Ramadhan Bersama Hafalan al Quran


Bismillah Assalamu Alaikum

Para muda, ramadhan yang dinantikan akan segera datang. Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal Al-Quran serta mengkhatamkannya di bulan Al Quran ini. Yang mana al quran diturunkan oleh Ar Rahman di bulan Ramadhan dan bagi setiap orang tua pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah). Oleh karena itu, semoga sedikit tulisan yang mengutip dari tinta ulama ini, dapat memotivasi kita semua untuk berlomba memperbanyak hafalan al quran di Bulan Ramadhan…. 1. Memperbaiki niat pada Allah dalam menghafal

Tatkala seseorang penuntut ilmu mencoba menghafal alquran akan tetapi tujuan keduniaan yang menjadi incaran, maka tak akan lama hafalan itu bertahan. Bagaimana tidak…??? Keridhaan Ar Rahman tidak ia cari serta niat dalam hati tidak ia perbaiki. Jelaslah bagi kita bahwa dasar dari sebuah perbuatan dan segala amalan adalah niat yang tulus mengharap ridha Allah azza wa jalla.

2. Menimbulkan kemauan dalam diri
Jika menghafal alquran dilakukan dengan paksaan, sungguh akan terasa memberatkan dan membosankan. Setiap manusia pastilah tahu akan kemampuan serta kemauan dirinya. Dan hendaklah ia menumbuhkannya jika akan menghafalkan kitab yang mulia.

3. Memperbaiki makhraj dan tajwid serta membaca dengan indah (tilawah)
Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali.

Dan sungguh hati akan terasa indah manakala melagukan bacaan alquran yang dihafalnya. Walhamdulillah, saat ini telah beredar MP3 murattal para qari’ dunia yang lagu serta nada alquran-nya dapat ikuti. Namun hendaklah tidak melupakan prinsip dasar dalam membaca alquran dengan ilmu tajwid. Tidak akan indah makhraj seseorang dalam membaca alquran tanpa adanya hiasan ilmu tajwid di dalamnya…

4. Memenuhi target hafalan
Hal ini bias dilakukan misalnya dengan menargetkan lima belas ayat setiap hari atau satu halaman, satu hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.

5. Memperkuat hafalan
Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.

6. Menghafal dengan menggunakan satu mushaf
Sepengetahuan kami, metode ini-;ah yang diterapkan oleh saudara kita yang ada di ma’had tahfidz alquran. Menghafal dengan menggunakan satu mushaf tentu akan mempermudah mengulanag bacaan atau ayat yang kita hafal sebelumnya serta membiasakan mata dengan font arab yang tertera dalam mushaf tersebut. Di samping itu jika dengan menggunakan satu mushaf, akan lebih mudah bagi kita untuk mengulang bacaan di mana-pun kita berada. Wallahua’alam.

7. Memahami makna ayat yang dihafalkan
Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.
Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus.
Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar.

Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca Al-Quran.

8. Mengulang ayat yang dihafalkan
Dengarkan lafadz-lafadz murattal dari MP3 dan kaset secara seksama tentang ayat yang dihafal secara berulang-ulang. Kemudian baca secara berulang juga. Sehingga nantinya memori ingatan dipenuhi dengan alunan bunyi lafadz ayat Al-Quran yang akan kita hafal. Bukankah sewaktu kita kecil, kita dapat dengan mudah menghafal jingle iklan di televisi, padahal mereka tidak punya waktu khusus untuk menghafalkannya, bukan?

9. Memanfaatkan shalat – shalat sunnah untuk mengulang hafalan
Manfaatkan shalat-shalat sendirian seperti shalat sunnah untuk melakukan murajaah hafalan. Misalnya pada 10 rakaat shalat rawatib qabliyah dan ba’diyah, shalat tahiyatul masjid, shalat dhuha, qiyamullaih dan witir.

10. Mempelajari bahasa arab dengan seksama
Buka rahasia keindahan bahasa Arab pada lafadz Al-Quran itu, sebab dengan terbukanya rahasia keindahan bahasa, kita akan punya kesan yang mendalam pada lafadz yang kita baca. Dan biasanya, kesan yang mendalam itu akan sangat menguatkan memori hafalan.

11. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah
Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam :
"Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya."
Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya. Bila ternyata hafalan yang ada hilang dalam dada tidak sepantasnya mengatakan: "Aku lupa ayat (surat) ini atau ayat (surat) itu." Akan tetapi hendaklah mengatakan: "Aku dilupakan," karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda: (..arab..)

12. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.
Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan.
Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.

13. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal
Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua.
Ada pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.

Di antara 13 hal di atas telah dahulu dijelaskan oleh fatwa al lajnah ad da’imah lil buhuts al ‘ilmiyyah wal ‘iftah dalam fatwanya berikut ini…

Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Bagaimana cara menjaga hafalan Al-Qur'an saya ?

Jawaban.
Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada RasulNya beserta keluarga dan shabatnya, wa ba'du.

Di antara cara menghafal Al-Qur'an adalah selalu mengulang-ulang dan menjaganya, juga bersungguh-sungguh, ikhlas, berkeinginan keras untuk menghafalnya, memahaminya dan men-tadabburi-nya serta ber-tadharru'(memelas) dan memohon taufiq (kemudahan) untuk hal itu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hati-hatilah dari perbuatan maksiat serta bertaubatlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari dosa-dosa maksiat yang pernah dilakukan.

Wabillah at-taufiq wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur'an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur'an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]


PENGHALANG HAFALAN ALQURAN

Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut.

Di antaranya:
1. Banyaknya dosa dan maksiat.
Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.

2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.

3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.

4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.

Semoga Ramadhan yang akan datang seminggu lagi Insya Allah, akan kita jadikan ajang perlombaan untuk banyak menghafal kitabullah, alquranul karim. Amiiin…

Wallahu alam bishawwab.

oleh Didit Fitriawan sobat-muda.com
Previous
Next Post »