Ilmu versus Santai!



الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على قائد الغر المحجلين، نبينا محمد وآله وصحبه ومن تبعه إلى يوم الدين، أما بعد:
Berikut ini adalah sebuah atsar yang ringkas namun memiliki makna yang mulia, dikeluarkan oleh Muslim
dalam kitab Shahih-nya
. Beliau mengatakan,
حدثنا يحيى بن يحيى التميمي قال: أخبرنا عبد الله بن يحيى بن أبي كثير قال: سمعت أبي يقول: « لا يستطاع العلم براحة الجسم » .
Yahya bin Yahya at-Tamimi memberitakan kepadaku, dia berkata ‘Abdullah bin Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Saya mendengar ayahku berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan berleha-leha” [Ash Shahih : Auqat ash-Shalah nomor 612].
قوله عن يحيى بن أبي كثير قال: « لا يستطاع العلم براحة الجسم » جرت عادة الفضلاء بالسؤال عن إدخال مسلم هذه الحكاية عن يحيى مع أنه لا يذكر في كتابه إلا أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم محضة ، مع أن هذه الحكاية لا تتعلق بأحاديث مواقيت الصلاة ، فكيف أدخلها بينها ؟
Imam an-Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim 5/113, “Mengenai perkataan dari Yahya bin Abi Katsir, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan berleha-leha”, para ulama sering bertanya-tanya perihal sebab yang mendorong imam Muslim memasukkan perkataan Yahya ke dalam ash-Shahih, padahal beliau di dalam kitab tersebut hanya memasukkan hadits-hadits yang berasal dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lagipula, perkataan Yahya ini tidaklah terkait dengan hadits-hadits yang membicarakan waktu shalat. Dengan demikian, mengapa beliau menyisipkan perkataan ini?
Al Qadli bin ‘Iyadl rahimahullah meriwayatkan dari salah seorang imam bahwa dia berkata,
سببه أن مسلما ـ رحمه الله تعالى ـ أعجبه حسن سياق هذه الطرق التي ذكرها لحديث عبد الله بن عمرو ، وكثرة فوائدها، وتلخيص مقاصدها، وما اشتملت عليه من الفوائد في الأحكام، وغيرها، ولا نعلم أحدا شاركه فيها ، فلما رأى ذلك أراد أن ينبه من رغب في تحصيل الرتبة التي ينال بها معرفة مثل هذا، فقال: طريقه أن يكثر اشتغاله، وإتعابه جسمه في الاعتناء بتحصيل العلم . هذا شرح ما حكاه القاضي.وانظر: إكمال إكمال المعلم 2/302.
“Sebab yang mendorong imam Muslim rahimahullah melakukan hal itu adalah ketakjuban beliau akan keindahan redaksi berbagai jalur periwayatan yang beliau sebutkan untuk hadits ‘Abdullah bin ‘Amr. Beliau takjub akan faedahnya yang banyak, tujuannya yang ringkas, berbagai faedah hukum yang dimiliki, dan yang selainnya. Kami tidak mengetahui seorangpun melakukan hal yang sama dengan beliau dalam hal ini.
Oleh karena itu,ketika beliau melihat hal tersebut, beliau ingin menekankan kepada siapapun yang ingin memperoleh martabat sehingga dapat mencapai pengetahuan seperti ini, maka beliau mengarahkan bahwa hal itu baru bisa dicapai dengan menyibukkan dan meletihkan diri untuk serius memperoleh ilmu.
Inilah penjelasan yang dibawakan oleh al-Qadli. Lihat Ikmal Ikmali al-Mu’allim 2/302.
As Suyuthi menyebutkan perkataan Yahya dalam ad-Dibaj ‘ala al-Muslim 2/266, kemudian beliau mengatakan, “Komentar saya, “Ibnu ‘Adi telah meriwayatkannya dalam al-Kamil dengan penambahan redaksi dan dengan lafadz,
سمعت أبي يقول: كان يقال: « العلم خير من ميراث الذهب، والنفس الصالحة خير من اللؤلؤ، ولا يستطاع العلم براحة الجسم »
Saya mendengar ayahku berkata, “Dahulu disebutkan bahwa ilmu lebih baik daripada warisan emas, jiwa yang shaleh lebih baik daripada permata, dan ilmu tidaklah diperoleh dengan berleha-leha.” Lihat al-Kamil karya Ibnu ‘Adiy 4/215; Hilyah al-Auliya 3/66.

Komentar saya, “Imam ‘Abdurrahman bin Abi Hatim rahimahullah juga telah mengatakan perkataan ini. Beliau berkata,
كنا بمصر سبعة أشهر لم نأكل فيها مرقة كل نهارنا مقسم لمجالس الشيوخ، وبالليل النسخ والمقابلة ، قال: فأتينا يوما أنا ورفيق لي شيخا، فقالوا: هو عليل، فرأينا في طريقنا سمكة أعجبتنا فاشتريناه، فلما صرنا إلى البيت حضر وقت مجلس، فلم يمكنا إصلاحه ومضينا إلى المجلس، فلم نزل حتى أتى عليه ثلاثة أيام ، وكاد أن يتغير ، فأكلناه نيئا، لم يكن لنا فراغ أن نعطيه من يشويه، ثم قال: « لا يستطاع العلم براحة الجسد ».سير أعلام النبلاء 13/266 وتذكرة الحفاظ :3 /830 .
“Dahulu kami berada di Mesir selama 7 bulan tidak pernah memakan kaldu, karena di siang hari waktu kami terbagi untuk menghadiri majelis para syaikh sedangkan di malam hari waktu kami dipergunakan untuk mencatat dan merevisi.
Beliau melanjutkan, “Suatu hari saya beserta teman mendatangi seorang syaikh, namun orang-orang mengatakan beliau sedang sakit, (sehingga kami pun kembali). Dalam perjalanan kami melihat seekor ikan yang menarik dan kami pun lantas membelinya. Ketika kami sampai di rumah, ternyata tibalah waktu majelis dibuka dan tidak memungkinkan kami untuk mempersiapkan ikan tersebut karena kami bergegas pergi ke majelis. Kami senantiasa berada di majelis tersebut dan baru bisa mendatangi ikan tersebut setelah tiga hari kemudian. Ternyata ikan tersebut telah berbau, maka kami pun memakannya mentah-mentah  karena kami tidak memiliki waktu luang untuk meminta orang agar ikan itu bisa dipanggang.”
Akhirnya beliau pun mengatakan, “Ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan berleha-leha.” Siyar A’lam an-Nubala 13/266; Tadkirah al-Huffazh 3/830.
Maka, waspadalah para penuntut ilmu, janganlah engkau menghabiskan sebagian besar waktu dan keinginan hanya untuk bersantai. Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan,
اعلم أن الراحة لا تنال بالراحة ، ومعالي الأمور لا تنال بالراحة ، فمن زرع حصد ، ومن جد وجد
تفانى الرجال على حبها ** وما يحصلون على طائل
“Ketahuilah, sesungguhnya kenikmatan hakiki tidak akan diraih dengan bersantai, dan kedudukan yang tinggi tidaklah dicapai dengan berleha-leha. Barangsiapa menanam dia akan menuai dan barangsiapa bersungguh-sungguh niscaya dia akan berhasil.
Betapa banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, akhirnya mereka pun tidak memperoleh keutamaan sama sekali”
Saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepadamu. Demikianlah bingkisan yang berharga untukmu. Perhatikanlah waktumu, jangan sampai terbuang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bersemangatlah untuk memberi manfaat kepada dirimu dengan menambah bekal ilmu agama dan berilah manfaat kepada manusia dengan menyebarkan ilmu kepada mereka.

Faedah dari status Ustadzuna Ab Yazid hafizhahullah
Abdurrahman bin Shalih as-Sudais

.

Previous
Next Post »