Tetangga Mati Kelaparan, Salah Siapa?


Jangan buru-buru menyalahkan pemerintah dengan mengatakan tidak becus dalam menangani masalah ini, dan tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah. Namun sekedar mengingatkan sesama kita, bagaimana seharusnya kita bertetangga (dari kacamata Islam tentunya).

Kita kebanyakannya akan merasa marah ketika mendengar ada yang menjadi korban, meninggal dunia, lantaran si korban ini kelaparan. Pemerintah tentu punya andil dalam hal ini, karena salah satu tugas yang diembannya adalah mengurus masyarakat. Namun, perlu juga kita mengetahui bagaimana yang seharusnya hidup bertetangga.

Coba kita perhatikan salah satu hadits kaitannya dengan bertetangga ini; dimana isinya langsung menyebut kata 'kelaparan',
"Tidaklah beriman seseorang, bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan." (Al Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani)

Luar biasa!
Dari sejak 14 abad silam, etika bertetangga sudah diatur dalam Islam. Sikap peduli kepada tetangga ditanamkan, sehingga ancaman yang cukup berat dengan mengatakan "Tidaklah beriman seseorang" sebagai suatu penekanan akan pentingnya memperhatikan sekeliling kita.

Sementara kita kenyang dan membiarkan tetangga kita sedang kelaparan, maka iman kita dinyatakan tidak ada (dalam arti kurang sempurna, bukan keluar dari Islam). Untuk itu perlu kiranya sebagai seorang muslim untuk memperhatikan tetangganya, apakah mereka dalam kondisi kenyang seperti kita, ataukah mereka tengah dirundung masalah, sehingga tak punya apa-apa untuk dimakan.

Tindakan preventif, dengan memperhatikan tetangga dapat juga kita lihat dalam redaksi hadits berikut ini;
"Wahai Abu Dzar, bila engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya, kemudian engkau bagikan kepada tetanggamu." (HR. Muslim)

Dengan membagi masakan kita kepada tetangga kita, paling tidak ada 2 (dua) keuntungan;
Pertama: kita menjalin tali silaturrahmi dengan mereka, sehingga terjalin kekompakan dan persatuan.

Kedua: kita bisa mengetahui bagaimana kondisi tetangga yang kita bagikan masakan itu. Jika mereka dalam kondisi berkecukupan, maka masakan kita adalah hadiah buat mereka, namun jika mereka sedang dalam kondisi berkekurangan, maka kita telah memberi bantuan kepada mereka, dimana bisa saja makanan yang kita sampaikan itu menjadi obat, setelah berhari-hari mereka menahan lapar, siapa tahu?

Nah, intinya, tidak hanya kemudian tanggungjawab terhadap tetangga itu mutlak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, sebagai waliyul amri, akan tetapi ternyata juga menjadi tanggungjawab kita selaku tetangga terdekatnya. 
Bukankah begitu wahai sahabat?
Previous
Next Post »