Panglima Pertama


Ingin tahu siapa Panglima pasukan Islam yang pertama? Dia adalah Abdullah bin Jahsy. Simak kisah bagaimana dia dipilih oleh Rasulullah serta apa tugas yang diemban olehnya.

Beberapa orang sahabat Rasulullah telah hijrah ke Habasyah untuk menghindari tekanan orang-orang Kafir. Mereka lari kepada Allah dengan membawa agama mereka. Jumlah mereka ada delapan puluh tiga orang. Di antara mereka yang hijrah tadi adalah Abdullah bin Jahsy bin Ri’ab.

Setelah dua bulan para muhajirin berada di Habasyah, mereka mendengar kabar bahwa penduduk Makkah sudah memeluk Islam semuanya. Maka Ieblh dari tiga puluh orang di antara mereka kembali Makkah. Tap, ketika mereka sudah dekat dengan Makkah, barulah mereka menyadari bahwa kabar itu meleset, maka sebagian di antara mereka memasuki Makkah dengan diam-diam. Sebagian yang lain mendapatkan perlindungan dari beberapa pemuka Qurays.

Abdullah bin Jahsy termasuk mereka yang kembali ke Makkah, lalu tinggal di sana di bawah tekanan orang-yang Qurays. Bersama kaum muslimin yang lain dia harus mendapatkan berbagai macam penyiksaan dan tekanan hingga dilakukan embargo secara total terhadap nabi dan para sahabat selama tiga tahun.

Hijrah Ke Madinah

Begitu gencar permusuhan yang dilancarkan orang Qurays terhadap Rasulullah. Sementara setiap sahabat pernah mengalami penyiksaan. Meski demikian Rasulullah tidak berputus asa. Beliau pada setiap musim haji menemui para kabilah dan memperkenalkan dirinya. Pada tahun kesebelas sesudah kerasulan beliau bertemu beberapa orang dari Khazraj. Maka pada tahun itu pula Islam menyebar di kota Madinah. Penyiksaan yang dilakukan orang-orang Qurays semakin gencar setelah mereka tahu keislaman orang-orang Khazraj. Hal itu diadukan para sahabat kepada Rasulullah dan mereka meminta untuk hijrah.

Kemudian Rasulullah bersabda, "Aku sudah diberitahu tempat hijrah kalian, yaitu Yastrib. Siapa yang menghendaki untuk pergi akan dia pergi ke sana."

Orang-orang muslim mulai pergi secara sembunyi-sembunyi. Sementara Abdullah bin Jahsy merupakan rombongan kedua dari Muhajirin. Dia membawa seluruh keluarganya, juga bersama saudaranya Ubaid bin jahsy. Semua keluarganya sudah masuk Islam. Dengan demikian perkampungan Bani Jahsy menjadi sepi, menyisakan angin yang berhembus di jalan-jalannya. Setelah hijrah mereka disusul Utbah bin Rabi’ah, Al Abbas bin Abdul Muthalib dan Abu Jahl bin Hisyam. Utbah mengawasi perkampungan Bani jahsy yang sepi tanpa penghuni sambil bersyair.


Lalu Utbah bin Rabi’ah berkata "Kini tempat kediaman Bani jahsy kosong tanpa penghuni" Abdullah bin Jahsy dan saudaranya menetap di tempat kediaman Ashin bin Tsabit bin Abul Aflah. Sementara Bani Jahsy lainnya menetap di beberapa rumah Anshar lainnya di Madinah. Rasulullah menunjukkan kegembiraan atas hijrahnya Bani jahsy. Beliau memuliakan mereka karena mereka termasuk rembongan awal yang hijrah ke madlnah, terutama Abdullah, anak bibi Rasulullah.

Orang-orang Qurays tidak bisa tinggal diam karena hijrah Rasulullah dan para sahabatnya ke Madinah. Nabi menyadari gentingnya suasana. Maka beliau mulai mengirim detasemen-detasemen untuk menyelidlki jalur perdagangan Qurays menuju Syam, yang membawa barang-barang dagangan mereka. Hal ini dimaksudkan untuk membuka mata Qurays tentang hakikat kedudukan kaum Muslimin.

Detasemen-detasemen yang dikirim ini tidak mengalami kejadian apapun dan tidak pula terjadi pertempuran. Pada bulan Rajab tahun kedua setelah hijrah Nabawi, Rasulullah mengirim sekumpulan Muhajirin yang jumlahnya tidak lebih dari delapan orang. Beliau bersabda kepada mereka, "Aku benar-benar akan mengangkat pemimpin untuk kalian, orang yang paling sabar di antara kalian dalam menghadapi rasa lapar dan dahaga."

Ternyata pilihan itu jatuh kepada Abdullah bin Jahsy. Dialah yang
diangkat sebagai pemimpin detasemen dan merupakan pemimpin pasukan yang pertama dalam Islam. Adapun tugasnya adalah mencari intormasi tentang keadaan orang-orang Qurays. Nabi menulis selembar surat dan memerintahkan agar surat itu baru boleh dibuka setelah mereka mengadakan selama dua hari. Setelah perialanan dua hari surat itu henar-benar dibuka yang ternyata di dalamnya tertera, "Teruskan perjalanan hingga engkau tiba di sebuah kebun korma antara Makkah dan Thaif lalu sampaikan informasi tentang mereka kepada kami."


Setelah Abdullah bin jahsy melihat isi surat itu, dia berkata "Sam’an wa tha’atan." Aku mendengar dan aku taat. Dia memberitahukan isi surat itu kepada rekan-rekannya, seraya berkata ‘Aku diperintahkan untuk tidak memaksa seorang pun di antara kalian. Siapa di antara kalian menginginkan mati syahid dan mengharapkannya, maka silakan lanjutkan perjalanan. Namun siapa yang tidak suka, maka dia dapat kembali. Adapun aku akan melaksanakan perintah Rasulullah"

Abdullah bin Jahsy melanjutkan perjalanan bersama rekan-rekannya, dan tak yang pun di antara mereka yang kembali, hingga tiba di sebuah tempat yang bernama Najran. Di sana unta Sa’ad bin Abi Waqqas dan Utbah bin Ghazwan lepas, sehingga mereka harus mencarinya dan tidak dapat bergabung.


Sementara Abdullah bin jahsy melanjutkan perjalanan bersama rekan-rekannya yang lain hingga tiba di kebun korma yang dimaksudkan. Di sanalah kafilah dagang Qurays lewat. Setelah saling bertukar pikiran tak berapa lama, Waqid bin Abdillah melepaskan anak panah mengenai Amr bin Hadrami hingga membunuhnya dan mereka juga menawan AI Hakam bin Kaisan serta Utsman bin Abdillah. Sedangkan Naufal bin Abdillah dapat melepaskan diri dan tidak dapat dikejar lagi. Abdullah bin jahsy bersama rekan-rekannya membawa barang dagangan milik Qurays dan dua orang tawanan, hingga mereka menghadap Rasulullah. "Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang pada bulan suci," sabda Rasulullah kepada mereka. Beliau mendiamkan barang dagangan dan dua orang tawanan tanpa menyentuh sedikit pun di antara barang-barang tersebut.


Orang-orang kaflr Qurays mempergunakan peristiwa ini untuk melemparkan tuduhan terhadap orang-orang mukmin dan mencerca Muhammad serta rekan-rekan beliau, mereka menampakkan kaum muslimin sebagai orang-orang yang tidak menjaga kesucian di bulan suci.


Orang-orang musyrik dan Quays menjadikan peristiwa in sebagai alas untuk memprovokasi dan menyebarkan huru hara. Bahkan di kalangan kaum muslimin sendiri terjadi perdebatan tentang hal ini dan banyak di antara mereka yang mengingkari tindakan Abdullah bin jahsy dan rekan-rekannya, karena mereka telah melakukan pelanggaran di bulan suci. Celaan dan cercaan mulai ditimpakan kepada mereka dari segala penjuru sehingga Abdullah bin Jahsy dan rekan-rekannya merasa bumi ini begitu sempit padahal ia Iuas. Mereka menganggap bahwa diri mereka pasti akan dijatuhi hukuman mati karena tindakan itu. Keadaan ini masih ditambah lagi karena orang-orang Yahudi juga ikut-ikutan menebarkan kekacauan.

Pada saat itulah turun ayat Al Quran yang menyanggah anggapan orang-orang musyrik dan menguatkan apa yang dilakukan Abdullah bin jahsy terhadap orang-orang musyrik

"Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:"Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah. (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya,lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dasanya) dari pada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran). seandainya mereka sanggup."
(AI-Baqarah: 217)

Isu dan tuduhan yang sengaja dilontarkan orang-orang musyrik dljawab
Al Quranul karim. Dengan turunnya ayat ini maka orang muslim menjadi gembira, mereka mengucapkan selamat kepada Abdullah bin jahsy, setelah AI Quran mensucikan tindakan mereka. Dengan begitu Rasulullah mengamankan barang dagangan dan dua orang tawanan. Lalu orang-oang Qurays mengirim utusan untuk menebus dua orang tawanan mereka, maka Rasulullah bersabda "Kami tidak akan menerima tebusan bagi mereka berdua sebelum dua rekan kami dibebaskan"


Yang beliau maksudkan adalah Sa’ad bin Abi Wagash dan Utbah bin Ghazwan yang ditahan pihak Qurays. setelah Sa’d bin Utbah tiba di Madinah,
barulah kedua orang itu dibebaskan. Tapi justru AI Hakam bin Kaisan menghadap beliau dan menyatakan masuk Islam, lalu dia menetap bersama Rasulullah dan keislamannya menjadi baik.


Setelah kebenaran kembali ke tempatnya dan kedudukan Abdullah bin Jahsy beserta rekan-rekannya menjadi tinggi maka mereka menemui Rasulullah seraya berkata,

" Wahai Rasulullah kami ingin agar kami sama dengan orang-orang
yang berperang dan agar kami diberi pahala sebagai mujahidin."
Maka Allah menurunkan ayat,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang
berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (AI-Baqarah:
218)

Detasemen yang dipimpin Abdullah bin Jahsy menjadi keberkahan bagi orang-orang muslim. Itulah harta rampasan yang pertama kali dalam Islam dan korban dari musyrikin merupakan korban pertama di tangan orang muslim, begitu pula tawanannya merupakan tawanan pertama dalam Islam. sedangkan pemimpin detasemen, Abdullah bin jahsy adalah yang pertama kali dipanggil Amirul Mukminin.

Dikutip dari majalah Elfata edisi 02/IV/2004 hal 51 – 53.
Previous
Next Post »