Barat yang popularitasnya sangat mendunia itu? Benar, dialah Syeikh Nawawi Al-Bantani. Ia banyak menulis syarah kitab yang semuanya ditulis dalam bahasa Arab. Kerena banyak menghasilkan karya, maka ia digelar sebagai Imam Nawawi Tsani (Imam Nawawi Kedua).
Masih segudang orang non-Arab seperti mereka. Ringkasnya, banyak orang non-Arab yang mampu berbahasa Arab dengan baik, bahkan mengungguli orang orang Arab itu sendiri.
Jadi, setelah kita mengetahui banyak orang atau ulama tersohor bukan orang Arab namun fasih berbahasa Arab, jangan ada lagi kata-kata bahasa Arab itu susah dan sebagainya.

Bahasa Arab Itu Mudah
Bahasa Arab itu mudah dipelajari dan perlu, bahkan wajib dipelajari. Ketika kita ingin memahami Al-Qur’an secara baik, maka perangkat utamanya adalah bahasa Arab.
Sebagai hamba Allah SWT, tentunya kita yakin sekali akan janji-Nya yang akan memelihari dan menjaga Al-Qur’an hingga kiamat.
"إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ".

 “Sesungguhnya kami yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur’an) dan Kami pula yang akan memeliharanya” (Q.S. Al-Hijr/15 : 9).
Allah SWT akan memelihara Al-Qur’an dapat dimaknai juga sebagai jaminan dari-Nya akan kemudahan bahasa Arab sebagai penunjang untuk memahami Al-Qur’an.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Q.S. Al-Qamar/54 : 17,22,32,40)

Jadi, kalau kita ingin paham literatur Islam yang asli, paham ajaran Islam dengan baik, maka modal dasarnya bahasa Arab yang wajib kita pelajari ini. Tidak mustahil, kalau kita belajar dengan sungguh-sungguh, maka sebagai Muslim non-Arab, kita dapat mengungguli  kefasihan berbahasa Arab orang Arab sekalipun, sang pemilik lidah asli Arab. Wallahul Musta'an.*

Thursday, 7 May 2015

Doa Orang yang Terzhalimi

Bismillah Assalamu Alaikum


 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذاً إِلَى الْيَمَنِ وَقَالَ لَهُ : "اِتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ".

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, Nabi SAW mengutus Mu’adz ke Yaman dan beliau berkata kepadanya: "Takutlah kamu akan doa seorang yang terzhalimi (teraniaya) karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah" (H.R. Bukhari dan Muslim).

KANDUNGAN HADITS
Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk tidak berlaku zhalim (aniaya) kepada orang lain. Kita diperintahkan takut kepada doa orang teraniaya karena doa itu pasti terkabul. Rasul menegaskan, tidak ada penghalang (hijab) antara doa itu dengan Allah SWT. Oleh karenanya, bersikap adil senantiasa harus ada pada diri setiap individu Muslim.

Hancurnya Umat Terdahulu Karena Berprilaku Zalim
Banyak kita dapati dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, hancurnya umat terdahulu disebabkan perilaku zhalim yang mereka lakukan.

Fir’aun Raja Kezhaliman
Allah SWT menghancurkan Fir’aun, dengan cara ditenggelamkan di Laut Merah,  karena kezhalimannya. Di antara kezhalimanan Fir’aun dan bala tentaranya adalah membunuh anak-anak laki Bani Israil dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup. Nabi Musa AS pun mengajak kaumnya untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT dan bersabar atas kezhaliman ini.
Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT atas kehancuran dan kebinasaan Fir’aun dan para pengikutnya:

"رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأَهُ زِيْنَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ"

“Ya Tuhan kami, engkau telah memberi kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya berupa perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, ini semua mengakibatkan mereka menyesatkan manusia (hamba-hamba-Mu), dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat siksaan-Mu yang pedih.” (Q.S. Yunus/10 : 88).
Doa-Doa Maqbul
Banyak doa yang tidak akan tertolak alias maqbul, di antaranya:
Doa Orang Berpuasa
Doa orang berpuasa akan dikabulkan Allah hingga dia berbuka puasa. Namun, tentunya puasa yang dia lakukan adalah puasa yang dilandasi oleh keikhlasan  karena Allah SWT.

Pemimpin yang adil
Jabatan atau kepemimpinan adalah sebuah amanah besar yang dibebankan Allah SWT kepada orang-orang tertentu. Bahkan, kita semua adalah pemimpin untuk diri kita masing-masing dan pada hari kiamat kelak Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan yang telah kita pikul selama di dunia ini.
Seorang pemimpin, mulai dari presiden sampai pejabat paling rendah, dituntut berlaku adil. Balasan Allah bagi pemimpin yang adil adalah dikabulkannya doa.

Orang yang Terzhalimi
Hadits di atas juga memberi isyarat, siapa pun kita, agar selalu berbuat adil dalam segala hal dan tidak melakukan perlakuan zhalim. Kalau seseorang berlaku zhalim kepada orang lain, maka nantikanlah akibat buruknya. Cepat atau lambat, dia akan “menikmati” doa orang yang teraniaya tersebut.
Jadi, buatlah benteng pertahanan pada diri kita dengan tidak berbuat zhalim terhadap orang lain dan berusaha untuk berlaku adil. Doa orang yang terzhalimi sangat “ampuh” terhadap orang yang menzhaliminya
Memang, ada hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan, doa orang yang pakaian dan makanannya tidak halal tidak akan terkabul. Namun, misalnya orang seperti dia dizhalami, maka apabila dia berdoa, maka doanya yang dialamatkan kepada pelaku kezhaliman tersebut akan terkabul.

Rasulullah SAW bersabda:

"ثَلاَثَةٌ لاَ تُرُدُّ دَعْوَتُهُمْ : اَلصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ، وَيَقُوْلُ لَهَا الرَّبُّ : وَعِزَّتِيْ وَجَلاَلِيْ َلأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ".

“Ada tiga orang yang doanya tidak akan tertolak: orang yang berpuasa hingga dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzhalimi. Allah akan angkat doa-doa tersebut di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, kemudian Allah berfirman: Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku pasti akan tolong kamu walaupun setelah melalui suatu masa“. (H.R. Ahmad).

Doa maqbul lainnya antara lain doa kedua orangtua kepada anaknya, doa orang yang dalam bepergian, doa seseorang kepada saudara saat dia tidak mengetahuinya, dan masih banyak lagi.Wallahu a'lam bish-Shawab.*

Wednesday, 6 May 2015

Menghafal Quran Itu Mudah

Bismillah Assalamu Alaikum



PADA Perang Uhud, Rasulullah Saw kehilangan banyak para sahabatnya yang memiliki banyak hafalan Al-Quran. Mereka gugur sebagai syuhada di medan jihad itu. Menjelang perang berikutnya, Rasulullah Saw memerintahkan agar tidak semua umat Islam menjadi prajurit tempur di medan laga, namun harus ada sebagian yang khusus mendalami ilmu, tafaqquh fid-din, termasuk menghafal Al-Quran. Instruksi Rasulullah Saw itu berlandaskan wahyu:

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (Q.S. Al-Taubah/9 :122)

Demikian pula pada masa kekhilafahan Abu Bakar As-Shiddiq r.a, tepatnya pada perang Yamamah, dimana sekitar tujuh puluh sahabat Rasulullah Saw, para penghafal Al-Quran gugur menjadi syuhada. Kemudian Umar bin Khattab r.a berinisiatif dan kemudian berdiskusi dengan para sahabat seperti Abu Bakar r.a kemudian Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib serta menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis wahyu untuk mengumpulkan Al-Quran dalam bentuk mushaf. Singkatnya, dengan mengumpulkan para penghafal Al-Quran dan dengan seleksi yang ketat akhirnya Al-Quran tahap demi tahap berhasil dikumpulkan dalam bentuk mushaf terutama di masa kekhilafahan Utsman bin Affan r.a

Kilasan sejarah Islam di atas hanyalah salah satu bukti, betapa para “penjaga ilmu Islam”, termasuk di dalamnya penghafal Al-Quran –karena Al-Quran merupakan sumber utama ajaran Islam– menempati posisi mulia. Allah Swt memang menjamin, Dialah yang menjaga Al-Quran sebagaimana Dia pula yang menurunkannya sebagai pedoman hidup hamba-hamba-Nya. Namun, Allah juga memilih orang-orang khusus sebagai “khalifah”-Nya dalam menjaga kemurnian dan kemuliaan Kalam-Nya, yakni para penghafal Al-Quran (Huffazh).

Penghafal Al-Quran merupakan orang-orang terpilih di antara hamba-hamba Allah Swt. Mereka ibarat pasukan elite dan khas, sebagai “pasukan khusus pengawal Al-Quran”, dan tentu saja dengan imbahan kemuliaan, keberkahan, atau pahala yang “elite” dan “khas” pula.

Allah menjamin tidak akan ada yang mampu memalsukan Al-Quran, bahkan satu ayat pun, sebagaimana tidak akan ada manusia dan jin yang mampu membuatnya.  Jaminan Allah itu diberikan karena akan selalu hadir para penghafal Al-Quran dari zaman ke zaman. Kesalahan sedikit pun, disengaja ataupun tidak disengaja, akan langsung diketahui dan dikoreksi.

Menghafal Al-Quran itu mudah, tidak susah. Allah Swt sendiri yang menegaskannya, berkali-kali. Jadi, siapa pun, dalam usia berapa pun, dapat dengan mudah menjadi seorang penghafal Al-Quran (Hafizh), asalkan mampu memenuhi syarat dan menjalani proses, tahapan demi tahapan. Wallahu a’lam.

Tuesday, 5 May 2015

Membangun Gairah Menghafal Al-Quran

Bismillah Assalamu Alaikum




Bagaimana membangun gairah menghafal baik untuk diri pribadi maupun untuk orang lain? Setiap kita, ketika ingin mengerjakan suatu aktivitas, pasti sebelumnya sudah mengetahui nilai atau keuntungan yang akan diperoleh setelah melakukannya.

Membangun gairah menghafal Al-Quran adalah membangun motivasi untuk bisa, giat, dan gemar menghafal Al-Quran. Untuk memotivasi umatnya, Rasulullah Saw banyak memberi nasihat. Di antara nasihat beliau adalah “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran”.

“Orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para utusan yang mulai dan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan dia merasakan kesulitan, makan baginya dua pahala”, yaitu pahala membaca dan pahala karena kesulitannya saat membaca. Itu hanya ada saat orang membaca Al-Quran. Para sahabat RA memiliki perhatian yang begitu besar terhadap pembelajaran Al-Quran, sehingga mereka gemar dan rajin belajar dari Rasulullah SAW dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Kaum Muslimin, khususnya para da’i (du’at) atau mereka yang terlibat dalam aktivitas dakwah, sudah paham benar urgensi mempelajari Al-Quran secara mendalam, lebih khusus lagi menghafal Al-Quran. Betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah SWT. Namun, tidak sedikit dari mereka terjebak pada sikap menunda-nunda pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah ini, bahkan banyak ide-ide cemerlang yang terlintas dalam benak, namun hilang begitu saja karena sikap penundaan tersebut.

Di antara sebab penundaan menghafal Al-Quran adalah

1- Merasa bahwa menghafal itu adalah pekerjaan susah dan menjenuhkan.
2- Bacaan Al-Quran yang belum standar tingkat kefasihannya.
3- Belum saatnya untuk menghafal.
4- Saat mau menghafal kondisi badan kurang baik.
5- Sudah banyak orang yang menghafal Al-Quran.
6- Tidak tahu dari mana mulai menghafal.
7- Saat ini belum ada keinginan untuk menghafal.
8- Saat ini banyak sekali kesibukan.
9- Sedang dead line dengan tugas-tugas kuliah atau kantor.
10- Saat ini waktunya kurang tepat untuk menghafal.
11- Acara televisi dengan tema yang hangat saat ini.

Di antara yang harus dilakukan oleh orang yang sudah punya azam kuat untuk menghafal adalah:

1- Harus mengubah sifat menunda untuk menghafal Al-Quran.
2- Buat rencana dan target-target tertentu.
3- Jangan takut gagal. Yang diperlukan adalah mencoba dan proses harus tetap dijalankan.
4- Tinggalkan sifat riya’ dan sum’ah, lawan bisikan setan di dada kita.
5- Mengalahkan rasa takut adalah bagian dari kesuksesan, seperti takut lupa dan merasa riya setelah hafal al-Quran.
6- Tingkatkan kadar ketakwaan agar Allah selalu membimbing dan mengajarkan yang terbaik.
7- Yakin, bahwa menghafal Al-Quran itu mudah sebagaimana penegasan Allah dalam Al-Quran.
8- Tawakkal kepada Allah, ikhlaskan niat hanya untuknya dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan untuk bisa menghafal kitab-Nya.

Semoga kita terus bersemangat menghafal Al-Quran. Amin! Wallahu a’lam.

Monday, 4 May 2015

Membaca Al-Quran 1 Jam 1 Juz

Bismillah Assalamu Alaikum




Di antaranya tahapan dalam menghafal Al-Quran adalah memperbaiki tilawah terlebih dulu. Mari perbaiki kualitas tilawah Al-Quran kita, setelah itu baru kita mulai menghafal. Jangan bebani diri kita dan orang lain untuk menghafal Al-Quran bila tilawah Al-Quran kita masih jauh dari ideal.

Bagi yang belum baik tilawahnya, sisihkan waktu terbaik untuk belajar tahsin Al-Quran. Bagi yang sudah baik, silakan mulai menghafal dengan didampingi seorang guru yang kompeten. Tahsinuttilawah muqaddamun ‘alal hifzhi, memperbaiki tilawah harus didahulukan daripada menghafal.

Mushaf Al-Quran terdiri dari 300 lembar atau 600 halaman lebih sedikit. Itu berarti rata-rata 1 juz itu hanya 10 lembar atau 20 halaman.

Bagi kita yang sudah lancar membaca Al-Quran, untuk menyelesaikan 1 juz hanya membutuhkan waktu 1 jam. Artinya, bila kita sangat sibuk, bisa dibagi dalam 4 tahapan, 15 menit untuk 5 halaman atau kalau mengacu kepada shalat lima waktu, kita bisa membaginya menjadi 5 bagian, yaitu sebelum dan setelah shalat fardhu masing-masing 4 halaman atau 2 lembar. Jadi, setelah shalat Isya kita sudah dapat menyelesaikan 20 halaman atau 1 juz penuh. Makanya, dengan banyak membaca sebelum kita menghafal, kemudahan dalam menghafal akan dapat kita rasakan. Nah, mudahkan caranya? Silakan coba! Semoga kita bisa istiqamah.

Ini rumusnya : 1 juz = 10 lembar = 20 halaman

1 lbr = 2 hal sebelum subuh + 1 lbr = 2 hal sesudah subuh

1 lbr = 2 hal sebelum zhuhur + 1 lbr = 2 hal sesudah zhuhur

1 lbr = 2 hal sebelum asar + 1 lbr = 2 hal sesudah asar

1 lbr = 2 hal sebelum maghrib + 1 lbr = 2 hal sesudah maghrib

1 lbr = 2 hal sebelum isya + 1 lbr = 2 hal sesudah isya

Sunday, 3 May 2015

Belajar Al-Qur’an dari CD

Bismillah Assalamu Alaikum




Belajar membaca Al-Qur’an dengan mengikuti bacaan dari CD, kaset, video, atau yang semisalnya itu boleh. Tapi, jangan sampai sarana tersebut dijadikan satu-satunya “guru” dalam belajar Al-Qur’an.

Belajar Al-Qur’an yang benar harus dengan guru. Ia dapat memperbaiki bilamana sang murid keliru dalam  membaca dan melafazhkan ayat-ayat Al-Qur’an. Karenanya, dengan talaqqi dan musyafaha (menerima pelajaran dengan berhadapan langsung) dengan gurulah cara yang paling benar dalam mempelajari Al-Quran.

Pra Ahlul Qur’an juga ber-talaqqi langsung kepada gurunya. Gurunya ber-talaqqi kepada gurunya lagi, sampai kepada para qari’ dari kalangan Tabi’in, kemudian mereka ber-talaqqi kepada qari’ dari kalangan sahabat Rasul yang ber-talaqqi langsung kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW juga ber-talaqqi kepada Malaikat Jibril dan Malaikat Jibril  menerima Al-Qur’an dari Allah SWT.

Jadi, kita dapat memilih bacaan salah seorang imam atau qari’ terkenal dari Timur Tengah, seperti Syaikh Mahmud Khalil Al-Hushari, Syaikh Muhammad Siddiq Al-Minsyawi, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, Syaikh Abdurrahman Al-Hudzaifi, Syaikh Su’ud Syuraim, Syaikh Abdurrahman Al-Sudais, Syaikh Misyari Rasyid, Syaikh Hani Rifa’i, Syaikh Sa’d Al-Ghamidi, dan lain-lain, namun sempatkan diri kita untuk tetap belajar dengan didampingin guru langsung.

Semoga Allah memudahkan segala upaya kita dalam mempelajari kitab suci-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.

Saturday, 2 May 2015

Membimbing Anak Menghafal Al-Quran

Bismillah Assalamu Alaikum



Hendaknya kita menanamkan akidah, ilmu pengetahuan agama, dan pengajaran Al-Quran kepada anak-anak kita sejak mereka masih berusia dini.

Pendidikan anak usia dini sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan memori mereka yang masih polos. Mereka bagaikan kaset kosong yang siap diisi oleh apa saja. Apa pun yang didengar sang anak, pasti akan terekam dalam memorinya.

Oleh karena itu, kita perdengarkan kepada buah hati kita bacaan Al-Quran seoptimal mungkin, baik dengan cara kita langsung yang membacanya atau dengan menggunakan kaset atau semacamnya. Cara itu pula yang pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dan telah menjadi tradisi dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in memiliki perhatian sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak.

Kalau kita membaca kitab-kitab klasik berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang para ulama yang berhasil menghafal Al-Quran pada usia sebelum mencapai 10 tahun.  Imam Syafi’i rahimahullahu misalnya. Peletak Madzhab Asy-Sayfi’iyyah ini berhasil menghafal Al-Quran 30 juz pada usia tujuh tahun.  Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, di antaranya Tafsir Jalalain dan Tafsir Al-Durrul Mantsur, hafal Al-Quran 30 juz pada saat usianya belum genap delapan tahun.

Ada beberapa metode atau cara yang bisa diterapkan dalam mengajari anak usia 6 -8 tahunan dalam hal hafalan Al-Quran.

Pertama, harus kita pahami, anak-anak seusia ini lebih suka mendapatkan pujian, reward, hadiah, iming-iming, atau apalah namanya. Yang jelas, mereka sangat menyukai hadiah atau memperoleh sesuatu bila selesai mengerjakan tugas. Ini akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pendekatan ancaman atau pukulan bila si anak tidak mau atau tidak mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Berikan mereka hadiah apa saja –tidak harus yang harganya mahal. Yang penting, bentuk perhatian dari seorang guru atau orangtuanya.

Baik sekali kalau hadiah yang diberikan kepada sang anak itu berkaitan erat dengan program tahfizh Al-Quran, walaupun harganya agak mahal, seperti Al-Quran digital, MP4, atau HP yang berisikan tilawah Al-Quran 30 juz. Tentunya itu akan membuat anak lebih bersemangat dalam belajar dan menghafal Al-Quran.

Kedua, selalu memuji dan menyanjung sang anak atas keberhasilannya dalam menyelesaikan tugas atau telah mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Jangan sampai kita berlaku tidak adil terhadap anak. Jangan sampai terjadi, ketika dia melakukan kesalahan atau tidak mencapai target, kita selalu menyalahkannya dan membuat dia berputus asa dan akhirnya mengakibatkan sang anak tidak mau lagi menghafal. Jadi, harus lebih diperhatikan bagaimana sang anak tersebut selalu senang dalam proses menghafal.

Ketiga, yang juga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar atau menghafal yang menyenangkan dan senyaman mungkin.  Hal itu agar anak akan merasakan mudah dan nikmatnya menghafal Al-Quran. Jangan sekali-kali ada kesan memaksa dan menekan anak untuk menghafal Al-Quran. Bila hal pemaksaan atau penekanan itu dilakukan, maka bukan saja anak tidak mau menghafal, tapi juga bisa jadi dia nanti akan benci dan trauma saat disuruh menghafal.

Keempat, usahakan sebelum mulai menghafal, guru atau orangtua yang mengajarkannya bercerita secara ringkas tentang isi ayat atau surat yang akan dihafal. Dengan cara demikian, dia akan menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk menghafal. Dia ingin sekali menghafal ayat atau surat yang bercerita tentang kisah-kisah tertentu di dalam Al-Quran.

Kelima, mungkin ini juga tidak kalah pentingnya untuk merangsang anak dalam menghafal Al-Quran, yakni buatlah gambar-gambar yang berkaitan erat dengan ayat atau surat yang akan dihafal agar mereka dapat membayangkan kejadian atau peristiwa apa saja yang terjadi.

Keenam, memilih guru yang kompeten –memiliki kapasitas cukup. Idealnya guru tersebut sudah hafal 30 juz. Itu pula yang pernah dilakukan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Dia memanggil seorang guru yang alim, saleh, hafal Al-Quran, dan banyak menghafal hadits dan disiplin ilmu lainnya, untuk mengajari anaknya.

Seorang guru harus berpenampilan menarik dan menyenangkan. Guru tidak saja dituntut untuk memiliki kamampuan hafal dan membaca Al-Quran dengan baik, motivasi yang tinggi, dan akrab dengan anak-anak, tetapi juga harus memenuhi kriteria tambahan lain, seperti kreatif, inovatif, dan mau duduk dan bermain bersama anak-anak.

Semoga harapan mulia  agar anak-anak kita dapat menghafal Al-Quran bisa terwujud. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Friday, 1 May 2015

40 Tahun Mengajarkan Al-Quran

Bismillah Assalamu Alaikum



Ada banyak tolok ukur kebaikan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw bagi umatnya. Tolok ukur kebaikan ini tentu akan memberikan semangat kepada umatnya untuk terus mengamalkannya. Diantaranya adalah belajar dan mengajarkan Al-Quran.

Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannnya” (HR. Bukhari)

Selain banyak hadits tentang mulianya orang-orang yang berinterksi dengan Al-Quran, hadits ini pula yang membuat seorang Tabi’in yang bernama Abu Abdil Rahman Al-Sulami setelah menimba ilmu Al-Quran dari beberapa sahabat seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhum berkonsentrasi penuh dalam berkhidmat mengajarkan Al-Quran. Beliau senantiasa mengajarkan Al-Quran kepada kaum Muslimin di masjid Kufah selama 40 tahun. Dan beliau lah yang meneruskan hadits Rasul ini dari Ustman bi Affan Ra:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”

Lalu berliau berkata: “Hadits ini pula yang menghantarkanku untuk duduk di majelis ini (untuk mengajarkan Al-Quran)”.

Al-Imam Syafi’i berkata: “Barang siapa yang mengajarkan Al-Quran nilainya sangat mulia”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa orang yang terhimpun pada dirinya belajar dan mengajarkan al-Quran akan menyempurnakan dirinya dan orang lainnya, menghimpun antara menfaat untuk dirinya dan untuk orang lain, dan inilah yang paling afdhal”.

Alhamdulillah, banyak pesantren, lembaga, yayasan atau semisalnya yang berkhidmat untuk mengajarkan Al-Quran kepada masyarakat. Semoga kita bisa ambil bagian dalam belajar dan mengajarkan Al-Quran, atau paling tidak kita berkontribusi dalam mendukung berdiri dan berkembangnya lembaga-lembaga yang akan melahirkan ‘penjaga’ Al-Quran. Amin