Friday, 27 October 2017

Bidadari yang sedang Menyamar

Bismillah Assalamu Alaikum



Ibnu Qayyim Rahimahullahu, menyebutkan dalam sebuah hadist sahih dalam Musnad Imam Ahmad, bahwa ketika seorang suami beristrikan Hur‘ain (bidadari), kemudian pada saat itu akan datang seorang wanita lain yg kecantikan & keelokannya mampu membuat seorang raja melupakan wanita2 lainnya.
.
Siapa Wanita itu ?
.
Ternyata wanita tsb adalah istrinya selama di dunia. Itulah keistimewaan para istri di surga, dia akan menjadi RATU dari para Hur‘ain (bidadari). .
Lalu, Ibnu Qayyim mengatakan, “Apakah seorang raja pernah memikirkan para pelayan2-nya di hadapan Ratunya?” .
Tentu tidak ! Jadi, Alloh akan memberikan pada istri kecantikan yg luar biasa jauh melebihi para bidadari.
.
KIRA2, KENAPA BISA BEGITU ???
.
Ibnu Qayyim menjelaskan, “Karena Hur‘ain (bidadari) tidak pernah menghadapi kesulitan yg dirasakan wanita dunia. Mereka tidak pernah berjuang di jalan Alloh, tidak pernah dicemooh orang karena mengenakan hijab, tidak pernah merasakan sulitnya patuh pada suami, dll.”
.
Mengenai keistimewaan istri (wanita) di surga dibandingkan Bidadari, Rasulullah saw melalui haditsnya menyebutkan :
.
“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia & seisinya.” (HR. Bukhari & Muslim)
.
Bahkan dalam hadits yg lain disebutkan pula bahwa wanita dunia yg sholihah lebih utama daripada bidadari surga.

MUHAMMADIYAH TEMANKU, NU BAPAKKU, AL IRSYAD PONDOKKU, DAN ARAB TEMPAT KULIAHKU…

Bismillah Assalamu Alaikum


Itulah sejarah dan riwayat hidupku, terlahir di tengah keluarga NU, hidup berdampingan dengan saudara-saudara kaum NU, mengenyam pendidikan di salah satu lembaga pendidikan Al Irsyad, dan kuliah di negri Arab, dan kini menjadi salah satu dosen tidak tetap di salah satu kampus Muhammadiyah.

Sobat! Kalau anda hanya mau berinteraksi dengan orang yang serupa dan sewarna dengan anda, maka di dunia ini hanya ada 1 yang seperti anda, yaitu anda sendiri, alias silahkan hidup dt tengah belantara sana.

Namun bila anda menyadari bahwa anda memiliki tanggung jawab (karena anda berilmu) untuk bahu membahu dalam kebaikan dan memerangi kemungkaran, maka anda akan berinteraksi dengan siapapun, dalam rangka mengajarkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran. Sebagaimana anda juga punya kewajiban untuk belajar kabaikan dan mengikis kemungkaran atau kekurangan yang pasti ada dalam diri anda.

Yang benar disempurnakan, dan yang salah dibenahi, semuanya dengan cara yang lembut, bijak, dan tentunya harus ikhlas mengharap imbalan hanya dari Allah bukan dari siapapun dan tiada kepentingan apapun selain pahala dari-Nya.
Orang Yahudi saja wajib anda dakwahi, apalagi orang-orang yang jelas jelas dengan bangga mengaku sebagai orang Islam.
Anda tidak akan dapat hidup dengan nyaman bila mengabaikan prinsip ini, sampaipun di dalam rumah sendiri di tengah tengah karib kerabat sendiri.

Kalau anda berkata: banyak dari mereka memiliki kesalahan. Maka ketahuilah bahwa itulah tantangan dakwah, sebagaimana dahulu para sahabat ketika mendakwahi kaumnya, dari mereka ada yang kafir, yahudi, nasrani dan musyrik. Namun demikian, mereka tetap berinteraksi dan berdakwah, hingga akhirnya Islam menjadi jaya.

Anda diganggu, atau diusik, atau dimusuhi, maka itulah dinamika dakwah, yang harus anda hadapi, bukan dihindari. Rasul-pun dahulu dimusuhi, dimaki, dibenci, disakiti, tapi beliau tegar dan terus berdakwah, hingga tegak hujjah atas mereka. Yang semula bodoh menjadi berilmu, yang semula lupa jadi ingat, yang semua benci menjadi cinta, yang semula terbelenggu oleh nafsu dan bisikan setan, menjadi sadar, semua berkat kebesaran jiwa dan keuletan beliau, tentunya setelah mendapat izin dari Allah Ta’ala.

Setiap orang Islam asalnya adalah saudara anda, karena itu bila anda merasa mereka berbuat salah, maka kasihanilah mereka dengan cara mendakwahi, menasehati, mendoakan hidayah untuk mereka.
Namun bila anda merasa mereka berbuat baik, maka dukunglah. Demikian pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita:
( انصر أخاك ظالما أو مظلوما ) . فقال رجل يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره ؟ قال ( تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره )
“Tolonglah saudaramu, ia sedang berbuat zhalim ataupun ia sedang dizhalimi. Spontan seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, aku menolongnya di saat ia dizhalimi, lalau bagaimana caranya aku menolongnya di saat ia berbuat zhalim? Beliau menjawab: Engkau menghalanginya atau mencegahnya dari perbuatan zhalimnya, itulah bentuk pertolongan kepadanya.” (Bukhari)
.
.
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى