Takdir Dan Tingkatan-Tingkatannya (1/2)


Setelah penulis memaparkan mengenai takdir pada bab sebelumnya secara singkat, pembahasan selanjutnya dari Syarh Aqidah Al-Wasithiyah adalah mengulas lebih dalam mengenai masalah takdir dan tingkatan-tingkatannya. Apa saja?

Takdir merupakan salah satu dari enam rukun iman. Di muka telah disebutkan secara global mengenai iman kepada takdir. Kemudian, penulis Rahimahullah menyebutkan di sini secara terperinci.

Takdir adalah ketentuan Allah Ta’ala terhadap segala sesuatu sejak
masa dahulu, Ilmu Allah Ta’ala bahwa itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu yang diketahui-Nya dan dengan sifat-sifat tertentu, penulisan hal itu oleh-Nya, kehendak-Nya terhadapnya, kejadiannya sesuai dengan
apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan penciptaannya oleh-Nya. 1

Syaikh Rahimahullah telah menyebutkan empat tingkatan takdir, yang harus diimani sebagaimana Ahlus Sunnah mengimaninya.


1 Tingkatan Pertama

Beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui apa yang dikerjakan oleh seluruh makhluk, dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Allah telah mengetahui segala keadaan mereka, yang berupa ketaatan, rezki, maupun ajal. Dia mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, apa yang tidak terjadi bila ia terjadi, serta bagaimana ia terjadi. Allah Ta’ala berfirman,



Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
(Ath-Thalaq: 12)


Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-’Ankabut: 62)

2 Tingkatan Kedua

Penulisan segala sesuatu oleh Allah di dalam Lauh Mahfuzh, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Hadid: 22)


Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata. (Yasin: 12)

3 Tingkatan Ketiga

Kehendak Allah yang berlaku, yang tidak bisa ditolak dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dihindarkan oleh suatu apapun. Seluruh peristiwa terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Adapun yang Dia kehendaki, niscaya terjadi dan apapun yang tidak Dia kehendaki, niscaya tidak terjadi. Allah berfirman,

Dan kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb semesta alam. (At-Takwir: 29)

4 Tingkatan Keempat

Mencipta adalah wewenang Allah Ta’ala. Dialah Khaliq
(pencipta), sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,



Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (Az-Zumar: 62)


Adakah sesuatu pencipta selain Allah? (Fathir: 3)

Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu yang telah terjadi, bersamaan dengan itu Dia memerintahkan para hamba untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya serta melarang mereka dari kemaksiatan terhadap-Nya.

Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang berbuat adil serta meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai kaum yang fasik. Dia tidak memerintahkan perbuatan keji, tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, dan tidak mencintai kerusakan. Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ada sebagian ulama yang memadukan keempat tingkatan takdir ini dalam
satu bait sya’ir sebagai berikut:



(Taqdir) adalah ilmu, penulisan dan kehendak Maula kita


Begitu juga penciptaan-Nya, yaitu pengadaan dan pembentukannya



Catatan Kaki



…1

Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 121.
Previous
Next Post »