Monday, 23 October 2017

*Amal yang Melelahkan*

Bismillah Assalamu Alaikum

Kita sering membaca Al Qur'an ayat ke 3 surah Al-Ghosyiyah:
'Aamilatun nashibah
("Amal-amal yang hanya melelahkan")

Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yang banyak dan beragam, tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tata cara) yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.
Sahabat Umar bin Khathab selalu menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan.
Suatu hari Atha' As-Salami, seorang Tabi`in (generasi setelah Shahabat Nabi) yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar.
Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan,
"Wahai Atha', sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak bersedia membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha' termenung lalu menangis.
Melihat Atha' menangis, sang penjual kain berkata: "Atha' sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak bersedia membelinya.
Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka baiklah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang sesuai dengan kondisi barangnya."
Mendengar pernyataan sahabatnya itu, Atha' langsung menjawab :
"Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya?
Ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu.
Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Allah, dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, bisa jadi mungkin di mata Allah ibadahku penuh cacat dan cela.
Itulah yang menyebabkan aku menangis..."
Subhanallah...!
***
Saudaraku...
Mudah2an kita menyadari sedini mungkin tentang amal yang kita lakukan apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ataukah tidak.
Hanya dengan ilmu-lah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.
Maka, bukan hanya beramal dengan sebanyak-banyaknya,
tapi juga beramal dengan sebenar-benarnya dan berkualitas.
Karena Syarat diterimanya amal ibadah adalah_
Ketika amal itu ikhlas karena Allah dan
Sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Wallahu a'lam bish-shawwab...

HUKUM MEROKOK MENURUT SYARIAT

Bismillah Assalamu Alaikum


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :
Apa hukum merokok menurut syari’at, berikut dalil-dalil yang mengharamkannya?
Jawaban
Merokok haram hukumnya berdasarkan makna yang terindikasi dari zhahir ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah serta i’tibar (logika) yang benar.
Dalil dari Al-Qur’an adalah firmanNya.
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ
ۛ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” [Al-Baqarah/2 : 195]
Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu.
Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat tersebut adalah bahwa merokok termasuk perbuatan mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.
Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara shahih bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta adalah mengalokasikannya kepada hal yang tidak bermanfaat.
Sebagaimana dimaklumi, bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok adalah termasuk pengalokasiannya kepada hal yang tidak bermanfaat bahkan pengalokasian kepada hal yang di dalamnya terdapat kemudharatan.
Dalil dari As-Sunnah yang lainnya, sebagaimana hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi.
ﻻَ ﺿَﺮَﺭَ ﻭَﻻَ ﺿِﺮَﺍﺭ
َ
Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan juga tidak oleh membahayakan (orang lain)”
Jadi, menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syari’at, baik bahayanya terhadap badan, akal ataupun harta. Sebagaimana dimaklumi pula, bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan harta.
Adapun dalil dari i’tibar (logika) yang benar, yang menunjukkan keharaman merokok adalah karena (dengan perbuatannya itu) si perokok mencampakkan dirinya sendiri ke dalam hal yang menimbulkan hal yang berbahaya, rasa cemas dan keletihan jiwa.
Orang yang berakal tentunya tidak rela hal itu terjadi terhadap dirinya sendiri. Alangkah tragisnya kondisi dan demikian sesak dada si perokok, bila dirinya tidak menghisapnya. Alangkah berat dirinya berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya karena hal itu meghalangi dirinya dari merokok. Bahkan, alangkah berat dirinya berinteraksi dengan orang-orang yang shalih karena tidak mungkin mereka membiarkan rokok mengepul di hadapan mereka. Karenanya, anda akan melihat dirinya demikian tidak karuan bila duduk-duduk bersama mereka dan berinteraksi dengan mereka.
Semua i’tibar tersebut menunjukkan bahwa merokok adalah diharamkan hukumnya.
Karena itu, nasehat saya buat saudaraku kaum muslimin yang didera oleh kebiasaan menghisapnya agar memohon pertolongan kepada Allah dan mengikat tekad untuk meninggalakannya sebab di dalam tekad yang tulus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah serta megharap pahalaNya dan menghindari siksaanNya, semua itu adalah amat membantu di dalam upaya meninggalkannya tersebut.
Jika ada orang yang berkilah, “Sesungguhnya kami tidak menemukan nash, baik di dalam Kitabullah ataupun Sunnah RasulNya perihal haramnya merokok itu sendiri”.
Jawaban atas statemen ini, bahwa nash-nash Kitabullah dan As-Sunnah terdiri dari dua jenis.
1. Satu jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith (ketentuan-ketentuan) dan kaidah-kaidah di mana mencakup rincian-rincian yang banyak sekali hingga Hari Kiamat.
2. Satu jenis lagi yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada sesuatu itu sendiri secara langsung.
Sebagai contoh untuk jenis pertama adalah ayat Al-Qur’an dan dua buah hadits yang telah kami singgung di atas yang menujukkan secara umum keharaman merokok sekalipun tidak secara langsung diarahkan kepadanya.
Sedangkan untuk contoh jenis kedua adalah firmanNya.
ﺣُﺮِّﻣَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻴْﺘَﺔُ ﻭَﺍﻟﺪَّﻡُ ﻭَﻟَﺤْﻢُ ﺍﻟْﺨِﻨْﺰِﻳﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻫِﻞَّ ﻟِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑِﻪ
ِ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” [Al-Maidah/5 : 3]
Dan firmanNya.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮُ ﻭَﺍﻟْﻤَﻴْﺴِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺏُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺯْﻟَﺎﻡُ ﺭِﺟْﺲٌ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻞِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻓَﺎﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﻩ
ُ
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya (meminum) khamr, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu” [Al-Ma’idah/5 : 90]
Jadi, baik nash-nash tersebut termasuk ke dalam jenis pertama atau jenis kedua, maka ia bersifat keniscayaan (keharusan) bagi semua hamba Allah karena dari sisi pendalilan mengindikasikan hal itu
.
[Program Nur Alad Darb, dari Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin]HUKUM MEROKOK MENURUT SYARIAT
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :
Apa hukum merokok menurut syari’at, berikut dalil-dalil yang mengharamkannya?
Jawaban
Merokok haram hukumnya berdasarkan makna yang terindikasi dari zhahir ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah serta i’tibar (logika) yang benar.
Dalil dari Al-Qur’an adalah firmanNya.
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ
ۛ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” [Al-Baqarah/2 : 195]
Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu.
Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat tersebut adalah bahwa merokok termasuk perbuatan mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.
Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara shahih bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta adalah mengalokasikannya kepada hal yang tidak bermanfaat.
Sebagaimana dimaklumi, bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok adalah termasuk pengalokasiannya kepada hal yang tidak bermanfaat bahkan pengalokasian kepada hal yang di dalamnya terdapat kemudharatan.
Dalil dari As-Sunnah yang lainnya, sebagaimana hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi.
ﻻَ ﺿَﺮَﺭَ ﻭَﻻَ ﺿِﺮَﺍﺭ
َ
Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan juga tidak oleh membahayakan (orang lain)”
Jadi, menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syari’at, baik bahayanya terhadap badan, akal ataupun harta. Sebagaimana dimaklumi pula, bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan harta.
Adapun dalil dari i’tibar (logika) yang benar, yang menunjukkan keharaman merokok adalah karena (dengan perbuatannya itu) si perokok mencampakkan dirinya sendiri ke dalam hal yang menimbulkan hal yang berbahaya, rasa cemas dan keletihan jiwa.
Orang yang berakal tentunya tidak rela hal itu terjadi terhadap dirinya sendiri. Alangkah tragisnya kondisi dan demikian sesak dada si perokok, bila dirinya tidak menghisapnya. Alangkah berat dirinya berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya karena hal itu meghalangi dirinya dari merokok. Bahkan, alangkah berat dirinya berinteraksi dengan orang-orang yang shalih karena tidak mungkin mereka membiarkan rokok mengepul di hadapan mereka. Karenanya, anda akan melihat dirinya demikian tidak karuan bila duduk-duduk bersama mereka dan berinteraksi dengan mereka.
Semua i’tibar tersebut menunjukkan bahwa merokok adalah diharamkan hukumnya.
Karena itu, nasehat saya buat saudaraku kaum muslimin yang didera oleh kebiasaan menghisapnya agar memohon pertolongan kepada Allah dan mengikat tekad untuk meninggalakannya sebab di dalam tekad yang tulus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah serta megharap pahalaNya dan menghindari siksaanNya, semua itu adalah amat membantu di dalam upaya meninggalkannya tersebut.
Jika ada orang yang berkilah, “Sesungguhnya kami tidak menemukan nash, baik di dalam Kitabullah ataupun Sunnah RasulNya perihal haramnya merokok itu sendiri”.
Jawaban atas statemen ini, bahwa nash-nash Kitabullah dan As-Sunnah terdiri dari dua jenis.
1. Satu jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith (ketentuan-ketentuan) dan kaidah-kaidah di mana mencakup rincian-rincian yang banyak sekali hingga Hari Kiamat.
2. Satu jenis lagi yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada sesuatu itu sendiri secara langsung.
Sebagai contoh untuk jenis pertama adalah ayat Al-Qur’an dan dua buah hadits yang telah kami singgung di atas yang menujukkan secara umum keharaman merokok sekalipun tidak secara langsung diarahkan kepadanya.
Sedangkan untuk contoh jenis kedua adalah firmanNya.
ﺣُﺮِّﻣَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻴْﺘَﺔُ ﻭَﺍﻟﺪَّﻡُ ﻭَﻟَﺤْﻢُ ﺍﻟْﺨِﻨْﺰِﻳﺮِ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻫِﻞَّ ﻟِﻐَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑِﻪ
ِ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” [Al-Maidah/5 : 3]
Dan firmanNya.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮُ ﻭَﺍﻟْﻤَﻴْﺴِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺏُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺯْﻟَﺎﻡُ ﺭِﺟْﺲٌ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻞِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻓَﺎﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﻩ
ُ
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya (meminum) khamr, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu” [Al-Ma’idah/5 : 90]
Jadi, baik nash-nash tersebut termasuk ke dalam jenis pertama atau jenis kedua, maka ia bersifat keniscayaan (keharusan) bagi semua hamba Allah karena dari sisi pendalilan mengindikasikan hal itu
.
[Program Nur Alad Darb, dari Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin]

KENAPA KHALID BIN WALID DI COPOT SEBAGAI PANGLIMA PERANG..?

Bismillah Assalamu Alaikum

Sejarah perjuangan Islam telah mencatat Khalid bin Al Walid adalah salah satu panglima perang yang fenomenal, kemenangan demi kemenangan berhasil diperoleh Ummat Islam dibawah kepemimpinan beliau, sejak zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam hingga masa khilafah Abu Bakar As Siddiq. 

Kehebatan beliau telah diakui oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga beliau dijuluki sebagai "salah satu pedang Allah".
Namun demikian, ketika kekuasaan ummat Islam dipercayakan kepada Sahabat Umar bin Al Khatthab, beliau segera memberhentikan Kholid bin Al Walid dari kedudukan sebagai panglima perang. Beliau digantikan dengan Abu Ubaidah Aamir bin Al Jarrah radhiaallahu 'anhum.

Pernahkah anda berpikir, mengapa khalifah Umar mencopot Kholid bin Al Walid? Apa karena Kholid gagal, melakukan kesalahan, atau korupsi, atau berkhianat? 

Sama sekali tidak demikian, Khalifah Umar bin Al Khatthab mencopot beliau justru karena beliau berhasil bahkan selalu berhasil memenangkan peperangan. 

Kok demikian? Keberhasilan bukannya dipertahankan, namun malah dicopot dan digantikan!

Yah, itulah salah satu bukti kecerdasan dan kehebatan khalifah Umar bin Al Khatthab. Beliau hendak membuktikan kepada ummat bahwa kemenangan adalah karunia Allah, sebagai imbalan dari ketaatan ummat Islam kepada ajaran agama Islam. Sehingga siapapun pemimpinnya tetap saja Allah menurunkan pertolongan dan kemenangan bagi ummat Islam. 

Sebagaimana Khalifah Umar hendak mencegah terjadinya kultus kepada sosok Khalid bin Al Walid yang selalu menang dan berhasil. Dengan demikian ummat Islam dapat mempertahankan sumber kemenangan dan kekuatan yaitu pertolongan Allah berkat kepatuhan mereka menjalankan syariat bukan karena dipimpin oleh Kholid bin Al Walid.

Sebagaimana khalifah Umar juga hendak menyayangi sang panglima yang gagah berani dan selalu berhasil, agar tidak terbetik di hatinya kesombongan, sehingga muncul kesan : "untung ada saya, semua kemenangan berkat kehebatan saya, semua ini hasil kerja keras saya, semua berkat strategi saya ..."
Apakah sahabat Kholid bin Al Walid sakit hati, patah hati, kecewa dan dendam lalu meninggalkan medan perang? 

Ternyata tidak, beliau tetap berjuang dan berjihad di bawah bendera panglima yang baru yaitu Abu Ubaidah Bin Al Jarrah. Beliau mematuhi perintah dan mengikuti strategi dan kebijakan panglima baru yang menggantikannya.

Kok bisa demikian, betapa mudah beliau berlapang dada, menerima pergantian tersebut?
Ya, karena beliau berjihad hanya mencari keridhaan Allah dan demi tegaknya agama Allah, bukan mencari apresiasi atau gelar atau agar namanya dikenang, atau diakui jasa jasanya oleh atasan atau masyarakat.
Bagi Khalid bin Al Walid, diakui atau tidak, dikenang atau tidak, strategi perangnya dilanjutkan atau tidak, bukan masalah, karena apapun yang terjadi, semua peluh dan perjuangannya tiada sia sia, Allah Maha Tahu dan Maha Dermawan pasti akan memberi pahala terbaik kepada dirinya, walaupun rencana besarnya, atau strategi perangnya tidak lagi dilanjutkan oleh panglima penggantinya.

Semoga kebesaran jiwa sahabat khalid ketika memimpin dan ketika dipimpin, dapat kita warisi, terlebih di zaman keterbukaan informasi semacam ini.

Semoga Allah Taala berkenan mempertemukan kita semua dengan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam di surga-Nya, dan berkenan melimpahkan keimanan dan keikhalasan kepada kita semua sebagaimana yang telah Ia limpahkan kepada para sahabat. amiin
Dr.Muhammad Arifin Badri MA

Agar Selalu semangat dalam menuntut ilmu Syar'i

Bismillah Assalamu Alaikum

Ilmu Islam adalah ilmu yang punya keutamaan yang besar untuk dipelajari. Ketika seseorang mempelajarinya, maka ia mesti memupuk terus rasa semangat sehingga tidak kendor.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).


Imam Nawawi mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan. ” (Syarh Shahih Muslim, 16: 194).

Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi hafizhohullah menyebutkan ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar yang beliau simpulkan dari hadits di atas:

1. Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.
2. Meminta tolong pada Allah untuk meraih ilmu tersebut.
3. Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.


Demikianlah saudaraku sesama muslim marilah kita sellau bersemngat menuntut ilmu sampai akhir umur kita dan semoga kita dimatikan dalam menuntut ilmu Amin

BACAAN DI KALA MERASAKAN SAKIT

Bismillah Assalamu Alaikum


عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ أنه شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ
dari 'Utsman bin Abu Al 'Ash Ats Tsaqafy bahwa dia mengadukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam suatu penyakit yang ia derita di tububnya sejak masuk Islam.

 فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Letakkan tanganmu di tubuhmu yang kamu rasakan sakit, kemudian bacalah :

بِاسْمِ اللَّهِ
Bismillah (dengan nama Allah) 3X

Setelah itu bacalah :

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
A'udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru." (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari penyakit yang aku derita dan aku cemaskan) 7X

Adakah bid'ah hasanah?

Bismillah Assalamu Alaikum


Sebuah pertanyaan yang banyak membuat bingung kaum muslimin. Karena sebagian orang membolehkan dan sebagian lainnya melarang.

Padahal Allah telah meletakkan sebuah dasar di dalam Al Qur'an, yang seharusnya membuat mereka tidak perlu bingung ketika menghadapi sebuah polemik. Allah Ta'ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ... (59)' [سورة النساء]

Artinya : "Dan jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah masalah itu kepada Allah dan Rasulnya". (QS An Nisa' : 59)

Bahkan Allah tegaskan dalam lanjutan ayat di atas :

إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya : "Apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya"

Jadi mengembalikan urusan kepada Allah dan Rasul-Nya atau kepada Al Qur'an dan As Sunnah adalah tanda keimanan kepada Allah dan hari Akhir, dan sebaik-baik jalan yang di tempuh.

Sekarang, mari kita perhatikan bagaimana Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam menghukumi bid'ah. Beliau bersabda :

وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة

Artinya : "Dan seburuk-buruk perkara adalah yang di ada-adakan dan setiap bid' ah adalah sesat". (HR Muslim no 867).

Saudaraku, apakah hadits di atas masih kurang tegas, sehingga anda mencari-cari alasan untuk lari dari hukum beliau.

Ingatlah firman Allah :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya : "Maka demi Tuhanmu, pada hakikatnya mereka tidaklah beriman hingga menjadikan kami hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya".
(QS An Nisa' : 65)

Wallahu A'lam

Abu Sufyan Al Makassary