Maharku Islam


Tabah, bijak, dan lurus pemikirannya. Semua orang bahkan memuji keindahan akhlaqnya. Siapa dia?

 Beliau adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan yang terkenal dengan panggilan Ummu Sulaim, ibunda Anas bin Malik. Sebagai seorang istri dari Malik bin Nadhar, beliau memiliki sifat keibuan di samping cantik.

Ketika cahaya kenabian mulai terbit dan dakwah tauhid mulai muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Sebagai salah satu golongan yang pertama masuk Islam dari golongan Anshar, ia tak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di tengah masyarakat jahiliyyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.


Sebuah kisah yang menarik patut menjadi contoh bagi para wanita utamanya istri adalah tatkala Ummu Sulaim menghadapi kemarahan suaminya yang baru saja pulang dari bepergian karena ia telah masuk Islam. Malik berkata dengan penuh kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau telah murtad dari agamamu?” Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau berkata, “Tidak, bahkan aku telah beriman.” Sebuah ungkapan diplomatis yang sangat menakjubkan.

Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh dengan pendiriannya mengulang-ulang kalimat Asyhadu anla ilaaha ilallaah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah, maka Malik pergi dalam keadaan marah dan bertemu kemudian bertemu dengan musuh akhirnya dia terbunuh. 

Ketika Ummu Sulaim mengetahui suaminya terbunuh, beliau tetap tabah dan mengatakan, ”Aku tidak akan menyapih Anas hingga dia sendiri yang memutuskannya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku.” 

Kemudian Ummu Anas pergi menemui Rasulullah dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, yakni Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya. 

Orang-orang banyak yang membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menakjubkan hatinya. Kemudian dia beranikan diri untuk melamar Ummu Sulaim dengan menyediakan mahar yang tinggi. Tetapi tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau dan lisannya menjadi kelu ketika Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan percaya diri, ”Sesungguhnya tak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah tuhan kalian.” (ath-Thabaqat oleh Ibnu Sa’ad VIII/426, al-Ishabah VIII/243, al-Hilyah II/59) 

Bagaimana sikap Abu Thalhah dengan penolakan itu dan bandingkan dengan wanita sekarang  ketika ada seorang laki-laki yang melamar dengan membawa segudang harta sementara agamanya kacau balau? 

Abu Thalhah merasa sesak dadanya, dia berpaling seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Karena cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, roti dan susu dengan harapan Ummu Sulaim luluh dan menerima lamarannya. 

Luluhkan Ummu Sulaim? ”Orang seperti anda memang tak pantas ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamaran anda.” ”Lantas apa yang anda inginkan?” tanya Abu Thalhah. Dengan penuh keheranan Ummu Sulaim balik bertanya, ”Apa yang saya inginkan?” ”Apakah anda menginginkan emas dan perak?” tanya Abu Thalhah lagi. ”Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas dan perak akan tetapi aku menginginkan agar anda masuk Islam.” 

Ummu Sulaim tak goyah dengan iming-iming itu. Bahkan ia merasa keterikatan hati yang sangat mendalam kepada Islam lebih kuat dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dunia. 

Kemudian menikahlah beliau dengan mahar keislaman Abu Thalhah. ”Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (HR. an-Nasa’i dari shahabat Anas bin Malik) 

Begitulah, ketika dunia menari-nari berupa harta, kedudukan dan laki-laki muda yang kaya ternyata keterikatan hati yang lebih kuat kepada Islam, sedikitpun tak menggoyahkan Ummu Sulaim. Sangat kontra dengan tren wanita Islam sekarang yang rela ’menggadaikan’ agamanya untuk menikah dengan laki-laki kafir dengan iming-iming harta dan kedudukan yang begitu menjanjikan. Semoga Allah melindungi kita semua.


  

Sumber :
Nisa’ Haula ar-Rasul, Mahmud Mahdi al-Istambuli
Previous
Next Post »