Google+ Badge

Saturday, 28 March 2015

Arti Sebuah Ketulusan


Sebuah pelajaran penting yang dapat kita petik dari interaksi adalah bentuk usaha untuk membahagiakan diri sendiri dan orang lain dengan memberikan penghormatan yang pantas untuk dihormati. Misalnya, memanggil dengan sapaan yang disenangi, bisa dengan nama sebenarnya atau bisa pula dengan nama panggilan atau kun-yah.

Seorang istri yang telah berusaha mengatur rumah tangga, merapikan posisi perabot, dan memberikan wangi-wangian untuk menyegarkan ruangan, tentu akan tidak habis piker ketika suaminya masuk dan tidak acuh terhadap usaha istrinya. Tak ada ekspresi apa-apa, dingin. Sikap suami seperti ini akan memupuskan semangat dan perhatian.

Tak ada salahnya memberikan perhatian atas usaha orang lain, ungkapan rasa terima kasih terhadap hasil karya orang lain, tentu saja akan membangkitkan semangat dan usaha baru. Memuji dengan sopan dan apa adanya akan merebut hati orang lain. Siapapun orang itu, ketika menghadapi pujian maka hatinya akan luluh dan merasa sejuk, tergantung banyak sedikitnya pujian yang dilontarkannya.
Dale Carniege, penulis buku How to Win Friend and Influence People melihat bahwa salah satu faktor untuk bisa merangkul hati orang lain adalah memuji dengan sebanyak-banyaknya. Tapi pendapat Dale Corniege ini tidak sejalan dengan cara Islam, yaitu merangkul hati orang lain dengan memberikan pujian sewajarnya dan tidak berlebihan. “Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. ath-Thalaq : 3)

Ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak boleh memuji yang tidak-tidak, tidak boleh terlalu kering, dan tidak boleh pula terlalu sulit memberikan pujian. Tapi harus dilakukan secara cara bermoral, penuh etika yang tinggi, dan kejujuran terhadap nilai-nilai kebaikan.

Kita boleh saja bersungut-sungut dan bermuram durja di hadapan orang lain. Tapi resikonya, kita akan rugi karena kita akan kehilangan mereka dan mereka tidak akan rugi sedikit pun karena akan mendapatkan orang lain yang lebih tawadhu’ kepada mereka, yang tersenyum kepada mereka, dan yang lebih merendah di hadapan mereka. “Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. al-Hijr : 88)

Sangat terbuka pintu bagi siapa saja agar bisa diterima orang lain, yang tidak harus membelinya dengan harta senilai harta Qarun, tidak dengan yang senilai dengan kerajaan Sulaiman‘alaihissalaam, dan tidak pula dengan yang senilai khalifah Harun al-Rasyid rahimahullaah. Siapapun bisa diterima orang lain asalkan niatnya didasarkan pada ketulusan hati kepada Allah, karena kecintaan kepada orang lain agar menjadi baik, juga karena kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta karena ketidaksukaannya untuk memanjakan jiwa.

Dan memang sifat terpuji, dan sikap yang baik itu melelahkan. Mengapa? Sebab sifat-sifat seperti itu berkarakter mengangkat. Sebaliknya, sifat-sifat buruk dan tabiat yang kasar, sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang mau. Sebab memang kerakternya membawa turun. Logikanya, naik itu sulit dan turun itu mudah sekali.

Realita menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini ada sesuatu yang menunjukkan kepada diri kita ke arah kebahagiaan. Yaitu, menghormati bakat orang lain, memahami kemampuan orang lain, mendorong obsesi orang lain, dan tidak meremehkan kerja keras dan peran orang lain.

Sedangkan sesuatu yang bisa membuat hidup seseorang menderita dan membuat jiwanya tertekan adalah sikap yang hanya melihat kepada dirinya sendiri, menganggap bahwa dirinyalah bintang satu-satunya.

Kitapun sering melihat orang-orang yang suka melakukan amal kebaikan yang biasa-biasa saja menurut ukuran kemampuan mereka. Pada awalnya, kita mengira mereka itu melakukannya sebatas kemampuan mereka saja, tidak mau berlebih-lebihan dalam melakukan peran mereka, dan tidak terlalu menonjolkan kedudukan mereka. Tapi setelah kita dalami lebih jauh ternyata banyak di antara mereka itu melihat apa yang mereka usahakan jauh lebih tinggi dari kesan yang biasa diduga orang lain, lebih tinggi dari gambaran orang lain.

Siapa orangnya yang secara naïf menjatuhkan harga dirinya dan tidak menjaganya? Siapa orangnya yang melihat bahwa dirinya tidak berharga dan tidak ada sesuatu yang perlu diucapkannya? Tak seorang pun, jawabnya. Semua orang mencintai dirinya, semua orang akan mengangkat harga dirinya, dan semua orang akan mengatakan kepada orang lain tentang kemampuannya.

Oleh sebab itu, pujilah hal-hal baik dalam kehidupan orang lain, tanamkan kepada mereka sifat-sifat kebaikan, dukung tindakan positif mereka, dan tutup mata kita rapat-rapat terhadap keburukan dan kekurangan orang lain. Andakah itu?

Artikel Terkait

Arti Sebuah Ketulusan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email