Menggunakan Ayat Al-Qur’an Sebagai Jimat


Syaikh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-Uṡaimīn raḥimahullāh pernah ditanya:

Apa hukum mengenakan tamimah/jimat dan mengalungkannya di atas dada atau menaruhnya di bawah bantal? Perlu diketahui pula bahwasanya jimat-jimat ini hanya bertuliskan ayat-ayat al-Qur`ān?
Beliau menjawab:

Pendapat yang benar bahwasanya menggantungkan jimat-jimat walaupun dari ayat-ayat al-Qur`ān dan hadits-hadits nabi adalah perbuatan yang diharamkan, karena perbuatan ini tidak ada tuntunannya dari Nabi ‘alaihiṣṣalātu was salām.

Padahal, segala sarana yang tidak ada tuntunannya dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi was sallām dan dijadikan sebagai sebab –untuk menolak madharat atau menarik manfaat, pent-, hal itu adalah sia-sia dan tidak bisa dijadikan pegangan, karena yang menentukan segala sebab akibat adalah Allāh ‘azza wa jalla.

Dengan demikian, apabila kita tidak bisa membuktikan kebenaran suatu sebab, baik dari sisi syari’at maupun bukti empiris, berdasarkan indera maupun kenyataan, kita tidak boleh meyakininya sebagai sebab yang dibenarkan. Oleh karena itu, tamimah/jimat berdasarkan pendapat yang rajih/lebih kuat adalah diharamkan; sama saja apakah ia berasal dari ayat-ayat al-Qur`ān ataupun bukan.
Kemudian, apabila seorang insan tertimpa suatu musibah, hendaknya ada orang lain yang membacakan al-Qur`ān (meruqyah) untuk mengobatinya; sebagaimana hal itu dilakukan oleh malaikat Jibril ‘alaihis salām tatkala meruqyah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi was sallām. Bahkan, Rasul ṣallallāhu ‘alaihi was sallām sendiri pernah meruqyah para sahabatnya. Inilah cara yang disyari’atkan.
Sumber:

Previous
Next Post »