Mengapa Tidak Segera Berhaji?!



Saudaraku, saya merasa bersedih ketika melihat dirimu melewati tahun demi tahun, musim dan hari telah datang silih berganti, sedang dirimu masih terduduk, tidak tergerak untuk melaksanakan kewajiban berhaji. Tidakkah engkau tahu kewajiban tersebut merupakan salah satu rukun yang agung di dalam Islam? Al-Quran, hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ para ulama kita telah menyatakan hal itu.

Diriku pun melihat dirimu dalam kondisi fisik yang sehat, harta pun melimpah, -semoga Allah menambahkan karunia-Nya kepadamu-, jika demikian kondisimu, apa kiranya yang menghalangimu untuk segera berhaji? Apa yang menghalangimu untuk turut serta dalam berhaji?

Sungguh, saya telah memikirkan berbagai alasan yang kiranya menghalangi manusia untuk segera menunaikan kewajiban berhaji, padahal tidak terdapat faktor penghalang yang dibenarkan oleh syari’at pada kasus mereka. Dan saya pun mendapati bahwa seluruh alasan tersebut adalah alasan yang rapuh, semua berangkat dari lemahnya iman yang timbul dari hati yang sakit dan kelam. Jika hati telah sakit dan kelam, maka tentulah efeknya adalah kemaksiatan secara lahir, karena hati adalah pemimpin seluruh anggota tubuh sebagaimana yang disabdakan baginda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ألا وإن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat seonggok daging. Jika dia baik, seluruh jasad akan baik, jika rusak seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah daging tersebut adalah hati.”
Saudaraku, berikut ini saya paparkan kepadamu berbagai sebab yang menghalangi seorang dari berhaji:

Pertama, menunda-nunda dan berangan-angan panjang
Pada kondisi ini, syaithan mendatangi seorang dan merayu dengan niat menghalanginya dari kebaikan dan pahala berhaji. Dia menjerumuskannya sehingga dia terjatuh ke dalam dosa karena tidak segera melaksanakan kewajiban ini. Oleh karena itu, para ulama telah memperingatkan dengan keras akan bahaya taswif (menunda-nunda) dan thul al-amal (panjang angan-angan).
Al Hasan mengatakan,
مَا أَطَالَ عَبْدٌ الْأَمَلَ، إلَّا أَسَاءَ الْعَمَلَ
“Setiap kali seorang hamba berangan-angan panjang, niscaya amalnya akan bertambah buruk.”
Syaddad bin Aus berkata,
أنذركم سوف
“Saya peringatkan kalian dari perkataan “saufa” (nanti-nanti).”
Ibnu al-Mubarak meriwayatkan, dia berkata,

حدثنا أن عامة دعاء اهل النار: يا أفً للتسويف”

Diberitakan kepada kami bahwa seruan yang dipanjatkan oleh mayoritas penduduk neraka adalah, “Celaka at-taswif (sikap menunda-nunda).”
Al Harits al-Muhasibi mengatakan,
التسويف قاطع عن العمل
“Taswif itu faktor yang menghalangi seorang untuk beramal.”
Ibnu al-Jauzi berkata,
ومن الاعتزار: طول الأمل، وما من آفة أعظم منه؛ فإنه لولا طول الأمل ما وقع إهمال أصلاً، وإنما يقدم المعاصي ويؤخر التوبة لطول الأمل، وتبادر الشهوات وتنسى الإنابة لطول الأمل

“Salah satu faktor yang membuat manusia tertipu adalah thul al-amal (panjang angan-angan), tidak ada penyakit yang lebih besar darinya, karena jika tidak dikarenakan angan-angan yang panjang, tentulah tidak ada pengabaian. Sesungguhnya kemaksiatan yang datang lebih dulu sedang taubat datang setelahnya dikarenakan angan-angan yang panjang. Demikian pula, diturutinya syahwat kemudian dilanjutkan inabah setelahnya, semua itu dikarenakan thul al-amal.”

Ibnu Rajab berkata,
فالواجب على المؤمن المبادرة بالأعمال الصالحة قبل ألا يقدر عليها، ويحُال بينه وبينها، إما بمرض أو موت، أو بأن يدركه بعض الآيات التي لا يقبُل معها عمل
“Kewajiban seorang mukmin adalah segera untuk beramal shalih sebelum dia tidaklagi mampu menunaikannya atau terhalang darinya, baik dikarenakan sakit, kematian atau berbagai faktor datang kepadanya yang menyebabkan dirinya tidak mampu beramal.”
وما أدري وإن أملتُ عمرًا *** لعلي حين أصبح لستُ أمسي
ألم تر أن كل صباح يوم *** وعمرك فيه أقصر منه أمسِ
Entahlah, jika diriku merenungkan perihal umur
Saya berharap ketika memasuki pagi, diriku tidak menjumpai sore
Tidakkah engkau tahu bahwa setiap datang pagi, satu hari bertambah
Sedang umurmu semakin singkat dari kemarin

Kedua, harapan dusta
Sebagian orang mengandalkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan ar-raja (harapan) dan luasnya ampunan serta rahmat Allah ta’ala kepada para hamba-Nya. Mereka menjadikannya sebagai alasan untuk meninggalkan berbagai kewajiban dan mengerjakan berbagai kemaksiatan. Terkadang muncul anggapan bahwa sikap mereka tersebut merupakan bentuk husnuzh az-zhan kepada Allah ta’ala. Jika orang lain menegurnya karena masih saja belum menunaikan ibadah haji padahal dirinya mampu, dia akan menjawab, “Sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang”, atau berkata, “Rabb kami adalah Rabb yang memahami hati para hamba-Nya”, atau dia akan menyebutkan kepadamu berbagai ayat dan hadits yang menunjukkan harapan dan luasnya rahmat Allah ta’ala.

Sungguh tidak disangsikan lagi hal ini merupakan tipudaya syaithan kepada anak keturunan Adam, karena yang dinamakan ar-raja (mengharap) dan husnuzh azh-zhan (berbaik sangka) kepada Allah mesti dibarengi dengan kesungguhan untuk beramal dan memperbaikinya sebagaimana yang dinyatakan Allah ta’ala,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Yahya bin Mu’adz mengatakan,

من أعظم الاغترار عندي: التمادي في الذنوب على رجاء العفو من غير ندامة، وتوقع القرب من الله تعالى بغير طاعة، وانتظار زرع الجنة ببذر النار، وطلب دار المطيعين بالمعاصي، وانتظار الجزاء بغير عمل، والتمني على الله عز وجل مع الإفراط

“Menurutku, salah satu bentuk ketertipuan yang terbesar adalah terus-menerus melakukan dosa namun berharap ampunan tanpa adanya rasa penyesalan, mengharap ampunan tapi tidak melakukan ketaatan, menunggu tanaman surga namun justru menabur benih neraka, meminta surga dengan berbagai kemaksiatan, menunggu pahala tanpa mau beramal, dan berlebihan dalam berangan-angan atas luasnya rahmat Allah ‘azza wa jalla.”

Keadaan ini seperti apa yang dikatakan oleh seorang penyair,

ترجو النجاةَ ولم تسلك مسالكها *** إن السفينة لا تجري على اليَبَسِ
Engkau mengharap keselamatan, namun jalannya tidak engkau tempuh
Sesungguhnya perahu itu tidak berlayar di daratan

 Ketiga, malas
Kemalasan itu ada dua jenis,
Pertama, kemalasan akal atau pikiran, yaitu dengan enggan memikirkan, merenungkan dan memperhatikan kekuasaan Allah serta tidak mau mengetahui apa saja yang dapat memperbaiki aspek kehidupan manusia di dunia maupun akhirat.
Kedua, kemalasan fisik yang menyebabkan seorang merasa terbebani dalam melakukan ketaatan dan menunaikan ibadah sebagaimana yang diperintahkan syari’at.
Sikap tersebut merupakan karakter orang munafik sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,
إنَّ الْمُناَفِقِينَ يُخاَدِعُوْنَ الله وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإذَا قاَمُوْا إلَى الصَّلاَةِ قاَمُوْا كُساَلَى يُرَاءُوْنَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُوْنَ الله إلاَّ قَلِيْلاً
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” [An Nisa':142].

Malas justru mengakibatkan kerugian karena menghalangi seorang untuk memperoleh derajat yang tinggi, menjauhkannya dari aktivitas yang bermanfaat, ide yang brilian dan usaha yang terpuji. Oleh karena itu, ada pepatah yang berbunyi,

إياك والكسل؛ فإنك أن كسلت لم تؤد حقا.
“Waspadalah dari sikap malas, karena jika engkau malas dirimu tidak akan mampu menunaikan kewajiban”

Keempat, pelit.
ومن الناس من يمنعه عن أداء فريضة الحج البخل وخوف النفقة، وهذا مرض خطير، من أصيب به فهو على شفا هلكة؛ فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: «وأي داء أدوى من البخل» [البخاري فى الأدب المفرد وصححه الحاكم في المستدرك]، إشارة إلى خطورة هذا الدواء وعظم آثاره السلبية.
Terkadang yang menghalangi sebagian orang untuk menunaikan kewajiban haji adalah sifat pelit yang dimilikinya dan khawatir menjadi miskin. Sifat ini merupakan penyakit yang akut dan orang yang diuji dengannya berada di pinggir jurang kebinasaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وأي داء أدوى من البخل

“Penyakit apalagi yang paling kronis selain pelit?”

Allah ta’ala berfirman,

هَا أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ ۖ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ ۚ وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini” [Muhammad: 38].
Obat bagi keempat hal di atas adalah sebagai berikut:
  • Meyakini bahwa harta yang berada di tangannya bukanlah miliknya, akan tetapi milik Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu Allah berfirman,
وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ
“Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya” [Al Hadid: 8].
Dia juga berfirman,
وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“Dan berikanlah kepada mereka sebagian harta yang telah diberikan Allah kepadamu” [An Nuur: 33].
Dengan demikian tidak selayaknya dia berlaku pelit kepada hamba Allah, apalagi berlaku pelit kepada dirinya sendiri dengan tidak menunaikan kewajiban haji.
  •  Mengetahui pahala dan ganjaran yang akan diperolehnya ketika dia menafkahkan hartanya untuk menunaikan haji atau bentuk ketaatan yang lain. Allah ta’ala berfirman,
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [Al Baqarah: 261].
Pahala berhaji tidak hanya itu, bahkan mengerjakan haji kemudian ber’umrah merupakan salah satu sebab diperolehnya kekayaan dan rezeki sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تابعوا بين الحج والعمرة، فإنهما ينفيان الفقر والذنوب، كما ينفي الكير خبث الحديد

“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi.”

Kelima, khawatir terhadap keselamatan istri dan anak
Sebagian orang enggan berhaji karena khawatir akan keselamatan keluarganya. Tentu hal ini bukanlah sebuah udzur, khususnya di zaman ini dimana alat transportasi telah berkembang pesat seperti pesawat yang mampu membawa seorang dari ujung bumi ke ujung lainnya dalam waktu yang singkat. Waktu pelaksanaan haji tidaklah membutuhkan waktu yang lama. Dahulu, terkadang sebagian kaum muslimin (menunaikan haji dengan) meninggalkan harta dan keluarga mereka selama berbulan-bulan menempuh perjalanan yang berat, menghadapi berbagai rintangan dan kendaraan tercepat pada saat itu adalah unta. Meski demikian, mereka tetap berlomba-lomba untuk menunaikan kewajiban haji demi memenuhi firman Allah ta’ala,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan …” [Al Hajj: 27-28].

 Jika manusia di waktu itu tidak memandang adanya suatu udzur sehingga mereka tidak menunaikan seruan Allah untuk berhaji, padahal rute perjalanan sangat sulit ditempuh dan alat transportasi masih sangat tradisional, maka tentunya orang-orang setelah mereka yang berada di zaman serba modern tidak akan lagi menemui suatu udzur untuk dijadikan alas an. Dengan demikian, meninggalkan keluarga selama seminggu atau dua minggu tidaklah patut dijadikan alasan yang menghalangi seorang untuk meninggalkan kewajiban haji ini.

Apabila seorang khawatir meninggalkan anak dan istrinya selama beberapa hari untuk menunaikan kewajiban yang ditetapkan Allah ta’ala, kiranya apa yang akan dilakukannya ketika malaikat maut mencabut ruhnya dengan kasar dan merebut dirinya ketika berada di tengah-tengah keluarga dan hartanya? Apakah dirinya mampu mencegah malaikat maut dari tindakan tersebut?!

Jika dirinya tak mampu mencegahnya, maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla (dengan segera menunaikan kewajiban), karena Allah-lah yang akan menjaga keturunan dikarenakan keshalihan orang tua sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya,

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ
“…sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabb-mu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabb-mu…”[Al Kahfi: 82].

Dia juga berfirman,
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّـهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (keselamatan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” [An Nisaa: 9].

Keenam, tidak mengetahui syarat-syarat wajib haji
Diantara sebab yang menghalangi seorang untuk menunaikan kewajiban haji adalah ketidaktahuannya terhadap syarat-syarat wajib haji, sehingga bisa saja haji telah wajib untuk dia laksanakan namun dia dirinya tidak mengetahui hal itu. Dengan demikian, wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari berbagai hukum ibadah yang diwajibkan Allah ta’ala kepada dirinya, dan diantaranya adalah kewajiban berhaji. Dia mempelajari bahwa berhaji itu wajib bagi seorang muslim yang telah baligh, berakal, merdeka dan mampu dari segi finansial dan fisik. Apabila seluruh syarat ini terkumpul pada diri seorang muslim dan tidak terdapat faktor yang menghalanginya, maka dia wajib untuk bersegera menunaikan haji berdasarkan pendapat yang terkuat sebagaimana dinyatakan Allah ta’ala,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…” [Ali Imran: 133].
dan juga sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تعجلوا إلى الحج، فإن أحدكم لا يدري ما يعرض له
“Segeralah berhaji karena salah seorang di antara kalian tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya.”

Ketujuh, sombong dan angkuh
Sifat ini merupakan penyakit berbahaya yang menimpa sebagian orang sehingga hal ini menghalangi mereka dari berbagai keutamaan yang terdapat dalam ketaatan kepada Allah, karena memandang hal itu sebagai bentuk penghinaan terhadap kedudukan dan derajat mereka. Diantara hal tersebut adalah keengganan mereka untuk menunaikan shalat wajib secara berjama’ah karena berkeyakinan bagaimana bisa diri mereka berbaur dengan manusia yang lain dan berdiri setara di hadapan Allah ta’ala.
Hal itu pulalah yang menyebabkan mereka meninggalkan kewajiban haji, karena haji merupakan ibadah yang tidak mengenal strata sosial yang berlaku di masyarakat. Hal yang membedakan hanyalah ketakwaan dan amal shalih. Seluruh jemaah haji mengenakan pakaian ihram yang sama, serupa dengan apa yang akan dikenakan mayit. Anda tidak akan mampu membedakan mana yang kaya dan mana yang papa, mana yang bangsawan dan mana yang jelata.
Seluruh hal di atas tentunya tidak akan disukai oleh seorang yang berjiwa angkuh, hati yang sakit dan dada yang sempit. Oleh karena itu, bagi mereka wajib untuk mengetahui bahwa:
  • Kemuliaan dan keutamaan terletak pada sikap tawadhu’ (rendah hati), bukan terletak pada kesombongan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وما تواضع أحد لله إلا رفعه الله
“Seorang yang bertawadhu’ karena Allah niscaya akan ditinggikan derajatnya.”
  • Kesombongan merupakan salah satu sebab dimasukkan seorang ke dalam neraka sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ألا أخبركم بأهل النار: كل عتل، جواظ، مستكبر
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka itu adalah setiap orang yang berperangai keras lagi kasar dan sombong .”
  • Barometer kemuliaan di hari kiamat kelak adalah amal shalih (bukan harta dan jabatan), nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
احتجت النار والجنة؛ فقالت هذه: يدخلني الجبارون والمتكبرون، وقالت هذه: يدخلني الضعفاء والمساكين
“Surga dan neraka berselisih. Neraka berkata, “yang masuk ke dalamku adalah orang-orang yang kasar lagi sombong,” sementara surga berkata, “yang masuk ke dalamku adalah orang-orang yang lemah lagi miskin.”
Beliau juga bersabda,
إنه ليأتي الرجل العظيم السمين يوم القيامة، لا يزن عند الله جناح بعوضة
“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.”
Kedelapan, lalai dari Allah dan negeri akhirat
Inilah faktor yang dialami mayoritas manusia. Kelalaianlah yang menghalangi mereka untuk mengingat Allah dan melakukan ketaatan kepada-Nya. Kecintaan terhadap dunia dan merasa tenteram dengan kelezatannya telah menghiasi dan menghalangi mereka untuk menunaikan ibadah yang diwajibkan Allah ta’ala kepada diri mereka.
Ibnu al-Qayyim berkata,
ومن تأمل حال هذا الخلق، وجدهم كلهم إلا أقل القليل ممن غفلت قلوبهم عن ذكر الله تعالى، واتبعوا أهواءهم، وصارت أمورهم ومصالحهم فرطا؛ أي فرطوا فيما ينفعهم ويعود بصالحهم، واشتغلوا بما لا ينفعهم، بل يعود بضررهم عاجلًا وآجلًا
“Barangsiapa yang merenungkan kondisi manusia, maka dia akan menemukan bahwa sebagian besar hati mereka lalai dari mengingat Allah ta’ala, mayoritas mereka mengikuti hawa nafsu, sehingga umur dan potensi mereka tersia-siakan. Mereka tidak memperoleh apa yang dapat membawa manfaat bagi mereka dan memperbaiki keshalihan mereka. Mereka sibuk dengan sesuatu yang tidak bermanfaat, yang justru membahayakan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.”
 Obat bagi kelalaian ini adalah sebagai berikut:
  • Memperbanyak mengingat Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya,
وَالذَّاكِرِينَ اللَّـهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّـهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“…dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” [Al Ahzab: 35].
  • Bersahabat dengan orang-orang yang banyak mengingat Allah dan ta’at kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap Wajah-Nya” [Al Kahfi: 28].
  • Menjauhi orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Allah ta’ala berfirman,
وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“…dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” [Al Kahfi: 28].
  • Bersegera melakukan ketaatan.  Allah ta’ala berfirman,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ;
“Bersegeralah melaksanakan kebaikan…” [Al Baqarah: 148].
  • Memohon pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berdo’a, beristighfar, bergantung kepada-Nya dan menangis karena takut akan siksaan-Nya.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan diri kita sebagai ahlu ath-tha’ah dan memalingkan kita dari berbagai jalan kemaksiatan. Wa akhiru da’wana anil hamdu lillahi rabbil ‘alamin.
Diterjemahkan dari artikel Madzaa Yamna’uka minal Hajj?
Previous
Next Post »