Monday, 30 March 2015

Apakah Ibuku Seorang Pembantu?


Tidak akan ada lagi yang menyangkal bahwasanya madrasah pertama bagi seorang anak adalah di rumahnya. Dan kunci pendidikan tersebut selayaknya dipegang silabus panduannya oleh seorang ibu. Namun sungguh disaat seruan emansipasi dan gender bertiup kencang menyusul tajamnya arus demokrasi yang diikuti reformasi. Maka seakan semua itu sirna ditelan masa.

Sungguh sulit menemukan ibu di kota besar yang sedang mengajarkan anaknya membedakan warna, mengajarkan sang buah hati mengenali tetangga sambil menyuapi makan sorenya, memberikan si kecil di malam hari cerita yang menenangkan hati dan membuat pulas tidur, dan aktifitas lain yang membantu tumbuh kembang kecerdasan serta keterampilan sang anak.

Para orang tua lebih mempercayai kinerja para pengasuh bayi yang kini mudah didapati di setiap biro jasa, walaupun sebagian diantaranya tak langsung percaya dan kadang waspada dibalut dengan curiga tetap ada. Tapi tetap saja kiprah para pembantu masih diperlukan.

Para orangtua seperti ayah tentunya telah berangkat di pagi hari mengais rezeki, adakalanya mereka berangkat ketika sang anak belum bangun dari tidur dan pulang ketika si anak telah bermimpi indah. Keluarga yang mengherankan bila dilihat dari kacamata pandangan pendidikan ideal, namun bagi mereka yang mengalaminya seakan ini adalah pola pendidikan penuh tanggung jawab. Sebuah tanggung jawab yang semoga si anak menirunya ketika besar kelak. Walaupun sang ayah tak tahu pasti akankah si anak yang telah terlatih hidup enak menjadi bijak setelah besar nanti.

Begitu juga para ibu yang sekalipun tidak lebih pagi dari suami, tetap bersiap diri menuju panah target rezeki yang memang telah digelutinya sejak masih usia muda. Dengan dalih alasan pendidikan dirinya yang telah terlanjur berjenjang tinggi sekaligus bergelar gengsi, jika tidak dimanfaatkan akan sangat rugi. Adapula yang mengatakan warisan keluarga wajib diteruskan dengan sekuat tenaga untuk banting tulang menghidupkan usaha. Bahkan secara ekstrim mengatakan bahwasanya bekerja adalah jiwanya sehingga tak boleh siapapun melarangnya sekalipun sang suami telah sanggup mencukupi kehidupan dapur keluarga.

Itulah potret realitas yang sekarang kini ada. Miris memang, tetapi itulah sebuah kenyataan. Tak bisa ditutupi dan sulit untuk tidak dibicarakan. Ada kepentingan besar dibalik ini, lebih dari sekedar mendidik anak. Kepentingan tersebut bernama tanggung jawab. Kemana para ibu pergi ketika sang anak yang beranjak remaja hidup berlimpah materi dengan obat terlarang di tangan kanan dan memeluk gadis di tangan kiri. Sungguh sangat disayangkan, seharusnya mereka berkaca bahwa alangkah baiknya jenjang pendidikan mereka dimanfaatkan untuk mendidik anaknya sendiri, memberikan waktu dan semua kemampuannya untuk tetap dirumah dan memberikan perhatian pada si anak sehari-hari.

Jangan salahkan siapapun ketika bumerang yang akan timbul nantinya. Si anak menjadi pembangkang karena para ibu telah lepas tanggung jawab. Semua kata dibantah dan semua masukan dari ibunda ditolak mentah-mentah. Sang anak lebih senang bercerita ke pembantu yang telah bersama selama puluhan tahun dalam berbagi cerita, padahal si bibi tidak memiliki otoritas pendidikan yang berkapasitas dan jenjang pengalaman memadai. Sehingga para pembantu setia tersebut hanya dapat berkata tidak lebih dari ucapan “sabar... ya den, sabar..... yaa non,”


Harus dibuat komitmen bagi para orang tua jika menginginkan keluarga bahagia. Jangan hanya senang dalam membuat anak namun tak mampu memberikan kebahagiaan hakiki bagi si anak. Sungguh tidak adil kepada hak-hak manusia terlebih mereka adalah anak yang lahir dari rahim suci.


Ibu sebagai tempat pertama kali belajar hendaknya lebih rela mengorbankan waktu dan kesenangannya demi mendidik buah hati. Melempar tanggung jawab bukanlah bijak. Kesan menelantarkan itulah yang akhirnya timbul secara kolektif di lubuk hati orang tua perkotaan.

Jika kita memberikan sedikit waktu untuk mengulas bagaimana kisah hidup manusia-manusia mulia yang memiliki kekayaan jiwa bukan sekedar harta, tentulah mereka yang hidup saat ini akan terkesima. Bagaimana seorang ibu dari Imam Asy Syafi’i membesarkan anaknya hingga menjadi ulama besar dan hebat bahkan diakui kepiawaiannya dalam berbagai disiplin ilmu, mundur kembali kebelakang bagaimana seorang Khansa radhiyallahu ‘anha dapat mengantarkan anaknya menjadi para syuhada mulia dengan didikan hebat dan keberanian yang penuh tekad, serta berbagai kisah perjalanan lain yang mengisi lembaran sejarah masa-masa keemasan. Sebuah lembaran sejarah yang kini telah berganti dengan sebuah otobiografi seorang Bill Gates, George Sorosh, Lady Diana, Bunda Theresa, Bill Clinton, bahkan tak jarang memberikan potret muslim sejati kepada Saddam Hussain, dan sederetan nama yang justru mempermalukan status keagamaan yang dimiliki.

Sungguh ketika indikator materi menjadi orientasi setiap keluarga kini, justru tak pelak menyebabkan semakin jauh generasi berikutnya dari agama yang telah sempurna. Sulit genderang perang melawan orientalis diserukan tapi anak jaman sekarang sedang asyik bersekolah di sekolah berlabel Islam mahal yang akan siap menjadi penghancur Islam. Bukti lepas tanggung jawabnya orang tua yang bekerja ialah ketika kecerobohan mereka memasukkan sang anak kedalam sekolah non-Islam, banyak dalih yang diungkapkan dari mulai tingkat kedisiplinan dan pergaulan yang seimbang juga tingkat kecerdasan maksimal bisa berkembang sudah menjadi trend. Walaupun kini bermunculan sekolah ber-label Islam yang harus dikoreksi kembali kinerjanya. Seorang ‘alim mengatakan bahwasanya sekolah Islam yang ada sekarang ini tidak terlepas dari dua hal; jika tidak mengajarkan anaknya menjadi sekuler-liberal, atau mengajarkan kegiatan ibadah dan keagamaan yang tak pernah disyariatkan.

Pesan Untukmu Orangtua

Butuh sebuah pembenahan yang tak lagi ada di ucapan. Kebangkitan Islam akan datang jika generasi yang hilang dapat terselamatkan. Padahal dalam beerapa ayat Allah Ta’ala telah menegaskan akan peran serta dan kontribusi orang tua dikala mendidik anaknya. Allah memberikan permisalan terhadap bakti seorang anak atas didikan orangtuanya seperti dalam QS. Luqman : 12 – 19

“Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". 

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Luqman ‘alayhis salam telah mengajarkan tentang cara dan bagaimana model pembinaan dalam mendidik seorang anak. Beliau alaihis salam telah menanamkan pendidikan mengenal Allah untuk anaknya sebagai fase pertama dalam pendidikan anak. Sungguh sangat berbeda dengan realita yang terjadi saat ini kadangkala pemukulan atas anak yang tidak melakukan shalat dianggap sebagai bentuk tindakan KDRT dan dianggap sebagai metode pendidikan yang telah usang. Orangtua akhirnya mendidik anaknya dengan mencontoh televisi yang penuh dengan kehinaan.

Payahnya lagi, orangtua justru menelantarkan anaknya di depan televisi dan diperbolehkan mengakses teknologi tanpa pengawasan, entah itu internet ataukah telepon. Sebab mereka berfikir, metode pendidikan yang efektif bagi para orangtua dengan tingkat kesibukan tinggi ialah dengan memenuhi apa yang diinginkan oleh sang anak. Sebelum akhirnya nanti mereka khawatir sang anak akan menuntut haknya kepada orangtua yang paling asasi, yakni bentuk pendidikan dan kasih sayang secara langsung.

Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maududu bi Ahkamil Maulud memaparkan penjelasan yang sangat gamblang. Beliau rahimahullah berkata, “Bila anak dilatih ketika awal bicara dengan kalimat ‘Laa Ilaha Ilallah’ maka hendaknya kalimat yang pertamakali ia dengar adalah tentang pengenalan kepada Allah Ta’ala, mentauhidkanNya, dan Allah bersemayam diatas ‘Arsy, melihat dan mendengarkan hambaNya serta Dia bersama hambaNya dimana saja ia berada”

Beliau rahimahullah menjelaskan kembali, “Barangsiapa tidak mendidik anaknya tentang perkara yang bermanfaat dan menelantarkan pendidikan mereka maka ia telah melakukan kesalahan fatal. Kebanyakan anak rusak akibat dari keteledoran dan kesalahan orangtua yang tidak mau mengajarkan kepada anak-anak tentang pokok-pokok ajaran Islam, sehingga mereka hidup penuh dengan penyesalan dan sia-sia, mereka tidak mengambil manfaat dari mereka. Sebagian mereka (orangtua) ada yang mencela anaknya atas sikap durhaka kepada orangtua maka anak membalas, “Wahai bapakku engkau menyia-nyiakan aku pada masa kecil maka pada masa dewasa aku mendurhakaimu dan engklau telah menelantarkanku pada masa kecil, maka aku sekarang menelantarkanmu ketika kamu menginjak masa tua.”

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam dimasanya adalah seorang kepala negara, dalam konteks saat ini, pastilah seorang kepala negara adalah orang tersibuk dengan jadwal yang sangat menyita waktu termasuk untuk menengok anaknya. Namun ini tidak terjadi kepada beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam. Abdullah bin Ja’far radhiyallohu anhu mengatakan, “Bila Rasulullah datang dari bepergian disambut anak-anak kecil dari keluarganya. Pernah suatu ketika beliau datang dari bepergian disambut anak-anak kecil dari keluarganya. Pernah suatu ketika beliau datang dari bepergian dan aku diajak untuk menyambutnya lalu aku dituntun dihadapannya dan beliau menggandeng kedua anak Fathimah, al-Hasan dan al-Husain sementara Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dibonceng dibelkangnya hingga kami masuk Madinah bertiga naik tunggangannya.” (HR. Muslim 2428).

Sungguh bagi setiap orang tua yang masih memiliki hati nurani sekalipun sedikit mestilah mereka akan sangat mencintai anaknya. Cinta adalah membutuhkan suatu tindakan, kecintaan kepada anak adalah bukan sekedar memberikan apa yang diinginkan, melempar tanggung jawab kepada anak dengan mengutus baby sitter atau pembantu rumah tangga, bukan pula memasukkan secara paksa ke lembaga pendidikan beragam label dengan tuntutan penuh waktu di lembaga pendidikan tersebut. Kecintaan itu adalah, luangkan waktu bersama dengan anak dalam sehari. Jangan sampai engkau wahai orang tua, pergi dalam keadaan anak masih tidur dan pulang dalam keadaan sang anak kembali tertidur dan bermimpi. Mimpi agar orangtuanya bisa membacakan kisah Sirah Nabawiyah atau sejarah para generasi terbaik Islam, bukan memberikan kepingan VCD berisi dongeng cerita rakyat.

Oleh Rizky Aji dari sobatmuda.com


Suami "Djarum Super"



Ini bukan nama produk rokok karena sudah jelas hukumnya haram. Tapi akronim dari “djarang di rumah suka pergi” alias BP-7, berangkat pagi, pulang petang, pendapatan pun pas-pasan, atau berangkat petang, pulang pagi, pikiran penuh plin-plan. Bila ada di rumah pun suami tidur, bangun tidur pergi lagi dan seterusnya. Waktu untuk bermain, bersenda gurau, atau rileks bersama anak dan istri praktis jauh dari kenyataan, mungkin hanya impian bagi anak dan istri untuk sekadar berbagi cerita bersama.

Suami ‘gila kerja’ bisa jadi, masih mending daripada suami ‘tumor’ alias tukang molor. Praktis pekerjaan pokok mendidik anak yang seharusnya juga menjadi tanggung jawab seorang suami beralih kepada sang istri. Peran istri pun bertambah, tak hanya melulu urusan dapur, termasuk dalam hal mendidik anak. Beban berat pun bertambah, manakala muncul masalah, sementara hanya suami yang mampu menyelesaikan problem dan bingung apa yang musti diperbuat.

Bertambah bingung lagi, bila keluhan istri tak mendapat respon yang memadai dari suami, bahkan suami berdalih, abi (ayah) kan sibuk mencari rezeki, urusan dakwah, atau hal-hal lain yang mengharuskan seorang suami banyak keluar rumah. Urus saja sama ummi, abi tidak punya waktu.

Padahal untuk mencari rezeki tidak harus pergi berlama-lama apalagi hingga larut malam. Kalaupun kerja kantoran, bias saja karena jalan macet apalagi hidup kota di kota besar semisal Jakarta datang ke rumah jam 6 malam. Akan lain soalnya, bila kerja kantoran pulang jam 9 malam, tentu saja akan menjadi masalah. Sebab, keluarganya juga membutuhkan suasana rileks sekadar untuk melepas lelah bercengkerama bersama istri dan anak. Sementara itu, badan kita pun punya hak untuk dirawat agar tetap sehat.

Bisa jadi suami ‘djarum super’ alias suami jarang di rumah suka pergi meninggalkan rumah lantaran dirinya tidak mendapat waktu senggang yang cukup untuk tetap di rumah setelah seharian capek bekerja. Atau bisa juga akibat ketidakharmonisan rumah tangga, sehingga kehidupan keduanya menyerupai gambaran, suami hidup di suatu lembah sementara istrinya hidup di lembah yang lain.

Tak ada salahnya bila suami juga harus memahami bahwa diri istrinya juga terdapat hak yang harus ditunaikan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya istrimu memiliki hak atas dirimu.” (HR.  Bukhari 3/466, Muslim 3/162 dari hadits Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma.

Seorang istri pun dituntut agar mampu mengkondisikan suami untuk tetap enjoy tinggal di rumah. Caranya? Dengan menepis semua problem dan tidak mengajak diskusi yang bertele-tele. Dengan begitu, sang suami akan betah di rumah dan tercipta malam penuh kebahagiaan bersama anak dan istrinya.

Saturday, 28 March 2015

Padahal Masih Berpacaran


Ratna  dan Galih  adalah siswa kelas 3 SMP di salah satu sekolah negeri Medan. Keduanya adalah sepasang kekasih yang baru saja merenda hubungan cinta sejak sepekan yang lalu. Keduanya sepakat berkata kepada orang banyak dan menyatakan dirinya adalah pasangan kekasih. Sehingga dengan hal tersebut mengangkat sebuah barrier pengaman jikalau nanti ada orang lain yang mengaku-aku pacar atau sedang pdkt dengan salah satu diantara mereka. Maksud mereka jelas, yakni eksistensi sebuah hubungan percintaan, yang kini dikenal dengan sebutan pacaran. Sebulan berjalan hubungan tersebut, tingkah-polah yang ditunjukkan sudah sangat luar biasa, pergi senantiasa berdua. Dimana ada Ratna disana ada Galih . Bahkan klimaksnya ialah mereka sering terlihat bercumbu mesra. Padahal masih pacaran namun sudah layaknya suami isteri. Alangkah besar dosa yang telah diperbuat

Beda dengan Ratna dan Galih  kasus lain ialah terjadi dibangku tingkat jenjang sekolah lebih tinggi terjadi pada Fitri dan Bayu, keduanya adalah pelajar tingkat SMA kelas 3. ternyata beda usia beda gaya. Semakin tinggi jenjang pengetahuan dan wawasan maka akan semakin berani untuk melakukuan tindakan lebih hebat meskipun statusnya di setiap jenjang ialah sama-sama bernama pacaran. Selidik punya selidik ternyata mereka berdua terkadang melakukan hubungan badan namun tidak sampai terjadi persetubuhan, atau istilah bekennya ialah petting. Lagi-lagi dikatakan pada mereka padahal masih pacaran..

Lebih hebat lagi ialah yang terjadi antara Ryan dengan Monica, mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama seringkali kedapatan membawa Monica ke tempat kosnya. Bahkan tak jarang mereka berdua terdengar sedang saling merayu dan berdesah tak menentu seperti yang dikatakan tetangga tempat Ryan menyewa rumah petakan yang dibiayai oleh ortu untuk meneruskan amanah berkuliah. Padahal masih pacaran.

Semakin hebat lagi ialah, Pak Mono dan Indri. Pak Mono ialah salah seorang penggede ibaratnya disalah satu instansi pemerintah, jabatannya pun sudah lumayan tinggi. Beberapa anaknya telah lulus kuliah dan istrinya pun terkadang sibuk aktif dengan kegiatan perkumpulan wanita penggede di negeri ini. Sehingga si bapak pacaran lagi untuk menyalurkan aspirasi urusan bawah yang terhenti karena sang istri seringkali pulang-pergi. Baginya kalau mau pacaran langsung dengan yang masih muda, jangan setengah-setengah. Biarin uang terkuras toh yang penting puas. Padahal masih pacaran.
Tentunya masih akan ada sekian banyak sketsa dalam kehidupan anda yang terpampang didepan mata, baik berada dalam tataran gosip belaka ataulah kenyataan berbalut realita. Kesemua itu lagi-lagi terjadi karena adanya rasa cinta, yaps! lagi-lagi cinta mesti ternodai dan mesti diadili. Karena ulah sebagian orang semua terkena akibatnya. Penodaan atas nama cinta adalah bentuk kedzhaliman secara transparan lho.

Padahal masih pacaran, itulah kata yang senantiasa muncul dari setiap akhir kata fakta diatas. Mengapa demikian, karena begitulah wujud kongkrit yang ada saat ini. Framework telah terbentuk dan capstock telah tepatri. Inilah Indonesia, ketika budaya barat diserap sangat hebat sehingga menjadi lebih barat dibandingkan orang barat itu sendiri.

Miris menyaksikannya tapi inilah realita anak bangsa. Ingat! Bukan hanya pemuda, tapi bapak tua pun ikut menikmatinya. Fitnah terhebat antara kedua belah pihak. Adanya sesuatu yang ingin ditampakkan. Mereka para pemuda membalutnya dengan ucapan janji setia sehidup semati, yang tua gak mau kalah aksi dengan mengatakan cinta penuh berbalas komisi. Sehingga jangan salahkan setelah perjumpaan pertama apalagi yang akan terjadi nanti. Dimulai dari kenalan, nomor yang saling bertukaran, menjalar ke pegangan dan berujung pada tegangan.

Zina adalah istilah dalam Islam yang pas untuk hubungan terlarang seperti fakta diatas. Hubungan kebablasan tanpa ikatan. Hubungan yang berisi soal kelicikan dan kepengecutan kaum pria. Mereka hanya berani membina hubungan tak terikat sehingga jikalau suatu saat mereka bertemu dengan yang lebih menarik hatinya, maka ditinggalkanlah barang lama untuk mencuri ke hati lainnya. Dan kelalaian para wanita, terjerat akal bulus para pengobral dosa untuk turut serta mendampingi pangeran hati ke lembah neraka. Padahal aslinya adalah suatu penipuan besar-besaran. Benarlah apa yang dikatakan oleh rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam soal zina ini
“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua tangan adalah dengan mengenggam, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan zina hati berkeinginan dan berandai-andai, dan kemaluan mempraktekkan keinginan untuk berzina itu atau menolaknya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).
Jika demikian adanya, maka silahkan sendiri menggolongkan pacaran masuk kedalam ranah zina yang mana? Mau jawab kesemuanya boleh, mau jawab sebagiannya boleh tapi sebagiannya tidak dilakukan walaupun dihatinya tidak memberikan garansi tidak akan melanggar terlalu jauh. Dan tentunya jawaban berada ditangan anda wahai penganut madzhab pacaran.
Santai saja kawan, sebab yakinlah mereka yang senang untuk berzina maka akan berjodoh dengan orang yang memiiki kesamaan tabiat sama, sebagaimana Allah firmankan  “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An Nur : 26)
Penerapan ayat ini memiliki penjelasan bahwa laki-laki yang tidak baik, pasangannya adalah wanita yang tidak baik pula. Sebaliknya, wanita yang tidak baik, pasangannya ialah orang yang tidak baik pula. Haram hukumnya bagi laki-laki atau wanita yang baik untuk menikahi wanita atau lelaki yang baik. Nah sekarang tinggal anda penganut ideologi pacaran, lihatlah dari penjelasan ahli tafsir tersebut. Lha kok bisa-bisanya anda mengatakan bahwasanya pacar anda sekarang lebih baik dari anda, seringkali mengingatkan dan bersifat ngemong(membimbing), terkadang sangat perhatian, bahkan tak jarang terucap bahwasanya pacar saya sekarang lebih baik dari pacar-pacar sebelumnya. Apakah ini kamu anggap sebagai sebuah kebaikan padahal disisi Allah adalah mahligai keburukan. Maka hendaklah lihat kembali dengan porsi kebenaran sejati nan hakiki. Bukan kebenaran serta kebaikan berdasarkan ukuran hati yang kadangkala tak pasti.
Wallahu ‘alam bi shawwab....

Mohon maaf bila ada kesamaan nama dan tempat

oleh Rizky Aji : sobatmuda.com

Arti Sebuah Ketulusan


Sebuah pelajaran penting yang dapat kita petik dari interaksi adalah bentuk usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan orang lain dengan memberikan penghormatan yang pantas untuk dihormati. Misalnya, memanggil dengan sapaan yang disenangi, bisa dengan nama sebenarnya atau bisa pula dengan nama panggilan atau kun-yah.

Seorang istri yang telah berusaha mengatur rumah tangga, merapikan posisi perabot, dan memberikan wangi-wangian untuk menyegarkan ruangan, tentu akan tidak habis piker ketika suaminya masuk dan tidak acuh terhadap usaha istrinya. Tak ada ekspresi apa-apa, dingin. Sikap suami seperti ini akan memupuskan semangat dan perhatian.

Tak ada salahnya memberikan perhatian atas usaha orang lain, ungkapan rasa terima kasih terhadap hasil karya orang lain, tentu saja akan membangkitkan semangat dan usaha baru. Memuji dengan sopan dan apa adanya akan merebut hati orang lain. Siapapun orang itu, ketika menghadapi pujian maka hatinya akan luluh dan merasa sejuk, tergantung banyak sedikitnya pujian yang dilontarkannya.
Dale Carniege, penulis buku How to Win Friend and Influence People melihat bahwa salah satu faktor untuk bisa merangkul hati orang lain adalah memuji dengan sebanyak-banyaknya. Tapi pendapat Dale Corniege ini tidak sejalan dengan cara Islam, yaitu merangkul hati orang lain dengan memberikan pujian sewajarnya dan tidak berlebihan. “Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq : 3)

Ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak boleh memuji yang tidak-tidak, tidak boleh terlalu kering, dan tidak boleh pula terlalu sulit memberikan pujian. Tapi harus dilakukan secara cara bermoral, penuh etika yang tinggi, dan kejujuran terhadap nilai-nilai kebaikan.

Kita boleh saja bersungut-sungut dan bermuram durja di hadapan orang lain. Tapi resikonya, kita akan rugi karena kita akan kehilangan mereka dan mereka tidak akan rugi sedikit pun karena akan mendapatkan orang lain yang lebih tawadhu’ kepada mereka, yang tersenyum kepada mereka, dan yang lebih merendah di hadapan mereka. “Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. al-Hijr : 88)

Sangat terbuka pintu bagi siapa saja agar bisa diterima orang lain, yang tidak harus membelinya dengan harta senilai harta Qarun, tidak dengan yang senilai dengan kerajaan Sulaiman‘alaihissalaam, dan tidak pula dengan yang senilai khalifah Harun al-Rasyid rahimahullaah. Siapapun bisa diterima orang lain asalkan niatnya didasarkan pada ketulusan hati kepada Allah, karena kecintaan kepada orang lain agar menjadi baik, juga karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta karena ketidaksukaannya untuk memanjakan jiwa.

Dan memang sifat terpuji, dan sikap yang baik itu melelahkan. Mengapa? Sebab sifat-sifat seperti itu berkarakter mengangkat. Sebaliknya, sifat-sifat buruk dan tabiat yang kasar, sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang mau. Sebab memang kerakternya membawa turun. Logikanya, naik itu sulit dan turun itu mudah sekali.

Realita menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini ada sesuatu yang menunjukkan kepada diri kita ke arah kebahagiaan. Yaitu, menghormati bakat orang lain, memahami kemampuan orang lain, mendorong obsesi orang lain, dan tidak meremehkan kerja keras dan peran orang lain.

Sedangkan sesuatu yang bisa membuat hidup seseorang menderita dan membuat jiwanya tertekan adalah sikap yang hanya melihat kepada dirinya sendiri, menganggap bahwa dirinyalah bintang satu-satunya.

Kitapun sering melihat orang-orang yang suka melakukan amal kebaikan yang biasa-biasa saja menurut ukuran kemampuan mereka. Pada awalnya, kita mengira mereka itu melakukannya sebatas kemampuan mereka saja, tidak mau berlebih-lebihan dalam melakukan peran mereka, dan tidak terlalu menonjolkan kedudukan mereka. Tapi setelah kita dalami lebih jauh ternyata banyak di antara mereka itu melihat apa yang mereka usahakan jauh lebih tinggi dari kesan yang biasa diduga orang lain, lebih tinggi dari gambaran orang lain.

Siapa orangnya yang secara naïf menjatuhkan harga dirinya dan tidak menjaganya? Siapa orangnya yang melihat bahwa dirinya tidak berharga dan tidak ada sesuatu yang perlu diucapkannya? Tak seorang pun, jawabnya. Semua orang mencintai dirinya, semua orang akan mengangkat harga dirinya, dan semua orang akan mengatakan kepada orang lain tentang kemampuannya.

Oleh sebab itu, pujilah hal-hal baik dalam kehidupan orang lain, tanamkan kepada mereka sifat-sifat kebaikan, dukung tindakan positif mereka, dan tutup mata kita rapat-rapat terhadap keburukan dan kekurangan orang lain. Andakah itu?

Thursday, 26 March 2015

Hukum Perayaan Isra' dan Mi'raj


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du...

Tidak diragukan lagi, bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan atas kebenaran kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keagungan kedudukannya di sisi Rabb-nya, selain juga membuktikan atas kebesaran Allah dan kebesaran kekuasaan-Nya atas semua makhluk.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda tanda (kebesaran) kami, sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. al-Isra’ : 1).

Diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Allah telah menaikkannya ke langit, dan pintu pintu langit itu terbuka untuknya, hingga beliau sampai ke langit yang ketujuh. Kemudian beliau diajak bicara oleh Allah serta diwajibkan shalat lima waktu, yang semula diwajibkan lima puluh waktu, tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa kembali kepada-Nya minta keringanan, sehingga dijadikannya lima waktu. Namun demikian, walaupun yang diwajibkan lima waktu saja, tetapi pahalanya tetap seperti lima puluh waktu, karena perbuatan baik itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Hanya kepada Allah-lah kita ucapkan puji dan syukur atas segala nikat-Nya.

Tentang malam saat diselenggarakannya Isra’ dan Mi’raj itu belum pernah diterangkan penentuan (waktunya) oleh Rasulullah, tidak pada bulan rajab, atau (pada bulan) yang lain, jikalau ada penentuannya maka itupun bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut para ulama, hanya Allah-ah yang mengetahui akan hikmah pelalaian manusia dalam hal ini.

Seandainya ada (hadits) yang menentukan (waktu) Ira’ dan M’raj, tetap tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkannya dengan ibadah ibadah tertentu, selain juga tidak boleh mengadakan acara perkumpulan apapun, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah mengadakan upacara upacara seperti itu, dan tidak pula menghususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut.

Jika peringatan malam tersebut disyariatkan, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, melalui ucapan maupun perbuatan. Jika pernah dilakukan oleh beliau, pasti diketahui dan masyhur, dan tentunya akan disampaikan oleh para shahabat kepada kita, karena mereka telah menyampaikan dari Nabi apa apa yang telah dibutuhkan umat manusia. Mereka belum pernah melanggar sedikit pun dalam masalah agama, bahkan merekalah orang yang pertama kali melakukan kebaikan setelah Rasulullah. Maka jikalau acara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj itu ada tuntunannya, niscaya para sahabat akan lebih dahulu menjalankannya.

Nabi Muhammad adalah orang yang paling banyak memberi nasihat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah kerasulannya dengan sebaik-baiknya, dan menjalankan amanat Rabb-nya dengan sempurna. Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj serta bentuk-bentuk pengagungannya itu berasal dari agama Allah, tentunya tidak akan dilupakan dan disembunyikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi karena hal itu tidak ada, jelaslah bahwa upacara dan bentuk bentuk pengagungan malam tersebut bukan dari ajaran Islam sama sekali.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya bagi umat ini, mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka, dan mengingkari siapa saja yang berani mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, karena cara tersebut tidak dibenarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. al-Maidah : 3)

Juga firman-Nya, "Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diridhai Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih." (QS. asy-Syura : 21)

Dalam hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita agar waspada dan menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah, dan beliau juga menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat, sebagai peringatan bagi umatnya sehingga mereka menjauhinya, karena bid’ah itu mengandung bahaya yang sangat besar.

Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengada adakan sesuatu perbuatan (agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka amalan itu tertolak." Dan dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak."

Dalam shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’atnya, "Amma ba’du... Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perbuatan (alam agama) adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu sesat." (HR. Muslim)

Dan dalam kitab kitab Sunan diriwayatkan dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami akan berlinang. Maka kami berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, seakan-akan nasihat itu seperti nasihatnya orang yang akan berpisah. Maka berikanlah kami nasihat." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku wasiatkan kepada kamu sekalian agar selalu bertaqwa kapada Allah, mendengarkan dan mentaati perintah-Nya, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian hidup (pada masa itu), maka ia akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka (ketika) itu kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk sesudahku. Pegang dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan janganlah sekali-kali mengada-ada hal yang baru (dalam agama), karena setiap hal yang baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat."

Dan masih banyak hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits ini. Para shahabat dan para ulama salaf telah memperingatkan kita agar waspada terhadap perbuatan bid’ah serta menjauhinya. Dan tidaklah hal itu (peringatan agar waspada terhadap bid’ah), melainkan disebabkan karena (bid’ah itu) adalah tambahan terhadap agama, dan (bid’ah itu) adalah (pembuatan) syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah, karena hal itu menyerupai perbuatan musuh-musuh Allah yaitu bangsa Yahudi dan Nashara.

Adanya penambahan-penambahan dalam agama itu (berarti) menuduh agama Islam kurang dan tidak sempurna, dengan jelas ini tergolong kerusakan besar, kemungkaran yang sesat dan bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, "Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Kuridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah : 3). Selain itu, (penambahan) juga bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan kita dari perbuatan bid’ah dan agar menjauhinya.

Kami berharap, semoga dalil-dalil yang telah kami sebutkan tadi cukup memuaskan bagi mereka yang menginginkan kebenaran, dan mau mengingkari perbuatan bid’ah, yakni bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj, dan supaya kita sekalian waspada terhadapnya, karena sesungguhnya hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali.

Ketika Allah telah mewajibkan orang orang muslim itu agar saling nasihat-menasihati dan saling menerangkan apa-apa yang telah disyari’atkan Allah dalam agama, serta mengharamkan penyembunyian ilmu, maka kami memandang perlu untuk mengingatkan saudara-saudara kami dari perbuatan bid’ah ini, yang telah menyebar di berbagai belahan bumi, sehingga sebagian orang mengira itu berasal dari agama.

Hanya Allah-lah tempat bermohon, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin ini, dan memberi kepada mereka kemudahan dalam memahami agama Islam, semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan taufiq kepada kita semua untuk tetap berpegang teguh dengan agama yang haq ini, tetap konsisten menjalaninya dan meninggalkan apa apa yang bertentangan dengannya. Hanya Allah-lah penguasa segala-galanya.

Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amin...


(Dikutip dari الحذر من البدع, karya Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia "Waspada terhadap Bid'ah")

Tuesday, 24 March 2015

Tetangga Mati Kelaparan, Salah Siapa?


Jangan buru-buru menyalahkan pemerintah dengan mengatakan tidak becus dalam menangani masalah ini, dan tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah. Namun sekedar mengingatkan sesama kita, bagaimana seharusnya kita bertetangga (dari kacamata Islam tentunya).

Kita kebanyakannya akan merasa marah ketika mendengar ada yang menjadi korban, meninggal dunia, lantaran si korban ini kelaparan. Pemerintah tentu punya andil dalam hal ini, karena salah satu tugas yang diembannya adalah mengurus masyarakat. Namun, perlu juga kita mengetahui bagaimana yang seharusnya hidup bertetangga.

Coba kita perhatikan salah satu hadits kaitannya dengan bertetangga ini; dimana isinya langsung menyebut kata 'kelaparan',
"Tidaklah beriman seseorang, bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan." (Al Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

Luar biasa!
Dari sejak 14 abad silam, etika bertetangga sudah diatur dalam Islam. Sikap peduli kepada tetangga ditanamkan, sehingga ancaman yang cukup berat dengan mengatakan "Tidaklah beriman seseorang" sebagai suatu penekanan akan pentingnya memperhatikan sekeliling kita.

Sementara kita kenyang dan membiarkan tetangga kita sedang kelaparan, maka iman kita dinyatakan tidak ada (dalam arti kurang sempurna, bukan keluar dari Islam). Untuk itu perlu kiranya sebagai seorang muslim untuk memperhatikan tetangganya, apakah mereka dalam kondisi kenyang seperti kita, ataukah mereka tengah dirundung masalah, sehingga tak punya apa-apa untuk dimakan.

Tindakan preventif, dengan memperhatikan tetangga dapat juga kita lihat dalam redaksi hadits berikut ini;
"Wahai Abu Dzar, bila engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya, kemudian engkau bagikan kepada tetanggamu." (HR. Muslim)

Dengan membagi masakan kita kepada tetangga kita, paling tidak ada 2 (dua) keuntungan;
Pertama: kita menjalin tali silaturrahmi dengan mereka, sehingga terjalin kekompakan dan persatuan.

Kedua: kita bisa mengetahui bagaimana kondisi tetangga yang kita bagikan masakan itu. Jika mereka dalam kondisi berkecukupan, maka masakan kita adalah hadiah buat mereka, namun jika mereka sedang dalam kondisi berkekurangan, maka kita telah memberi bantuan kepada mereka, dimana bisa saja makanan yang kita sampaikan itu menjadi obat, setelah berhari-hari mereka menahan lapar, siapa tahu?

Nah, intinya, tidak hanya kemudian tanggungjawab terhadap tetangga itu mutlak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, sebagai waliyul amri, akan tetapi ternyata juga menjadi tanggungjawab kita selaku tetangga terdekatnya. 
Bukankah begitu wahai sahabat?

Sunday, 22 March 2015

Ketika Cinta Bersubsidi


Judul tersebut bukan mau menandingi sebuah novel laris manis karya sarjana Al Azhar Mesir yang fenomenal nan monumental, bukan pula mau menandingi pemerintah yang sedang gencar di mass media dalam mengkampanyekan pemberhentian sistem bahan bakar bersubsidi, bahkan bukan pula membahas tentang urusan halal ataupun haramnya pacaran (karena kami yakin, teman-teman lain penulis di situs ini telah menyiapkan soal tersebut). Tulisan ini ditujukan hanya untuk mengasah daya nalar dalam berfikir dan menyadari sebuah realita yang ada aja kok, gak lebih.

Pacaran, sebuah kata yang udah gak tabu lagi buat diucapkan. Bahkan varian demam cinta ini tak hanya melanda hubungan berbeda jenis saja. Tapi pacaran juga berlaku buat mereka yang memiliki hubungan khusus dengan sesama jenis. Nah lho!

Muda-mudi jaman sekarang, bisa dibilang kuper kalo belum pernah ngalamin yang namanya pacaran dalam hidupnya. Justru pujian bagus buat mereka yang suka gonta-ganti pacar, dari mulai play boy sampai buaya darat. Istilah hubungan percintaan bertajuk pacaran emang layak buat dijadikan komoditas publik. Banyak untaian lagu cinta pilihan yang pas buat mereka yang ngerasa sedang pacaran. Menambah suasana pacaran lebih indah dan berkesan. Bukan cuma sekedar pegangan tapi menjurus kesentuhan pun ada. Realita yang sulit buat para aktivis dakwah menutup mata. Sebuah kenyataan yang mudah untuk ditemukan disekitar lingkungan rumah kita.

Sebagian besar mereka yang berpacaran, tentunya memiliki motif  tersendiri. Dari yang bersifat umum hingga bersifat khusus. Bersifat umumnya yaa sebagian besar cuma membutuhkan perhatian sampai dorongan semangat, sedangkan yang bersifat khusus adalah pelampiasan hawa nafsu yang liar tak terkendali.

Anehnya dikalangan penganut mazhab pacaran, terselip para pemuda yang masih berseragam dan berjenjang pendidikan wajib belajar. Mereka latah karena mungkin kakaknya, tantenya, omnya, bapaknya, ibunya juga dahulu berpacaran. Jadi legitimasi atas hak asasi untuk berpacaran mesti dibolehkan. Dan orang tua sebagai pengasuh justru malah gak jarang mendukung apa yang dilakukan anaknya yang masih berseragam.

Lebih anehnya lagi segala modal diberikan karena anaknya berubah drastis dari kehidupan sebelumnya gara-gara pacaran. Bener khan?. Kebalik dan sungguh telah terbalik, malah membuat rancu sistem pacaran itu sendiri. Jadi membuat bingung juga sebenarnya yang pacaran itu siapa? Ataukah orang tuanya atau anaknya? Sebab tiap kali sang anak mau memberikan sesuatu ke si pacar, bisa jadi ngajak jalan atau sekedar ngapel dirumah bersangkutan. Pasti yang keluar dana adalah si orang tua. Apa gak malu tuh pacaran masih disubsidi, apa kata dunia!

Namun pemahaman ajaib juga terjadi lagi, ketika banyak mereka para ortu yang melegalkan anaknya pacaran beserta memberikan sokongan dalam pendanaan. Para aktivis dakwah yang justru ingin menghalalkan perbuatan pacaran tersebut dalam kerangka pernikahan lebih cepat, malah dicemooh sebagai barang yang aneh dan baru (kejadian langka ibaratnya). Para ortu tersebut tidak berani memberikan subsidi bagi anaknya yang ingin menikah, tapi malah memberikan subsidi buat kakaknya yang sedang pacaran! Dengan banyak dalih bagi anaknya yang shalih dan ingin menjaga dirinya dengan menikah dituduh sebagai masih kecil dan belum pantas buat menikah...ajiib. kakaknya yang sudah besar lebih gak pantas lagi buat pacaran! Seharusnya demikian.

Itulah ketika kebenaran telah sukses diputar balikkan dengan kebiasaan, sebagian besar orang sekarang menganggap bahwa sebuah kebenaran ialah yang banyak dilakukan dan terbiasa dilihat serta dilaksanakan. Salah satunya adalah pacaran, sedangkan proses sesuai syariat dan kebenaran demi menghilangkan fitnah justru dianggap keanehan. Sungguh sama, persis hari ini dengan kemarin. 

Tapi tunggu dulu, ortu bakal kelimpungan ketika para anak yang disayang ketika menyayangi anak orang lain menjadi binal dan sembarangan. Sang pacar pun tekdung alias MBA (Married By Accident) terlebih dulu. Aib pun tersebar dan ortu mengelus dada dengan menikahkan anaknya tanpa rencana. Semua terbengkalai, sebab harusnya pacaran tersebut jadi penyemangat pendidikan sang anak, justru malah menjadi penghancur pendidkan. Sungguh sangat disayangkan.

Sepantasnya bagi orang tua untuk menjaga anaknya yang diamanahkan oleh Allah, bukan malah justru dibantu dalam rangka mendurhakai Allah Ta’ala. Niatnya ingin mendapat cinta dari sang anak, eh justru malah si orang tua memasukkan anaknya kedalam neraka. Ketahuilah pak-bu, bahwasanya pacaran itu adalah pintu menuju perzinahan, dan perzinahan adalah bentuk kekejian yang berasal dari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Jadi hentikan subsidi kemaksiatan tersebut kepada sang anak.

Jika memang ingin mendapatkan keridhaan dari Allah Ta’ala hendaklah dinikahkan anak tersebut agar tidak meluas fitnah baik di lingkungan maupun di keluarga. Sebab berapa banyak orang tua yang membiarkan anaknya berpacaran dengan seseorang, hasil yang didapat lebih banyak kekecewaan dan kesedihan. Dan itu pasti, disebabkan mereka mengawali jalinan cinta tidak dengan hubungan yang disyariatkan.

Jadi mulai sekarang hentikan kebiasaan yang tidak disyariatkan oleh Islam sebelum semuanya terlambat dan nikahkanlah anak bila memang telah layak. Sedangkan apabila belum mampu maka hendaklah bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Friday, 20 March 2015

Mendongkrak Popularitas, Amal pun Layu



“Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak adzab Allah dari mereka sedikitpun. Dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. ali-Imran : 116 – 117)

Ini, kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam tafsirnya, merupakan perumpamaan yang dibuat Allah ‘azza wa jalla bagi orang-orang yang menafkahkan hartanya bukan untuk ketaatan kepaad Rabbnya dan keridhaan-Nya. Apa yang mereka nafkahkan dari sebagian hartanya itu, agar bisa mendongkrak nama mereka, agar mereka dimuliakan, mendapat sanjungan dan namanya selalu diingat, mereka tidak bermaksud untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla, dan bahkan apa yang mereka nafkahkan itu untuk menghalangi manusia dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, diserupakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan tanaman yang ditanam seseorang, dengan harapan dia akan memetik hasilnya.

Sayangnya, tanaman itu dihembus angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang karena dinginnya bisa merusak apapun yang dilaluinya, baik berupa tanaman maupun buah-buahan, sehingga seluruh pohon dan tanaman menjadi mati.

Wednesday, 18 March 2015

Empedu Dunia, Madunya Akhirat


Hiburan bagi orang yang tertimpa musibah adalah ia melihat dengan menggunakan mata hatinya. Menyadari bahwa empedu di dunia pada dasarnya adalah madu di akhirat nanti. Beralih dari empedu dunia yang terbatas, menuju madu akhirat yang tak pernah habis, itu lebih baik dari kebalikannya.

 “Surga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci manusia, sementara Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang disukai hawa nafsu.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)


Demikian juga dalam riwayat yang lain, “Pada hari Kiamat nanti akan dihadirkan orang yang paling berbahagia di dunia yang akhirnya masuk Neraka, lalu dimasukkan sebentar ke dalam Neraka tersebut, kemudian ia ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah ada kebaikan yang pernah engkau alami?” Orang itu menjawab, “Sama sekali tidak wahai Rabbku.” Lalu dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia ini, namun kemudian masuk ke dalam Surga, dimasukkan ke dalam Surga sebentar, lalu ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah ada kesengsaraan yang pernah kau alami?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.” (HR. Muslim, Ahmad)

 Konteks kejadian ini menunjukkan tingkat berpikir manusia yang berbeda-beda dan juga perbedaan harkat manusia. Kebanyakan orang di zaman kita sekarang lebih mengutamakan manisnya dunia yang sekejap dibandingkan dengan manisnya akhirat yang tiada akhirnya. Mereka tidak mampu menahan empedu sesaat untuk merasakan madu nan abadi atau merasakan kesengsaraan sejenak demi kemuliaan selamanya. Dengan kata lain, cobaan sesaat demi keselamatan selama-lamanya.

Sesungguhnya yang tampak itu terlihat mata, sementara yang ghaib itu tiada kelihatan, di samping iman yang lemah juga kekuasaan hawa nafsu demikian dominan. Dari situlah lahir sikap mengutamakan dunia yang fana dan menolak kehidupan akhirat.

 Demikian selayang pandang tentang kebanyakan orang di jaman sekarang, dalam memulai cita-cita dan prinsip dasar mereka. Semua itu tiada lain karena kecintaan mereka terhadap kehidupan dunia.

 Adapan penglihatan yang lebih tajam, akan lebih menguak kehidupan dunia, mencoba menyapa kehidupan akhirat sebagai tujuan final kehidupan manusia. Itu jelas memiliki nilai yang berbeda. Silahkan jiwa kita memikirkan apa yang Allah persiapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya berupa kenikmatan abadi, kebahagiaan abadi, dan kemenangan yang besar, serta apa yang Allah persiapkan bagi orang-orang yang berbuat kebatilan dan membuang-buang kenikmatan berupa kehinaan, kerugian, dan adzab yang berketerusan.

 Lalu silahkan pilih, bagian mana yang layak bagi kita. Setiap orang akan beramal sesuai dengan profil dirinya, dan yang lebih layak menjadi hak dirinya. Ini lautan setitik himah dari saudaramu demi kebaikan kita dan demi menghibur diri kita. (Ummu Zulfa)


 Sumber :

Talsiyatu Ahlil Mashaib, Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Manjabi al-Hambali

Panjang Angan-Angan


Ada empat perkara yang mendatangkan kerugian, yaitu: mata yang tak pernah menangis, hati yang keras, panjang angan-angan, dan rakus terhadap dunia.

Panjang angan-angan akan melahirkan sifat malas berbuat taat dan menunda-nunda taubat, berambisi mengejar dunia, lupa terhadap akhirat, dan hati yang keras. Karena hati yang lembut dan bersih terlahir dengan banyak mengingat kematian, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. 

“…Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras…” (QS. al-Hadid : 16)

Atau sebuah hadits riwayat Bukhari dalam ar-Riqaaq, “Hati orang tua menjadi muda karena dua hal, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah berkata, “Yaitu syaithan memanjangkan angan-angan mereka dan menjanjikan bagi mereka umur yang panjang.”

Terapinya? Ingat mati, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. Sesungguhnya perkara-perkara itu akan membangunkan kita dari kelalaian. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika engkau berada di sore hari janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari janganlah tunggu sampai datang sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang masa sakit. Pergunakanlah kesempatan hidupmu sebelum datang kematian.”

Terapi kedua adalah segera beramal shalih. “Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara, tidaklah yang kalian tunggu itu selain kefakiran yang melalaikan, kekayaan yang menyombongkan, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang melenyapkan, kedatangan Dajjal sejahat-jahat yang dinantikan atau hari kiamat, dan hari kiamat itu sangat pedih dan sangat pahit.” (HR. at-Tirmidzi dalam az-Zuhd)

Orang yang membatasi angan-angannya akan sedikit kesedihan dan akan bersinar hatinya.

Hai orang-orang yang sibuk dengan dunianya
Ditipu oleh angan-angan kosong
Sementara kematian datang sekonyong-konyongnya
Kubur akan menjadi kotak amal
Sesungguhnya dunia ibarat bayangan yang akan hilang
Atau seperti tamu yang bermalam dan akan segera pergi

Sunday, 15 March 2015

Jangan Terburu-buru Ingin Memetik Hasil


Syaikh Abdul Azīz bin Bāz raḥimahullāh pernah ditanya:

Apakah nasehat anda bagi para da’i yang tergesa-gesa ingin memetik buah dakwah dengan segera?
 Beliau menjawab:

Kewajiban para da’i adalah tabah, sabar, dan tidak tergesa-gesa, sampai mereka benar-benar bisa memahamkan masyarakat dan membimbing mereka sehingga mereka (masyarakat) akan bisa mengetahui apa yang Allāh wajibkan kepada mereka dan apa saja yang diharamkan atas mereka dengan dasar ilmu.

Yang wajib dilakukan adalah bersikap hati-hati (tidak terburu-buru) dan senantiasa meneliti (cek dan ricek) supaya orang awam dan pelajar benar-benar memahami apa yang disampaikan kepada mereka. Tidak masalah untuk mengulang-ulang ucapan dan menjelaskannya dengan berbagai bentuk ungkapan yang dapat menerangkan maksud dari keterangan pengajar atau pembimbing kepada orang yang bertanya atau hadirin yang lain.

Sebab, bisa jadi di antara hadirin ada yang tidak bisa memahami dengan baik bahasa pengajar atau pembimbing yang bersangkutan. Oleh sebab itu, semestinya dia (da’i) mengulang-ulang ungkapan serta menjelaskannya dengan ungkapan dan kata-kata yang bisa mereka (masyarakat) pahami supaya penjelasan yang mereka peroleh menjadi sempurna dan supaya bisa tegak hujjah kepadanya.

Untuk itulah, kesabaran sangat diperlukan. Hal itu sebagaimana firman Allāh ta’ālā (yang artinya), “Bersabarlah, sesungguhnya Allāh bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).

Dan juga firman-Nya (yang artinya), “Bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan dari Allāh.” (QS. an-Nahl: 126).

Wallahu waliyyut taufiq.

Majmū’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Juz 9

Sumber:

 http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2092
ilustrasi gambar: http://ht.ly/eDiuc
artikel: www.pemudamuslim.com
Artikel Terkait

Friday, 13 March 2015

Menggunakan Ayat Al-Qur’an Sebagai Jimat


Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-Uṡaimīn raḥimahullāh pernah ditanya:

Apa hukum mengenakan tamimah/jimat dan mengalungkannya di atas dada atau menaruhnya di bawah bantal? Perlu diketahui pula bahwasanya jimat-jimat ini hanya bertuliskan ayat-ayat al-Qur`ān?
Beliau menjawab:

Pendapat yang benar bahwasanya menggantungkan jimat-jimat walaupun dari ayat-ayat al-Qur`ān dan hadits-hadits nabi adalah perbuatan yang diharamkan, karena perbuatan ini tidak ada tuntunannya dari Nabi ‘alaihiṣṣalātu was salām.

Padahal, segala sarana yang tidak ada tuntunannya dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi was sallām dan dijadikan sebagai sebab –untuk menolak madharat atau menarik manfaat, pent-, hal itu adalah sia-sia dan tidak bisa dijadikan pegangan, karena yang menentukan segala sebab akibat adalah Allāh ‘azza wa jalla.

Dengan demikian, apabila kita tidak bisa membuktikan kebenaran suatu sebab, baik dari sisi syari’at maupun bukti empiris, berdasarkan indera maupun kenyataan, kita tidak boleh meyakininya sebagai sebab yang dibenarkan. Oleh karena itu, tamimah/jimat berdasarkan pendapat yang rajih/lebih kuat adalah diharamkan; sama saja apakah ia berasal dari ayat-ayat al-Qur`ān ataupun bukan.
Kemudian, apabila seorang insan tertimpa suatu musibah, hendaknya ada orang lain yang membacakan al-Qur`ān (meruqyah) untuk mengobatinya; sebagaimana hal itu dilakukan oleh malaikat Jibril ‘alaihis salām tatkala meruqyah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi was sallām. Bahkan, Rasul ṣallallāhu ‘alaihi was sallām sendiri pernah meruqyah para sahabatnya. Inilah cara yang disyari’atkan.
Sumber:

Wednesday, 11 March 2015

Al Imam Asy Syaukani; Pembela Aqidah Salaf



Sudah cukup lama kami tidak menyuguhkan keterangan singkat mengenai para ulama'. Oleh karena itu, kami mengetengahkan seorang sosok ulama' besar, yang sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu al Imam Asy-Syaukani. Berikut sekilas tentang beliau. 


1 Nama dan Nasab Beliau
Beliau adalah al Imam al Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani, ash-Shan'ani.

2 Kelahiran Beliau
Beliau dilahirkan pada tengah hari 28 Dzulqa'dah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman.

3 Pertumbuhan Beliau
Beliau tumbuh di bawah asuhan ayahandanya dalam lingkungan yang penuh dengan keluhuran budi dan kesucian jiwa. Beliau belajar al-Qur'an di bawah asuhan beberapa guru dan dikhatamkan di hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al Habi dan beliau perdalam kepada para masyayikh al-Qur'an di Shan'a. Kemudian beliau menghafal berbagai matan dalam berbagai disiplin ilmu, seperti: al Azhar oleh al Imam al Mahdi, Mukhtashar Faraidh oleh al Ushaifiri, Malhatul Harm, al Kafiyah asy Syafiyah oleh Ibnul Hajib, at-Tahdzib oleh at-Tifazani, at-Talkhish fi Ulumil Balaghah oleh al Qazwaini, al Ghayah oleh Ibnul Imam, Mamhumah al Jazarifil Qira'ah, Mamhumah al Jazzar fil 'Arudh, Adabul Bahts wal Munazharah oleh al Imam al-' Adhud.
Pada awal belajarnya beliau banyak menelaah kitab-kitab tarikh dan adab. Kemudian beliau menempuh perjalanan mencari riwayat hadits dengan sama dan talaqqi kepada para masyayikh hadits hingga beliau mencapai derajat imamah dalam ilmu hadits. Beliau senantiasa menggeluti ilmu hingga berpisah dari dunia dan bertemu Rabbnya.

4 Guru-guru Beliau
Di antara guru-guru beliau ialah:

  1. Ayahanda beliau yang kepadanya beliau belajar Syarah al-Azhar dan Syarah Mukhtashar al-Hariri.
  2. As Sayyid al Allamah Abdurrahman bin Qasim al Madaini, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.
  3. Al Allamah Ahmad bin Amir al Hadai, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.
  4. Al Allamah Ahmad bin Muhammad al-Harazi, beliau berguru kepadanya selama 13 tahun, mengambil ilmu fiqih, mengulang-ulang Syarah al Azhar dan hasyiyahnya, serta belajar bayan Ibnu Muzhaffar dan Syarah an-Nazhiri dan hasyiyahnya.
  5. As Sayyid al Allamah Isma'il bin Hasan, beliau belajar kepadanya al-Malhah dan Syarahnya.
  6. Al Allamah Abdullah bin Isma'il as-Sahmi, beliau belajar kepadanya Qawaidul I'rab dan Syarahnya serta Syarah al Khubaishi 'alal Kafiyah dan Syarahnya.
  7. Al Allamah al Qasim bin Yahya al-Khaulani, beliau belajar kepadanya Syarh as Sayyid al-Mufti 'alal Kafiyah, Syarah asy-Syafiyah li Luthfillah al Dhiyats, dan Syarah ar-Ridha 'alal Kafiyah.
  8. As Sayyid al Allamah Abdullah bin Husain, beliau belajar kepadanya Syarah al fami 'alal Kafiyah.
  9. Al Allamah Hasan bin Isma'il al Maghribi, beliau belajar kepadanya Syarah asy- Syamsiyyah oleh al Quthb dan Syarah al- 'Adhud 'alal Mukhtashar serta mendengarkan darinya Sunan Abu Dawud dan Ma'alimus Sunan.
  10. As Sayyid al Imam Abdul Qadir bin Ahmad, beliau belajar kepadanya Syarah Jam'ul Jawami' lil Muhalli dan Bahruz Zakhkhar serta mendengarkan darinya Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa'i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa Malik, dan Syifa' Qadhi 'lyadh.
  11. Al Allamah Hadi bin Husain al-Qarani, beliau belajar kepadanya Syarah al-Jazariyyah.
  12. Al Allamah Abdurrahman bin Hasan al Akwa, beliau belajar kepadanya Syifa al Amir Husain.
  13. Al Allamah Ali bin Ibrahim bin Ahmad bin Amir, beliau mendengarkan darinya Shahih Bukhari dari awal hingga akhir.

5 Murid-murid Beliau
Di antara murid-murid beliau ialah: kedua putra beliau yakni al Allamah Ali bin Muhammad asy Syaukani dan al Qadhi Ahmad bin Muhammad asy Syaukani, al Allamah Husain bin Muhasin as-Sab'i al Anshari al Yamani, al Allamah Muhammad bin Hasan asy Syajni adz Dzammari, al Allamah Abdul Haq bin Fadhl al-Hindi, asy-Syarif al Imam Muhammad bin Nashir al Hazimi, Ahmad bin Abdullah al Amri, as Sayyid Ahmad bin Ali, dan masih banyak lagi.

6 Kehidupan llmiah Beliau
Beliau belajar fiqih atas madzhab al Imam Zaid sehingga mumpuni. Beliau menulis dan berfatwa sehingga menjadi pakar dalam madzhab tersebut. Kemudian beliau belajar ilmu hadits sehingga melampaui para ulama di zamannya. Kemudian beliau melepaskan diri dari ikatan taklid kepada madzhab Zaidiyyah dan mencapai tingkat ijtihad.
Beliau menulis kitab Hadaiqil Azhar al-Mutadaffiq 'ala Hadaiqil Azhar. Dalam kitab tersebut beliau mengkritik beberapa permasalahan dalam kitab Hadaiqil Azhar yang merupakan rujukan utama madzhab Zaidiyyah dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam kitab tersebut. Maka bergeraklah para muqallidin (orang yang selalu taklid, mengikuti pendapat orang lain tanpa berusaha mencari ilmunya red.) membela kitab tersebut sehingga terjadilah perdebatan yang panjang.
Tidak henti-hentinya beliau mengingatkan umat dari taklid yang tercela dan mengajak umat agar ittiba kepada dalil. Beliau menulis risalah dalam hal tersebut yang berjudul al Qaulul Mufiid fi Hukmi Taqlid.

7 Aqidah Beliau
Aqidah beliau adalah aqidah salaf yang menetapkan sifat-sifat Alloh yang datang dalam Kitab dan Sunnah shahihah tanpa mentakwil dan mentahrif. Beliau menulis risalah dalam aqidah yang berjudul at Tuhaf bi Madzhabis Salaf.
Beliau gigih mendakwahi umat kepada aqidah salafiyyah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian juga, beliau selalu berusaha mensucikan aqidah dari kotoran-kotoran kesyirikan.

8 Beliau Menjabat Sebagai Qadhi Negeri Yaman
Pada tahun 209 H meninggallah Qadhi Yaman, Syaikh Yahya bin Shalih asy Syajari as Sahuli. Maka Khalifah al Manshur meminta kepada al Imam asy Syaukani agar menggantikan Syaikh Yahya sebagai qadhi negeri Yaman.
Pada awalnya beliau menolak jabatan tersebut karena takut akan disibukkan dengan jabatan tersebut dari ilmu. Maka datanglah para ulama Shan'a kepada beliau meminta agar beliau menerima jabatan tersebut, karena jabatan tersebut adalah rujukan syar'i bagi para penduduk negeri Yaman yang dikhawatirkan akan diduduki oleh seseorang yang tidak amanah dalam agama dan keilmuannya. Akhirnya beliau menerima jabatan tersebut. Beliau menjabat sebagai Qadhi Yaman hingga beliau wafat pada masa pemerintahan tiga khalifah: al Manshur, al Mutawakkil, dan al Mahdi. Ketika beliau menjabat sebagai qadhi maka keadilan ditegakkan, kezhaliman diberi pelajaran, penyuapan dijauhkan, fanatik buta dihilangkan, dan beliau selalu mengajak umat kepada ittiba terhadap Kitab dan Sunnah.

9 Tulisan-tulisan Beliau
Di antara tulisan-tulisan beliau ialah:

  1. Adabu Thalib wa Muntahal Arib.
  2. Tuhfatu Dzakirin.
  3. Irsyadu Tsiqat ila Ittifaqi Syarai' 'ala Tauhid wal Ma'ad wan Nubuwat.
  4. Ath Thaudul Muniffil Intishaf lis Sad minasy Syarif.
  5. Syifaul ilal fi Hukmu Ziyadah fi Tsaman li Mujarradil Ajal.
  6. Syarhu Shudur fi Tahrimi Raf'il Qubur.
  7. Thibu Nasyr fi Masailil Asyr.
  8. Shawarimul Hindiyyah al Maslulah 'alar Riyadhan Nadiyyah.
  9. Al Qaulush Shadiq fi Hukmil Imamil Fasiq.
  10. Risalah fi Haddi Safar Aladzi Yajibu Ma'ahu Qashru Shalat.
  11. Tasynifu Sam'i bi Ibthali Adillatil Jam'i.
  12. Risalah al Mukammilah fi Adillatil Basamalah.
  13. Iththila'u Arbabil Kamal 'ala Ma fi Risalatil Jalal fil Hilal minal Ikhtilal.
  14. Tanbih Dzawil Hija 'ala Hukmi Bai'ir Riba.
  15. Al Qaulul Muharrar fi Hukmi Lubsil Mu'ashfar wa Sairi Anwa'il Ahmar.
  16. Uqudul Zabarjad fi Jayyidi Masaili Alamati Dhamad.
  17. Ibthali Da'wal Ijma 'ala Tahrimis Sama'.
  18. Zahrun Nasrain fi Haditsil Mu'ammarin.
  19. Ittihaful Maharah fil Kalam'ala Hadits: "La 'Adwa wa La Thiyarah."
  20. Uqudul Juman fi Bayani Hududil Buldan.
  21. Hallul Isykal fi Ijbaril Yahud 'ala Iltiqathil Azbal.
  22. Al Bughyah fi Mas'alati Ru'yah.
  23. Irsyadul Ghabi ila Madzhabi Ahlil Bait fi Shabin Nabi.
  24. Raf'ul Junah an Nafil Mubah.
  25. Qaulul Maqbul fi Raddi Khabaril Majhul min Ghairi Shahabatir Rasul.
  26. Amniyyatul Mutasyawwiq ila Ma'rifati Hukmi 'Ilmil Manthiq.
  27. Irsyadul Mustafid ila Daf'i Kalami Ibnu Daqiqil 'Id fil Ithlaq wa Taqyid.
  28. Bahtsul Musfir an Tahrimi Kulli Muskir.
  29. Dawa'ul Ajil li Daf'il Aduwwi Shail.
  30. Durru Nadhid fi Ikhlashi Kalimati Tauhid.
  31. Risalah fi Wujubi Tauhidillah.
  32. Nailul Author Syarh Muntaqal Akhbar.
  33. Maqalah Fakhirah fi Ittifaqi Syarai' 'ala Itsbati Daril Akhirah.
  34. Nuzhatul Ahdaq fi Ilmil Isytiqaq.
  35. Raf'u Ribah fi Ma Yajuzu wa Ma La Yajuzu minal Ghibah.
  36. Tahrirud Dalail 'ala Miqdari Ma Yajuzu bainal Imam wal Mu'tamm minal Irtifa' wal Inkhifadh wal Bu'du wal Hail.
  37. Kasyful Astar fi Hukmi Syuf'ati bil Jiwar.
  38. Wasyyul Marqum fi Tahrimi Tahalli bidz Dzahab lir Rijal minal Umum.
  39. Kasyful Astar fi Ibthalil Qaul bi Fanain Nar.
  40. Shawarimul Haddad al Qathi'ah li 'Alaqi Maqali Ahlil Ilhad.
  41. Isyraqu Nirain fi Bayanil Hukmi Idza Takhallafa 'anil Wa'di Ahadul Khashmain.
  42. Hukmu Tas'ir.
  43. Natsrul Jauhar fi Syarhi Hadits Abi Dzar.
  44. Minhatul Mannan fi Ujratil Qadhi was Sajjan.
  45. Risalah fi Hukmil 'Aul.
  46. Tanbihul Amtsal 'ala Jawazil Isti'anah min Khalishil Mal.
  47. Qathrul Wali fi Ma'rifatil Wali.
  48. Taudhih fi Tawaturi Ma Ja'a fil Mahdil Muntazhar wad Dajjal wal Masih.
  49. Hukmul Ittishal bis Salathin.
  50. Jayyidu Naqd fi 'Ibaratil Kasysyaf was Sa'd.
  51. Bughyatul Mustafid fi Raddi ' ala Man Ankaral Ijtihad min Ahli Taqlid.
  52. Radhul Wasi' fid Dalil Mani' 'ala Adami Inhishari Ilmil Badi'.
  53. Fathul Khallaq fi Jawabi Masail Abdirrazaq.

10 Wafat Beliau
Al-Imam asy-Syaukani wafat pada malam Rabu 27 Jumada Tsaniyyah 250 H di Shan'a. Semoga Alloh meridhai beliau dan menempatkan beliau dalam keluasan jannah-Nya.

11 Rujukan
Tarjamah al Imam asy Syaukani oleh Syaikh Husain bin Muhsin al Anshari al Yamani.

Disalin dari majalah Al Furqon Edisi 12 tahun V / Rajab 1427/ Agustus 2006