Thursday, 30 April 2015

Bentengi Rumah dengan Al-Quran

Bismillah Assalamu Alaikum

Al-Quran adalah mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang paling agung dan senantiasa kekal hingga akhir zaman. Ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang senantiasa mengikutinya. Dengan mengikutinya, maka kesenangan dan keselamatan akan diperoleh di dunia mau pun di akhirat kelak.

Setan Lari dari Al-Quran
Rasulullah SAW memberikan warning kepada umatnya agar tidak menjadikan tempat tinggal mereka bagai kuburan. Bila rumah dibacakan Al-Quran, khusunya Surat Al-Baqarah, maka setan pun akan lari meninggalkan rumah tersebut

“Jangan kalian jadikan rumah kalian bagai kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah”.(HR. Bukhari)

Rumah yang senantiasa diperdengarkan Al-Quran di dalamnya akan terbentengi dari kejahatan. Sebaliknya, rumah yang sepi suara penghuninya dari menbaca Al-Quran, shalat, dan bacaan dzikir kepada Allah, maka rumah itu bagaikan kuburan, bahkan siap dihuni  setan.

Rumah Penuh Berkah
Abu Hurairah r.a. berkata, “Sesungguhnya rumah akan dirasakan lapang oleh penghuninya, dihadiri malaikat, dijauhi setan dan kebaikan akan berlimpah bila di dalamnya senantiasa dibacakan Al-Quran. Dan sesungguhnya rumah akan dirasakan sempit oleh penghuninya, dijauhi malaikat, dihadiri setan dan sedikit kebaikan bila di dalamnya senantiasa tidak dibacakan Al-Quran”.

Kita ingin rumah kita terasa lapang bukan saja secara fisik, namun secara maknawi juga terasa lapang serta penuh keberkahan dan malaikat pun hadir dalamnya. Namun, tanpa disadari, ternyata tidak sedikit dari kita yang mengundang datangnya setan karena rumah kita kering dzikir dan bacaan Al-Quran. Allahul Musta’an.

Wednesday, 29 April 2015

Suara Terbaik Untuk Al-Quran

Bismillah Assalamu Alaikum
denaihati.com

Alangkah indahnya bila seorang Muslim diberikan suara indah oleh Allah SWT dipergunakan untuk membaca kalamullah dengan suara terindahnya tersebut sehingga baik dirinya atau pun orang lain yang mendengarkannya tergugah untuk menerima hidangan Al-Quran dan mendapatkan rahmat dari Allah SWT, bukan untuk melantunkan suara yang tak bernilai ibadah bahkan mengundang syahwat dan mengundang dosa baik untuk dirinya dan juga orang lain.

Orang yang diberikan suara indah oleh Allah SWT harus pandai bersyukur, dan pada saat dia melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran tujuannya adalah agar orang yang mendengarkannya dapat tergugah hatinya untuk mendapat taujih dan hidayah Al-Quran.

Rasulullah SAW memberikan isyarat agar saat kita membaca Al-Quran membacanya dengan suara terindah yang kita miliki. Orang yang terindah suaranya adalah orang yang saat membaca Al-Quran terlihat bahwa dia takut kepada Allah SWT.

Suara Indah Nabi Daud
Suatu hari seorang sahabat yang bernama Al-Barra’ RA pernah mendengar Rasulullah SAW membaca dalam shalat  isya surat At-Tiin, dan dia pun tidak pernah mendengar bacaan yang lebih bagus dari pada bacaan Rasulullah SAW.

Adalah Abu Musa Al-‘Asy’ariy RA,sahabat mulia yang memiliki suara indah sehingga Rasulullah SAW memberikan julukan kepadanya  seperti seruling Nabi Daud AS, maksudnya adalah bahwa suara Abu Musa Al-‘Asy’ari saat membaca Al-Quran sungguh indah seindah merdunya suara Nabi Daud AS.

Pembesar Quraisy dan tilawah Al-Quran
Al-Quran memiliki daya tarik yang luar biasa, diantaranya adalah indahnya lantunan ayat suci Al-Quran yang dibawakan oleh Rasulullah SAW membuat beberapa pembesar Quraisy tak tahan untuk mendatangi Rasulullah SAW secara diam-diam hanya untuk mendengarkan lantunan Al-Quran di malam yang pekat di saat rasulullah SAW shalat malam dengan bacaan Al-Quran yang sangat merdu dan memukau orang yang mendengarnya. Walau akhirnya para pembesar Quraisy tetap dalam pendiriannya, hasad dan ingkar kepada ajaran Rasulullah SAW.

Friday, 24 April 2015

Setitik Noktah Berdarah…


Bismillah Assalamu Alaikum

Tatkala malam, tepat di saat kami mengerjakan tugas…dengan ditemani saudara sepupu,

ada suatu perkataan mulia yang(dengan izin Allah) hadir di antara kami yang mana jika perkataan itu dituliskan…

tentu emas sejumlah bulir pasir di pantai,

dinar dan dirham sejumlah bintang di langit

serta

seluruh dunia dan seisinya-pun…

TAK AKAN PERNAH MAMPU menunaikan hitungan KEINDAHAN & KEMAHALANnya…

kakak : “dik, nyamuk di kakimu…!”

fitrah : “masya Allah, tidak terasa kak! Terlalu seru menulis tugas…”

kakak : “dik, nyamuk di kakimu…!”

fitrah : “masya Allah, tidak terasa kak! Terlalu seru menulis tugas…”

---+++---

~kemudian dengan sebuah tekanan jari telunjuk sepupu, nyamuk itu sirna dengan mengeluarkan darah segar yang baru ia hisap dari kaki kami…~

---+++---

fitrah : “ duh, kasian nyamuknya kak! Baru aja dia dapat rizki-nya, udah kamu bunuh…”

kakak : “ya…kan kita berhati – hati saja. Walaupun nyamuk berbahaya keluarnya di pagi hari, tidak salah kan jika kita berhati – hati pada nyamuk…?”

fitrah : “nyamuk itu kasian ya…kematiannya ternyata tidak membuat siapapun merasa kehilangan…”

kakak : “ya! jangankan mati, hidupnya-pun tidak terlalu membawa arti…”

---+++---

Seandainya secuil makanan kesukaan ada pada genggamanmu, adalah sangat berharga bagimu…akankah kau berikan kepada temanmu…??? TENTU TIDAK karena berharga-nya nilai makanan itu…

AKAN TETAPI…

Tatkala kami teringat sebuah perkataan Nabi yang Mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam…

“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam kitab Ash-Shahihah no. 686)



“SUBHANALLAH…jika demikian, bagaimanakah dengan DUNIA DAN SEISINYA INI…???

Sungguh, di sisi Allah DUNIA DAN SEGALA KEINDAHAN DI DALAMNYA TIDAKLAH BERNILAI WALAU HANYA SEBELAH SAYAP SEEKOR NYAMUK-pun…!!!

Bahkan dunia (di sisi Allah) tak bernilai dengan seekor nyamuk berdarah yang mati di hadapan kami…

“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat…” (HR. Muslim no. 7126)



Maka mari segera menuntut ilmu di atas tuntunan para salaf yang shalih, wahai saudaraku…

Amalkan…

Dakwahkan…

Dan bersabarlah di atasnya…

Ya Allah…lindungi-lah kami dari fitnah dunia yang melenakan dan membuai…

Dan tumbuhkan kecintaan kami pada negeri yang abadi, dengan ilmu dan amal yang shalih…

Serta akhirkan hidup kami dan saudara - saidara kami di atas nafas sunnah yang mulia dalam ucapan kalimat terindah…

LAA ILAHA ILLA ALLAH…MUHAMMAD RASULULLAH…!

amiiin, ya rabbunal ‘alamin…




Ditulis di tengah malam Kota Sidoarjo , 28 Desember 2008 / 1 Muharram 1430 H,  Didit Fitriawan.

Wednesday, 22 April 2015

Cewek Favorit atau CEwek Terlaknat?


Bismillah Assalamu Alaikum

Written by Andita SB  


Cewek favorit, begitu judul artikel di sebuah majalah remaja ibukota. Isinya, laporan tentang remaja yang banyak disenangi laki-laki di sekolahnya. Cirinya sama, cantik, modis, dan biasa berlengggak-lenggok di atas catwalk.

Pembahasannya pun tak jauh dari seputar perawatan tubuh, perlengkapan mandi, tipe cowok yang disenangi, dan syarat yang harus dimiliki seorang cowok untuk mendekati mereka. Dengan semua itu, mereka baru layak disebut cewek favorit dan remaja masa kini.

Data Lain

Jika standar yang menjadi acuan untuk menjelaskan seorang wanita masa kini adalah umbar kecantikan, kebolehan dalam memamerkan aurat, dan kecanggihan dalam berinteraksi dengan lawan jenis, maka tak aneh jika Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi, Kantor BKKBN Pusat, dr. Siswanto Agus Wilopo, seperti dikutip Republika beberapa tahun yang lalu , mengatakan bahwa saat ini ada sekitar satu miliar penduduk usia remaja memasuki perilaku reproduksi dan seksual yang dapat membahayakan dan mengancam kehidupannya.

“Ada 15 juta perempuan remaja melahirkan anak, sebagian sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sekitar 42 juta penduduk saat ini menderita HIV/AIDS dan hampir separuh dari mereka mengidap penyakitr tersebut saat masih remaja,” ungkap Siswanto seperti dikutip Republika.

Berbagai data pun menunjukkan, remaja saat ini sudah nekad dan tak berpikiran panjang. Dalam sebuah penelitian ditunjukkan bahwa sudah banyak remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum usia 19 tahun. Misalnya, survey di 12 kota dan di kota Medan beberapa tahun lalu menunjukkan perkiraan angka sekitar 5,5 - 11 %. Sedangkan remaja usia 15 - 24 tahun adalah 14,7 – 30 %.

Bayangkan jika penduduk usia remaja di Indonesia berjumlah 42,5 % (sensus tahun 2000), terdapat 10 % dari mereka yang menyatakan dirinya aktif secara seksual. Maka ada sekitar 4,3 juta remaja yang menghadapi berbagai resiko kesehatan reproduksi. Bayangkan, 4,3 juta remaja Indonesia berperilaku semacam ini. Ini pun baru 10 % dari remaja. Bagaimana bila 40 - 50 % yang melakukannya. Berarti sekitar 20 juta remaja, 10 % dari jumlah penduduk Indonesia.

Lebih ironis lagi bila kita melihat data WHO yang menyebutkan, setiap tahun ada sektiar 500 ribu perempuan meninggal dunia karena melahirkan dan lebih dari 65 ribu diantaranya adalah remaja perempuan yang meninggal karena aborsi. Inikah yang namanya cewek masa kini atau cewek favorit?


Wanita dalam Islam

Padahal Islam menempatkan wanita muslimah dalam kedudukan yang sangat tinggi. Ia mempunyai pengaruh yang besar di dalam kehidupan setiap muslim. Wanita adalah sekolah pertama dalam membangun masyarakat yang shalih jika ia berjalan sesuai petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah. Lihatlah bagaimana al-Qur’an memuat banyak ayat yang menunjukkan betapa penting peran kaum wanita, baik sebagai ibu, istri, saudara, maupun sebagai anak.

Islam sangat memuliakan wanita. Diperintahkannya para wanita untuk menggunakan hijab agar mereka tidak diganggu, Allah mengatakan dalam surat al-Ahzab ayat 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Seorang wanita muslimah tak akan membiarkan tubuhnya di santap mata liar laki-laki yang bukan suaminya. Ia akan menjaga harga diri dan kemuliaannya dengan menggunakan hijab sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan. Allah lah yang lebih tahu hal yang terbaik untuknya.

Wanita-wanita yang taat kepada segala putusan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab : 36)

Jadi, mana yang layak menyandang gelar cewek favorit?

Monday, 20 April 2015

Cukupkah Asupan Gizi Anak Anda?


Bismillah Assalamu Alaikum

Zat gizi merupakan zat penting yang diperlukan oleh tubuh kita baik untuk  prosespertumbuhan maupun perkembangan. Rendahnya konsumsi pangan atau tidak seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, serta menurunnya aktivitas dan produktivitas kerja.

Pada bayi dan anak balita, kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Bahkan pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi dan balita,  akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu pangan dengan jumlah dan mutu yang memadai harus selalu tersedia dan dapat diakses oleh semua orang pada setiap saat.

Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi yang dalam bahasa Inggris disebut malnutrition, dibagi dalam dua kelompok yaitu masalah gizi-kurang (under nutrition) dan masalah gizi-lebih (over nutrition), baik berupa masalah gizi-makro ataupun gizi-mikro. Gangguan kesehatan akibat masalah gizi-makro dapat berbentuk status gizi buruk, gizi kurang, atau gizi lebih. Sedang gangguan kesehatan akibat masalah gizi mikro hanya dikenal sebutan dalam bentuk gizi kurang zat gizi mikro tertentu, seperti kurang zat besi, kurang zat yodium, dan kurang vitamin A. Masalah gizi makro, terutama masalah kurang energi dan protein (KEP) paling banyak menyerang pada balita dan yang memprihatinkan biasanya orang tua tidak pernah menyadari bahwa anak balitanya mengalami KEP.
  
Secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh ketidakcukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh ketersediaan pangan tingkat rumah tangga, ketersediaan pelayanan kesehatan, pola asuh yang tidak memadai. Lebih lanjut masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah, kesempatan kerja dan juga keadaan lingkungan..
Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan . Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus atau kwashiorkor.

               Adapun tanda-tanda klinis Gizi Buruk

Tanda-tanda Kwashiorkor :
Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa (KEP) sering disebut busung lapar. Adapun tandanya yakni,
1. Edema (bengkak) umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki ( dorsum pedis )
2. Wajah membulat dan sembab
3. Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk, anak berbaring terus menerus.
4. Perubahan status mental : cengeng, rewel kadang apatis.
5. Anak sering menolak segala jenis makanan ( anoreksia ).
6. Pembesaran hati
7. Sering disertai infeksi, anemia dan diare / mencret.
8. Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut.
9. Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas ( crazy pavement dermatosis ).
10. Pandangan mata anak nampak sayu.

Tanda-tanda Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Tanda anak dengan marasmus yakni,
1. Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.
2. Wajah seperti orangtua
3. Cengeng, rewel
4. Perut cekung.
5. Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.
6. Sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit kronik.
7. Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang.

Tanda-tanda Marasmus-Kwashiorkor :
Tanda-tanda marasmus kwashiorkor merupakan gabungan tanda-tanda dari marasmus dan kwashiorkor.

Pada kasus buruk, dimana kebutuhan nutrisi tubuh sangat kurang maka dapat menyebabkan pertahanan tubuh menurun. System imun yang turun ini dapat menyebabkan mikroorganisme yang memapar tubuh, dan dapat dengan mudah masuk dan berkembang biak di dalam tubuh.

Pada dasarnya angka kebutuhan gizi tiap anak menurut tingkatan usianya itu jelas berbeda. Berikut tabel daftar kebutuhan makanan sehari-hari menurut umur dan jenis makanannya.

Jenis makanan
pemberian
                       Jumlah tiap pemberian (dalam umur)
1 th
2-3 th
4-5th
6-9th
10-12
12-25
Susu
 4x gls
½ gls
½-3/4 gls
½-3/4 gls
1/2- 1 gls
½ - 1 gls
½ - gls
Protein
a.       Telur
b.      Daging

3x sdm
3x sdm

1 butir
2 Sdm

1
2

1
4

1
4-6

1
6-8

1/lbh
8
BUAH/SAYUR
a. smbr vit C
b.Smbr Vit A
c.sayur

4x
1 Sdm
2x Sdm

1/3 G
2 Sdm
2 Sdm

½ G
3 sdm
3 sdm

½ G
4 sdm
4 sdm

1 G
4 sdm
1/3 G

1 G
1/3 G
½ G

1 G
½ G
¾ G
BIJI/SEREAL
a.   roti
b.   Nasi, mie

4

½ pot
½ G

1G
½ G

1 ½
½ G

1-2
¾ G

2
¾ G

2
1 G
LEMAK DAN KH
Kue sesudah makan




1 pot


1 ½ pot


1 ½  pot


3 pot


2 pot


3-6pot
Reff : Nelson Pediatric dalam IKA Markum
Note : G = gelas = 1 G = 240ml
            1 Sdm = sendok makan = 15 ml
            1 pot = 1 potong

Tabel diatas merupakan gambaran perhitungan kasar kebutuhan gizi pada anak-anak yang mungkin sudah jarang sekali diperhatikan oleh orangtua. Adanya kesibukan si orangtua atau kekurangtahuan orangtua mengenali pentingnya gizi pengaruh pada tumbuh kembang si anak, dan satu hal yang menjadi maslaah utama : faktor sosial ekonomi menjadi faktor utama terjadinya peningkatan kasus gizi buruk pada anak-anak.

Oleh karena itu sudah semestinya orangtua lebih memperhatikan asupan makanan bagi anak-anaknya. Asupan makanan juga harus mempertimbangkan nilai gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi si anak tidak hanya berpikir ”yang penting anakku kenyang..” makanan bergizi tidak harus dan tidak berarti mahal. Belum tentu makanan yang mahal itu syarat akan gizi. Maka..selektiflah dalam memilih makanan yang terbaik bagi buah hati anda.

Ingatlah...
Anak-anak adalah ”aset” berharga bagi kedua orangtuanya...
Optimalkan tumbuh kembang mereka...karena kita tidak pernah tau....
Sehebat apakah anak kita kelak di masa depan....


Wallohu Ta’ala A’lam

dari sobat-muda.com

Saturday, 18 April 2015

Sya’ban, Bulan Yang Terlalaikan…


Bismillah Assalamu Alaikum
Teman – teman yang baik…tahukah kita apa itu Sya’ban??? Bulan yang saat ini kita berada di dalamnya. Dalam sebuah website http://islam-qa.com disebutkan bahwa Sya’ban adalah nama bulan. 

Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Apa yang bisa dilakukan pada bulan Sya’ban…???

Seringkali di antara kita melalaikan keberadaan bulan yang baik ini. Kita dan orang – orang sekitar terlalu terlena dengan pesona bulan Rajab sehingga banyak melakukan amalan – amalan yang tiada dituntunkan oleh Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disamping itu seringkali kita terlalu bersemangat mempersiapkan kedatangan Ramadhan, dengan apa – apa yang tidak dibenarkan dalam ajaran dien yang mulia ini, namun justru kita melupakan bulan di mana panutan kita Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam paling banyak berpuasa di dalamnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Sedangkan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Abdullah Ibnu al Mubarak –rahimahullah-  telah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah menggenapkan puasa di bulan Sya’ban akan tetapi beliau tetap sering berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan hadits pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mana beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.”

Dan dalam 2 buku hadits masyhur (Bukhari dan Muslim) dari Ibnu ‘Abbas –radliyallahu’anhuma-, beliau berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Al Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu ‘Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Simaklah wahai teman – teman apa yang dikatakan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Saya berkata pada Nabi: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. An Nasa’i, lihat buku Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dinyatakan shahih oleh Al-Albani, dalam buku Shahih Sunan Abi Dawud 2/461. Nah, akankah kita termasuk orang – orang yang lalai…??? Mari bersemangat wahai teman – teman…

Kemudian simaklah apa yang disampaikan Ibnu Rajab –rahimahullah- :  “Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunnah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.”

Jika kita teliti terhadap sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”,maka akan kita dapati bahwa karena bulan Sya’ban ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- kita sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara kita mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian teman – teman…

Kemudian lihatlah secara jeli bahwa pada hadits itu pula terdapat dalil disunnahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai.

Asal kita tahu, menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:

Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunnah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabb-nya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian pendahulu kita berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan para pendahulu kita menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Ibnu Mas’ud –radliyallahu’anhu- bertutur: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Kemudian berkata Qatadah –rahimahullah- : “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Memang benar teman…bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika terjadi fitnah ibarat sedang berhijrah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Disamping itu, termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Nah…masihkah mau untuk melalaikannya…??? Wallahua’alam.

oleh Didit Fitriawan sobatmuda.com


Thursday, 16 April 2015

Dibalik Tirai Canda


Bismillah Assalamu Alaikum
(sekedar contoh)

“Eh tahu gak, setiap jumat di rumah sakit itu selalu ada yang mati loh…Dan penyebabnya misterius…Dan dokterpun ga ada yang tahu…” celetuk Fulan pada teman - temannya.

“Eh, masa? Emang kamu tahu penyebabnya?” tanya temannya.

“Halah…ternyata tiap jumat itu ada si cleaning service yang dengan entengnya nyabutin stop kontak alat nafas pasien dan menggantinya dengan vacuum cleaner, mulai deh…” tukas Fulan yang serentak diringi gelak tawa teman – temannya…

--------------------------------

Ya…itulah bercanda. Canda memang dapat menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, menenangkan keresahan dan meredakan amarah. Bahkan, tak jarang di dalam setiap canda yang kita berikan akan tercermin rasa persaudaraan dan persahabatan yang seakan penuh keakraban…

Di satu sisi, canda yang dapat membuat orang lain senang dapat disebut sebagai kebaikan karena Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengisyaratkan dalam haditsnya bahwasanya senyum yang dengannya orang menjadi senang adalah suatu kebaikan. Beliau bersabda,

“Senyummu untuk saudaramu, adalah shadaqah bagimu…” (HR. At Tirmidzi, 328/1956)

Namun seperti apakah canda yang dicontohkan oleh panutan kita yang mulia, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam…??? Apakah seperti canda kita…???

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Abu Umair, adik dari sahabat Anas ibnu Malik-radliyallahu’anhu- ketika ia masih anak-anak. Beliau kemudian mencandainya tentang anak burung yang ia pelihara…

“Abu Umair, apa yang dilakukan anak burungmu?” Demikian beliau memberikan canda dan senyuman kepada Abu Umair…

Lihatlah apa yang dikutip ahli hadits Imam Abu Dawud. Beliau meriwayatkan, ada seseorang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Ya Rasulullah, sertakan-lah saya,” pintanya, “Kami akan membawamu (naik) di atas anak unta,” jawab Nabi, “Apa yang dapat aku lakukan dengan anak unta?”, tanyanya kebingungan (karena tak banyak yang bias dilakukan oleh anak unta). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bukankah unta dewasa itu adalah anak unta juga.” (HR. At Tirmidzi).

Subhanallah…canda segar ini-lah yang akan menimbulkan senyuman – senyuman manis dari orang – orang di sekitar kita serta menjadikan pergaulan serasa hangat dan penuh keindahan…

Bahkan ada diantara sahabat yang mulia ada yang sangat suka dengan bercanda sehingga Imam Ibnu ‘Abdil Barr mensifati sahabat dalam bukunya Al Isti’ab  4/1526 sebagai seorang pecanda…Beliau adalah Nu’aiman Ibnu ‘Amr bin Rifa’ah. Meskipun disifati sebagai seorang pecanda, namun keimanan para sahabat tetap-lah kokoh dan setinggi gunung, demikian-lah yang dikatakan oleh Abdullah ibnu ‘Umar –radliyallahu’anhuma-



BEBERAPA KETENTUAN DI DALAM BERCANDA

Bercanda dibolehkan selama sesuai dengan syari’at. Hal-hal di bawah ini perlu diperhatikan, agar bercanda tidak berbalik menjadi dosa, sebagai berikut:



Tidak Menjadikan Tuntunan Agama Sebagai bahan Canda.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
Artinya “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ”Sesungguhnya kami hanya bersendau gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. 9:65-66)
Termasuk di dalamnya menjadikan sunnah Nabi, seperti: Memelihara lihyah, mengangkat celana di atas mata kaki bagi lelaki. Jika ajaran agama dijadikan gurauan sekecil apa pun, dapat menyebabkan kekufuran.
Abdullah Ibnu Abbas –radliyallahu’anhuma- pernah berkata, ”Barang siapa melakukan dosa lalu ia tertawa (merasa senang), maka ia akan masuk neraka di dalam keadaan menangis.”

Bukan Merupakan Cacian dan Cemoohan.
Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)

Disamping lisan, cacian dapat dilakukan dengan gerakan isyarat atau mata. Nabi yang mulia-pun melarang untuk mencaci,
“Jangan engkau bergembira dengan (cela) saudaramu, bisa saja itu akan menjadi sebab Allah untuk mengasihinya, dan mencobamu (dengan semisalnya).” (HR. At-Tirmidzi)

Ketahuilah wahai teman…Kehormatan harga diri di dalam  Islam sama dengan kehormatan darah dan harta. Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belumlah cukup tanpa adanya kesadaran untuk menjaga kehormatan orang. Nabi bersabda, “Setiap muslim dengan muslim lain diharamkan darah, harta dan harga dirinya.” (HR. Muslim)

Bukan Merupakan Ghibah.
Orang yang sering bercanda kemungkinan berat akan terjerumus ke dalam ghibah. Ia mengira mungkin ini hanya sekedar canda, padahal Nabi mendefinisikan ghibah dengan, “Menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak disenanginya.” sebagaimana tertera di dalam hadits riwayat Imam Muslim.

Tidak Menjadikan Canda Sebagai Kebiasaan.
Pribadi seorang muslim hendaknya serius dan bersahaja, sedang bercanda hanyalah sekedar sela saja,untuk rehat dari kepenatan. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa menjadikan humor sebagai profesi adalah sebuah kesalahan besar (dlm buku Ihya ‘Ulumuddin 3/129) 
Isi Canda Adalah Benar, Bukan Dusta dan Tidak Dibuat-Buat.
Nabi bersabda, “Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!” (HR. Abu Dawud)Naudzubillahi min dzaliik…

Mengondisikan Canda Dengan Tempat, Suasana dan Orang yang Dicandai.
Ketahuilah teman…Bercanda dengan orang yang dihormati semisal ulama bisa dianggap kurang sopan. Bercanda dengan orang awam dan kebanyakan orang bisa mengurangi kewibawaan. Demikian pula, bercanda dengan orang yang belum dikenal bisa dipersepsikan sebagai penghinaan.
Kemudian…simaklah pesan Imam An-Nawawi tentang bercanda, bahwasannya bercanda yang dilarang adalah canda yang berlebihan dan dijadikan sebagai kebiasaan yang dapat menyebabkan orang - orang banyak tertawa. Sedangkan banyak tertawa dapat memadamkan cahaya hati. Kadangkala bercanda (yang demikian), akan berakhir dengan cacian, cemoohan, menanamkan dendam dan memudarnya kewibawaan. Canda yang dilakukan Nabi adalah bercanda yang bersih dari sifat-sifat di atas (al Adzkar/468)

Dimulai sejak huruf ini tertulis, kami pribadi berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dilindungi dari canda dengan sifat – sifat yang bisa merendahkan…dan tidak memuliakan…

Wallahu a’lam

ditulis oleh Didit sobatmuda.com

Tuesday, 14 April 2015

Shalat Bagaikan Dikejar Sesuatu


Siapapun takkan ada yang menyangkal bahwasanya bagi setiap muslim memiliki kewajiban kepada penciptanya. Kewajiban tersebut berupa penyembahan atas Rabbnya sesuai dengan apa-apa yang Rabbnya tersebut syariatkan. Salah satu diantara keawajiban bagi seorang hamba ialah shalat, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam

Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam " Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata,"Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya..........(HR.Muslim)

Shalat merupakan syariat Islam yang merupakan perintah dari Allah, melalui perantara malaikat Jibril tersebut maka shalat dimasukkan kedalam rukun Islam yang kedua, sebagaimana pernah diketahui dalam pelajaran agama disetiap jenjang pendidikan formal di negeri tercinta Indonesia ini. Bahkan sejak jenjang pendidikan tingkat awal dalam kehidupan manusia di negeri ini. Mereka para anak-anak TK telah diwajibkan oleh gurunya untuk menghafalkan rukun Islam. Telah banyak penjelasan dari masa seseorang kecil hingga mencapai usia tuanya tentang shalat.

Shalat bagi setiap mukmin adalah kondisi yang tenang dan sempurna kesemua rukunnya, setiap manusia memiliki tuntutan dalam beribadah dengan dua sendi. Sendi pertama ialah hendaklah ibadah tersebut dilaksanakan diatas dasar keikhlasan; yakni menafikan (meniadakan) perkara-perkara lain saat beribadah tersebut melainkan hanya karena Allah dan hanya berharap Allah yang membalas amalan ibadahnya tersebut. Sedangkan yang kedua ialah mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam melaksanakannya dan tata caranya. Ibadah jika terlepas dari dua konsekuensi tersebut maka tidak diterima.

Jika dalam buang air saja Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan tata caranya secara sempurna dan mudah, maka dengan hal besar termasuk shalat pun tentulah Rasulullah telah mengajarkannya dengan penuh kesempurnaan. Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan urutan tata tertibnya, rukunnya, syaratnya, dan hal-hal yang melengkapi dalam shalat itu sendiri. Bahkan beliau pun berpesan dalam perkatannya dari Malik bin Huwairits radhiyallohu anhu, “shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Bagi setiap hamba Allah hendaknya melaksanakan shalatnya dengan sepenuh hati, sesuai sunnah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dipenuhi dengan ketenangan hati dan kekhusyuan sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,” (QS. Al Mukminun : 1-2)

Terkadang seorang muslim hanya mendapatkan pahala shalatnya tidak sepenuhnya dalam keadaan sempurna pahalanya, hal ini disebabkan mungkin shalatnya tersebut tidak dilaksanakan dengan kekhusyu’an yang berkurang, sunnah-sunnah yang tidak dilaksanakan secara sempurna, dan berbagai macam hambatan lainnya. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dari Ammar bin Yassir radhiyallohu anhu, “Sesungguhnya seseorang selesai melakukan shalat sedangkan pahala shalatnya itu tidak didapatkannya kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, seperdelapannya, atau sepertujuhnya, atau seperenamnya, atau seperlimanya, atau seperempatnya, atau sepertiganya, atau setengahnya.” (Hadist Hasan, dalam Shahih Targhib wa Tarhib oleh Asy Syaikh Al Albani. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasaa’i dan Ibnu Hibban.).

Dan Shalat Pun Kini Cepat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!,’ ... sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: 'Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: 'Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku'lah hingga kamu tenang dalam ruku', lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al- Hakim)


Sungguh apa yang terjadi dalam kesalahan shalat orang di hadist tersebut kini terjadi kembali di masa sekarang. Disaat mereka sebagian besar kaum muslimin telah meninggalkan salah satu dari rukun shalat yang satu ini, yakni thuma’ninah atau tenang di saat mendirikan shalat. Para imam shalat berjamaah pun kini telah banyak yang mempercepat waktu shalatnya saat mereka mengimami para makmum. Adakalanya diantara mereka (para makmum) belum sempurna salah satu rukun telah dipaksa masuk ke rukun berikutnya oleh sang imam melalui kapasitas usia tua yang dimilikinya.

Sangat ‘sempurna’ sekali falsafah shalat berjamaah yang kebanyakan terjadi di Indonesia. Mereka shalat dengan sangat cepat bahkan lebih cepat dari lomba lari estafet! Diantara para imam justru lebih merepotkan diri dengan sebuah permulaan yang diisi oleh berbagai bacaan penguat niat yang dibaca saat akan melaksanakan shalat. Bahkan karena khawatir shalatnya akan diganggu syaithan, mereka turut pula membaca Al-Ikhlash sampai An Nas lantas disambung dengan niat yang menghujam dalam dada berawalan “ushalli fardhal....” mengapa tidak membaca Al Baqarah sekalian pak imam jika khawatir shalatnya dicuri oleh was-was?

Lalu ternyata justru kesalahan banyak terjadi dalam shalatnya. Adakalanya para makmum mendengarkan bacaan yang tidak jelas dan terkesan berantakan, kipas angin yang kurang besar membuat shalat laksana olahraga, hingga akhirnya usai shalat mengusap muka layaknya menyeka keringat, dan bersalaman bak pemenang dalam sebuah perlombaan. Dan shalatnya pun menjadi beban sebab setelah salam ucapan yang keluar adalah pujian layaknya selesai menanggung suatu hal merepotkan( alhamdulillah) bukannya ke khawatiran akan shalatnya tidak diterima (astaghfirullah).

Itulah salah satu potret yang ada saat ini. Sungguh apa-apa yang menjadi kekhawatiran shahabat mulia Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam yakni Anas bin Malik radhiyallohu anhu telah terjadi disaat sekarang ini. Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dari Al Imam Az-Zuhri, beliau berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu di Damaskus dan ketika itu ia sedang menangis. Maka aku bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis? Ia menjawab, "Aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu aku dapati kecuali shalat ini, dan shalat ini telah disia-siakan". Dan dalam riwayat yang lain, Anas Radhiyallahu ’anhu berkata, "(Sekarang ini) aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yang dahulu ”. Kemudian seseorang berkata, "Bagaimana dengan rada pada zaman Rasulullah shalat?” Ia menjawab, "Bukankah kalian telah menyia- nyiakannya?!”

Kekhawatiran yang pernah dikatakan 14 abad lalu sudah sangat tenar dan menjadi hal biasa dalam bangsa ini. Sebab akhirnya membentuk karakter para makmum yang sangat menyukai hal instant. Mereka suka bila shalat dilaksanakan untuk sekedar mengugurkan kewajiban tanpa mengetahui hakikat dan makna dalam shalat itu sendiri. Mereka mencuri shalat dan melaksanakannya bagaikan seekor burung yang sedang mematuk makanannya. Hampir kesemua rukun dikerjakan tanpa ampun dan istirahat sejenak. Semua dikerjakan dengan sangat cepat, lebih cepat dibandingkan seekor harimau memburu seekor kuda zebra. Walhasil shalatnya tidak memiliki nilai kenikmatan dan kelezatan, sebab kekhusyuan yang seharusnya didapat dari shalat salah satunya dengan thuma’ninah telah hilang berganti dengan adu balap gerakan antara makmum dengan imam.

Sungguh suatu kerugian besar dan suatu musibah besar bila kaum muslimin shalat tidak dapat memahami hakikat dan faidahnya. Terlebih sebagian orang menganggap shalat mereka sudah benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Ya, kebutuhan pribadi mereka, jika dalam kesulitan dan kesusahan shalat mereka pun rajin dan statistik keimanan meningkat lebih hebat dibanding santri pondok pesantren, namun ketika kebutuhan sudah tercukupi kembali, mereka lalai dan meninggalkannya. Jangankan untuk shalat berjamaah ekstra cepat, untuk shalat sendiri pun masih diletakkan di perbatasan waktu. Shalat dzuhur dikerjakan tepat 5 menit sebelum ashar! Lantas dimakanakah letak thuma’ninah yang dahulu menjadi penguat hati dan penetralisir sendi setelah melaksanakan berbagai rutinitas keseharian.




Sunday, 12 April 2015

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit


·         Tanya :

Bagaimanakah pentunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perihal mengunjungi orang sakit?

 ·         Jawab :

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat rajin menjenguk orang sakit. Disebutkan dalam kitab Musnad Ahmad dan Sunan Ibnu Majah dengan sanad yang kuat, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang mengunjungi saudaranya sesama muslim, (seolah-olah) ia berjalan di taman jannah hingga ia duduk. Jika ia sudah duduk, rahmat Allah akan menaungi dirinya. Jika ia melakukannya pagi hari, maka tujuh puluh ribu malaikat akan berdo’a baginya hingga sore hari. Dan jika ia melakukannya pada sore hari, niscaya tujuh puluh ribu malaikat akan berdo’a baginya hingga pagi hari.”

Karena itulah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mengunjungi para shahabatnya yang sedang sakit. Bahkan beliau pernah menjenguk seorang budak Yahudi yang membantu beliau dan mendakwahinya hingga akhirnya budak itu masuk Islam. Beliau juga mengunjungi paman beliau Abu Thalib dan memerintahkannya agar mengucapkan syahadat, namun ia menolaknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyukai ibadah yang dilakukan sesuai hajat kebutuhan. Kadang beliau mengunjungi orang sakit setiap dua hari, dan kadang sepekan sekali. Biasanya beliau duduk di samping kepala orang sakit dan menanyakan keadaannya. Kadang beliau menanyakan kepadanya apa yang ia inginkan. Maka beliau pun memberikan apa yang ia inginkan, jika memang tidak membahayakan. Beliau biasa mengusap kepala orang sakit sambil berdo’a,

"Ya Allah Rabb manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah ia. Engkau adalah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain dari-Mu. Kesembuhan yang tidak membawa penyakit.”

Kadang pula beliau mendo’akan kesembuhan seperti, “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad.” Atau berdo’a,

 “Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkan dosamu Insya Allah.” (HR. al-Bukhari dalam al-Fath X/118)


Atau membaca do’a,

“Semoga sakitmu ini menjadi kafarah dan penghapus dosamu.”


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengkhususkan hari tertentu untuk mengunjungi orang sakit. Bahkan beliau mensyariatkan bagi umatnya untuk mengunjungi orang sakit pada malam atau siang hari. Dan beliau memerintahkan agar mengunjungi siapa saja yang sakit, baik sakit yang membuat penderitanya hanya bisa duduk seperti penyakit mata atau yang lainnya.

 Atau bila beliau meletakkan tangannya pada dahi orang sakit, kemudian mengusap dada, perut, atau wajahnya sambil berdo’a,

“Ya Allah, sembuhkanlah ia.”


Semua itu adalah dalil-dalil yang menunjukkan ditekankannya perintah mengunjungi orang sakit, terutama sakit yang menyebabkan penderitaannya tidak mampu beranjak ke mana-mana. Dan menjadikan hal itu sebagai salah satu hak seorang muslimatas muslim yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah r, “Ada enam kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain dalam perkara yang baik. Salah satunya adalah, mengunjunginya ketika sakit dan mengantar jenazahnya ketika meninggal dunia.”


Dan itu adalah termasuk wujud kasih sayang sesama muslim. Wallahu a’lam.


Sumber :

Fatwa-Fatwa Seputar Pengobatan dan Kesehatan, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin

Thursday, 9 April 2015

Panjangkan Sumbumu...!!!


Bismillah Assalamu Alaikum

Pernah nggak sih ngerasain punya temen yang gampang marah, tersinggung, ngambek, or semacamnya? Gimana rasanya?  Or jangan-jangan kita sendiri termasuk salah satunya? Well, tulisan kali ini sedikit mengupas tentang salah satu perasaan yang lekat dalam pribadi setiap manusia, yaitu marah?

Apa Itu Marah?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, marah berarti sangat tidak senang (karena dihina, tidak diperlakukan sepantasnya dsb). Sedangkan secara psikologi, marah lebih berupa sebuah perasaan dan bentuk perlawanan jiwa seseorang ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai, tidak disukai, merasa tertekan, sehingga memunculkan bentuk penolakan dalam bentuk wajah, mimik, dan perilaku.

Memang, dalam setiap sendi kehidupan, ada begitu banyak hal yang bisa memicu kemarahan seseorang, meskipun harus diakui bentuknya relatif sesuai dengan persepsi serta kondisi kejiwaan masing-masing orang. Ada pemicu yang memang wajar jika seseorang menjadi marah. Tapi tak jarang pula hal-hal yang sebenarnya biasa saja justru bisa membuat seseorang tak hanya marah, namun juga ngamuk tak karuan.

Terlepas dari apakah hal-hal tersebut memang pantas mengundang emosi marah, yang jelas marah itu sendiri seolah mengendalikan kehidupan kita. Lihat saja, betapa banyak berita yang kita baca tentang seseorang yang mampu untuk saling bunuh hanya untuk masalah yang sepele seperti karena uang Rp 50 ribu. Belum lagi, setiap terbit kebijakan baru dari pemerintah, sikap yang diperlihatkan pertama-tama adalah mempertanyakan, mempermasalahkan, mengeluhkannya, bahkan tak jarang melakukan penolakan secara berlebihan

Hal yang sama pun terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Guru yang tidak adil, suami yang pulang malam, istri yang tidak mampu mengurus rumah tangga, anak yang nakal dan malas, anak buah yang lamban, atasan yang pilih kasih dan seterusnya. Itulah beberapa hal-hal yang mudah sekali memicu marah kita.

Beberapa hal di antaranya memang pantas mengundang marah, namun yang lainnya adalah produk pribadi kita yang mudah emosi, karena satu dan lain hal. Sehingga, disadari atau tidak kita sudah menjadi budak yang dikendalikan rasa marah.



Mengapa Kita Mudah Marah?

Menurut Charles Spielberger Ph.D, seorang psikolog spesialis dalam studi tentang kemarahan, kemarahan adalah keadaan emosional yang intensitasnya bervariasi dari iritasi ringan hingga kemarahan yang intens dan balas dendam. Seperti halnya emosi yang lain, rasa marah dibarengi perubahan-perubahan biologis dan fisiologis, seperti detak jantung, tekanan darah, dan hormonal.

Rasa marah bisa disebabkan baik oleh peristiwa eksternal maupun internal. kita bisa marah karena ulah atasan atau bawahan di kantor, atau karena suatu kejadian tertentu seperti kemacetan lalu lintas, namun bisa juga disebabkan problem yang ada dalam diri kita sendiri, masa lalu kita atau pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan lainnya yang terekam dalam ingatan, sehingga dapat memicu kemarahan pada suatu saat tertentu, tanpa peristiwa eksternal yang signifikan.

Mengapa orang tertentu bisa lebih pemarah dibanding orang lain? Menurut Jerry Deffenbacher Ph.D, seorang psikolog yang mengkhususkan diri dalam anger management, ada orang-orang tertentu yang terlahir mudah marah dibanding dengan orang-orang rata-rata lainnya. Ada bayi-bayi yang terlahir dengan mudah menangis terhadap absennya hal-hal yang diharapkannya, misalnya susu yang datang terlambat, menangis semalaman, dan hal itu telah terlihat semenjak usia dininya.

Faktor lain adalah sociocultural. Orang yang dibesarkan dalam lingkungan yang pemarah, belajar bahwa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, atau menghindari apa yang tidak diinginkannya dengan cara marah. Penelitian menunjukkan bahwa latar belakang keluarga memainkan peranan penting dalam menumbuhkan rasa marah seseorang. Umumnya, orang yang mudah marah berasal dari keluarga yang destruktif, kacau dan kurang terampil dalam mengomunikasikan emosinya.

Ada pula orang-orang tertentu yang tidak memperlihatkan marahnya secara terbuka dan ekspresif namun cenderung menggerutu sendiri. Orang yang mudah marah juga tidak selalu melempar-lempar barang atau mengucapkan kata-kata mutiara (baca : sumpah serapah) kepada orang lain. Kadang kala mereka mengasingkan diri secara sosial, atau menjadi sakit secara fisik.

Pada umumnya orang yang mudah marah memiliki toleransi yang rendah terhadap frustrasi, merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya dari orang lain, mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari orang lain. Misalnya terhadap kesalahan kecil yang diperbuatnya, atau akibat kesalahpahaman.

Cara yang biasa dan alami dilakukan untuk menyalurkan marah adalah dengan berperilaku agresif. Sayang, dengan menyalurkan seluruh atau sebagian amarah dengan cara itu, kontrol sosial berlaku bagi diri kita. Norma-norma sosial, hukum-hukum yang berlaku, dan akal sehat akan memberikan batasan-batasan yang boleh atau tidak.

Jangan buru-buru menyalahkan keadaan atau orang lain sebagai penyebab kemarahan kita. Sebab, faktor internal dalam diri kita ternyata memegang peranan penting dalam menentukan perilaku tersebut.

Jadi, apabila kondisinya memang parah, untuk apa menghindari marah? Apakah perlu marah itu dihindari? Adalah normal apabila seseorang marah sesekali. Bahkan, menyalurkan marah dan bukan memendamnya adalah perilaku yang sehat emosional dan sangat manusiawi. Apabila kemarahan tersebut tidak dapat dikendalikan lagi, bahkan bersifat destruktif baik bagi diri sendiri maupun orang lain, hal itu bisa menjadi sumber masalah, seperti masalah di kantor, di rumah, dan secara umum mempengaruhi kualitas hidup kita. Bahkan, hal itu dapat membuat kita merasa, bahwa kita berada di bawah pengaruh emosi yang tidak dapat diduga sebelumnya dan sangat kuat mendikte perilaku kita.

anda ingin solusi mengatasi kemarahan banyaklah berdzikir dan segera ambil wudhu bila marah anda sedang memuncak