Google+ Badge

Thursday, 26 March 2015

Hukum Perayaan Isra' dan Mi'raj


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du...

Tidak diragukan lagi, bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan atas kebenaran kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan keagungan kedudukannya di sisi Rabb-nya, selain juga membuktikan atas kebesaran Allah dan kebesaran kekuasaan-Nya atas semua makhluk.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda tanda (kebesaran) kami, sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. al-Isra’ : 1).

Diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Allah telah menaikkannya ke langit, dan pintu pintu langit itu terbuka untuknya, hingga beliau sampai ke langit yang ketujuh. Kemudian beliau diajak bicara oleh Allah serta diwajibkan shalat lima waktu, yang semula diwajibkan lima puluh waktu, tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa kembali kepada-Nya minta keringanan, sehingga dijadikannya lima waktu. Namun demikian, walaupun yang diwajibkan lima waktu saja, tetapi pahalanya tetap seperti lima puluh waktu, karena perbuatan baik itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Hanya kepada Allah-lah kita ucapkan puji dan syukur atas segala nikat-Nya.

Tentang malam saat diselenggarakannya Isra’ dan Mi’raj itu belum pernah diterangkan penentuan (waktunya) oleh Rasulullah, tidak pada bulan rajab, atau (pada bulan) yang lain, jikalau ada penentuannya maka itupun bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut para ulama, hanya Allah-ah yang mengetahui akan hikmah pelalaian manusia dalam hal ini.

Seandainya ada (hadits) yang menentukan (waktu) Ira’ dan M’raj, tetap tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkannya dengan ibadah ibadah tertentu, selain juga tidak boleh mengadakan acara perkumpulan apapun, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah mengadakan upacara upacara seperti itu, dan tidak pula menghususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut.

Jika peringatan malam tersebut disyariatkan, pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, melalui ucapan maupun perbuatan. Jika pernah dilakukan oleh beliau, pasti diketahui dan masyhur, dan tentunya akan disampaikan oleh para shahabat kepada kita, karena mereka telah menyampaikan dari Nabi apa apa yang telah dibutuhkan umat manusia. Mereka belum pernah melanggar sedikit pun dalam masalah agama, bahkan merekalah orang yang pertama kali melakukan kebaikan setelah Rasulullah. Maka jikalau acara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj itu ada tuntunannya, niscaya para sahabat akan lebih dahulu menjalankannya.

Nabi Muhammad adalah orang yang paling banyak memberi nasihat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah kerasulannya dengan sebaik-baiknya, dan menjalankan amanat Rabb-nya dengan sempurna. Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj serta bentuk-bentuk pengagungannya itu berasal dari agama Allah, tentunya tidak akan dilupakan dan disembunyikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi karena hal itu tidak ada, jelaslah bahwa upacara dan bentuk bentuk pengagungan malam tersebut bukan dari ajaran Islam sama sekali.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya bagi umat ini, mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka, dan mengingkari siapa saja yang berani mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, karena cara tersebut tidak dibenarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. al-Maidah : 3)

Juga firman-Nya, "Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diridhai Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih." (QS. asy-Syura : 21)

Dalam hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita agar waspada dan menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah, dan beliau juga menjelaskan bahwa bid’ah itu sesat, sebagai peringatan bagi umatnya sehingga mereka menjauhinya, karena bid’ah itu mengandung bahaya yang sangat besar.

Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengada adakan sesuatu perbuatan (agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka amalan itu tertolak." Dan dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak."

Dalam shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’atnya, "Amma ba’du... Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perbuatan (alam agama) adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu sesat." (HR. Muslim)

Dan dalam kitab kitab Sunan diriwayatkan dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami akan berlinang. Maka kami berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, seakan-akan nasihat itu seperti nasihatnya orang yang akan berpisah. Maka berikanlah kami nasihat." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku wasiatkan kepada kamu sekalian agar selalu bertaqwa kapada Allah, mendengarkan dan mentaati perintah-Nya, walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian hidup (pada masa itu), maka ia akan menjumpai perselisihan yang banyak. Maka (ketika) itu kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ ar-Rasyidin yang telah mendapat petunjuk sesudahku. Pegang dan gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan janganlah sekali-kali mengada-ada hal yang baru (dalam agama), karena setiap hal yang baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat."

Dan masih banyak hadits-hadits lain yang semakna dengan hadits ini. Para shahabat dan para ulama salaf telah memperingatkan kita agar waspada terhadap perbuatan bid’ah serta menjauhinya. Dan tidaklah hal itu (peringatan agar waspada terhadap bid’ah), melainkan disebabkan karena (bid’ah itu) adalah tambahan terhadap agama, dan (bid’ah itu) adalah (pembuatan) syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah, karena hal itu menyerupai perbuatan musuh-musuh Allah yaitu bangsa Yahudi dan Nashara.

Adanya penambahan-penambahan dalam agama itu (berarti) menuduh agama Islam kurang dan tidak sempurna, dengan jelas ini tergolong kerusakan besar, kemungkaran yang sesat dan bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, "Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Kuridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah : 3). Selain itu, (penambahan) juga bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan kita dari perbuatan bid’ah dan agar menjauhinya.

Kami berharap, semoga dalil-dalil yang telah kami sebutkan tadi cukup memuaskan bagi mereka yang menginginkan kebenaran, dan mau mengingkari perbuatan bid’ah, yakni bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj, dan supaya kita sekalian waspada terhadapnya, karena sesungguhnya hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali.

Ketika Allah telah mewajibkan orang orang muslim itu agar saling nasihat-menasihati dan saling menerangkan apa-apa yang telah disyari’atkan Allah dalam agama, serta mengharamkan penyembunyian ilmu, maka kami memandang perlu untuk mengingatkan saudara-saudara kami dari perbuatan bid’ah ini, yang telah menyebar di berbagai belahan bumi, sehingga sebagian orang mengira itu berasal dari agama.

Hanya Allah-lah tempat bermohon, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin ini, dan memberi kepada mereka kemudahan dalam memahami agama Islam, semoga Allah ‘azza wa jalla melimpahkan taufiq kepada kita semua untuk tetap berpegang teguh dengan agama yang haq ini, tetap konsisten menjalaninya dan meninggalkan apa apa yang bertentangan dengannya. Hanya Allah-lah penguasa segala-galanya.

Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amin...


(Dikutip dari الحذر من البدع, karya Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia "Waspada terhadap Bid'ah")

Artikel Terkait

Hukum Perayaan Isra' dan Mi'raj
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email