Wednesday, 18 March 2015

Empedu Dunia, Madunya Akhirat


Hiburan bagi orang yang tertimpa musibah adalah ia melihat dengan menggunakan mata hatinya. Menyadari bahwa empedu di dunia pada dasarnya adalah madu di akhirat nanti. Beralih dari empedu dunia yang terbatas, menuju madu akhirat yang tak pernah habis, itu lebih baik dari kebalikannya.

 “Surga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci manusia, sementara Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang disukai hawa nafsu.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)


Demikian juga dalam riwayat yang lain, “Pada hari Kiamat nanti akan dihadirkan orang yang paling berbahagia di dunia yang akhirnya masuk Neraka, lalu dimasukkan sebentar ke dalam Neraka tersebut, kemudian ia ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah ada kebaikan yang pernah engkau alami?” Orang itu menjawab, “Sama sekali tidak wahai Rabbku.” Lalu dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia ini, namun kemudian masuk ke dalam Surga, dimasukkan ke dalam Surga sebentar, lalu ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah ada kesengsaraan yang pernah kau alami?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.” (HR. Muslim, Ahmad)

 Konteks kejadian ini menunjukkan tingkat berpikir manusia yang berbeda-beda dan juga perbedaan harkat manusia. Kebanyakan orang di zaman kita sekarang lebih mengutamakan manisnya dunia yang sekejap dibandingkan dengan manisnya akhirat yang tiada akhirnya. Mereka tidak mampu menahan empedu sesaat untuk merasakan madu nan abadi atau merasakan kesengsaraan sejenak demi kemuliaan selamanya. Dengan kata lain, cobaan sesaat demi keselamatan selama-lamanya.

Sesungguhnya yang tampak itu terlihat mata, sementara yang ghaib itu tiada kelihatan, di samping iman yang lemah juga kekuasaan hawa nafsu demikian dominan. Dari situlah lahir sikap mengutamakan dunia yang fana dan menolak kehidupan akhirat.

 Demikian selayang pandang tentang kebanyakan orang di jaman sekarang, dalam memulai cita-cita dan prinsip dasar mereka. Semua itu tiada lain karena kecintaan mereka terhadap kehidupan dunia.

 Adapan penglihatan yang lebih tajam, akan lebih menguak kehidupan dunia, mencoba menyapa kehidupan akhirat sebagai tujuan final kehidupan manusia. Itu jelas memiliki nilai yang berbeda. Silahkan jiwa kita memikirkan apa yang Allah persiapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya berupa kenikmatan abadi, kebahagiaan abadi, dan kemenangan yang besar, serta apa yang Allah persiapkan bagi orang-orang yang berbuat kebatilan dan membuang-buang kenikmatan berupa kehinaan, kerugian, dan adzab yang berketerusan.

 Lalu silahkan pilih, bagian mana yang layak bagi kita. Setiap orang akan beramal sesuai dengan profil dirinya, dan yang lebih layak menjadi hak dirinya. Ini lautan setitik himah dari saudaramu demi kebaikan kita dan demi menghibur diri kita. (Ummu Zulfa)


 Sumber :

Talsiyatu Ahlil Mashaib, Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Manjabi al-Hambali

Panjang Angan-Angan


Ada empat perkara yang mendatangkan kerugian, yaitu: mata yang tak pernah menangis, hati yang keras, panjang angan-angan, dan rakus terhadap dunia.

Panjang angan-angan akan melahirkan sifat malas berbuat taat dan menunda-nunda taubat, berambisi mengejar dunia, lupa terhadap akhirat, dan hati yang keras. Karena hati yang lembut dan bersih terlahir dengan banyak mengingat kematian, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. 

“…Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras…” (QS. al-Hadid : 16)

Atau sebuah hadits riwayat Bukhari dalam ar-Riqaaq, “Hati orang tua menjadi muda karena dua hal, cinta dunia dan panjang angan-angan.”

Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah berkata, “Yaitu syaithan memanjangkan angan-angan mereka dan menjanjikan bagi mereka umur yang panjang.”

Terapinya? Ingat mati, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. Sesungguhnya perkara-perkara itu akan membangunkan kita dari kelalaian. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika engkau berada di sore hari janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari janganlah tunggu sampai datang sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang masa sakit. Pergunakanlah kesempatan hidupmu sebelum datang kematian.”

Terapi kedua adalah segera beramal shalih. “Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara, tidaklah yang kalian tunggu itu selain kefakiran yang melalaikan, kekayaan yang menyombongkan, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang melenyapkan, kedatangan Dajjal sejahat-jahat yang dinantikan atau hari kiamat, dan hari kiamat itu sangat pedih dan sangat pahit.” (HR. at-Tirmidzi dalam az-Zuhd)

Orang yang membatasi angan-angannya akan sedikit kesedihan dan akan bersinar hatinya.

Hai orang-orang yang sibuk dengan dunianya
Ditipu oleh angan-angan kosong
Sementara kematian datang sekonyong-konyongnya
Kubur akan menjadi kotak amal
Sesungguhnya dunia ibarat bayangan yang akan hilang
Atau seperti tamu yang bermalam dan akan segera pergi