Selesaikan Dengan Kelembutan



Sejatinya sebuah keluarga adalah proses merajut bahagia dalam bingkai sejarah penuh cerita. Setiap likunya memiliki sendi mengokohkan dan sinergi mengagumkan. Keluarga itu sendiri adalah cerminan sebuah negeri, dimana setiap nada berselaras menuju satu bangunan dengan jutaan harapan mengembang. Keluarga merupakan kumpulan kerjasama yang satu sama lain saling kerja bersama. Di dalamnya ada saling menjaga, saling membina, menghangatkan, dan memendam janji setia pada berbanyak-banyak perkara.

Begitulah keluarga, pelajarannya tak pernah ada kata henti, karena setiap hari adalah belajar, setiap individunya ialah pembelajar sekaligus pengajar. Ada cerminan satu sama lain yang bertaut bagi tiap harinya. Maka sungguh sangat mengherankan bila keluarga tak terbina hanya karena secuil urusan dunia. Padahal keluarga kita hari ini, adalah keluarga kita pula kelak di kemudian hari yang di dalamnya tak pernah ada benci, kemudian hari itulah yang mengekalkan dan abadi di akhirat nanti.

Masalah tentunya silih berganti, mengisi setiap kali satunya telah bersolusi, hal itu ada agar setiap kita belajar menyelesaikan bukan mengerjakan penyelesaian seakan tak pernah belajar. Karena masalah-masalah itulah yang akhirnya menghidupkan, memberi warna, menghangatkan akal, dan menyalakan cahaya dalam sanubari. Kesemua itu ada bila cinta diantaranya saling bertautan dan bermekaran seiring sejalan, seimbang seirama.
Lemah lembut adalah sebuah solusi, dalam sebuah keluarga tentulah ada banyak karakter yang saling berbeda satu dengan lainnya. Namun tentu pula dikesemua karakter itu ada yang menyatukannya. Misal, kita seringkali mengatakan si anak rambutnya mengambil rambut ayahnya, sedangkan matanya mirip dengan mata ibunya. Atau pada sisi karakter, si anak nampaknya cenderung berbicara lantang dan tanpa basa-basi seperti ibunya, atau si adik sangat pemalu seperti ayahnya, dan lain sebagainya. Namun sebagai seorang manusia, ada sisi kesamaan tentunya yang mendasari sebuah pembinaan dan pendidikan disetiap rumah tangga. Yakni kelembutan, karena sangat janggal bila sang anak besar dengan tamparan orangtua di pipi mulusnya sepanjang hari, tak ada pula sang anak besar karena didikan kecongkakan ayahnya yang menjunjung tinggi nilai gengsi.

Kelembutan adalah muara dari setiap solusi, setiap sisinya membersamai makna penuh arti. Wajar saja bila Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kedalam hati mereka.”  Atau dalam sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah ummul mukminin, “Wahai ‘Aisyah berlemahlembutlah! Sesungguhnya apabila Allah mengkehendaki kebaikan bagi suatu keluarga. Dia akan menunjuki mereka kepada pintu kelembutan.”  Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya.

Maka, membina keluarga diatas nilai kelembutan ialah bukan mengarahkan kepada keluarga tanpa ketegasan dalam rambu kemarahan. Namun ketegasan juga dapat berada dalam selimut kelembutan. Ketegasan tanpa diiringi dengan emosi membara padahal di dalamnya tak bernilai solusi sedikitpun. Jauh dari kebersahajaan dan kebijaksanaan yang tepat. Akhirnya munculah generasi acuh sepanjang sejarah kehidupan keluarga tersebut. Bukankah setiap anak sangat ingin mendapat perlakuan yang tepat. Lebih jauh lagi, dakwah pun menuntut didalamnya nilai yang semestinya lembut, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “… Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…. “ (QS. Ali Imron : 159).

Pelajaran akan melekat jika diiringi dengan ketulusan, sedangkan ketulusan tak mungkin hadir tanpa diawali dengan kelembutan. Jadilah pribadi yang lembut dan penuh dengan kebaikan. Kelak tiap keluarga akan mendapatkan manisnya hasil dari kelembutan yang dijalankan secara berkelanjutan. Sebab begitulah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang tidak memiliki kelembutan maka diharamkan baginya kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim). wallahu ‘alam bi shawwab.
Previous
Next Post »