Saturday, 14 October 2017

Surga dan Neraka telah ditentukan buat seseorang lalau kenapa harus beribadah

Bismillah Assalamu Alaikum



Ana pernah dengar kalau jodoh, rizki, mati, takdir buruk/baik telah ditetapkan jauh sebelum kita lahir ke dunia. kalau memang demikian bukankah kalau seseorang telah ditakdirkan (misalnya menjadi ahli neraka) padahal di dunia ia berusaha untuk menjalankan ibadah sebaik mungkin sesuai syariat, kalau pada akhirnya ia telah ditakdirkan masuk neraka, alangkah sedihnya dia..kasihan ya ustadz..sia-sia apa yang telah dia kerjakan.
Mohon penjelasannya tentang takdir ini.
jawaban
=======
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Ya, semua yang Anda sebutkan telah ditentukan oleh Allah ta'ala. Ini didasarkan dari hadits:
حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ، «إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ مَلَكًا بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ، وَأَجَلُهُ، وَرِزْقُهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُ النَّارَ»
Telah bercerita kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan ialah orang yang jujur serta berita yang dibawanya adalah benar: ""Setiap orang dari kalian telah dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging) selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan dengan empat ketetapan (dan dikatakan kepadanya), tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, sengsara serta bahagianya, lalu ditiupkan ruh kepadanya.
Dan sungguh seseorang akan ada yang beramal dengan amal-amal penghuni neraka hingga tak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu ia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga kemudian masuk surga, dan ada juga seseorang yang beramal dengan amal-amal penghuni surga hingga tak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sejengkal saja, lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdirnya) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka lalu dia masuk neraka. HR. Bukhari no.3332 dan Muslim no.2643
Perlu difahami bahwa ini tidak berarti bahwa Allah ta'ala mendholimi hambanya yang bertahun-tahun banyak melakukan kebaikan, akan tetapi ada makna lain yang tidak nampak di dhohir hadits tersebut yaitu orang yang termasuk ahli neraka itu melakukan amalan kebaikan hanya dhohirnya saja, adapun batinnya maka niatnya tidaklah murni karena Allah ta'ala. Kesimpulan ini didasarkan pada hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Bukhari juga:
عَنْ سَهْلٍ، قَالَ: التَقَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالمُشْرِكُونَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ، فَاقْتَتَلُوا، فَمَالَ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى عَسْكَرِهِمْ، وَفِي المُسْلِمِينَ رَجُلٌ لاَ يَدَعُ مِنَ المُشْرِكِينَ شَاذَّةً وَلاَ فَاذَّةً إِلَّا اتَّبَعَهَا فَضَرَبَهَا بِسَيْفِهِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَجْزَأَ أَحَدٌ مَا أَجْزَأَ فُلاَنٌ، فَقَالَ: «إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ»، فَقَالُوا: أَيُّنَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، إِنْ كَانَ هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ القَوْمِ: لَأَتَّبِعَنَّهُ، فَإِذَا أَسْرَعَ وَأَبْطَأَ كُنْتُ مَعَهُ، حَتَّى جُرِحَ، فَاسْتَعْجَلَ المَوْتَ، فَوَضَعَ نِصَابَ سَيْفِهِ بِالأَرْضِ، وَذُبَابَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ، ثُمَّ تَحَامَلَ عَلَيْهِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَجَاءَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ». فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»
Dari Sahal ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berhadapan dengan Kaum Musyrikin di peperangan beliau, lalu mereka saling menyerang. Kemudian masing-masing pasukan bergabung dengan bala tentara mereka. Sementara diantara Kaum Muslimin terdapat seseorang yang tidak menyisakan seorang musyrik pun kecuali ia terus mengejarnya untuk dipenggal dengan pedangnya. Seseorang berkata; "Wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun yang mendapat ganjaran pahala sebagaimana yang didapat si fulan.

" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh orang itu termasuk penduduk neraka." Mereka balik bertanya; "Kalau begitu siapa diantara kami yang menjadi penduduk surga bila orang seperti ini termasuk penduduk neraka?." Kemudian seorang laki-laki dari kaum Muslimin berkata; "Aku akan mengikutinya". Maka dia mengikuti orang tersebut, hingga ketika dia mempercepat langkah atau memperlambatnya, aku selalu bersamanya. Akhirnya dia mendapatkan luka parah, kemudian ia ingin segera mati, dia meletakkan pedangnya di tanah dan ujung pedangnya diletakkah diantara dua dadanya, lalu dia menekannya, akhirnya dia membunuh dirinya sendiri.

Maka orang yang mengikutinya tadi pergi menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata; "Aku bersaksi bahwa tuan adalah benar-benar utusan Allah". Beliau bertanya: "Kenapa kamu berkata begitu?". Orang itu mengabarkan kepada beliau. Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penduduk surga berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia dari penduduk neraka. Dan ada seseorang yang mengamalkan amalan penduduk neraka berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia dari penduduk surga." HR. Bukhari no. 4207
Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama', termasuk syaikh Utsaimin. lih. Majmu' Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin 2/100-101

Teman yg bagaimana yg harus saya miliki ???

Bismillah Assalamu Alaikum

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :
وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا
“ Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut :
orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”
(Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).
.
1 hal yang harus kita ketahui bahwa bukan hanya dirikita saja yang harus kita perhatikan ,namun keluarga pun harus diperhatikan.
Allah Ta’ala juga berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah DIRIMU dan KELUARGAMU dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan “ (At Tahrim:6).
Semoga bermanfaat.

Bertafakur

Bismillah Assalamu Alaikum



*- Hati hidup dengan Iman...*
*- Hati mati dengan kekufuran..*
*- Hati sehat dengan ketaatan*
*- Hati sakit dengan tenggelam dalam maksiat*
*- Hati bangun dengan dzikir...*
*- Hati tidur dengan kelalaian..*

*Didalam niat menata hati untuk menjadi bersih / selamat, kiranya tidak mungkin hanya dengan ucapan, akan tetapi selain niat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala juga harus didukung dengan tekad yang kuat utamanya untuk melawan musuh utama yaitu NAFSU DIRI...*
*Harus JUJUR dan harus dilakukan secara ISTIQOMAH...*
🍂 *Rasulullah Shalallahu'alaihi wa salam bersabda:
*_"Sesungguhnya amal perbuatan itu pasti mengandung niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniat kan._*
*_Barangsiapa yang hijrahnya ditujukan karena Allah dan Rasul-Nya, berarti hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya"_*
( HЯ Bukhari, Muslim )
*Rajinlah melakukan TAFAKUR sesering mungkin utamanya saat mau tidur untuk introspeksi diri, kemudian mengevaluasi diri..*
🍂 *Lakukan perubahan diri sesuai dengan petunjuk-Nya..*
🍃 *Firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
*_"Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku"_*
( QS Al Baqarah :152.)
*TAFAKUR adalah suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah.*
*TAFAKUR akan meningkatkan TAUHID, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala berdasarkan akal pikiran dan perasaan atau HATI...*
*Selain untuk mendekat kan diri kepada Allah, TAFAKUR juga dapat digunakan untuk setiap saat melihat, memperhatikan perilaku, sifat, kejadian, masalah yang setiap saat muncul selama manusia menjalani kehidupan.*
*Untuk introspeksi diri...merubah menjadi yang lebih baik...*
*Dengan bertafakur.. semoga kita dapat memperbaiki diri menjadi yang lebih baik..*
*Aamiin ya rabbal'alamiin..*
*_Assalammualaykum..Selamat pagi._* 💐
*_Salam sehat dan semoga berkah..._*
*SELAMAT BERAKHIR PEKAN DENGAN KELUARGA TERSAYANG.SEMOGA BAROKAH..*

Istri dan Anak kita bisa saja Menjadi musuh

Bismillah Assalamu Alaikum

Apakah saat ini kita mempunyai musuh ?
Mari kita Perhatikan firman Allah ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
[Surat At-Taghabun : 14]
Allah menyebutkan kata "diantara atau sebagian" dalam ayat di atas, istri dan anak kita ada yg menjadi musuh bagi kita.
Untuk Suami:
Saat ini, saat kita berusaha bertakwa pada Allah, apakah istri kita menjadi musuh?
apakah anak kita demikian juga?
Untuk istri:
apakah saat ini kita menjadi sahabat karib yg setia menemani suami, dlm suka dan dukanya, dlm ketaatan padaNya?
Masing-masing kita tahu jawabannya.
Nikmat dan azab, senang dan sedih, itulah yg kita alami di dunia ini.
Semoga kita selalu mendapat pertolonganNya dan tidak ditinggalkanNya walau sedetik.
Ustadz abu Abu Hasan Arif