MENATA WAKTU BERSAMA SUNNAH

Bismillah Assalamu Alaikum



Pada tulisan-tulisan sebelumnya telah dijelaskan kebiasaan-kebiasaan harian Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam dalam melaksanakan shalat sunat rawatib, yaitu shalat sunat yang mengiringi shalat wajib. Kebiasaan tersebut sebenarnya dapat menginspirasi kita dalam menata waktu kita sehari-hari.

Sudah menjadi hal yang lazim dalam penataan waktu, seseorang diminta untuk mengalokasikan atau memblok satu atau lebih zona waktu untuk memastikan tidak terlewatkannya suatu kegiatan yang penting. Kegiatan tersebut dianggap penting dengan berbagai pertimbangan. Misalnya, kegiatan tersebut diyakini dapat meningkatkan produktifitas kerja, atau memberikan makna dalam hidup, atau meningkatkan hubungan dengan orang-orang yang dicintai.

Petunjuk Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam dalam melaksanakan sunnah harian dapat membantu kita membuat blok-blok zona waktu tersebut. Misalnya, kita secara rutin mengalokasikan waktu pukul 04-05 pagi untuk kegiatan ibadah, mulai dari persiapan, bersih diri, shalat sunnah sebelum subuh, shalat subuh berjamaah di Masjid, dilanjutkan dengan tilawah Quran sesudahnya.

Demikian pula di kantor. Sebelum melaksanakan rutinitas harian, kita dapat memplot dengan memulai seluruh aktifitas dengan menunaikan sholat dhuha dua rakaat. Kita pun mulai mengerem aktifitas menjelang zhuhur, agar dapat menunaikan shalat sunnah qobla zhuhur dan ba’diyahnya.

Demikian seterusnya, sehingga waktu-waktu kita adalah waktu-waktu yang penuh berkah, karena senantiasa bernuansa zikir dan ibadah. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kita dalam bekerja, entah berupa petunjuk penyelesaian berbagai masalah, maupun dihadirkannya peluang-peluang rizki. Bukankah Dia Yang Maha Kaya, yang Maha Pemberi Rizki?

Secara jumlah waktu, sesungguhnya alokasi untuk ibadah-ibadah tersebut tidaklah banyak. Bahkan mungkin tidak lebih banyak dibandingkan waktu yang kita habiskan untuk berselancar di internet.

Namun terkadang jadual kerja kita memang sedemikian rupa sehingga sangat sulit bagi kita untuk menegakkan sunnah harian. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya kita menerapkan kaidah, jika tidak bisa melakukan semuanya, jangan ditinggalkan semuanya.
Previous
Next Post »