Empedu Dunia, Madunya Akhirat


Hiburan bagi orang yang tertimpa musibah adalah ia melihat dengan menggunakan mata hatinya. Menyadari bahwa empedu di dunia pada dasarnya adalah madu di akhirat nanti. Beralih dari empedu dunia yang terbatas, menuju madu akhirat yang tak pernah habis, itu lebih baik dari kebalikannya.

 “Surga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci manusia, sementara Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang disukai hawa nafsu.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)


Demikian juga dalam riwayat yang lain, “Pada hari Kiamat nanti akan dihadirkan orang yang paling berbahagia di dunia yang akhirnya masuk Neraka, lalu dimasukkan sebentar ke dalam Neraka tersebut, kemudian ia ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah ada kebaikan yang pernah engkau alami?” Orang itu menjawab, “Sama sekali tidak wahai Rabbku.” Lalu dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia ini, namun kemudian masuk ke dalam Surga, dimasukkan ke dalam Surga sebentar, lalu ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah ada kesengsaraan yang pernah kau alami?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.” (HR. Muslim, Ahmad)

 Konteks kejadian ini menunjukkan tingkat berpikir manusia yang berbeda-beda dan juga perbedaan harkat manusia. Kebanyakan orang di zaman kita sekarang lebih mengutamakan manisnya dunia yang sekejap dibandingkan dengan manisnya akhirat yang tiada akhirnya. Mereka tidak mampu menahan empedu sesaat untuk merasakan madu nan abadi atau merasakan kesengsaraan sejenak demi kemuliaan selamanya. Dengan kata lain, cobaan sesaat demi keselamatan selama-lamanya.

Sesungguhnya yang tampak itu terlihat mata, sementara yang ghaib itu tiada kelihatan, di samping iman yang lemah juga kekuasaan hawa nafsu demikian dominan. Dari situlah lahir sikap mengutamakan dunia yang fana dan menolak kehidupan akhirat.

 Demikian selayang pandang tentang kebanyakan orang di jaman sekarang, dalam memulai cita-cita dan prinsip dasar mereka. Semua itu tiada lain karena kecintaan mereka terhadap kehidupan dunia.

 Adapan penglihatan yang lebih tajam, akan lebih menguak kehidupan dunia, mencoba menyapa kehidupan akhirat sebagai tujuan final kehidupan manusia. Itu jelas memiliki nilai yang berbeda. Silahkan jiwa kita memikirkan apa yang Allah persiapkan bagi para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya berupa kenikmatan abadi, kebahagiaan abadi, dan kemenangan yang besar, serta apa yang Allah persiapkan bagi orang-orang yang berbuat kebatilan dan membuang-buang kenikmatan berupa kehinaan, kerugian, dan adzab yang berketerusan.

 Lalu silahkan pilih, bagian mana yang layak bagi kita. Setiap orang akan beramal sesuai dengan profil dirinya, dan yang lebih layak menjadi hak dirinya. Ini lautan setitik himah dari saudaramu demi kebaikan kita dan demi menghibur diri kita. (Ummu Zulfa)


 Sumber :

Talsiyatu Ahlil Mashaib, Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Manjabi al-Hambali
Previous
Next Post »