Saturday, 28 February 2015

Kelembutan Bersama Kezuhudan


Dalam salah satu kitab kecil berjudul Tazkiyatun Nafs karya Al Ustadz Ahmad Farid hafidzhahullah, beliau menukil sebuah kisah tentang seseorang bernama Abu Hazim. Sosok yang di masanya terkenal dengan kezuhudannya. Ia pernah ditanya, “Apa saja harta milik anda?” Beliau menjawab, “Hartaku ada dua. Aku tidak pernah takut menjadi fakir selama memilikinya. Yaitu tsiqqah (yakin dan percaya) kepada Allah dan berputus asa (tidak mengharapkan) apa yang dimiliki oleh manusia.” Kali lain beliau juga pernah ditanya dengan pertanyaan hampir senada, “Apakah anda tidak takut menjadi fakir?” Beliau kembali menjawab., “Bagaimana aku takut menjadi fakir sedangkan Tuanku adalah pemilik segala yang ada di langit dan di bumi serta diantara keduanya, juga yang ada di bawah tanah?”

Sungguh kita tentunya mendapati masa ini adalah masa-masa yang tiap manusia dituntut untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya. Seseorang terkadang berhadapan dengan sketsa guratan realita maupun tindakan nyata fenomenologi dengan bungkusan lebih dari sekedar sebungkus makan ringan di supermarket. Hilangnya nilai-nilai merasa cukup terhadap nikmat halal yang Allah berikan mendorong tiap individu berjalan tanpa rambu-rambu syariat yang hanif.

Padahal Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sosok mulia jauh sebelum Abu Hazim bahkan kita sekalipun dan tentunya tidak perlu bertanya akan sejarah panjang kehidupan beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajak agar ummatnya bersikap zuhud, yakni berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya atau dalam pengertian lain ialah berpaling dari sesuatu karena keremehan dan kehinaannya, serta ketidakpantasannya untuk diperhatikan. Ajaran zuhud bukanlah meninggalkan dunia dan menjauhkannya bahkan mencampakkannya jauh dari keseharian, ajaran zuhud bukan pula berlari kepada nilai-nilai akhirat tanpa landasan syariat. Ajaran zuhud itu sendiri telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam sabdanya ketika seorang mendatangi Nabi lantas bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekaian manusia? Dan Rasulullah pun menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia niscaya kamu dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan).

Allah pun telah berfirman dalam Al Qur’an tentang zuhud yang bermakna bukan meninggalkan dunia jauh kebelakang, akan tetapi mengambil apa-apa yang bermanfaat di dunia bagi kehidupan di akhirat kelak. Allah mengatakan, “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash : 77).

Zuhud mengajarkan nilai-nilai kelembutan. Sebab darisanalah mata air kebijaksanan seseorang akan dapat memancar dalam memaknai hidup seimbang secara tepat dan proporsional. Zuhud tersebut tidak dipahami secara sembarangan sebagaimana kaum sufi memahami zuhud sebagai ajaran kewajiban untuk berlari dari nilai-nilai kenikmatan dunia. Sehingga sebagian diantara mereka menyiksa dirinya untuk tidak pernah mencuci pakaian, tidak pernah merasakan mandi dalam kesehariannya, memakan makanan yang berasal dari belas kasihan dan uluran tangan, atau justru menempuh jalan-jalan dengan tanpa alas kaki berdalih ingin bertemu Ilahi Robbi. Salah kaprah dalam hal zhud merusak eksistensi kemuliaan namanya serta mereka-mereka yang berada diatas sikap zuhud sebenarnya.



Lembut Dengan Zuhud

Salah seorang ulama besar bernama Yunus bin Maisarah berucap, “Zuhud terhadap dunia itu bukan dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Tetapi zuhud terhadap dunia adalah kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ditangan Allah daripada apa yang ada ditanganmu. Juga keadan dan sikapmu sama, baik ketika ditimpa musibah maupun tidak, serta dalam pandanganmu orang lain itu sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran.” Pernyataan ini pun dilengkapi oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah saat ditanya oleh salah seorang tentang orang yang memiliki harta banyak lantas apakah orang tersebut dapat berzuhud? Maka Al Imam menjawab, “Apabila ia tidak bangga ketika harta itu bertambah dan tidak bersedih ketika berkurang, maka dia adalah seorang yang zuhud.”

Zuhud dapat menjadikan hati seseorang lembut ditengah zaman penuh kabut, kelembutan yang menentramkan banyak pihak serta menjadikan getaran energi positif penuh semangat bagi mereka yang melakukan dan menerima getaran manfaatnya. Kezuhudan kini telah sirna seiring dengan banyaknya tipu muslihat dan intrik cinta dunia. Seseorang lebih cenderung kepada dunia dengan menghalalkan segala cara. Ketika disudut dunia lain pun ada kehidupan ingin mendekatkan diri kepada Rabbnya namun dengan cara salah seenak hatinya menggelandang kesana kemari dengan dali menempuh jalan-jalan spiritualitas sufi. Tapi segala sesuatu akan lebih indah bila ia ditengah, ia dapat melihat dan menakarnya dengan lensa keseimbangan.

Apabila pintu kelembutan dari bagian zuhud telah berada dalam genggaman, niscaya kebaikan-kebaikan lain akan mengikuti beserta menimbulkan keberkahan bagi mereka yang senantiasa meniti jalan-jalan kezuhudan dengan syariat tepat dan sesuai dengan manhaj kebenaran. Kelembutan tersebutlah yang kelak akan mengantarkan seseorang kepada kepekaan terhadap sekitarnya. Dalam salah satu sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, beliau berucap, “Kelembutan itu adalah keberkahan dan kekerasan itu adalah kesialan. Apabila Alah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga maka Dia memasukkan kepada mereka pintu kelembutan. Sesungguhnya kelembutan itu tidak pernah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan sesunguhnya kekerasan itu tidak pernah ada pada sesuatu melainkan akan merusak keindahannya.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Shahih Ibnu Hibban 2/310).

Muhamad Al Baqir berkata, “Barangsiapa yang diberi akhlak dan kelembutan, maka ia telah diberi seluruh kebaikan, kenyamanan, dan akan baiklah keadaannya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa tidak memiliki kelembutan dan akhlak, maka ia memiliki jalan menuju setiap keburukan dan malapetaka, kecuali orang yang dilindungi Allah azza wa jalla.” (Hilyatul Auliyaa wa Thabaqatil Ashfiya’ 3/186)

Mari zuhudlah, menjaga diri dari kehidupan dunia yang melalaikan namun tidak lupa untuk mengambil perbekalan. Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, "Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian)." Lalu Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu menyatakan, "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al- Bukhariy no.6416). dan dalam riwayat lain, beliau shalalahu ‘alayhi wa sallam bersabda melalui riwayat Al Mustaurid bin Syaddad Al Fithriy yakni “Bila dibandingkan dengan akhirat, dunia ini hanyalah air yang menempel di jari ketika salah seorang dari kalian mencelupkannya ke laut.” (HR. Muslim).

Dalam Tazkiyatun Nafs pun dijabarkan tentang tingkatan zuhud. Pertama, seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya. Hatinya condong kepadanya. Jiwanya berpaling kepadanya. Namun, ia berusaha, bermujahadah (bersungguh-sungguh) untuk mencegahnya. Inilah seorang mutazahhid (seeorang yang berusaha zuhud).

Kedua, seseorang meningalkan dunia –dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala- karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang hina dina, jika dibandingkan dengan apa kehendak yang ingin dicapainya. Orang ini sadar betul bahwa ia berzuhud. Pun ia memperhitungkannya. Keadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua keping.

Ketiga, seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkan sesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara. Perumpamaan lainnya, seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk memecah mengelabui anjing tadi. Dan ia pun masuk menemui sang raja. Begitulah, perumpamaan setan adalah bagaikan anjing menggonggong di depan pintu gerbang menuju Allah Ta’ala, menghalangi manusia untuk memasukinya. Padahal pintu itu terbuka, hijabnya pun tersingkap. Dunia ini ibarat sepotong roti. Siapa yang melemparkannya agar berhasil menggapai kemuliaan Sang Raja. Bagaimana mungkin masih membuat perhitungan lebih terhadap dunia. (selesai kutipan).

Maka bagaimana dengan roti yang Anda miliki? Apakah Anda memiliki roti tersebut dan memakannya habis hingga kenyang lantas ketika Anda memiliki keperluan dengan seorang raja dengan anjing didepan pintunya, Anda tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat mengelabui sang anjing dan justru diri anda sendiri berjudi dengan nyawa dan luka melawan seekor anjing galak terlatih milik seorang raja tersebut? Ataukah justru Anda memakan roti tersebut, menyimpannya pada kotak perbekalan dan mengeluarkannya suatu saat jika dibutuhkan menghadapi seekor anjing. Saudaraku, karena kita terkadang tak pernah tahu apa yang harus dilakukan dengan roti itu. Si tamak pasti melahapnya hingga ia kenyang tak mampu berjalan lantas menunggu gilasan, dan si cermat yang paham bagaimana mengelola apa yang dimilikinya dan memanfaatkannya secara tepat.



Kisah Para Mutazzahhid

Siapapun pasti mengenal tentang sosok keberanian seorang Jundub bin Junadah, pembegal nomor wahid saat masih jahiliyah. Si pemberani ulung yang berhasil mengajak kaumnya dan kabilah tetangganya masuk Islam. Kisah kepahlawanan dan keteladannya terukir jelas dalam ruang kehidupan para sahabat Rasulullah ridwanallohu ajma’in lainnya. Jundub bin Junadah yang tenar dengan nama Abu Dzar Al Ghifari. Pemuka kabilah ghifar yang gagah berani. Ia melalui masa-masa hidupnya dengan penuh nilai kearifan. Asy Syaikh Muhammad Mahir Al Buhairi dalam Mawaaqif Mubkiyah min Hayatir Rasuul shalallahu ‘alayhi wa sallam wa Ashabih memaparkan kisah mencengangkan diakhir hidup Abu Dzar. Masa-masa dimana ada banyak perbedaan pendapat hebat dikalangan para shahabat Rasulullah sepeninggal beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam.

Pada masa khalifah dzun nurain Utsman Ibn affan radhiyallohu anhu, Abu Dzar si pembela kaum lemah dan pengacaranya kaum dhuafa memiliki sebuah slogan “Gembirakanlah para penimbun harta yang menimbun emas dan perak dengan setrika dari api; dahi dan pinggul mereka disetrika dengannya pada hari kiamat.” Sebuah ungkapan kekecewaan Abu Dzar dikala menemui masa dimana para sahabat-sahabat lain menjadi kaya raya akan hal penaklukan mereka terhadap negeri-negeri berlimpah harta.

Sikap Abu Dzar membuat sahabat lain semisal Muawiyah khawatir dengan sikapnya yang berkata lantang kesana-kemari dipelosok desa dan negeri, dipenjuru lembah serta padang pasir luas. Muawiyah khawatir akan terjadi revolusi atas apa yang dilakukan Abu Dzar, dan tentunya kekhawatiran ini adalah bentuk amar ma’ruf antara satu sahabat dengan sahabat lainnya tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan. Sebab para sahabat satu dalam hal akidah serta manhaj.

Maka hal tersebut sampai kepada Utsman bin Affan yang lantas memanggil Abu Dzar, darisana terjadilah sedikit dialog diantara mereka berdua, sebuah sikap yang tepat antara Abu Dzar dan Utsman bin Affan. Tidak seperti sekarang di masa ini kala demonstrasi menjadi sarana apresiasi menghardik ulil amri. Lantas Utsman pun berpesan kepada Abu Dzar, “Tinggallah disini, didekatku. Kamu akan mendapatkan kenikmatan kapan saja.” Namun Abu Dzar tetap kokoh pantang surut dengan jawaban, “Aku tidak butuh kepada dunia kalian.”

Abu Dzar pun meminta izin agar Utsman membolehkannya pergi ke Rabdzah (suatu wilayah dekat dengan Madinah) lantas Utsman pun mengizinkan. Ternyata badai tidak begitu saja pergi dari seorang Abu Dzar, sekelompok provokator datang bertemu dengan beliau yang berasal dari Kufah. Mereka berusaha memberikan semangat agar Abu Dzar mengkudeta serta merevolusi kepemimpinan Utsman bin Affan, persis kaum munafiqin saat Rasulullah masih hidup yang menyebarkan berita panas ketika Aisyah dituduh berzina karena tertinggal oleh para kabilah. Sikap Abu Dzar pun tak bergeming, ia tetap hidup zuhud dan berkata kepada para pembual berandal tersebut dengan nada hardikan, “Demi Allah, sekiranya Utsman bin Affan menyalibku diatas tiang paling tinggi atau puncak gunung, pasti aku akan patuh, aku akan menurut, aku akan bersabar dan menaggungnya. Dan aku berpendapat itu lebih baik bagi diriku. Seandainya ia (Utsman) mengarakku dari ujung dunia ke ujung satunya lagi, aku akan senantiasa patuh dan taat, bersabar menanggungnya dan itu pendapatku yang terbaik. Seandainya ia mengembalikkan aku ke rumahku, maka aku pun akan bersikap sama sebagaimana apabila ia akan menyalib dan mengarakku sebab itu adalah pendapat yang lebih baik bagiku.”

Abu Dzar menghabisi sisa hidupnya di Rabdzah bersama seorang istri, disaat menjelang wafatnya. Ummu dzar mengatakan, “Ketika Abu dzar akan meningal, aku menangis.” Lantas Abu dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ummu dzar menjawab, “Bagaimana aku tidak akan menangis? Engkau mati dihamparan padang pasir, sedang aku tidak memiliki kain yang cukup lebar untuk mengkafanimu dan tidak ada orang yang membantuku untuk menguburkanmu.”

Abu Dzar menjawab dengan jawabannya yang disambung dengan perkataan sabda kekasih Allah yang ia cintai, “Gembiralah, jangan menangis. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada sejumlah orang yang ketika itu aku pun termasuk berada disana, ‘Pasti akan ada salah satu dari kalian yang meninggal di padang pasir dengan disaksikan oleh sekelompok orang mukminin.’ Tak seorangpun dari orang-orang tersebut kecuali telah meninggal disebuah desa atau dalam kelompok. Itu berarti yang dimaksud Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah diriku. Demi Allah, aku tidak berbohong dan tidak dibohongi. Awasilah jalan, mungkin ada orang lain yang lewat. Maka Abu Dzar yang mutazahhid wafat dan jenazahnya diurus oleh seklompok kaum mukminin yang melewati tempat tersebut. Abu Dzar, zuhudnya tidak membuat ia membangkang. Ia justru menyendiri dengan komitmennya dan mencukupi dirinya beserta istri dengan kehidupan seadanya. Maka sabda rasulullah shalallhu ‘alayhi wa sallam benar kiranya atas seorang Abu Dzar radhiyallohu ‘anhu, “Kamu berjalan sendirian, meninggal sendirian, dan dibangkitkan dalam keadaan sendiri pula.”

Semoga pembaca tidak bosan mengikuti alur tulisan ini dengan penuh rasa berat hati, sebab satu kisah berikutnya akan penulis sampaikan agar menunjukkan kepada para pembaca bahwasanya nilai-nilai zuhud itu adalah teladan kelembutan, akhlak mulia yang diwariskan secara indah. Tak ada satu pun orang yang menginginkan kelembutan akan kehidupannya sebelum ia sampai kepada nilai-nilai kezuhudan terhadap dunianya. Maka duduklah beberapa menit saja untuk menghabiskan artikel ini agar –semoga Allah memberikan keberkahan pada anda- anda dapat mendapatkan penuh dari keseluruhan tema singkat ini, Insya Allah.

Tahun itu, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkunjung ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Ia melihat sosok mulia dari keturunan mulia, cucu dari al faruuq Umar ibn Khaththab serta anak dari seorang perawi hadits sebelumnya di tulisan ini, Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallohu ‘anhuma. Sosok tersebut bernama Salim bin Abdullah in Umar bin Khaththab rahimahullah, seorang muara ilmu di masanya, tabi’in terkenal di zamannya, serta salah seorang yang mendapatkan perhatian istimewa dengan baik dari seorang pembunuh cucu sahabat Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam yakni Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dengan julukan hebat dari para ulama “jika semua orang jahat dikumpulkan dari masa ke masa, maka tidak ada yang lebih jahat daripada Al Hajjaj.”

Kita kembali kepada kisah yang dinukil dari Suwaar min Hayati Tabi’in karya Abdurrahman Rifat Basya. Sulaimn bin Abdul Malik melihat sosok Salim bin Abdullah bersimpuh di depan Ka’bah dengan khusyu, lidahnya bergerak membaca Al Quran dengan tartil, sementara air mata meleleh dikedua pipinya. Usai thawaf khalifah menghampiri dirinya dengan diberikan keleluasaan untuk bertemu dengan Salim di tengah kerumunn orang disekeliling Salim bin Abdullah. Namun Salim tidak menghraukan dan justru sibuk dengan dzikir dan bacaannya. Khalifah menunggu saat tepat atas Salim. Dan ketika ada kesempatan, khalifah pun menyapa,”Assalamu’alayka wa rahmatullah wahai Abu Umar (kuniyah bagi Salim).” Salim menjawab, “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Khalifah lantas berkata, “Katakanlah apa yang menjadi kebutuhan anda wahai Abu Umar, maka saya akan memenuhinya.” Salim tidak mengatakan apa-apa hingga Khalifah menyangka ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh khalifah, Khalifah merapatkan duduknya dan mengulangi perkataan sebelumnya, “Saya ingin Anda mengatakan kebutuhan Anda agar saya dapat memenuhinya.” Lantas Salim menjawab, “Demi Allah aku malu mengatakannya. Bagaimana mungkin Aku sedang berada di Rumah-Nya, tetapi meminta kepada selain Dia?”

Khalifah pun malu, namun ia tak beranjak dari duduknya. Saat shalat usai, Salim bangkit hendak pulang. Orang-orang mengejarnya dan bertanya akan banyak hal baik itu fatwa, hadits, dan ada pula yang minta di do’akan. Khalifah termasuk diantara kerumunan tersebut, orang-orang kembali menepi dan memberi jalan kepada sang khalifah yang akhirnya bisa mendekati Salim, lantas khalifah berkata, “Sekarang kita sudah berada diluar masjid, maka katakanlah kebutuhan anda agar saya dapat membantu anda. Maka Salim hanya menjawab, “Dari kebutuhan dunia atau akhirat?” khalifah menjawab, “Tentunya dari kebutuhan dunia.” Salim pun membalas, “Saya tidak meminta kebutuhan dunia kepada Yang Memilikinya, bagaimana saya meminta kepada yang bukan pemiliknya?”

Mendengar ucapan Salim, khalifah pun kembali malu, ia pun bergumam tentang Salim, “Alangkah mulianya kalian dengan zuhud dan takwa wahai Al Khaththab, alangkah kayanya kalian dengan Allah azza wa jalla. Semoga Allah memberkahi keluarga kalian.”

Padahal di kesempatan sebelumnya, Khalifah Al Walid bin Abdul Malik un pernah dibuat malu oleh Salim bin Abdullah, peristiwanya pun sama ketika sang khalifah melaksanakan ibadah haji. Saat orang-orang telah turun dari Arafah, khalifah menjumpai Salim bin Abdullah di Muzdalifah. Ketika itu Ibnu Abdullah mengenakan ihram. Dan terjadilah percakapan disaat Al Walid mengucapkan salam dan doa kepadanya lantas melihat tubuh Salim terbuka dan tampak begitu sehat juga kekar bagaikan bangunan yang kokoh.

Al Walid lantas segera bertanya, “Bentuk tubuh anda bagus sekali, wahai Abu Umar, apakah makanan anda sehari-hari?” Salim hanya menjawab, “Roti dan zaitun serta terkadang saya makan daging jika saya mendapatkannya.” Al Walid lantas menyergah,”Hanya roti dan zaitun?”. Salim menjawab, “Benar.” Al Walid kembali bertanya, “Apakah kamu berselera memakan itu?” salim menjawab, “Jika kebetulan aku tidak berselera, maka aku tinggalkan hingga lapar dan aku berselera kembali terhadapnya.”

Pantaslah jika Al Imam Malik bin Anas mengatakan tentang Salim, “Tak ada pada zaman Salim orang yang lebih mirip dengan orang-orang shalih sebelumnya dalam hal zuhud, keutamaan dan rasa malu daripada Salim bin Abdillah.”



Maka Zuhudlah!

Saudaraku, maka zuhudlah agar hidupmu menjadi lembut, zuhudlah agar engkau menjadi tahu hakikat hidup, dan zuhudlah agar kau dapat melihat ada saudaramu dibelahan dunia lain yang butuh manfaat darimu. Zuhudlah dengan zuhud sesuai dengan syariat bukan dengan sembarang terka pelaksanaan. Dan zuhudlah agar dapat mewarisi akhlak para Nabi serta para ulama, sebagaimana berkata Ibnu Rajab Al Hanbali tentang ciri-ciri seorang ulama, “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)

Ibrahim bin Adham berkata, “Orang zuhud adalah yang paling dekat dengan Allah ialah orang yang kuat rasa tkutnya. Orang zuhud yang pling dicintai oleh Allah ialah orang yang paling baik amalnya. Orang zuhud yang paling utama di sisi Allah ialah orang yang paling besar keinginannya untuk mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya. Orang zuhud yang murah hati kepada-Nya ialah orang yang paling takwa kepada-Nya. Orang zuhud yang paling sempurna kezuhudannya ialah orang yang paling dermawan jiwanya dan paling bersih hatinya. Dan orang zuhud yang paling lengkap kezuhudannya ialah orang yang paling banyak keyakinannya.” (Hilyatul Auliyaa wa Thabaqatis Ashfiyaa 8/70).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah memiliki perkataan yang tepat untuk mengakhiri pembahasan ringkas ini, “Pondasi zuhud adalah ridha terhadap segala yang datang dari Allah.” Zuhud pula membawa nilai-nilai berawal dari merasa qana’ahnya seseorang terhadap apa yang dimilikinya, sehinga Al Imam menambahkan perkataannya dalam kesempatan lain, “Orang yang selalu qanaah adalah orang yang zuhud dan dialah orang yang hakikatnya kaya. Barangsiapa yang memiliki sifat ‘yakin’ dan ‘percaya’ kepada Allah, ia akan tenang menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan ridha kepada segala keputusan Allah baginya. Juga akan memutuskan’raja’’ dan ‘khauf’kepada makhluk serta meninggalkan usaha mencari kekayaan dunia dengan cara-cara yang dibenci. Maka, barangsiapa demikian keadaannya dia adalah seorang yang benar-benar zuhud dan orang terkaya –walaupun ia tidak memiliki sedikit pun harta dunia.

“Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), Karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisaa’ : 134)

“Cukuplah berdosa bilamana Allah menyuruh kita berbuat zuhud terhadap dunia, sementara kita begitu rakus terhadapnya.” (Hilyatul Auliyaa 5/224)



 Wallahu “Alam Bi Shawwab.. 

Memakai Parfum Beralkohol


Pertanyaan :
Apa hukumnya menggunakan minyak wangi (parfum) berkadar alkalone atau alkohol?

Jawaban :
Alhamdulillah, parfum-parfum yang katanya mengandung alkalone atau alkohol harus kita perinci pembahasannya sebagai berikut:

-Jika kadar alkoholnya sedikit dan tidak membahayakan maka silakan ia memakainya tanpa harus ragu. Misalnya kadar alkoholnya sekitar lima persen atau kurang dari itu, kadar sekian persen itu tentu tidak menimbulkan efek membahayakan.
-Jika kadar alkoholnya tinggi sehingga dapat menimbulkan efek samping terhadap pemakainya, maka yang paling baik adalah tidak menggunakannya kecuali untuk keperluan sangat mendesak, seperti untuk mensterilkan luka dan sejenisnya. Tidak juga kita katakan haram, namun lebih baik tidak menggunakannya bila tidak ada keperluan yang mendesak. Sebab kadar alkohol tinggi tersebut dapat kita simpulkan bahwa ia tergolong zat yang memabukkan. Zat-zat yang memabukkan tentunya haram berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta ijma’. Akan tetapi masalahnya apakah penggunaannya -selain meminumnya- menjadi halal? Inilah yang perlu dibahas lebih lanjut. Yang pasti tidak menggunakannya tentu lebih selamat. Saya katakan tadi bahwa masalah ini perlu dibahas lagi karena Allah telah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. 5:90-91)
Kalau kita tinjau kandungan umum kalimat ‘ijtanibuuhu’ (maka jauhilah) dalam ayat di atas maka penggunaannya dilarang secara mutlak, kita katakan: Khamar harus dijauhi secara mutlak, baik meminumnya atau menggunakannya sebagai minyak wangi dan semacamnya. Jika kita tinjau alasan pelarangannya, yakni firman Allah :
‘Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)’
maka kita katakan bahwa yang dilarang adalah meminumnya. Sebab sekedar menggunakannya sebagai minyak wangi tidaklah sampai memabukkan.
Kesimpulannya: Jika kadar alkohol yang terdapat pada parfum tersebut sedikit maka boleh saja digunakan tanpa harus ragu dan tanpa harus dipersoalkan lagi. Namun jika kadar alkoholnya tinggi maka yang terbaik adalah tidak menggunakannya kecuali untuk suatu keperluan yang mendesak. Seperti untuk mensterilkan luka dan sejenisnya.
Liqa’ Al-Baabul Maftuh karya Syaikh Ibnu Utsaimin hal 240.

Friday, 27 February 2015

Selesaikan Dengan Kelembutan



Sejatinya sebuah keluarga adalah proses merajut bahagia dalam bingkai sejarah penuh cerita. Setiap likunya memiliki sendi mengokohkan dan sinergi mengagumkan. Keluarga itu sendiri adalah cerminan sebuah negeri, dimana setiap nada berselaras menuju satu bangunan dengan jutaan harapan mengembang. Keluarga merupakan kumpulan kerjasama yang satu sama lain saling kerja bersama. Di dalamnya ada saling menjaga, saling membina, menghangatkan, dan memendam janji setia pada berbanyak-banyak perkara.

Begitulah keluarga, pelajarannya tak pernah ada kata henti, karena setiap hari adalah belajar, setiap individunya ialah pembelajar sekaligus pengajar. Ada cerminan satu sama lain yang bertaut bagi tiap harinya. Maka sungguh sangat mengherankan bila keluarga tak terbina hanya karena secuil urusan dunia. Padahal keluarga kita hari ini, adalah keluarga kita pula kelak di kemudian hari yang di dalamnya tak pernah ada benci, kemudian hari itulah yang mengekalkan dan abadi di akhirat nanti.

Masalah tentunya silih berganti, mengisi setiap kali satunya telah bersolusi, hal itu ada agar setiap kita belajar menyelesaikan bukan mengerjakan penyelesaian seakan tak pernah belajar. Karena masalah-masalah itulah yang akhirnya menghidupkan, memberi warna, menghangatkan akal, dan menyalakan cahaya dalam sanubari. Kesemua itu ada bila cinta diantaranya saling bertautan dan bermekaran seiring sejalan, seimbang seirama.
Lemah lembut adalah sebuah solusi, dalam sebuah keluarga tentulah ada banyak karakter yang saling berbeda satu dengan lainnya. Namun tentu pula dikesemua karakter itu ada yang menyatukannya. Misal, kita seringkali mengatakan si anak rambutnya mengambil rambut ayahnya, sedangkan matanya mirip dengan mata ibunya. Atau pada sisi karakter, si anak nampaknya cenderung berbicara lantang dan tanpa basa-basi seperti ibunya, atau si adik sangat pemalu seperti ayahnya, dan lain sebagainya. Namun sebagai seorang manusia, ada sisi kesamaan tentunya yang mendasari sebuah pembinaan dan pendidikan disetiap rumah tangga. Yakni kelembutan, karena sangat janggal bila sang anak besar dengan tamparan orangtua di pipi mulusnya sepanjang hari, tak ada pula sang anak besar karena didikan kecongkakan ayahnya yang menjunjung tinggi nilai gengsi.

Kelembutan adalah muara dari setiap solusi, setiap sisinya membersamai makna penuh arti. Wajar saja bila Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kedalam hati mereka.”  Atau dalam sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah ummul mukminin, “Wahai ‘Aisyah berlemahlembutlah! Sesungguhnya apabila Allah mengkehendaki kebaikan bagi suatu keluarga. Dia akan menunjuki mereka kepada pintu kelembutan.”  Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya.

Maka, membina keluarga diatas nilai kelembutan ialah bukan mengarahkan kepada keluarga tanpa ketegasan dalam rambu kemarahan. Namun ketegasan juga dapat berada dalam selimut kelembutan. Ketegasan tanpa diiringi dengan emosi membara padahal di dalamnya tak bernilai solusi sedikitpun. Jauh dari kebersahajaan dan kebijaksanaan yang tepat. Akhirnya munculah generasi acuh sepanjang sejarah kehidupan keluarga tersebut. Bukankah setiap anak sangat ingin mendapat perlakuan yang tepat. Lebih jauh lagi, dakwah pun menuntut didalamnya nilai yang semestinya lembut, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “… Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…. “ (QS. Ali Imron : 159).

Pelajaran akan melekat jika diiringi dengan ketulusan, sedangkan ketulusan tak mungkin hadir tanpa diawali dengan kelembutan. Jadilah pribadi yang lembut dan penuh dengan kebaikan. Kelak tiap keluarga akan mendapatkan manisnya hasil dari kelembutan yang dijalankan secara berkelanjutan. Sebab begitulah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang tidak memiliki kelembutan maka diharamkan baginya kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim). wallahu ‘alam bi shawwab.

Thursday, 26 February 2015

Syura dalam Islam dan Demokrasi


Sebagian kaum muslimin mengidentikkan antara syura dan demokrasi, menganggap sama antara keduanya, atau minimal membenarkan demokrasi karena musyawarah/syura juga diakui dalam sistem demokrasi.
Artikel ini berusaha memaparkan syura secara ringkas dan nantinya akan berujung pada pemaparan sisi-sisi perbedaan antara syura dan demokrasi yang merupakan produk sekulerisme.
Definisi Syura
Menurut bahasa, syura memiliki dua pengertian, yaitu menampakkan dan memaparkan sesuatu atau mengambil sesuatu[Mu'jam Maqayis al-Lughah 3/226].
Sedangkan secara istilah, beberapa ulama terdahulu telah memberikan definisi syura, diantara mereka adalah Ar Raghib al-Ashfahani yang mendefinisikan syura sebagai proses mengemukakan pendapat dengan saling merevisi antara peserta syura [Al Mufradat fi Gharib al-Quran hlm. 207].
Ibnu al-Arabi al-Maliki mendefinisikannya dengan berkumpul untuk meminta pendapat (dalam suatu permasalahan) dimana peserta syura saling mengeluarkan pendapat yang dimiliki [Ahkam al-Quran 1/297].
Sedangkan definisi syura yang diberikan oleh pakar fikih kontemporer diantaranya adalah proses menelusuri pendapat para ahli dalam suatu permasalahan untuk mencapai solusi yang mendekati kebenaran [Asy Syura fi Zhilli Nizhami al-Hukm al-Islami hlm. 14].
Dari berbagai definisi yang disampaikan di atas, kita dapat mendefinisikan syura sebagai proses memaparkan berbagai pendapat yang beraneka ragam dan disertai sisi argumentatif dalam suatu perkara atau permasalahan, diuji oleh para ahli yang cerdas dan berakal, agar dapat mencetuskan solusi yang tepat dan terbaik untuk diamalkan sehingga tujuan yang diharapkan dapat terealisasikan [Asy Syura fi al-Kitab wa as-Sunnah hlm. 13].

Pensyari’atan Syura dalam Islam
Islam telah menuntunkan umatnya untuk bermusyawarah, baik itu di dalam kehidupan individu, keluarga, bermasyarakat dan bernegara.
Dalam kehidupan individu, para sahabat sering meminta pendapat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah-masalah yang bersifat personal. Sebagai contoh adalah tindakan Fathimah yang meminta pendapat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Mu’awiyah dan Abu Jahm berkeinginan untuk melamarnya [HR. Muslim : 1480].
Dalam kehidupan berkeluarga, hal ini diterangkan dalam surat al-Baqarah ayat 233, dimana Allah berfirman,
فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٢٣٣)
Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Al Baqarah : 233].
Imam Ibnu Katsir mengatakan, Maksud dari firman Allah (yang artinya), ” Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya” adalah apabila kedua orangtua sepakat untuk menyapih sebelum bayi berumur dua tahun, dan keduanya berpendapat hal itu mengandung kemaslahatan bagi bayi, serta keduanya telah bermusyawarah dan sepakat melakukannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya. Dengan demikian, faidah yang terpetik dari hal ini adalah tidaklah cukup apabila hal ini hanya didukung oleh salah satu orang tua tanpa persetujuan yang lain. Dan tidak boleh salah satu dari kedua orang tua memilih untuk melakukannya tanpa bermusyawarah dengan yang lain [Tafsir al-Quran al-'Azhim 1/635].
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Al Quran telah menceritakan bahwa syura telah dilakukan oleh kaum terdahulu seperti kaum Sabaiyah yang dipimpin oleh ratunya, yaitu Balqis. Pada surat an-Naml ayat 29-34 menggambarkan musyawarah yang dilakukan oleh Balqis dan para pembesar dari kaumnya guna mencari solusi menghadapi nabi Sulaiman ‘alahissalam.
Demikian pula Allah telah memerintahkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam setiap urusan. Allah ta’ala berfirman,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. [Ali 'Imran : 159].
Di dalam ayat yang lain, di surat Asy Syura ayat 38, Allah ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabb-nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. [Asy Syura : 36-39].
Maksud firman Allah ta’ala (yang artinya), “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka” adalah mereka tidak melaksanakan suatu urusan sampai mereka saling bermusyawarah mengenai hal itu agar mereka saling mendukung dengan pendapat mereka seperti dalam masalah peperangan dan semisalnya [Tafsir al-Quran al-'Azhim 7/211].
Seluruh ayat al-Quran di atas menyatakan bahwasanya syura (musyawarah) disyari’atkan dalam agama Islam, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa syura adalah sebuah kewajiban, terlebih bagi pemimpin dan penguasa serta para pemangku jabatan. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan nabi-Nya bermusyawarah untuk mempersatukan hati para sahabatnya, dan dapat dicontoh oleh orang-orang setelah beliau, serta agar beliau mampu menggali ide mereka dalam permasalahan yang di dalamnya tidak diturunkan wahyu, baik permasalahan yang terkait dengan peperangan, permasalahan parsial, dan selainnya. Dengan demikian, selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu lebih patut untuk bermusyawarah” [As Siyasah asy-Syar'iyah hlm. 126].
Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menunjukkan betapa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan untuk senantiasa bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam berbagai urusan terutama urusan yang terkait dengan kepentingan orang banyak.
Beliau pernah bermusyawarah dengan para sahabat pada waktu perang Badar mengenai keberangkatan menghadang pasukan kafir Quraisy.
Selain itu, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bermusyawarah untuk menentukan lokasi berkemah dan beliau menerima pendapat al-Mundzir bin ‘Amr yang menyarankan untuk berkemah di hadapan lawan.
Dalam perang Uhud, beliau meminta pendapat para sahabat sebelumnya, apakah tetap tinggal di Madinah hingga menunngu kedatangan musuh ataukah menyambut mereka di luar Madinah. Akhirnya, mayoritas sahabat menyarankan untuk keluar Madinah menghadapi musuh dan beliau pun menyetujuinya.
Dalam masalah lain, ketika terjadi peristiwa hadits al-ifki, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat ‘Ali dan Usamah perihal ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anhum.
Demikianlan, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bermusyawarah dengan para sahabatnya baik dalam masalah perang maupun yang lain.

Urgensi dan Faedah Syura
Ibnu ‘Athiyah mengatakan, “Syura merupakan aturan terpenting dalam syari’at dan ketentuan hukum dalam Islam” [Al Muharrar al-Wajiz]. Apa yang dikatakan oleh beliau mengenai syura benar adanya karena Allah ta’ala telah menjadikan syura sebagai suatu kewajiban bagi hamba-Nya dalam mencari solusi berbagai persoalan yang membutuhkan kebersamaan pikiran dengan orang lain. Selain itu, Allah pun telah menjadikan syura sebagai salah satu nama surat dalam al-Quran al-Karim. Kedua hal ini cukup untuk menunjukkan betapa syura memiliki kedudukan yang penting dalam agama ini.
Amir al-Mukminin, ‘Ali radhiallahu ‘anhu juga pernah menerangkan manfaat dari syura. Beliau berkata, “Ada tujuh keutamaan syura, yaitu memperoleh solusi yang tepat, mendapatkan ide yang brilian, terhindar dari kesalahan, terjaga dari celaan, selamat dari kekecewaan, mempersatukan banyak hati, serta mengikuti atsar (dalil) [Al Aqd al-Farid hlm. 43].
Urgensi dan faedah syura banyak diterangkan oleh para ulama, diantaranya imam Fakhr ad-Din ar-Razy dalam Mafatih al-Ghaib 9/67-68. Secara ringkas beliau menyebutkan bahwa syura memiliki faedah antara lain adalah sebagai berikut :
  • Musyawarah yang dilakukan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan para sahabatnya menunjukkan ketinggian derajat mereka (di hadapan nabi) dan juga hal ini membuktikan betapa cintanya mereka kepada beliau dan kerelaan mereka dalam menaati beliau. Jika beliau tidak mengajak mereka bermusyawarah, tentulah hal ini merupakan bentuk penghinaan kepada mereka.
  • Musyawarah perlu diadakan karena bisa saja terlintas dalam benak seseorang pendapat yang mengandung kemaslahatan dan tidak terpikir oleh waliy al-amr (penguasa). Al Hasan pernah mengatakan,
مَا تَشَاوَرَ قَوْمٌ إِلَّا هُدُوا لِأَرْشَدِ أَمَرِهِمْ
“Setiap kaum yang bermusyawarah, niscaya akan dibimbing sehingga mampu melaksanakan keputusan yang terbaik dalam permasalahan mereka” [Al Adab karya Ibnu Abi Syaibah 1/149].
  • Al Hasan dan Sufyan ibn ‘Uyainah mengatakan, “Sesungguhnya nabi diperintahkan untuk bermusyawarah agar bisa dijadikan teladan bagi yang lain dan agar menjadi sunnah (kebiasaan) bagi umatnya”
  • Syura memberitahukan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para penguasa setelah beliau mengenai kadar akal dan pemahaman orang-orang yang mendampinginya, serta untuk mengetahui seberapa besar kecintaan dan keikhlasan mereka dalam menaati beliau. Dengan demikian, akan nampak baginya tingkatan mereka dalam keutamaan.

12 Perbedaan antara Syura dan Demokrasi
Telah disebutkan sebelumnya bahwa artikel ini berusaha untuk memaparkan sisi-sisi perbedaan antara syura dan demokrasi mengingat beberapa kalangan menyamakan antara keduanya. Meskipun, komparasi antara keduanya tidaklah tepat mengingat syura berarti meminta pendapat (thalab ar-ra’yi) sehingga dia adalah sebuah mekanisme pengambilan pendapat dalam Islam dan merupakan bagian dari proses sistem pemerintahan Islam (nizham as-Siyasah al-Islamiyah). Sedangkan demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan sistem pemerintahan, sehingga bukan sekedar proses pengambilan pendapat [Syura bukan Demokrasi karya M. Shiddiq al-Jawi]. Dengan demikian, yang tepat adalah ketika kita membandingkan antara sistem pemerintahan Islam dengan demokrasi itu sendiri.
Perbedaan antara sistem pemerintahan Islam yang salah satu landasannya adalah syura dengan sistem demokrasi terangkum ke dalam poin-poin berikut :
Pertama
Umat (rakyat) dalam suatu sistem demokrasi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan manusia yang menempati suatu wilayah tertentu, dimana setiap individu di dalamnya berkumpul dikarenakan kesadaran untuk hidup bersama, dan diantara faktor yang membantu terbentuknya umat adalah adanya kesatuan ras dan bahasa [Mabadi Nizham al-Hukm fi al-Islam hlm. 489].
Sedangkan dalam sistem Islam, definisi umat sangatlah berbeda dengan apa yang disebutkan sebelumnya, karena dalam mendefinisikan umat, Islam tidaklah terbatas pada faktor kesatuan wilayah, ras, dan bahasa. Namun, umat dalam Islam memiliki definisi yang lebih luas karena akidah islamiyah-lah yang menjadi tali pengikat antara setiap individu muslim tanpa membeda-bedakan wilayah, ras, dan bahasa. Dengan demikian, meski kaum muslimin memiliki beraneka ragam ras, bahasa, dan wilayah, mereka semua adalah satu umat, satu kesatuan dalam pandangan Islam [Asy Syura wa ad-Dimuqratiyyah al-Ghariyyah hlm. 25].
Kedua
Sistem demokrasi hanya berusaha untuk merealisasikan berbagai tujuan yang bersifat materil demi mengangkat martabat bangsa dari segi ekonomi, politik, dan militer. Sistem ini tidaklah memperhatikan aspek ruhiyah.
Berbeda tentunya dengan sistem Islam, dia tetap memperhatikan faktor-faktor tersebut tanpa mengenyampingkan aspek ruhiyah diniyah, bahkan aspek inilah yang menjadi dasar dan tujuan dalam sistem Islam.Dalam sistem Islam, aspek ruhiyah menjadi prioritas tujuan dan kemaslahatan manusia yang terkait dengan dunia mereka ikut beriringan di belakangnya [Asy Syura wa ad-Dimuqratiyyah al-Ghariyyah hlm. 25].
Ketiga
Di dalam sistem demokrasi, rakyat memegang kendali penuh. Suatu undang-undang disusun dan diubah berdasarkan opini atau pandangan masyarakat. Setiap peraturan yang ditolak oleh masyarakat, maka dapat dimentahkan, demikian pula peraturan baru yang sesuai dengan keinginan dan tujuan masyarakat dapat disusun dan diterapkan.
Berbeda halnya dengan sistem Islam, seluruh kendali berpatokan pada hukum Allah suhanahu wa ta’ala. Masyarakat tidaklah diperkenankan menetapkan suatu peraturan apapun kecuali peraturan tersebut sesuai dengan hukum Islam yang telah diterangkan-Nya dalam al-Quran dan lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga dalam permasalahan ijtihadiyah, suatu peraturan dibentuk sesuai dengan hukum-hukum politik yang sesuai dengan syari’at [An Nazhariyaat as-Siyaasiyah al-Islamiyah hlm. 338].
Keempat
Kewenangan majelis syura dalam Islam terikat dengan nash-nash syari’at dan ketaatan kepada waliyul amr (pemerintah). Syura terbatas pada permasalahan yang tidak memiliki nash (dalil tegas) atau permasalahan yang memiliki nash namun indikasi yang ditunjukkan memiliki beberapa pemahaman. Adapun permasalahan yang memiliki nash yang jelas dan dengan indikasi hukum yang jelas, maka syura tidak lagi diperlukan. Syura hanya dibutuhkan dalam menentukan mekanisme pelaksanaan nash-nash syari’at.
Ibnu Hajar mengatakan, “Musyawarah dilakukan apabila dalam suatu permasalahan tidak terdapat nash syar’i yang menyatakan hukum secara jelas dan berada pada hukum mubah, sehingga mengandung kemungkinan yang sama antara melakukan atau tidak. Adapun permasalahan yang hukumnya telah diketahui, maka tidak memerlukan musyawarah [Fath al-Baari 3/3291].
Adapun dalam demokrasi, kewenangan parlemen bersifat mutlak. Benar undang-undang mengatur kewenangannya, namun sekali lagi undang-undang tersebut rentan akan perubahan [Asy Syura wa Atsaruha fi ad- Dimuqratiyah hlm. 427-428].
Kelima
Syura yang berlandaskan Islam senantiasa terikat dengan nilai-nilai akhlaqiyah yang bersumber dari agama. Oleh karena itu, nilai-nilai tersebut bersifat tetap dan tidak tunduk terhadap berbagai perubahan kepentingan dan tujuan. Dengan demikian, nilai-nilai tersebutlah yang akan menetapkan hukum atas berbagai aktivitas dan tujuan umat.
Di sisi lain, demokrasi justru berpegang pada nilai-nilai yang relatif/nisbi karena dikontrol oleh beranka ragam kepentingan dan tujuan yang diinginkan oleh mayoritas [Asy Syura wa Atsaruha fi ad- Dimuqratiyah hlm. 427-428].
Keenam
Demokrasi memiliki kaitan erat dengan eksistensi partai-partai politik, padahal hal ini tidak sejalan dengan ajaran Islam karena akan menumbuhkan ruh perpecahan dan bergolong-golongan.
Ketujuh
Syari’at Islam telah menggariskan batasan-batasan syar’i yang bersifat tetap dan tidak boleh dilanggar oleh majelis syura. Berbagai batasan tersebut kekal selama Islam ada.
Adapun demokrasi tidak mengenal dan mengakui batasan yang tetap. Justru aturan-aturan yang dibuat dalam sistem demokrasi akan senantiasa berevolusi dan menghantarkan pada tercapainya hukum yang mengandung kezhaliman menyeluruh yang dibungkus dengan slogan hukum mayoritas [Fiqh asy-Syura wal al-Istisyarah hlm. 12].
Kedelapan
Demokrasi menganggap rakyatlah yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu negara yang berdasar pada hukum mayoritas, suara mayoritaslah yang memegang kendali pensyari’atan suatu hukum dalam menghalalkan dan mengharamkan. Adapun di dalam sistem syura, rakyat tunduk dan taat kepada Allah dan rasul-Nya kemudian kepada para pemimpin kaum muslimin (dalam perkara yang ma’ruf) [Asy Syura la ad-Dimuqratiyah hlm. 40-41, Ad Dimuqratiyah Din hlm. 32].
Kesembilan
Syura bertujuan untuk menghasilkan solusi yang selaras dengan al-haq meski bertentangan dengan suara mayoritas, sedangkan demokrasi justru sebaliknya lebih mementingkan solusi yang merupakan perwujudan suara mayoritas meski hal itu menyelisihi kebenaran [Hukm ad-Dimuqratiyah hlm. 32].
Kesepuluh
Kriteria ahli syura sangatlah berbeda dengan kriteria para konstituen dan anggota parlemen yang ada dalam sistem demokrasi. Al Mawardi telah menyebutkan kriteria ahli syura, beliau mengatakan, “Pertama, memiliki akal yang sempurna dan berpengalaman; Kedua, intens terhadap agama dan bertakwa karena keduanya merupakan pondasi seluruh kebaikan; Ketiga, memiliki karakter senang member nasehat dan penyayang, tidak dengki dan iri, dan jauhilah bermusyawarah dengan wanita; Keempat, berpikiran sehat, terbebas dari kegelisahan dan kebingungan yang menyibukkan; Kelima, tidak memiliki tendensi pribadi dan dikendalikan oleh hawa nafsu dalam membahas permasalahan yang menjadi topik musyawarah [Adab ad-Dunya wa ad-Din hlm. 367; Al 'Umdah fi I'dad al-'Uddah hlm. 116; Al Ahkam as-Sulthaniyah hlm. 6; Al Ahkam as-Sultaniyah karya Abu Yala hlm. 24; Ghiyats al-Umam hlm. 33].
Adapun dalam sistem demokrasi, setiap warga negara memiliki porsi yang sama dalam mengemukakan pendapat, baik dia seorang kafir, fasik (pelaku maksiat), zindik, ataupun sekuler. Al ‘Allamah Ahmad Muhammad Syakir mengatakan, “Diantara konsep yang telah terbukti dan tidak lagi membutuhkan dalil adalah bahwasanya rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan para pemangku pemerintahan setelah beliau untuk bermusyawarah dengan mereka yang terkenal akan keshalihannya, menegakkan aturan-aturan Allah, bertakwa kepada-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan berjihad di jalan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebut perihal mereka dalam sabdanya,
لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى
Hendaklah yang dekat denganku (dalam shaf shalat) adalah mereka yang cerdas serta berakal [HR. Muslim: 974].
Mereka bukanlah kaum mulhid (atheis), bukanpula mereka yang memerangi agama Allah, tidakpula para pelaku maksiat yang tidak berusaha menahan diri dari kemungkaran, dan juga bukan orang-orang yang beranggapan bahwa mereka diperbolehkan menyusun syari’at dan undang-undang yang menyelisihi agama Allah serta mereka boleh menghancurkan syari’at Islam ['Umdat at-Tafsir 1/383-384].
Kesebelas
Ahli syura mengedepankan musyawarah dan nasehat kepada pemimpin serta mereka wajib untuk menaatinya dalam permasalahan yang diperintahkannya. Dengan demikian, kekuasaan dipegang oleh pemimpin. Pemimpinlah yang menetapkan dan memberhentikan majelis syura bergantung pada maslahat yang dipandangnya [Al 'Umdah fi I'dad al-'Uddah 112]. Sedangkan dalam demokrasi, kekuasaan dipegang oleh parlemen, pemimpin wajib menaati dan parlemen memiliki kewenangan memberhentikan pemimpin dan menghalangi orang yang kredibel dari pemerintahan.
Kedua belas
Apabila terdapat nash syar’i dari al-Quran dan hadits, maka ahli syura wajib berpegang dengannya dan mengenyampingkan pendapat yang menyelisihi keduanya, baik pendapat tersebut merupakan pendapat minoritas ataupun mayoritas.
Al Bukhari berkata dalam Shahih-nya, “Para imam/pemimpin sepeninggal nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambermusyawarah dengan orang-orang berilmu yang amanah dalam permasalahan yang mubah agar mampu menemukan solusi yang termudah. Apabila al-Quran dan hadits telah jelas menerangkan suatu permasalahan, maka mereka tidak berpaling kepada selainnya dalam rangka mengikuti nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakr telah berpandangan untuk memerangi kaum yang menolak membayar zakat, maka Umar pun mengatakan, “Bagaimana bisa anda memerangi mereka padahal rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaha illallah. Jika mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka telah terjaga kecuali dengan alasan yang hak dan kelak perhitungannya di sisi Allah ta’ala.” Maka Abu Bakr pun menjawab, “Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisah-misahkan sesuatu yang justru digabungkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian Umar pun mengikuti pendapat beliau. Abu Bakr tidak lagi butuh pada musyawarah dalam permasalahan di atas, karena beliau telah mengetahui ketetapan rasulullah terhadap mereka yang berusaha memisahkan antara shalat dan zakat serta berkeinginan merubah aturan dan hukum dalam agama [Shahih al-Bukhari 9/112; Asy-Syamilah].
Adapun di dalam demokrasi, maka nash-nash syari’at tidaklah berharga karena demokrasi dibangun di atas asas al-Laadiniyah/al-’Ilmaniyah (ateisme). Oleh karenanya, demokrasi seringkali menyelisihi berbagai ajaran prinsipil dalam agama Islam seperti penghalalan riba, zina, dan berbagai hukum yang tidak sejalan dengan apa yang diturunkan Allahta’ala.

Kesimpulan
Kesimpulannya adalah tidak ada celah untuk menyamakan antara sistem yang dibentuk dan diridhai Allah untuk seluruh hamba-Nya dengan sebuah sistem dari manusia yang datang untuk menutup kekurangan, namun masih mengandung kekurangan, dan berusaha untuk mengurai permasalahan, namun dia sendiri merupakan masalah yang membutuhkan solusi [Asy Syura wa ad-Dimuqratiyyah al-Gharbiyyah hlm. 32].
Meskipun ada persamaan antara syura dan demokrasi sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian kalangan. Namun, terdapat perbedaan yang sangat substansial antara keduanya, mengingat bahwa memang syura adalah sebuah metode yang berasal dari Rabb al-basyar (Rabb manusia), yaitu Allah, sedangkan demokrasi merupakan buah pemikiran dari manusia yang lemah yang tentunya tidak lepas dari kekurangan.
Wallahu al-Muwaffiq.

Sumber rujukan :
  1. Asy Syura fi al-Kitab wa as-Sunnah wa ‘inda Ulama al-Muslimin karya Prof. Dr. Muhammad bin Ahmad bin Shalih ash-Shalih
  2. Asy Syura fi Dhlaui al-Quran wa as-Sunnah karya Prof. Dr. Hasan Dhliya ad-Din Muhammad ‘Atr
  3. Fitnah ad-Dimuqratiyah karya al-Imam Ahmad Walad al-Kiwari al-’Alawi asy-Syinqithi
  4. Makalah Nazharat Mu’ashirah fi Fiqh asy-Syura karya Prof. Dr. Ahmad ‘Ali al-Imam
  5. Syura bukan Demokrasi karya M. Shiddiq al-Jawi

Tuesday, 24 February 2015

Menikah tanpa Wali


Pertanyaan :
Saya bermukim di Perancis, saya menikah dengan wanita janda yang mempunyai anak.
Dahulu saya telah berhubungan badan dengannya yang tidak sesuai agama –zina- dan kami menikah setelah itu dan kami telah bertaubat kepada Allah dengan taubat sesungguhnya.
Yang menghadiri pernikahan kami adalah imam dari wilayah itu dan para saksi, ada 5 orang. Waktu itu saya tidak mengetahui akan persyaratan wali dalam menikah. Setelah kami menikah, saya bertanya tentang pendapat orang tuanya. Istrinya mengakatan kepadaku bahwa kedua orang tuanya tidak setuju atas pernikahan. Perlu diketahui bahwa kedua orang tuanya hidup di Maroko. Sementara istriku hidup di Perancis. Akan tetapi setelah pernikahan, mereka memaafkannya. Sekarang hubungan dengan mereka rekat sekali, mereka mengunjungi kami dan kami pun mengunjunginya. Sekarang saya mempunyai dua anak perempuan dengannya. Mohon saya diberi nasehat, semoga Allah membalas kebaikan anda. Apakah akad pernikahan kami sah atau tidak? Apa yang seharusnya saya perbuat?
Jawaban :
Alhamdulillah
Pertama
Kami memohon kepada Allah agar menerima taubat anda berdua. Mengampuni dan membantu kalian berdua dalam ketaatanNya serta memperbaiki ibadahnya.
Kedua
Akad (nikah) anda berdua tanpa persetujuan wali wanita, adalah batal. Anda harus mengulanginya dengan kehadiran wali. Kalau tidak dapat hadir, maka diwakilkan kepada orang yang melangsungkan pernikahan sebagai penggantinya. Dari Abu Musa radhillahu’anhu berkata, Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak (sah) nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Tirmizi, no. 1101, Abu Daud, no. 2085, Ibnu Majah, no. 1881. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Mayoritas ulama mengatakan, nikah tanpa wali adalah batal. Dan pelakunya harus dihukum agar jera. Mencontoh Umar bin Khattab radhiallahu’anhu. Ini adalah mazhab Syafii. Bahkan sekelompok dari mereka berpendapat agar ditegakkan hukuman hudud kepadnaya berupa rajam, atau lainnya.’ (Majmu Fatawa, 32/21)
Beliau juga mengatakan: “Al-Qu’an dan Sunnah dalam berbagai tempat, begitu juga kebiasaan para shahabat, menunjukkan bahwa para wanita dinikahkan oleh laki-laki. Tidak dikenal ada wanita menikahkan dirinya sendiri. Inilah yang membedakan antara hubungan pernikahan dengan hubungan haram. Oleh karena itu Aisyah radhiallahu’anha berkata, ‘Wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Karena pezina itu yang menikahkan dirinya sendiri.’ (Majmu Fatawa, 32/131)
Pemilik kitab ‘Aunul Ma’bud’ berkata, “Yang benar adalah bahwa nikah tanpa wali itu batal. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits.’
Bagi kalian berdua sekarang kalau ingin memperbaiki akad sesuai ajaran agama, hendaknya mengulangi lagi akad nikah dengan dihadiri wali dari istri dan persetujuannya. Hendaknya anda lakukan sesegera mungkin untuk meluruskan hal tersebut.  Sebab hubungan anda sekarang masih diharamkan, karena akad nikah terdahulu tidak sah. Dimungkinkan –agar secepatnya melakukan itu- menghubungi bapak  istri (mertua), lalu minta dia mengatakan, ‘Saya nikahkan anda’. Kemudian anda mengatakan ‘Saya terima’ dengan dihadiri dua orang saksi yang kenal suara bapak dan mendengarkannya.
Ketiga
Adapun terkait dengan anak-anak. Mereka disandarkan kepada anda, karena anda melakukan akad nikah tanpa wali dan anda menyangka itu adalah akad yang benar.
Wallahu’alam.