Friday, 18 August 2017

Kisah Syaikh Ibnu baz Dengan Seorang Pelajar Yaman

Bismillah Assalamu Alaikum

Kisah Syaikh Ibnu baz Dengan Seorang Pelajar Yaman
Muhammad Syabibah menuturkan :
Seorang pelajar asal Provinsi al-Juf, Yaman, yang bernama ‘Ali pindah ke Kerajaan Arab Saudi untuk menuntut ilmu. Suatu hari, al-Akh Ali ini bercerita kepadaku :
Saya pernah bertemu dengan Syaikh Ibnu Baz di depan halaman Universitas, lalu saya segera menyalami beliau dan mengatakan : “Wahai Syaikh, saya benar-benar ingin sekali sekiranya Anda sudi makan malam denganku malam ini.”


Tak kusangka, Syaikh pun menjawab : “Baik, in sya Allah!”
Syaikh lalu menambahkan : “Tapi dengan satu syarat, wahai anakku!”
Saya pun menimpali : “Dengan senang hati, Ya syaikh…”
Syaikh mengatakan : “Kita makan malam bareng tapi dengan syarat, jangan sampai kamu terbebani dan repot. Kita makan seadanya. Ingat, orang Islam wajib menjaga persyaratan yang ia sepakati.”
Saya menjawab : “Baiklah wahai syaikh. Saya akan menyiapkan makanan seadanya dan tidak repot.”
Syaikh Ibnu Baz berkata : “Semoga Allah memberkahimu! Bisakah kita makan malamnya selepas Isya’ namun agak terlambat sedikit ya? Karena saya ada janji sebentar setelah Isya’ untuk memberikan pelajaran.”
Saya : “Baik, syaikh”
Saya terperangan mendengar jawaban Syaikh. Jawaban yang sangat langka sekali dan tidak biasanya. Karena pada umumnya, saat kita mengundang orang sedangkan orang tersebut sudah memiliki acara lain, maka dia akan meminta maaf tidak bisa memenuhi undangan kita, apalagi orang selevel Syaikh Ibnu Baz yang sangat sibuk. Terlebih lagi yang mengundang adalah mahasiswa asing yang tidak dikenal dan tidak memiliki apa-apa.
Setelah itu, rasa khawatir beberapa kali menghampirku, karena Syaikh memiliki murid yang banyak. Beliau selalu dikerumuni banyak orang, belum lagi keluarga beliau yang selalu mendampinginya. Bagaimana jika mereka semua turut serta makan di rumahku? Ya Allah, Saya pun sempat resah karena hal ini…
Esok harinya, selepas shalat Isya, Syaikh memanggilku untuk menyertainya masuk ke dalam mobil. Saya pun naik mobil berdua saja dengan beliau bersama seorang lagi, yaitu sopir beliau. Saya berusaha melihat sekeliling, namun tidak kudapati ada orang lain lagi. Saya juga menengok ke luar mobil untuk melihat apakah ada mobil lain yang ikut dengan kita. Ternyata tidak ada.
Saya pun bersyukur dan bergumam dalam hati : “alhamdulillah, ternyata hanya Syaikh saja dan sopir beliau”.
Sang sopir lalu menyetir mobil mengantarkan kami hingga kami memasuki sebuah istana yang besar dan luas. Saya berbisik di dalam hati, “jangan-jangan ini rumah pedagang besar atau Menteri kerajaan.”
Saya pun terkejut ketika mobil berhenti, dan kami masuk ke istana yang sangat besar sedangkan di dalamnya telah menanti Raja Fahd berikut putera mahkota beliau, Raja Abdullah dan Amir Sulthan. Ada pula Amir Nayif Rahimahullah dan para bangsawan keluarga kerajaan. Mereka semua menyalami dan menyambut Syaikh dengan gembira, sembari mencium kening Syaikh Ibnu Baz.
Semua wajah yang biasa kulihat di televisi, kini kulihat semuanya di malam itu secara langsung di dalam Istana!! Saya pun semakin berdebar-debar tidak karuan.
Lalu syaikh Ibnu Baz duduk di atas kursi beliau di samping Raja dan putera mahkota. Mereka saling menyapa dan menanyakan kabar satu dengan lainnya, menawarkan kopi dan membakar gaharu yang wangi.
Syaikh lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian beliau memberikan taushiyah selama kurang lebih 20 menit. Majelis beliau diikuti dengan penuh ketundukan dan konsentrasi, semuanya diam mendengarkan seakan-akan mereka semua adalah murid Syaikh Ibnu Baz.
Kecuali diriku yang saat itu tidak bisa konsen karena grogi, saya memandangi Raja, lalu pindah memandangi putera mahkota dan pangeran, lalu pindah memandangi para Menteri. Mata saya selalu berputar-putar memandangi Raja Nayif, Raja Salman dan bangsawan lainnya. Saya merasa seakan-akan saya sedang mimpi!
Mungkin, sayalah satu-satunya di sana yang hadir dengan memakai pakaian ala kadarnya, padahal saya saat itu sedang bertemu dengan tiga kabilah besar dari kaum bangsawan dan kerajaan. Ya, Saya sekarang sedang bermajelis, duduk di depan bersama dengan raja, pangeran, para menteri dan pembesar kerajaan?!
Setelah selesai menyampaikan taushiyah, Syaikh pun bangkit dan minta izin untuk mohon diri. Raja Fahd pun menahan beliau agar turut serta santap malam yang telah disediakan… Namun, Syaikh Ibnu Baz memohon maaf dan mohon izin. Raja tetap bersikeras memaksa agar Syaikh mau turut serta makan malam.
Syaikh Ibnu Baz pun berkata : “Mohon maaf, saya telah diundang makan malam oleh salah seorang ikhwah. Sunnah Nabi adalah apabila ada dua undangan atau lebih saling bertabrakan, maka dahulukan untuk memenuhi yang pertama kali mengundang. Saya sudah berjanji dengan ikhwah tersebut untuk makan malam di rumahnya. Jadi, saya mohon maaf tidak dapat ikut makan malam bersama.”
Syaikh sama sekali tidak menyinggung dan menginformasikan ke Raja bahwa saya lah yang mengundang beliau. Sekiranya beliau menyampaikan bahwa saya yang mengundang, niscaya Raja akan menjawab. “yang mengundang anda ada di sini bersama anda. Karena itu marilah anda dan tamu anda ini makan bersama kami.” Sehingga udzur Syaikh pun gugur, dan kita bisa bersama-sama menyantap makanan yang lezat dan nikmat.
Namun Syaikh tidak melakukan itu. Beliau tetap meminta izin untuk pamit. Lalu raja dan pembesar kerajaan mengantarkan Syaikh berpamitan, mereka melakukannya dengan penghormatan sama persis sebagaimana mereka menyambutnya. Akhirnya kami bertiga pun bertolak pulang menuju ke rumahku. Lalu kita makan malam bersama secara sederhana.
Selesai makan malam, Syaikh mendoakanku dan keluargaku, lalu beliau pamit setelah beliau memenuhi janjinya.
Saya berbicara apa adanya di sini, bahwa Syaikh Ibnu Baz sudi memberikan waktunya untukku. Beliau lebih memilih undangan makanku yang sangat sederhana dibandingkan hidangan kerajaan yang jauh lebih nikmat dan lezat. Beliau lebih memilih memenuhi janjinya, padahal beliau sudah ada janji dengan keluarga kerajaan. Namun beliau lebih memilih undangan makan malamku, padahal siapa saya ini? Orang asing yang tidak dikenal! Orang biasa yang berasal dari desa al-Juf di Yaman sana.
Duhai, betapa agungnya tawadhu’nya orang-orang yang besar (senior).
Semoga Allah merahmati ‘allamah dunia, imamnya para ulama dan syaikhnya umat. Seorang ustadz yang betapa tawadhu’ dan zuhudnya…
________
Disadur secara bebas dari tulisan yang berjudul قصة الشيخ بن باز في ضيافة الرجل اليمني صاحب الجوف!! Yang ditulis oleh Muhammad Syabibah.
Artikel asli dishare oleh Syaikh Walid Saifun Nashr di dalam grup beliau : Nashâ’ih asy-Syaikh al-Walîd.
ℳـ₰
✿❁࿐❁✿
@abinyasalma

DAKWAH SALAFIYYAH, DAKWAH PENUH BERKAH YANG TERZALIMI

Bismillah Assalamu Alaikum



💐 DAKWAH SALAFIYYAH, DAKWAH PENUH BERKAH YANG TERZALIMI
--------------------------------------------
(menyibak kesalahan kelompok madzhab "benar semua", dan kesalahan identifikasi dakwah salafiyyah)

Oleh: abu abdirrahman bin muhammad suud al atsary

*فَاتَّقِى اللهَ وَاصْبِرِيْ فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ*

📚(رواه مسلم، فضائل فاطمة 2/245حديث 98)

_“...Maka hendaknya engkau bertaqwa dan bersabar, karena sesungguhnya aku adalah *sebaik-baik salaf* (pendahulu) bagimu"_

📚 (HR. Muslim)

*"Ojo rumongso bener dewe, opo ulama sak mene ake e iki salah kabeh, kabeh yo kepingin melebu surgo, opo kowe tok seng ahli surgo"*

(jangan merasa benar sendiri, apa ulama sebanyak ini salah semua, semua ya ingin masuk surga, apa kamu saja yang ingin masuk surga)

Ucapan seorang pada penulis dengan nada marah, ketika keluarga penulis ada yang wafat, dan penulis ingin meluruskan ritual yang tidak syar'i.

💥💥💥

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, yang telah menyeru manusia kepada Dien Allah, yang telah menasehati ummat, yang telah berjihad dengan sebenar benar jihad, yang mewariskan ajaran yang putih bersih, yang malamnya bagai siang, yang tidak berpaling darinya kecuali akan celaka,

لقدخاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤ منين رءوف رحيم

📖 سورة التو به ١٠ : ١٢٩



SEBAB SEBAB PENYIMPANGAN

Di antara sebab sebab orang tidak istiqomah dan bisa menyimpang dari kebenaran, yang kita berlindung dari penyimpangan setelah hidayah kepada Allah,

-niat yang jelek
-cinta dunia dan loba pada harta
-senang popularitas
-keinginan supaya di akui di semua golongan, lalu bersikap "bijak (?)" supaya di terima di semua orang
-hawa nafsu
-dan lainnya yang semisal.

💐💐💐

TUJUAN DAKWAH PARA RASUL

Seorang utusan shahabat Saad bin abi waqqos radiyallahuanhu, Rib'i bin Amir rahimahullah kepada Kisra Persia dengan pakaian sederhana dan pedang pendek di pinggang, di ajak dialog Kisra

"aku tidak melihat kalian arab (orang islam) , kecuali pengembala unta, aku tau kalian datang ingin harta, kembalilah kalian, akan aku beri kalian harta !"

Rib'i bin amir menjawab dengan penuh izzah,

"salah engkau sangka kami semacam itu, *kami datang untuk membebaskan para hamba dari peribadatan kepada hamba menuju peribadatan pada Rabb para hamba (Allah), dari kezaliman agama agama, kepada keadilan islam* !".

Dakwah ahlus sunnah wal jamaah salafiyah, adalah dakwah islam itu sendiri,

Mengajak manusia kembali kepada Allah dan Rasul Nya, menjalankan agama sesuai yang di fahami pendahulu yang shalih, bukan kepada kelompok dan individu,

Menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar dengan hikmah dan sebaik mungkin,

Mengajak manusia pada akhlak dan adab yang baik, ketinggian sikap, berbuat baik pada orang tua, kerabat, dan memenuhi hak hak persaudaraan dan seluruh hamba,

*Menginginkan kebaikan bagi manusia, sebagaimana mereka telah merasakan kebaikan dan keindahan serta manisnya iman dan hidayah*,

Namun demikian, dakwah yang penuh berkah ini di salah fahami sebagian manusia,

Mereka (salafiyin) di tuduh intoleransi (tidak toleran), tukang menyesatkan, pengapling surga, exsklusiv, tidak menghargai perbedaan, dan tuduhan lainnnya,

🌺🌺🌺

PERBEDAAN YANG BOLEH DAN YANG TIDAK BOLEH

karena ingin membela kesalahan, tidak senang melihat perubahan yang baik, serta sangkaan yang buruk dari hati yang busuk, dan mungkin sudah gerah dan iri serta dengki dengan berkembangan dakwah salafiyah yang penuh berkah ini,

*sebagian orang meneriakan*
*"jangan merasa benar sendiri, semua benar, semua punya dalil, punya ulama sendiri, jangan men-salah salah-kan !!!"*

Wahai orang yang jujur !, ketahuilah, tidak ada yang lebih berlapang dada dan lebih kasih pada manusia dan terbuka pada perbedaan fiqih, tidak akan anda temukan kecuali pada dakwah salafiyah !

Selama ada dalil dan semua shahih dan mutabar, maka seorang salafi sunni, akan terbuka dan menghormati perbedaan di atas ukhuwwwah,

*Namun, ternyata yang mereka inginkan bukan itu*,

Ternyata yang mereka inginkan agar seorang ahlus sunnah salafiyah berlapang dada atas penyimpangan aqidah, bid'ah, dan pencarian keuntungan sebagian tokoh agama, dan menghargai "perbedaan ?" *padahal itu bukan khilafiyah, tapi penyimpangan agama* dan demi menjaga "ukhuwwah ?" *padahal itu bukan ukhuwwah tapi sekedar "mengumpulkan"* sebagaimana ayat

_"kalian akan mengira mereka bersatu, sedang hati mereka bercerai berai"_

Mereka menuduh orang yang berusaha komitmen dan istiqomah dengan "merasa benar sendiri", padahal pada diri diri salafiyin sendiri merasa takut dan cemas bila bila amal mereka tidak di terima, dan mereka salafiyin berharap kebaikan pada saudaranya, meski "beda manhaj", berharap yang masih "beda" itu berusaha beramal sesuai sunnah, dan tiada kebencian sedikitpun,

Maka kami salafiyin ahlus sunnah akan menjawab, lebih baik kalian orang yang memiliki "penyakit dalam hatinya" diam !,

Lebih baik pada diri setiap muslim ada saling menasehati, dari pada sudah di katakan "sama sama benarnya", yang konsekwensinya adalah hilang nasehat,

*Untuk apa nasehat dan amar ma'ruf nahi mungkar, wong sudah benar ?*, hilang pilar masehat, padahal pilar islam di antaranya adalah nasehat,

Kami akan terus mendakwahkan ajaran Rasul, dan menyeru kepada kebaikan dan perbaikan, walau orang yang menyimpang benci !!!

Sungguh keji, kami mengajak pada kebaikan, sementara mereka menuduh kami dengan keburukan,

Kami mengajak agar setiap orang beramal di atas ilmu, mereka menuduh kami pengkapling surga,

Kami menyeru pada ukhuwwah di atas dalil dan aqidah yang benar, mereka menuduh kami merasa bener dewe (benar sendiri)

Kami mengajak kepada Allah dan Rasul Nya, sedang mereka mengajak pada hawa nafsu dan golongan !

Sungguh, semua tuduhan ini adalah kedustaan yang besar !,

Kami, salafiyin ahlus sunnah, sekali lagi menyeru anda sekalian kepada Allah, rasul, dan akhlak yang baik serta surga yang seluas langit dan bumi, serta ukhuwwah yang sebenarnya.

Abu abd rahman

🌺💐💐💐