Monday, 9 March 2015

Takdir Dan Tingkatan-Tingkatannya (2/2)


Lebih dalam lagi mengenai takdir, penulis Syarh Aqidah Al-Wasithiyah menerangkan tentang iman kepada penulisan takdir seperti takdir yang meliputi seluruh makhluk, penulisan perjanjian (ketika di alam rahim), penulisan rezki, penulisan penetapan tahunan dan penulisan penetapan harian. Selain itu juga, menjelaskan secara ringkas sebagian jenis qalam (pena) alat penulis takdir itu.


Iman Kepada Penulisan Takdir, Mencakup Lima Takdir:

Takdir yang meliputi seluruh makhluk

Artinya, Allah telah mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakannya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya berikut dalil-dalilnya, dalam empat tingkatannya.

Takdir kedua adalah penulisan mitsaq (perjanjian), ketika Allah berfirman,

Dan (ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan,
"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini." (Al-A’raf: 172)


Takdir Al-’Umri (Penetapan umur): sekaligus penetapan rezki, aja, dan amal perbuatan seorang hamba, serta apakah ia bahagia ataukah sengsara, yaitu ketika masih berada di perut ibunya.
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud 2

Takdir As-Sanawy (Penetapan tahunan). Allah berfirman,
Pada malam itu, dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad-Dukhan:
4)

Ibnu Abbas berkata,


Ketika lailatul qadar, ditulislah pada ummul kitab, segala yang akan terjadi pada tahun itu, baik yang berupa kebaikan, keburukan, maupun rezki.


Takdir Al-Yaumi (Penetapan harian). Allah
Ta’ala berfirman,


Setiap hari Dia dalam kesibukan. (Ar-Rahman: 29)

Jadi, setiap hari Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan,
mengangkat derajat suatu kaum, merendahkan kaum yang lain. 3

Takdir ini adalah penggiringan berbagai ketentuan kepada waktu yang
telah ditentukan sebelumnya. Takdir yaumy ini merupakan rincian takdir
umri (usia) ketika ruh ditiupkan ke janin yang ada di dalam perut
ibunya.


Sedangkan takdir umri juga merupakan rincian dari takdir pertama,
di masa mitsaq (perjanjian), dan takdir di masa mitsaq ini merupakan
perincian dari takdir yang ditulis oleh qalam dalam
Lauh Mahfuzh. 4



Menurut petunjuk As-Sunnah, qalam tersebut terdapat empat macam:

Qalam pertama yang umum dan menyeluruh, meliputi seluruh makhluk.

Qalam kedua ketika Adam diciptakan. Qalam ini juga bersifat umum,
tetapi hanya meliputi seluruh bani Adam saja.

Qalam ketiga ketika malaikat diutus kepada janin yang berada di perut
ibunya. Qalam ini digunakan untuk menulis empat kalimat.

Qalam keempat diciptakan untuk seorang hamba ketika telah mencapai
baligh. Qalam ini dipegang oleh para malaikat pencatat, yang mereka
gunakan untuk mencatat apa yang dikerjakan oleh bani Adam. 5


Apabila seorang hamba telah mengetahui bahwa kesemua itu berasal dari
sisi Allah, maka yang wajib baginya adalah meng-esa-kan Allah dalam
beribadah dan bertakwa kepadanya. 6

Seorang hamba berkewajiban untuk menjalankan usaha dengan penuh kesungguhan
seraya meminta pertolongan dan petunjuk kepada Allah, ia harus yakin
bahwa tidak ada musibah yang menimpanya selain dari apa yang telah
dituliskan Allah untuknya, serta meyakini dengan seyakin-yakinnya
bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
kebajikan dan tidak menzhalimi walaupun sekecil biji dzarrah pun.


Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrahpun, niscaya
ia akan melihatnya. (Az-Zalzalah: 7 – 8).

Catatan Kaki



2
Muslim IV / 2036.

3

Lihat Al-Ma’arij Al-Qabul II / 345.

4

Ibid. hal. 24

5

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hafizhahullah berkata bahwa
jumlah qalam tersebut hanya diketahui oleh Allah. Memastikan jumlahnya
dengan empat saja, bukanlah sesuatu yang bagus. Ibnul Qayyim pernah
menyebutkan empat qalam ini, tetapi bukan berarti tidak ada qalam
lain selain yang empat ini, karena telah dikatakan bahwa ada qalam
kelima yang digunakan untuk menulis apa saja yang terjadi dalam satu
tahun, pada lailatul qadar…


Jadi, tidak boleh memastikan bahwa qalam itu hanya ada empat. Banyak
sekali qalam yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah. Karena itu,
dalam hadits mi’raj, beliau bersabda, "Terdengar suara goresan
qalam (pena) …" Jumlahnya bisa jadi empat, seratus, atau
seribu, dan hanya Rabb kita sajalah yang mengetahuinya. Syarh
Ath-Thahawiyah
, Ibnu Baz dalam 32 kaset.

6

Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Arnauth, hal.
235.

Takdir Dan Tingkatan-Tingkatannya (1/2)


Setelah penulis memaparkan mengenai takdir pada bab sebelumnya secara singkat, pembahasan selanjutnya dari Syarh Aqidah Al-Wasithiyah adalah mengulas lebih dalam mengenai masalah takdir dan tingkatan-tingkatannya. Apa saja?

Takdir merupakan salah satu dari enam rukun iman. Di muka telah disebutkan secara global mengenai iman kepada takdir. Kemudian, penulis Rahimahullah menyebutkan di sini secara terperinci.

Takdir adalah ketentuan Allah Ta’ala terhadap segala sesuatu sejak
masa dahulu, Ilmu Allah Ta’ala bahwa itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu yang diketahui-Nya dan dengan sifat-sifat tertentu, penulisan hal itu oleh-Nya, kehendak-Nya terhadapnya, kejadiannya sesuai dengan
apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan penciptaannya oleh-Nya. 1

Syaikh Rahimahullah telah menyebutkan empat tingkatan takdir, yang harus diimani sebagaimana Ahlus Sunnah mengimaninya.


1 Tingkatan Pertama

Beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui apa yang dikerjakan oleh seluruh makhluk, dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Allah telah mengetahui segala keadaan mereka, yang berupa ketaatan, rezki, maupun ajal. Dia mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, apa yang tidak terjadi bila ia terjadi, serta bagaimana ia terjadi. Allah Ta’ala berfirman,



Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
(Ath-Thalaq: 12)


Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-’Ankabut: 62)

2 Tingkatan Kedua

Penulisan segala sesuatu oleh Allah di dalam Lauh Mahfuzh, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Hadid: 22)


Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin: 12)

3 Tingkatan Ketiga

Kehendak Allah yang berlaku, yang tidak bisa ditolak dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dihindarkan oleh suatu apapun. Seluruh peristiwa terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Adapun yang Dia kehendaki, niscaya terjadi dan apapun yang tidak Dia kehendaki, niscaya tidak terjadi. Allah berfirman,

Dan kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb semesta alam. (At-Takwir: 29)

4 Tingkatan Keempat

Mencipta adalah wewenang Allah Ta’ala. Dialah Khaliq
(pencipta), sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,



Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az-Zumar: 62)


Adakah sesuatu pencipta selain Allah? (Fathir: 3)

Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu yang telah terjadi, bersamaan dengan itu Dia memerintahkan para hamba untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya serta melarang mereka dari kemaksiatan terhadap-Nya.

Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang berbuat adil serta meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai kaum yang fasik. Dia tidak memerintahkan perbuatan keji, tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, dan tidak mencintai kerusakan. Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ada sebagian ulama yang memadukan keempat tingkatan takdir ini dalam
satu bait sya’ir sebagai berikut:



(Taqdir) adalah ilmu, penulisan dan kehendak Maula kita


Begitu juga penciptaan-Nya, yaitu pengadaan dan pembentukannya



Catatan Kaki



…1

Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 121.

Imam Nawawi


Siapa yang kenal dengan Imam Nawawi? Mungkin banyak dari saudara-saudara kita yang belum tau beliau dibanding karya beliau yang terkenal luas oleh kaum muslimin, yaitu "Riyadhus Shalihin"; Atau tau nama beliau dari karyanya itu. Untuk lebih mengenal beliau dan mendekatkan kita dengan ulama’, kami suguhkan uraian singkat dari biografi beliau. 



1 Nama dan Nasabnya


Beliau adalah Al Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Hussain bin Jumu’ah bin Hizam Al Hizamy An Nawawi Asy Syafi’i.


2 Kelahirannya


Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa daerah Hauran termasuk wilayah Damaskus Syiria.


3 Sifat – sifatnya


Beliau adalah tauladan dalam kezuhudan, wara’, dan memerintah pada yang ma’ruf dan melarang pada yang mungkar.


4 Pertumbuhannya


Ayahandanya mendidik, mengajarnya, dan menumbuhkan kecintaan kepada ilmu sejak usia dini. Beliau mengkhatamkan Al Qur’an sebelum baligh. Ketika Nawa tempat kelahirannya tidak mencukupi kebutuhannya akan ilmu, maka ayahandanya membawanya ke Damaskus untuk menuntut ilmu, waktu itu beliau berusia 19 tahun. Dalam waktu empat setengah bulan beliau hafal Tanbih oleh Syairazi, dan dalam waktu kurang dari setahun hafal Rubu’ Ibadat dari kitab muhadzdzab.

Setiap hari beliau menelaah 12 pelajaran, yaitu dua pelajaran dalam Al Wasith, satu pelajaran dalam Muhadzdzab, satu pelajaran dalam Jamu’ baina shahihain, satu pelajaran dalam Shahih Muslim, satu pelajaran dalam Luma’ oleh Ibnu Jinny, satu pelajaran dalam Ishlahul Manthiq, satu pelajaran dalam tashrif, satu pelajaran dalam Ushul Fiqh, satu pelajaran dalam Asma’ Rijal, dan satu pelajaran dalam Ushuluddin.


5 Guru – guru


Di antara guru – gurunya dalam ilmu fiqh dan ushulnya adalah Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al Maghriby, Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad Al Maqdisy, Sallar bin Hasan Al Irbily, Umar bin Indar At Taflisy, Abdurrahman bin Ibrahim Al Fazary.

Adapun guru – gurunya dalam bidang hadits adalah Abdurrahman bin Salim Al Anbary, Abdul Aziz bin Muhammad Al Anshory, Khalid bin Yusuf An Nabilisy, Ibrahim bin Isa Al Murady, Ismail bin Ishaq At Tanukhy, dan Abdurrahman bin Umar Al Maqdisy.

Adapun guru – gurunya dalam bidang Nahwu dan Lughah adalah Ahmad bin Salim Al Mishry dan Izzuddin Al Maliky.


6 Murid – muridnya


Di antara murid muridnya adalah Sulaiman bin Hilal Al Ja’fary, Ahmad bin Farrah Al Isybily, Muhammad bin Ibrahim bin Jama’ah, Ali bin Ibrahim Ibnul Aththar, Syamsuddin bin Naqib, Syamsuddin bin Ja’wan dan yang lainnya.


7 Pujian para ulama kepadanya


Ibnul Aththar berkata,


"Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara’, muraqabah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang – bidangnya, rijalnya, dan ma’rifat shahih dan dha’ifnya, beliau juga seorang imam dalam madzhab fiqh."

Quthbuddin Al Yuniny berkata,


"Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, wara’, ibadah, dan zuhud."

Syamsuddin bin Fakhruddin Al Hanbaly,


"Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat wara’ dan zuhud."



8 Aqidahnya


Al Imam An Nawawi terpengaruh dengan pikiran Asy ‘ariyyah sebagaimana nampak dalam Syarh Shahih Muslim dalam mentakwil hadits – hadits tentang sifat – sifat Allah. Hal ini memiliki sebab – sebab yang banyak di antaranya ;


Terpengaruh dengan pensyarah Shahih Muslim yang sebelumnya seperti Qadhi Iyadh, Maziry, dan yang lainnya, karena beliau banyak menukil dari mereka ketika mensyarah Shahih Muslim.

Beliau belum sempat secara penuh mengoreksi dan mentahqiq tulisan – tulisannya, tetapi beliau tidak mengikuti semua pemikiran Asy’ariyyah bahkan menyelisihi mereka dalam banyak masalah.

Beliau tidak banyak mendalami masalah Asma’ wa Sifat, sehingga banyak terpengaruh dengan pemikiran Aay’ariyyah yang berkembang pesat di zamannya.



9 Di antara keadaan – keadaannya


Ibnul Aththar berkata,


"Guru kami An Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia – nyiakan waktu , tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan manghafal."

Rasyid bin Mu’aliim berkata,


"Syaikh Muhyiddin An Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah – buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur."



10 Tulisan – tulisannya


Di antara tulisan – tulisannya dalam bidang hadits adalah Syarah Shahih Muslim, Al Adzkar, Arba’in, Syarah Shahih Bukhary, Syarah Sunan Abu Dawud, dan Riyadhus Shalihin.

Diantara tulisan – tulisannya dalam bidang ilmu Al Qur’an adalah At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an.


11 Wafatnya


Al Imam An Nawawi wafat di Nawa pada 24 Rajab tahun 676 H dalam usia 45 tahun dan dikuburkan di Nawa. semoga Allah meridhoinya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya.

Rujukan: Tadzkiratul Huffadz oleh Adz Dzahaby 4 / 1470 – 1473 dan Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/230 – 231.

Panglima Pertama


Ingin tahu siapa Panglima pasukan Islam yang pertama? Dia adalah Abdullah bin Jahsy. Simak kisah bagaimana dia dipilih oleh Rasulullah serta apa tugas yang diemban olehnya.

Beberapa orang sahabat Rasulullah telah hijrah ke Habasyah untuk menghindari tekanan orang-orang Kafir. Mereka lari kepada Allah dengan membawa agama mereka. Jumlah mereka ada delapan puluh tiga orang. Di antara mereka yang hijrah tadi adalah Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab.

Setelah dua bulan para muhajirin berada di Habasyah, mereka mendengar kabar bahwa penduduk Makkah sudah memeluk Islam semuanya. Maka Ieblh dari tiga puluh orang di antara mereka kembali Makkah. Tap, ketika mereka sudah dekat dengan Makkah, barulah mereka menyadari bahwa kabar itu meleset, maka sebagian di antara mereka memasuki Makkah dengan diam-diam. Sebagian yang lain mendapatkan perlindungan dari beberapa pemuka Qurays.

Abdullah bin Jahsy termasuk mereka yang kembali ke Makkah, lalu tinggal di sana di bawah tekanan orang-yang Qurays. Bersama kaum muslimin yang lain dia harus mendapatkan berbagai macam penyiksaan dan tekanan hingga dilakukan embargo secara total terhadap nabi dan para sahabat selama tiga tahun.

Hijrah Ke Madinah

Begitu gencar permusuhan yang dilancarkan orang Qurays terhadap Rasulullah. Sementara setiap sahabat pernah mengalami penyiksaan. Meski demikian Rasulullah tidak berputus asa. Beliau pada setiap musim haji menemui para kabilah dan memperkenalkan dirinya. Pada tahun kesebelas sesudah kerasulan beliau bertemu beberapa orang dari Khazraj. Maka pada tahun itu pula Islam menyebar di kota Madinah. Penyiksaan yang dilakukan orang-orang Qurays semakin gencar setelah mereka tahu keislaman orang-orang Khazraj. Hal itu diadukan para sahabat kepada Rasulullah dan mereka meminta untuk hijrah.

Kemudian Rasulullah bersabda, "Aku sudah diberitahu tempat hijrah kalian, yaitu Yastrib. Siapa yang menghendaki untuk pergi akan dia pergi ke sana."

Orang-orang muslim mulai pergi secara sembunyi-sembunyi. Sementara Abdullah bin Jahsy merupakan rombongan kedua dari Muhajirin. Dia membawa seluruh keluarganya, juga bersama saudaranya Ubaid bin jahsy. Semua keluarganya sudah masuk Islam. Dengan demikian perkampungan Bani Jahsy menjadi sepi, menyisakan angin yang berhembus di jalan-jalannya. Setelah hijrah mereka disusul Utbah bin Rabi’ah, Al Abbas bin Abdul Muthalib dan Abu Jahl bin Hisyam. Utbah mengawasi perkampungan Bani jahsy yang sepi tanpa penghuni sambil bersyair.


Lalu Utbah bin Rabi’ah berkata "Kini tempat kediaman Bani jahsy kosong tanpa penghuni" Abdullah bin Jahsy dan saudaranya menetap di tempat kediaman Ashin bin Tsabit bin Abul Aflah. Sementara Bani Jahsy lainnya menetap di beberapa rumah Anshar lainnya di Madinah. Rasulullah menunjukkan kegembiraan atas hijrahnya Bani jahsy. Beliau memuliakan mereka karena mereka termasuk rembongan awal yang hijrah ke madlnah, terutama Abdullah, anak bibi Rasulullah.

Orang-orang Qurays tidak bisa tinggal diam karena hijrah Rasulullah dan para sahabatnya ke Madinah. Nabi menyadari gentingnya suasana. Maka beliau mulai mengirim detasemen-detasemen untuk menyelidlki jalur perdagangan Qurays menuju Syam, yang membawa barang-barang dagangan mereka. Hal ini dimaksudkan untuk membuka mata Qurays tentang hakikat kedudukan kaum Muslimin.

Detasemen-detasemen yang dikirim ini tidak mengalami kejadian apapun dan tidak pula terjadi pertempuran. Pada bulan Rajab tahun kedua setelah hijrah Nabawi, Rasulullah mengirim sekumpulan Muhajirin yang jumlahnya tidak lebih dari delapan orang. Beliau bersabda kepada mereka, "Aku benar-benar akan mengangkat pemimpin untuk kalian, orang yang paling sabar di antara kalian dalam menghadapi rasa lapar dan dahaga."

Ternyata pilihan itu jatuh kepada Abdullah bin Jahsy. Dialah yang
diangkat sebagai pemimpin detasemen dan merupakan pemimpin pasukan yang pertama dalam Islam. Adapun tugasnya adalah mencari intormasi tentang keadaan orang-orang Qurays. Nabi menulis selembar surat dan memerintahkan agar surat itu baru boleh dibuka setelah mereka mengadakan selama dua hari. Setelah perialanan dua hari surat itu henar-benar dibuka yang ternyata di dalamnya tertera, "Teruskan perjalanan hingga engkau tiba di sebuah kebun korma antara Makkah dan Thaif lalu sampaikan informasi tentang mereka kepada kami."


Setelah Abdullah bin jahsy melihat isi surat itu, dia berkata "Sam’an wa tha’atan." Aku mendengar dan aku taat. Dia memberitahukan isi surat itu kepada rekan-rekannya, seraya berkata ‘Aku diperintahkan untuk tidak memaksa seorang pun di antara kalian. Siapa di antara kalian menginginkan mati syahid dan mengharapkannya, maka silakan lanjutkan perjalanan. Namun siapa yang tidak suka, maka dia dapat kembali. Adapun aku akan melaksanakan perintah Rasulullah"

Abdullah bin Jahsy melanjutkan perjalanan bersama rekan-rekannya, dan tak yang pun di antara mereka yang kembali, hingga tiba di sebuah tempat yang bernama Najran. Di sana unta Sa’ad bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan lepas, sehingga mereka harus mencarinya dan tidak dapat bergabung.


Sementara Abdullah bin jahsy melanjutkan perjalanan bersama rekan-rekannya yang lain hingga tiba di kebun korma yang dimaksudkan. Di sanalah kafilah dagang Qurays lewat. Setelah saling bertukar pikiran tak berapa lama, Waqid bin Abdillah melepaskan anak panah mengenai Amr bin Hadrami hingga membunuhnya dan mereka juga menawan AI Hakam bin Kaisan serta Utsman bin Abdillah. Sedangkan Naufal bin Abdillah dapat melepaskan diri dan tidak dapat dikejar lagi. Abdullah bin jahsy bersama rekan-rekannya membawa barang dagangan milik Qurays dan dua orang tawanan, hingga mereka menghadap Rasulullah. "Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang pada bulan suci," sabda Rasulullah kepada mereka. Beliau mendiamkan barang dagangan dan dua orang tawanan tanpa menyentuh sedikit pun di antara barang-barang tersebut.


Orang-orang kaflr Qurays mempergunakan peristiwa ini untuk melemparkan tuduhan terhadap orang-orang mukmin dan mencerca Muhammad serta rekan-rekan beliau, mereka menampakkan kaum muslimin sebagai orang-orang yang tidak menjaga kesucian di bulan suci.


Orang-orang musyrik dan Quays menjadikan peristiwa in sebagai alas untuk memprovokasi dan menyebarkan huru hara. Bahkan di kalangan kaum muslimin sendiri terjadi perdebatan tentang hal ini dan banyak di antara mereka yang mengingkari tindakan Abdullah bin jahsy dan rekan-rekannya, karena mereka telah melakukan pelanggaran di bulan suci. Celaan dan cercaan mulai ditimpakan kepada mereka dari segala penjuru sehingga Abdullah bin Jahsy dan rekan-rekannya merasa bumi ini begitu sempit padahal ia Iuas. Mereka menganggap bahwa diri mereka pasti akan dijatuhi hukuman mati karena tindakan itu. Keadaan ini masih ditambah lagi karena orang-orang Yahudi juga ikut-ikutan menebarkan kekacauan.

Pada saat itulah turun ayat Al Quran yang menyanggah anggapan orang-orang musyrik dan menguatkan apa yang dilakukan Abdullah bin jahsy terhadap orang-orang musyrik

"Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:"Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah. (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya,lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dasanya) dari pada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran). seandainya mereka sanggup."
(AI-Baqarah: 217)

Isu dan tuduhan yang sengaja dilontarkan orang-orang musyrik dljawab
Al Quranul karim. Dengan turunnya ayat ini maka orang muslim menjadi gembira, mereka mengucapkan selamat kepada Abdullah bin jahsy, setelah AI Quran mensucikan tindakan mereka. Dengan begitu Rasulullah mengamankan barang dagangan dan dua orang tawanan. Lalu orang-oang Qurays mengirim utusan untuk menebus dua orang tawanan mereka, maka Rasulullah bersabda "Kami tidak akan menerima tebusan bagi mereka berdua sebelum dua rekan kami dibebaskan"


Yang beliau maksudkan adalah Sa’ad bin Abi Wagash dan Utbah bin Ghazwan yang ditahan pihak Qurays. setelah Sa’d bin Utbah tiba di Madinah,
barulah kedua orang itu dibebaskan. Tapi justru AI Hakam bin Kaisan menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam, lalu dia menetap bersama Rasulullah dan keislamannya menjadi baik.


Setelah kebenaran kembali ke tempatnya dan kedudukan Abdullah bin Jahsy beserta rekan-rekannya menjadi tinggi maka mereka menemui Rasulullah seraya berkata,

" Wahai Rasulullah kami ingin agar kami sama dengan orang-orang
yang berperang dan agar kami diberi pahala sebagai mujahidin."
Maka Allah menurunkan ayat,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang
berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (AI-Baqarah:
218)

Detasemen yang dipimpin Abdullah bin Jahsy menjadi keberkahan bagi orang-orang muslim. Itulah harta rampasan yang pertama kali dalam Islam dan korban dari musyrikin merupakan korban pertama di tangan orang muslim, begitu pula tawanannya merupakan tawanan pertama dalam Islam. sedangkan pemimpin detasemen, Abdullah bin jahsy adalah yang pertama kali dipanggil Amirul Mukminin.

Dikutip dari majalah Elfata edisi 02/IV/2004 hal 51 – 53.

Pengobatan dengan Ruqyah


Oleh: dr. M. Saifudin Hakim
Tidak semua praktik ruqyah yang dilakukan ternyata sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meskipun yang melakukan ruqyah tersebut bergelar ustadz, kyai, atau yang lainnya.

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala, kalau kita melihat apa yang terjadi pada dewasa ini, maka kita jumpai bahwa pengobatan dengan metode ruqyah menjadi semakin marak, bahkan di sejumlah kota telah muncul “klinik ruqyah”. Akan tetapi, maraknya praktik ruqyah tersebut menuntut kaum muslimin untuk lebih bersikap jeli dan teliti karena tidak semua praktik ruqyah yang dilakukan ternyata sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meskipun yang melakukan ruqyah tersebut bergelar ustadz, kyai, atau yang lainnya. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kesembuhan dari Allah Ta’ala, namun di sisi lain kita justru melanggar syariat dan ketentuan AllahTa’ala? Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas sedikit tentang metode pengobatan ruqyah ditinjau dari Al Qur’an dan As-Sunnah. 

Pengertian Ruqyah
Ruqyah adalah bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar’i (berdasarkan nash-nash yang pasti dan shahih yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah) sesuai dengan ketentuan-ketentuan serta tata cara yang telah disepakati oleh para ulama. Hakikat dari ruqyah adalah seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala untuk meminta kesembuhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Ruqyah merupakan salah satu bentuk doa”. (Majmu’ Fataawa)

Dalil-Dalil yang Menunjukkan Bolehnya Pengobatan dengan Ruqyah

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa ruqyah merupakan di antara sebab kesembuhan seseorang dari penyakit yang diderita. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya),“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra’ [17]: 82)
Ketika menjelaskan ayat ini, seorang ulama ahli tafsir, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah,mengatakan, ”Firman Allah dalam ayat ini (yaitu),’suatu yang menjadi obat’ mencakup obat bagi penyakit hati, seperti keragu-raguan, nifaq, dan lain sebagainya. Dan juga obat bagi penyakit badan (penyakit jasmani) dengan dibacakan ruqyah kepada penyakit tersebut. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah diruqyahnya orang yang disengat kalajengking dengan surat Al-Fatihah. Kisah ini merupakan kisah yang shahih dan terkenal”. (Tafsir Adhwa’ul Bayaan, hal. 598)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Obat yang terkandung dalam Al-Qur’an bersifat umum, yaitu mencakup obat bagi penyakit hati dari syubhat, kebodohan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan maksud-maksud yang jelek. Al-Qur’an mengandung ilmu yang dapat menghilangkan setiap syubhat dan kebodohan, mengandung nasihat dan peringatan yang dapat menghilangkan hawa nafsu yang menyelisihi perintah Allah. Al-Qur’an juga mengandung obat bagi badan dari penyakit yang menimpanya”. (Tafsir Taisiir Karimir Rahman, hal. 465)
Adapun dalil dari As-Sunnah, di antaranya adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau berkata,”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meniupkan kepada dirinya (bacaan) mu’awwidzatain (yaitu surat Al-Falaq dan An-Naas, pen.) ketika sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia. Ketika beliau sudah lemah, maka saya meniupkan (bacaan) mu’awwidzatain untuknya dan saya mengusap dengan menggunakan tangan beliau, karena mengharapkan berkahnya.” (HR. Bukhari)
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menceritakan bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi atau didatangi orang sakit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Hilangkan penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengobatan dengan ruqyah juga telah dipraktikkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu pernah meruqyah Tsabit ketika sakit dengan berdoa, ”Ya Allah, Rabb manusia, Penghilang sakit, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha penyembuh, tidak ada Penyembuh kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. (HR. Bukhari)

Syarat-Syarat Ruqyah yang Diperbolehkan
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama bersepakat tentang bolehnya ruqyah jika terpenuhi tiga syarat berikut ini. Pertama, dengan menggunakan kalamullah (Al-Qur’an), nama-nama, atau sifat-sifat Allah Ta’ala.Kedua, dengan menggunakan bahasa Arab atau bahasa lain yang dapat difahami maknanya. Ketiga, berkeyakinan bahwa ruqyah tersebut tidak dapat memberikan pengaruh (menyembuhkan penyakit) dengan sendirinya, tetapi karena Allah Ta’ala. (Fathul Baari, 10/220)
Apabila tidak memenuhi syarat-syarat di atas, maka ruqyah tersebut tidak diperbolehkan. Termasuk di dalamnya yaitu ruqyah-ruqyah yang mengantarkan kepada kemusyrikan dan juga ruqyah dengan menggunakan bahasa yang tidak dapat difahami maknanya (baca: mantra-mantra atau jampi-jampi) karena dikhawatirkan akan mengantarkan kepada syirik sehingga tidak diperbolehkan sebagai bentuk kehati-hatian. Dan apabila ruqyah tersebut mengandung unsuristighatsah (meminta bantuan) kepada jin, maka termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ruqyah model inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,”Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shahih)

Di antara dalil yang menunjukkan tidak diperbolehkannya ruqyah kalau mengandung unsur kemusyrikan adalah hadits yang diriwayatkan dari Auf bin Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, ”Kami melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Maka kami berkata,’Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang hal tersebut?’” Maka Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tunjukkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa dengan suatu ruqyah selama tidak mengandung unsur kemusyrikan”. (HR. Muslim)

Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata, ”Mereka (para ulama) bersepakat bahwa tidak boleh mengucapkan segala bentuk mantra-mantra, jampi-jampi, dan sumpah yang mengandung unsur kemusyrikan kepada Allah. Meskipun dengan cara itu mereka bisa menundukkan jin dan yang lainnya. Demikian pula, tidak boleh mengucapkan perkataan yang mengandung unsur kekafiran, atau ucapan yang tidak diketahui maknanya. Karena adanya kemungkinan bahwa di dalamnya terkandung unsur kemusyrikan tanpa kita ketahui”. (Syarh Al ‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, 2/769)

Ringkasnya, hakikat dari ruqyah yang tidak syar’i adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Baghawi rahimahullah, ”Dan yang terlarang darinya adalah ruqyah yang terkandung kemusyrikan, atau disebutkan (nama) setan yang durhaka, atau tanpa menggunakan bahasa Arab serta tidak diketahui maknanya. Barangkali (jika tidak diketahui maknanya) ada unsur sihir atau kekufuran di dalamnya”. (Syarhus Sunnah, 12/159)
Praktik Ruqyah yang Menyimpang
Seringkali kita jumpai di majalah atau tabloid tertentu, adanya pihak-pihak yang menawarkan metode pengobatan dengan ruqyah ini. Namun, apabila kita mencermati lafadz-nya (baca: mantra), kita tidak bisa memahami maknanya karena menggunakan bahasa-bahasa yang terasa amat asing bagi kita. Kita tidak mengerti bahasa apa yang digunakan. Bahkan terkadang kita jumpai model ruqyah yang menggunakan kumpulan huruf yang tidak bermakna atau kumpulan huruf yang terpotong-potong. Model ruqyah lainnya menggunakan lafadz-lafadz ruqyah yang mereka klaim terdapat pada sayap malaikat Jibril, atau tertulis pada pintu surga, atau kepercayaan-kepercayaan khurafat yang lainnya.

Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin waspada dari hal ini. Meskipun mereka menyatakan bahwa mantra-mantra yang mereka miliki sangat ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Apalagi di kemudian hari kita mengetahui bahwa kalimat-kalimat dalam mantra tersebut mengandung unsur permintaan tolong kepada setan, jin, atau wali, serta mengandung unsur pengagungan dan penyembahan kepada setan atau pelecehan terhadap AllahTa’ala, pelecehan terhadap Al-Qur’an, atau kalimat-kalimat kekafiran. Inilah model ruqyah atau mantra yang telah diperingatkan oleh para ulama rahimahumullah di atas.

Praktik ruqyah yang lainnya adalah tipu daya yang dilakukan dengan menggunakan surat atau ayat Al-Qur’an, akan tetapi dengan membolak-balik ayatnya. Bagian awal dijadikan akhir, yang akhir dijadikan pertengahan, yang tengah dijadikan di awal, dan seterusnya. Mereka meyakini bahwa ayat dengan dimodel seperti ini memiliki kesaktian tertentu yang dapat menyembuhkan penyakit. Orang awam yang tidak memahami hal ini, dia akan menyangka bahwa dirinya sedang diruqyah dengan bacaan Al-Qur’an.

Kewaspadaan ini harus semakin ditingkatkan apabila mantra-mantra tersebut harus dibaca dengan melakukan suatu ritual tertentu, misalnya harus dibaca dengan mengunyah bawang merah atau ditiupkan ke dalam air. Bahkan harus dibaca dengan melakukan ritual penyembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala, nadzar kepada selain Allah Ta’ala, atau perbuatan syirik lainnya. Praktik ini seringkali dilakukan oleh tukang ruqyah yang juga seorang dukun atau paranormal yang melakukan pengkaburan kepada kaum muslimin dengan mengatasnamakan pengobatan alternatif atau yang semisalnya.

Inilah beberapa penjelasan terkait dengan ruqyah yang dapat kami sampaikan. Karena banyaknya praktik ruqyah yang menyimpang di tengah-tengah kaum muslimin, maka semoga tulisan ini bisa menjadi perhatian dan peringatan kepada kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari para peruqyah gadungan yang tidak sesuai dengan syariat AllahTa’ala. Kami berharap kepada Allah Ta’ala semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya dengan harapan dapat meraih ilmu dan kebaikan dunia dan akhirat. [dr. M. Saifudin Hakim*]

*Penulis adalah staf pengajar Ma’had Al-‘Ilmi Putri, aktif menulis buku, dan mengelola kegiatan dakwah untuk muslimah di sekitar kampus UGM
Artikel www.buletin.muslim.or.id

Fenomena Ziarah Wali


Fenomena kesyirikan yang marak dilakukan di bumi pertiwi yang kita cintai ini tidak lepas dari pengkultusan yang berlebihan terhadap para wali. Lumrah jika para wali patut dihormati, namun yang ganjil dan keliru adalah mengkultuskan wali tersebut secara berlebihan dan mensejajarkannya dengan kedudukan Rabbul ‘alamin.

Fenomena Ziarah Wali
Pengultusan individu sangat bertolak belakang dengan ajaran penghulu para wali, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah melarang umatnya mengkultuskan beliau secara berlebihan dalam sabdanya,

َا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani memuji ‘Isa bin Maryam (puncak pengkultusan kaum Nasrani kepada nabi ‘Isa adalah menuhankan ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam, pen-). Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka panggillah aku dengan hamba Allah dan rasul-Nya” (HR. Bukhari nomor 3261).

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan,
قوله لا تطروني لا تمدحوني كمدح النصارى حتى غلا بعضهم في عيسى فجعله إلها مع الله وبعضهم ادعى أنه هو الله وبعضهم بن الله
“Maksud sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah janganlah kalian mengkultuskanku seperti perbuatan kaum Nasrani yang mengkultuskan ‘Isa bin Maryam kemudian menjadikannya sesembahan di samping Allah atau bahkan lebih dari itu sebagian dari mereka mengklaim ‘Isa adalah Allah atau anak Allah” (Fathul Baari 12/149).

Pengkultusan inilah yang mendorong sebagian besar kaum muslimin untuk berkunjung ke kuburan para wali. Wisata religi, penamaan sebagian orang atas kegiatan ini. Meski kegiatan tersebut membuat masyarakat merogoh kocek dalam-dalam, menempuh perjalanan yang jauh serta berpeluh, toh mereka tidak peduli karena mereka berkeyakinan mengunjungi kuburan para wali adalah perbuatan yang memiliki keutamaan, apalagi fenomena ini telah berlangsung sekian lama dan rutin dilakukan oleh sebagian besar penduduk negeri.

Oleh karena itu, kami akan membahas hadits syaddur rihal yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id Al Khudri radliallahu ‘anhu. Karena hadits ini memiliki kaitan yang erat dengan fenomena ziarah kubur wali atau yang dibungkus dengan label wisata religi.

Hadits Syaddur Rihal
Dari Abu Sa’id al Khudri radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد مسجد الحرام ومسجد الأقصى ومسجدي
“Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, masjid Al Aqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari nomor 1197).
Dalam hadits yang lain, Abu Sa’id mengatakan, “Aku mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تشدوا الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد مسجدي هذا والمسجد الحرام والمسجد الأقصى
“Janganlah kalian mempersiapkan perjalanan (bersafar), kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.” (HR. Muslim nomor 827).

Hadits Nabi yang mulia di atas menyatakan keutamaan dan nilai lebih ketiga masjid tersebut daripada masjid yang lain. Hal tersebut dikarenakan ketiganya merupakan masjid para nabi ‘alaihimus salam. Masjidil Haram merupakan kiblat kaum muslimin dan tujuan berhaji, Masjidil Aqsha adalah kiblat kaum terdahulu dan masjid Nabawi merupakan masjid yang terbangun di atas pondasi ketakwaan (Al Fath 3/64). Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk melakukan safar menuju ketiga tempat tersebut dan mereka dilarang untuk melakukan safar ke tempat lain dalam rangka melakukan peribadatan di tempat tersebut meskipun tempat itu adalah masjid.

Ziarah Kubur Wali
Larangan yang tercantum dalam hadits Abu Sa’id diatas juga mencakup perbuatan yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu menziarahi berbagai tempat yang diyakini memiliki keutamaan apabila seorang beribadah disana seperti kubur para wali rahimahumullah.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang dibawa oleh imam Ahmad dalam Musnad-nya  yang menyebutkan pengingkaran sahabat Abu Basrah Al Ghifari radliallahu ‘anhu atas tindakan Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang mengunjungi bukit Thursina kemudian melaksanakan shalat disana (HR. Ahmad nomor 23901 dengan sanad yang shahih). Abu Basrah mengatakan kepada beliau, “Jika aku berjumpa denganmu sebelum dirimu berangkat, tentulah engkau tidak akan pergi kesana (karena aku akan melarangmu).” Kemudian beliau berdalil dengan hadits syaddur rihal di atas dan Abu Hurairah menyetujuinya.

Pengingkaran Abu Basrah terhadap apa yang diperbuat oleh Abu Hurairah merupakan indikasi bahwa larangan yang terkandung dalam hadits bersifat umum, mencakup seluruh tempat yang diyakini memiliki keutamaan dan dapat mendatangkan berkah.
Diantara dalil yang menguatkan hal ini adalah riwayat yang shahih dari Qaz’ah. Dia berkata, “Aku berkeinginan untuk pergi menuju bukit Thursina maka aku pun bertanya kepada Ibnu ‘Umar mengenai keinginanku tersebut.” Ibnu ‘Umar pun mengatakan, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah suatu perjalanan diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut, Masjidil Haram, masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Masjidil Aqsha”?! Urungkan niatmu tersebut dan janganlah engkau mendatangi bukit Thursina!” (HR. Al Azraqi dalam Akhbaru Makkah hal. 304 dengan sanad yang shahih).

Syaikhul Islam Ahmad bin ’Abdil Halim Al Harrani rahimahullah mengemukakan sebuah alasan yang logis mengenai hal ini. Beliau mengatakan,
فقد فهم الصحابي الذي روى الحديث أن الطور وأمثاله من مقامات الأنبياء ، مندرجة في العموم ، وأنه لا يجوز السفر إليها ، كما لا يجوز السفر إلى مسجد غير المساجد الثلاثة . وأيضًا فإذا كان السفر إلى بيت من بيوت الله -غير الثلاثة- لا يجوز ، مع أن قصده لأهل مصره يجب تارة ، ويستحب أخرى ، وقد جاء في قصد المساجد من الفضل ما لا يحصى- فالسفر إلى بيوت الموتى من عباده أولى أن لا يجوز

”Sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut sangat memahami bahwa bukit Thursina dan berbagai tempat semisalnya, yang notabene adalah tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh para nabi tercakup dalam keumuman larangan. Oleh karena itu, bersafar menuju tempat-tempat tersebut tidak diperbolehkan, sebagaimana bersafar ke masjid selain tiga masjid yang disebutkan dalam hadits juga tidak diperkenankan. Bersafar (mengadakan perjalanan jauh) ke salah satu masjid Allah tidak diperkenankan, padahal pergi menuju masjid terkadang diwajibkan atau dianjurkan bagi penduduk kampung karena terdapat banyak keutamaan yang tak terhitung akan hal itu. Apabila hal tersebut tidak diperbolehkan, maka tentu bersafar menuju kuburan para hamba-Nya lebih layak untuk tidak diperkenankan.” (Al Iqtidla 2/183).

Syaikh Ash Shan’ani rahimahullah mengatakan,
”Konteks hadits ini menunjukkan pengharaman bersafar untuk mengunjungi berbagai tempat selain ketiga tempat yang disebutkan di dalam hadits seperti menziarahi orang-orang shalih, baik yang hidup maupun telah wafat dengan tujuan bertaqarrub (beribadah) disana. Selain itu, larangan tersebut mencakup tindakan bersafar ke berbagai tempat yang diyakini memiliki keutamaan dengan tujuan bertabarruk dan melaksanakan shalat disana. Pendapat ini merupakan pendapat Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini (imam Al Haramain-pen) dan juga Al Qadli ’Iyadl (keduanya merupakan ulama Syafi’iyyah-pen).” (Subulus Salam 1/89).

Penutup
Berdasarkan penjelasan diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan sebagian kaum muslimin, yaitu berziarah ke kuburan para wali rahimahumullah telah menyelisihi ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ridlwanullah ’alaihim jami’an. Larangan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radliallahu ‘anhu mencakup perbuatan mereka tersebut.
Patut dicamkan hal ini bukan berarti melarang kaum muslimin untuk berziarah kubur. Akan tetapi, yang terlarang adalah melakukan perjalanan jauh dan berpeluh untuk mengunjungi tempat atau kuburan yang diyakini memiliki keutamaan dalam rangka beribadah disana. Adapun menziarahi kubur tanpa melakukan safar, maka hal ini disyari’atkan dalam agama kita apabila dilakukan dalam rangka mendo’akan mayit, mengingat kematian dan kehidupan akhirat.

Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi menetapkan,
“Tidak diperbolehkan bersafar untuk menziarahi kuburan para nabi dan orang shalih atau selain mereka. Hal ini adalah perbuatan yang tidak memiliki tuntunan dalm agama Islam. Dan dalil yang melarang hal tersebut adalah sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi) dan masjid Al Aqsha.” Begitupula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunan dari kami, maka amal tersebut tertolak.” Adapun menziarahi kubur mereka tanpa melakukan safar maka hal ini dianjurkan berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Ziarahilah kubur, sesungguhnya hal itu dapat mengingatkan seorang pada kehidupan akhirat.” Diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya.” (Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhutsi Al ’Ilmiyah wa Al Ifta, jawaban pertanyaan ketiga dari Fatwa nomor 4230, Maktabah Asy Syamilah).
Wash shalatu was salamu ’ala nabiyyinal mursalin. Al hamdu lillahi rabbil ’alamin.

Pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tentang Wali Allah dan Karamah Para Wali


Sebagian besar masyarakat di sekitar kita yang belum memahami agama secara baik memandang bahwasanya seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa seperti bisa berjalan di atas air, terbang di udara, bertapa di goa selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan, minum, dan tidur, adalah para wali Allāh subḥānahu wa ta’ālā. Meskipun jika ditelusuri, ternyata orang yang punya kemampuan luar biasa tersebut tidaklah mengerjakan shālat lima waktu, tidak berpuasa Ramaḍān, dan lain-lain. Asal sudah bisa terbang dan pakai gamis,  sudah dianggap termasuk wali. Benarkah demikian? Siapakah wali Allāh yang sesungguhnya?

Siapakah Wali Allāh?

Wali Allāh adalah orang-orang yang dekat dengan Allāh subḥānahu wa ta’ālā dan dicintai oleh Allāh. Mereka dinamakan ‘wali Allāh’ karena memiliki kedekatan khusus kepada Allāh dan karena Allāh mencintai mereka. Allāh ta’ālā berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Ketahuilah bahwasanya wali-wali Allāh tidak memiliki rasa takut dan tidak bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa”

(QS. Yunus : 62-63)

Perhatikanlah ayat di atas. Allāh subḥānahu wa ta’ālā menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan wali Allāh adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, bukan orang yang bisa terbang atau bisa berjalan di atas air. Maka, wali Allāh adalah orang yang memiliki dua sifat berikut: “iman dan takwa”.

Barangsiapa mengaku dirinya adalah wali Allāh, atau dianggap oleh masyarakat sebagai wali Allāh, padahal dia tidak beriman dan tidak pula bertakwa, dia bukanlah wali Allāh, melainkan seorang pendusta.
Pandangan Ahlus Sunnah Terhadap Wali Allāh

Al Imam Abu Ja’far Aṭ Ṭahawi raḥimahullāh memaparkan pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap wali Allāh sebagai berikut,

وَلَا نُفَضِّلُ أَحَدًا مِنَ الْأَوْلِيَاءِ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ وَنَقُولُ: نَبِيٌّ وَاحِدٌ أفضل من جميع الأولياء

“Kami tidaklah melebihkan seorang walipun di atas kedudukan para nabi ‘alaihimus salaam. Dan kami mengatakan : ‘Seorang nabi lebih utama daripada seluruh wali’”

Inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap wali Allāh. Ahlus Sunnah mengatakan : wajib mencintai para wali Allāh, serta meneladaninya, memberikan loyalitas kepadanya, dan dekat dengannya. AKan tetapi, Ahlus Sunnah tidaklah berlebihan dalam mencintai para wali. Ahlus Sunnah tetap memposisikan mereka sebagaimana mestinya dan tidak melebihkannya di atas kedudukan para nabi. Kedudukan nabi tetap lebih utama dibandingkan kedudukan wali. Para nabi pasti wali Allāh, tetapi tidak setiap wali Allāh adalah nabi.

Apakah Karāmah Wali Memang Ada?

Imam Aṭ Ṭahawi rāhimahullāh memaparkan pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap karāmah wali sebagai berikut,

وَنُؤْمِنُ بِمَا جَاءَ مِنْ كَرَامَاتِهِمْ وَصَحَّ عَنِ الثقات من رواياتهم

“Dan kami beriman terhadap berita/riwayat  yang ṣahih yang menceritakan karāmah para wali”

Karāmah para wali benar adanya, dan kita wajib mengimaninya.

Karāmah adalah sesuatu yang luar biasa, di luar kebiasaan manusia. Karāmah yang ada pada para nabi disebut dengan mukjizat. Contohnya adalah mukjizat Al Qur’an milik Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, mukjizat tongkat nabi Musa ‘alaihis salam, dan lainnya. Adapun karāmah yang dimiliki oleh orang-orang ṣalih, inilah karāmah yang kita kenal. Contohnya adalah apa yang terjadi dalam kisah aṣḥābul kahfi, dan juga kisah Maryam sebagaimana firman Allāh,

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا

“Setiap kali Zakariyya masuk (menemui Maryam) ke mihrāb, dia dapati di sisinya ada makanan”

(QS. Ali ‘Imrān : 37)

Maka, adanya makanan di sisi Maryam padahal ia terus beribadah di dalam mihrāb dan tidak pernah keluar dari mihrāb adalah sebuah karāmah.

Karāmah Syaiṭaniyyah

Terkadang, seorang dukun, tukang sihir, dan yang sejenisnya memiliki sesuatu luar biasa yang menyerupai karāmah para wali. Hakikatnya, itu bukanlah karāmah dari Allāh, tetapi itu adalah karāmah syaiṭoniyyah, karāmah dari setan. Bisa terbang, bisa berjalan di atas air, bisa tiduran di atas bara api yang menyala, dan hal luar biasa lainnya yang menyerupai karāmah, padahal sesungguhnya adalah karāmah dari setan.

Karāmah Dari Allāh vs Karāmah Dari Setan

Jika Anda melihat ada seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa yang menyerupai karamah, janganlah langsung mengatakan dia adalah seorang wali. Akan tetapi, lihatlah terlebih dahulu apakah itu karamah dari Allah atau karamah dari setan.

Kaidah untuk membedakannya adalah melihat amalan orang tersebut:
Jika amalannya sesuai syari’at Islam,  hal luar biasa yang ada pada dirinya adalah karāmah.
Jika tidak sesuai syari’at Islam, bahkan tidak beramal, itu karāmah dari setan.
Penutup

Sekarang, jelaslah bahwasanya wali Allāh adalah orang yang beriman dan bertakwa. Iman dan takwa menuntut adanya amalan lahiriyyah seperti ṣalat, puasa, dan lainnya. Maka, seseorang yang tidak melaksanakan kewajiban dalam Islam seperti ṣalat, puasa, dan lainnya karena menganggap dirinya sudah mencapai derajat wali sehingga tidak perlu ṣalat lagi, dia bukanlah waliyullāh, tetapi wali setan! Bagaimana tidak? Rāsulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam saja yang tanpa ragu lagi pasti termasuk waliyullāh selalu ṣalat sampai kaki beliau bengkak-bengkak, lalu apakah yang tidak pernah ṣalat dan tidak puasa pantas disebut sebagai waliyullāh? Hanya Allāh-lah yang memberi taufiq.

(Disarikan dari At Ta’liqāt Al Mukhtaṣarah ‘ala Matni-l Aqidah Aṭ Ṭahawiyyah karya Syaikh Dr. Ṣalih bin Fauzan Al Fauzan hafiẓahullāh hal. 238-244, cet. Dārul ‘Aṣimah)

 artikel: www.pemudamuslim.com