Wednesday, 21 February 2018

Dalil lebih diutamakan dari Fatwa ulama

Bismillah Assalamu Alaikum

📝 ‌Berkata Syaikh Shalih Fauzan _hafidzhahullah_  :


ولو كانوا علماء أو عباداً من أزهد الناس ما داموا ليسوا على حق فلا يجوز لنا اتباعهم، ومن اتبعهم وهو يعلم أنهم يحلون ما حرم الله، ويحرمون ما أحل الله، فقد اتخذهم أرباباً، يعني: أشركهم مع الله سبحانه وتعالى؛ لأن التحليل والتحريم حق لله جل وعلا، لا يجوز لأحد أن يحلل ويحرم ويشرع إلا بدليل من كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، 

Artinya : "Sekalipun mereka para ulama atau ahli ibadah yang termasuk orang yang paling zuhud,  selama mereka tidak berada di atas kebenaran maka tidak boleh bagi kita untuk mengikutinya.  Barang siapa yang mengikutinya padahal ia tahu bahwa mereka menghalalkan yang Allah haramkan dan mengharamkan yang Allah haramkan,  maka sungguh ia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan. Yaitu bahwa ia telah menjadikan mereka sekutu bersama Allah subhanahu wa ta'ala.  Karena menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Jalla wa 'Ala tidak boleh bagi seseorang menghalalkan,  mengharamkan dan mensyari'atkan kecuali dengan dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam.
📚 *Syarh Masailil Jahiliyah hal 141-142*.
Abu Sufyan Al Atsary... 🖋

BOLEHKAH HAFALAN AL-QUR'AN DIJADIKAN MAHAR?

Bismillah Assalamu Alaikum

Tanya

Assalamualaikuum 
Saya mau bertanya Ustadz ...apa faedahnya seorang perempuan meminta mahar surat Ar-Rahman kpda calon suaminya ?
Mohon pnjelasannys
Terimakasih 
Wassalamualaikum ...






Jawab

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Sebenarnya yang pertama perlu dijelaskan adalah hukum mahar berupa hafalan al-Qur'an. Bagaimana sih hukumnya?
1⃣ Mahar itu adalah hak wanita (isteri), yg disepakati para ulama haruslah berupa material (barang) ataupun jasa. 
2⃣ Jasa contohnya seperti membangunkan rumah, mengajarkan al-Qur'an, atau semisalnya, maka ini diperbolehkan dijadikan mahar. 
3⃣ Menyetor hafalan al-Qur'an sebagai mahar, diperselisihkan ulama. Mayoritas ulama melarangnya kecuali Syafi'iyah, yg berpendapat boleh hukumnya. 
4⃣ Pendapat yang paling kuat adalah makruh (dibenci) menjadikan hafalan al-Qur'an sebagai mahar. Lebih utama adalah menjadikan pengajaran al-Qur'an sebagai mahar. 
Misal, mengajarkan isteri al-Qur'an dan menghafalnya sebagai mahar, maka ini boleh. 
5⃣ Riwayat hadits Sahl bin Sa'ad yang menikahi wanita dg hafalan al-Qur'an, maka ini lantaran Sahl tdk memiliki apapun sebagai mahar. 
Karena itu jika ada pria yg tdk memiliki apapun dan menjadikan hafalan al-Qur'an sebagai mahar, maka ini diperbolehkan karena memang kondisinya demikian. 
Adapun seorang pria yang mampu memberikan harta sbg mahar, maka lebih utama baginya menjadikan harta tsb sebagai mahar nya.
Wallahu a'lam