Sya’ban, Bulan Yang Terlalaikan…


Bismillah Assalamu Alaikum
Teman – teman yang baik…tahukah kita apa itu Sya’ban??? Bulan yang saat ini kita berada di dalamnya. Dalam sebuah website http://islam-qa.com disebutkan bahwa Sya’ban adalah nama bulan. 

Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Apa yang bisa dilakukan pada bulan Sya’ban…???

Seringkali di antara kita melalaikan keberadaan bulan yang baik ini. Kita dan orang – orang sekitar terlalu terlena dengan pesona bulan Rajab sehingga banyak melakukan amalan – amalan yang tiada dituntunkan oleh Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disamping itu seringkali kita terlalu bersemangat mempersiapkan kedatangan Ramadhan, dengan apa – apa yang tidak dibenarkan dalam ajaran dien yang mulia ini, namun justru kita melupakan bulan di mana panutan kita Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam paling banyak berpuasa di dalamnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Sedangkan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Abdullah Ibnu al Mubarak –rahimahullah-  telah menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah menggenapkan puasa di bulan Sya’ban akan tetapi beliau tetap sering berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan hadits pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mana beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.”

Dan dalam 2 buku hadits masyhur (Bukhari dan Muslim) dari Ibnu ‘Abbas –radliyallahu’anhuma-, beliau berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Al Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu ‘Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Simaklah wahai teman – teman apa yang dikatakan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Saya berkata pada Nabi: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. An Nasa’i, lihat buku Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dinyatakan shahih oleh Al-Albani, dalam buku Shahih Sunan Abi Dawud 2/461. Nah, akankah kita termasuk orang – orang yang lalai…??? Mari bersemangat wahai teman – teman…

Kemudian simaklah apa yang disampaikan Ibnu Rajab –rahimahullah- :  “Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunnah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.”

Jika kita teliti terhadap sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”,maka akan kita dapati bahwa karena bulan Sya’ban ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- kita sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara kita mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian teman – teman…

Kemudian lihatlah secara jeli bahwa pada hadits itu pula terdapat dalil disunnahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai.

Asal kita tahu, menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:

Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunnah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabb-nya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian pendahulu kita berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan para pendahulu kita menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Ibnu Mas’ud –radliyallahu’anhu- bertutur: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Kemudian berkata Qatadah –rahimahullah- : “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Memang benar teman…bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika terjadi fitnah ibarat sedang berhijrah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Disamping itu, termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Nah…masihkah mau untuk melalaikannya…??? Wallahua’alam.

oleh Didit Fitriawan sobatmuda.com


Previous
Next Post »