Sunday, 15 October 2017

Bila Kehidupanmu Tak Terarah

Bismillah Assalamu Alaikum



Ibnul Qayyim -rohimahulloh- mengatakan:
"Hati yang kacau tidak menentu, tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali menghadapkan hati itu kepada Allah". [Zadul Ma’ad 2/82].

Sufyan bin Uyainah -rohimahulloh- sebelumnya telah mengatakan:
"Para ulama dahulu biasa saling menasehati satu sama lain dengan kata-kata ini:
Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, niscaya Allah perbaiki keadaan lahirnya.
Barangsiapa memperbaiki hubungan dia dengan Allah, niscaya Allah akan perbaiki hubungan dia dengan manusia.
Barangsiapa beramal utk akhiratnya, niscaya Allah akan cukupkan kehidupan dunianya". [Kitab Ikhlash, karya Ibnu Abid Dunya].
—---
Seringkali kita merasa keadaan kita tidak terarah, tidak menentu, tidak teratur, hampa, gersang, dst.
Jika keadaan ini menimpa kita, ingatlah bahwa itu pertanda kita sudah jauh dari Allah.. Solusinya sangat sederhana sebenarnya, hanya saja semua kembali kepada kita, mau atau tidak untuk move on.
Segeralah kembali kepada Allah, dan fokuslah dengan ibadah.. Jika ibadah kita beres, Allah akan membereskan kehidupan kita dan memberkahi waktu kita, karena sangat tidak mungkin Allah menelantarkan orang yang mendekat kepada-Nya dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.
Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..
Oleh: Ustadz Musyaffa Ad Dariny

PERILAKU SEBAGIAN ORANG BERJENGGOT.

Bismillah Assalamu Alaikum


Berkata Asy Syeikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'iy rahimahullah:
إذا رأيت صاحب لحية كذابًا
»» Jika engkau melihat seorang yang berjenggot berdusta,
وإذا رأيت صاحب لحية خائنًا
»» Dan jika engkau melihat seorang yang berjenggot berkhianat,
وإذا رأيت صاحب لحية سارقًا
»» Dan jika engkau melihat seorang yang berjenggot mencuri,
العيب ليس في اللحية
Maka 'aib (celaan) itu bukan pada jenggotnya,
بل العيب في صاحب اللحية
Bahkan yang tercela adalah pemilik jenggot itu,
أمَّا اللحية ليس عليها عيب وهي من خصال الفطرة وهي أيضًا من سنن رسول الله صلى الله عليه و[على] آله وسلَّم التي أمر بها وأوجبها
Adapun jenggot, maka tidak ada aib (celaan) padanya, dan ia merupakan perkara fitrah, dan juga merupakan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang beliau perintahkan dan wajibkan.
_____
📒 Ijabatus Sa'il (222).
==================

JIKA BUANG ANGIN SAAT SHOLAT BERJAMA'AH SUDAH DIMULAI, BINGUNG MAU AMBIL WUDHU LEWAT MANA?

Bismillah Assalamu Alaikum

Kita dilarang lewat depan orang sholat (telah dibahas pada artikel sebelumnya), bagaimana saat kita sholat berjamaah, kita tiba-tiba kentut, akan ambil wudhu lagi atau keadaan darurat lainnya yang dibenarkan syar'i bingung lewat mana?



Jawabannya boleh lewat depan makmum jama'ah-jama'ah sholat. Karena kondisi depan makmum yang sholat berjama'ah adalah berada di depan imam. Sutrahnya makmum mengikuti imam.
Selain itu, hal tersebut adalah dalam kondisi darurat.
Ada riwayat yang mendukung keadaan tersebut. -akhir kutipan.

Allahu a'lam

Berikut ini tambahan dari Ustadz Yulian Purnama at muslim.or.id
Telah dijelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa makmum dalam shalat jama’ah tidak disunnahkan untuk membuat sutrah. Sutrah imam adalah sutrah bagi makmum. Namun apakah boleh seseorang lewat di depan para makmum? Atau bolehkah lewat diantara shaf shalat jama’ah? Dalam hal ini ada dua pendapat diantara para ulama :
1.
Hukumnya tidak boleh, berdasarkan keumuman larangan dalam hadits Abu Juhaim. Selain itu gangguan yang ditimbulkan oleh orang yang lewat itu sama baik terhadap orang yang shalat sendiri maupun berjama’ah.

2.
Hukumnya boleh berdasarkan perbuatan Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahihain, Ibnu Abbas berkata,

قْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى حِمَارٍ أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِمِنًى إِلَى غَيْرِ جِدَارٍ ، فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ بَعْضِ الصَّفِّ ، فَنَزَلْتُ وَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ ، وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ
“Aku datang dengan menunggang keledai betina. Ketika itu aku hampir menginjak masa baligh. Rasulullah sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap ke dinding. Maka aku lewat di depan sebagian shaf. Kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya. Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku itu” (HR. Al Bukhari 76, Muslim 504).
Perbuatan sahabat Nabi, jika diketahui Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan banyak sahabat namun tidak diingkari, maka itu adalah hujjah (dalil). Dan ini merupakan sunnah taqririyyah, sunnah yang berasal dari persetujuan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam terhadap sebuah perkataan atau perbuatan. Sehingga sunnah taqririyyah ini merupakan takhsis (pengkhususan) dari dalil umum hadits Abu Juhaim.

Yang shahih, boleh lewat di depan para makmum shalat jama’ah, yang melakukan hal ini tidak berdosa dengan dalil perbuatan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma. 

Namun andaikan bisa menghindari atau meminimalisir hal ini, itu lebih disukai. Karena sebagaimana jika kita shalat tentu kita tidak ingin mendapatkan gangguan sedikit pun, maka hendaknya kita pun berusaha tidak memberikan gangguan pada orang lain yang shalat.
(lihat Syarhul Mumthi, 3/279).
Allahu a'lam

Ziarah Kubur : Obat Keras Hati

Bismillah Assalamu Alaikum


Tatkala hati mulai mengeras, serasa lupa seluruh nikmat Allah yang telah diterima..
Cobalah sejenak mengunjungi rumah sakit agar kita tahu nikmatnya sehat..
Atau ziarah kubur supaya ringan seluruh beban dunia..
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
فَزُورُوَا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكّركُمُ الـمَوتَ
“Hendaklah kalian menziarahi kubur, karena ia akan mengingatkan akan kematian..” (Shahih, HR. Ibnu Hibban: 3169)
Ka'ab bertutur, “Barangsiapa mengenal kematian niscaya menjadi ringan seluruh musibah dan kegelisahan dunia..”
Karena dunia adalah 'hanyalah' fase tersingkat dari rangkaian perjalanan kehidupan kita..
@sahabatilmu.

KEBENARAN TETAP DISAMPAIKAN, BAIK DITERIMA MAUPUN TIDAK

Bismillah Assalamu Alaikum



✍🏼 Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:
نحن لا نترك بيان الحق وإن كان كثير من الناس لا يقبلونه.
"Kami tidak akan meninggalkan menjelaskan kebenaran, walaupun banyak orang yang tidak mau menerimanya."
Da’watut Tauhid wa Sihamul Mughridhin, hlm. 19

Jadi buat semua juru dakwah bersemangatlah dalam  walau dakwahmu di terima ataupun tidak